Chapter Four
Aritmatika
POV: Kanaya
Di petak nomor empat, kamar mandinya dipakai bersama enam pintu, dan urutannya ditentukan oleh siapa yang bangun lebih dulu.
Pagi pertama, aku bangun jam setengah lima dan sudah kalah. Ibu-ibu dari pintu nomor dua dan nomor lima sudah berdiri di depan pintu kamar mandi dengan ember, dan mereka melihatku dengan tatapan yang bukan tidak ramah tapi juga bukan ramah — tatapan orang yang sedang menghitung berapa lama antrean akan bertambah panjang mulai hari ini.
“Anyar, ya?” tanya yang dari pintu dua. (“Baru, ya?”)
“Iya, Bu.”
“Sing lanang kae kakakmu?” (“Yang laki-laki itu kakakmu?”)
“Om saya.”
Dia mengangguk lama sekali, seperti jawaban itu perlu waktu untuk masuk. Lalu dia berpaling ke ibu satunya dan mereka bicara pelan dengan bahasa yang aku mengerti setengahnya.
Aku berdiri di antrean dan menghitung. Kalau antrean pagi rata-rata tujuh menit per orang dan aku selalu dapat urutan ketiga, artinya aku harus bangun jam empat kalau mau Alina sempat mandi sebelum jam enam. Kalau Alina mandi jam enam, dia sarapan jam enam lewat sepuluh, dan berangkat jam setengah tujuh masih cukup untuk jalan kaki ke SD-nya yang delapan menit dari sini.
Aku menghitungnya sambil berdiri di sana, di pagi pertama itu, dan aku ingat merasa lega.
Angka itu enak. Angka tidak berubah kalau ditinggal semalam. Angka tidak berhenti di tengah kalimat dan tidak butuh dijawab.
Om Damar berangkat pagi itu tanpa bilang mau ke mana.
“Kakak keluar sebentar,” katanya, sambil memasukkan sesuatu ke saku belakang. “Alina udah berangkat?”
“Udah.”
“Kunci pintu kalau kamu keluar.”
“Iya.”
Dia sudah sampai di ambang pintu waktu aku bertanya, “Sarapan dulu.”
“Udah tadi.”
Dia menutup pintu.
Aku berdiri di dapur sempit itu — kalau boleh disebut dapur; lebarnya satu setengah meter dan tidak ada apa-apa di sana selain bak cuci, kompor satu tungku, dan rak dari kayu bekas — dan aku melihat panci nasi.
Nasinya utuh. Permukaannya masih rata. Sendok nasi masih di tempatnya, kering.
Aku berdiri di sana cukup lama.
Lalu aku mengambil sendok itu dan mengaduk nasinya sampai permukaannya tidak rata lagi, karena kalau Alina pulang dan melihat panci yang rata, dia akan bertanya, dan aku belum punya jawaban untuk pertanyaan Alina yang mana pun.
Aku menemukan kaleng biskuit itu hari Selasa.
Aku tidak mencarinya. Aku sedang mengangkat tikar untuk dijemur — tikarnya bau apak, mungkin dari gudang Pak Kirno — dan kaleng itu ada di bawah bantal, dan bantalnya ikut terangkat.
Aku tahu aku tidak boleh membukanya.
Aku membukanya.
Di dalamnya ada uang yang dilipat dua, dikelompokkan berdasarkan nilainya, dan diikat dengan karet gelang terpisah-pisah. Ada juga kertas kecil, sobekan dari buku tulis, dengan tulisan tangan Om Damar yang huruf-hurufnya miring ke kanan.
Aku hafal tulisan itu. Dulu dia yang mengerjakan PR matematikaku waktu aku kelas tiga, dan Ibu memarahi kami berdua.
Di kertas itu tertulis:
Sewa Okt — 180 Listrik — 45 Air — 20 SPP Lin — 150 (2 bln) SPP Nay — 90 RS — 2.100
Lalu, di bawah garis, dengan tulisan yang lebih kecil:
Ada — 320
Aku duduk di lantai dengan kaleng itu di pangkuanku dan aku mengerjakannya di kepalaku, seperti soal cerita, seperti yang selalu kubisa sejak kelas empat.
Tiga ratus dua puluh, dikurangi seratus delapan puluh untuk sewa, sisa seratus empat puluh.
Seratus empat puluh dibagi tiga orang, dibagi tiga puluh hari.
Satu koma lima lima lima.
Aku mengerjakannya lagi karena aku pikir aku salah. Aku mengerjakannya untuk yang ketiga kali dengan menuliskannya di lantai memakai jari.
Hasilnya tetap sama.
Seribu lima ratus lima puluh rupiah per orang per hari.
Nasi bungkus di warung Bu Ratih empat ribu. Tempe di pasar seribu dapat tiga potong. Telur seribu delapan ratus satu butir.
Aku menutup kaleng itu, mengembalikannya ke bawah bantal, meletakkan bantalnya persis di posisi semula, dan membawa tikar ke halaman untuk dijemur seperti yang seharusnya kulakukan sejak tadi.
Tanganku gemetar waktu menggantungnya di tali jemuran. Aku ingat itu, karena aku sempat berpikir betapa bodohnya tangan yang gemetar untuk pekerjaan seringan itu.
Alina pulang jam satu dan langsung bicara tanpa berhenti selama delapan menit.
Dia bercerita tentang temannya yang namanya Sinta yang punya tempat pensil dua tingkat. Tentang gurunya yang bersin lima kali berturut-turut. Tentang lomba menggambar bulan depan dan berapa harga kertas gambar yang bagus.
Aku mendengarkan sambil menyiapkan makan siang: nasi, telur satu digoreng dan dibelah dua, kecap.
“Mbak.”
“Hm.”
“Om Damar ke mana?”
“Keluar.”
“Keluarnya lama banget.”
“Ada urusan.”
Alina memasukkan potongan telur ke mulutnya, mengunyah, lalu berkata dengan sangat santai, “Kalau Ibu pulang, kita balik ke rumah yang dulu, kan?”
Sendok di tanganku berhenti.
Ini yang ketiga kalinya dia bertanya sejak pemakaman, dan setiap kali dia bertanya, dia bertanya seperti orang menanyakan cuaca.
Aku menatap adikku. Umurnya delapan. Pipinya masih ada bekas spidol. Kakinya menggantung dari kursi plastik karena belum sampai ke lantai.
Ada dua hal yang bisa kukatakan.
Aku memilih yang ketiga.
“Habisin dulu telurnya,” kataku.
Dan Alina, karena dia Alina, langsung lupa pada pertanyaannya sendiri dan mulai bercerita tentang Sinta lagi.
Malam itu aku berbaring di sebelahnya dan menatap langit-langit yang ada bercak lembapnya berbentuk seperti pulau, dan aku berpikir: suatu hari nanti dia akan berhenti bertanya. Bukan karena dia dijawab. Karena dia lupa pernah punya seseorang untuk ditanyakan.
Aku tidak tahu mana yang lebih buruk.
Om Damar pulang jam sepuluh malam.
Aku tahu jamnya karena aku memang menunggu. Aku sudah menunggu sejak jam tujuh, berbaring miring menghadap pintu kamar, dengan pintu kubuka sedikit.
Dia masuk pelan-pelan. Melepas sandal. Menutup pintu dengan dua tangan supaya tidak berbunyi.
Lalu dia berdiri di tengah ruangan itu cukup lama, tidak melakukan apa-apa, cuma berdiri, dengan bahu yang turun dengan cara yang tidak pernah kulihat waktu ada kami.
Dia masuk ke dapur. Aku mendengar tutup panci diangkat.
Lalu ditutup lagi.
Dia tidak mengambil apa-apa.
Dia keluar, duduk di tikar, dan mengeluarkan kaleng biskuit dari bawah bantal.
Lampu ruang depan tidak dinyalakan. Yang masuk cuma cahaya lampu gang dari celah di atas pintu, satu garis kuning tipis, dan Om Damar duduk memiringkan badannya supaya uang di pangkuannya kena garis itu.
Dia menghitung.
Aku melihatnya dari celah pintu kamar, dengan satu mata, dengan napas yang kutahan supaya tidak terdengar.
Dia menghitung lembar demi lembar, pelan, bibirnya bergerak tanpa suara. Sampai habis. Lalu dia merapikan tumpukannya, dan menghitung lagi dari awal.
Empat kali.
Empat kali dia menghitung uang yang jumlahnya tidak akan berubah, di dalam gelap, jam sepuluh malam, di lantai, sendirian.
Dan aku duduk di balik pintu dan tahu — dengan cara yang sangat jelas, sangat dingin, seperti tahu bahwa dua tambah dua adalah empat — bahwa aku sedang menyaksikan orang yang sedang mencari jawaban dari soal yang jawabannya tidak ada.
Aku sudah mengerjakan soal yang sama hari Selasa.
Aku tahu tidak ada.
Aku ingin membuka pintu. Aku ingin bilang, Kakak, aku udah hitung juga, nggak usah dihitung lagi. Aku ingin bilang aku bisa berhenti sekolah, aku bisa bantu, aku bisa apa saja.
Aku tidak bergerak.
Karena aku sudah tahu — dari malam pertama di rumah ini, dari suara engsel dan suara yang ditahan di balik telapak tangan — bahwa ada hal-hal yang Om Damar cuma sanggup lakukan kalau dia yakin tidak ada yang melihat.
Dan kalau aku membuka pintu itu, dia tidak akan pernah melakukannya lagi.
Jadi aku menutup mataku dan berbaring telentang dan berbaring diam.
Kemudian, sekitar setengah jam, aku mendengarnya berdiri.
Aku mendengar langkahnya mendekat ke pintu kamar. Aku mendengar engselnya. Aku merasakan selimutku ditarik naik sampai bahu, dan tangan yang menyibakkan rambut di keningku — punggung tangannya, selalu punggung tangannya — dan aku menghitung dalam hati sampai lima supaya wajahku tidak bergerak.
Malam itu dia tidak menangis.
Malam itu, sebelum keluar, dia berhenti sebentar di pintu dan berbisik satu kalimat yang tidak dia tujukan kepadaku.
“Besok Kakak ke sekolah.”
Aku terus berbaring diam.
Tapi jantungku berdetak dengan cara yang salah, karena aku sudah menghitung uang di kaleng itu tiga kali, dan aku tahu — aku tahu, di umur dua belas tahun, di dalam gelap, dengan mata terpejam dan wajah yang tidak bergerak sedikit pun — bahwa dari semua angka di kertas sobekan itu, tidak ada satu pun yang menyisakan ruang untuk seragam.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika reading
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku