← Kakak Sudah Makan

Chapter Six

Pasar Subuh

POV: Damar

Pasar Wonoyoso hidup jam dua pagi.

Aku tidak tahu itu. Selama tujuh belas tahun aku tinggal empat kilometer dari tempat ini dan aku tidak tahu bahwa setiap malam, sementara seluruh kota tidur, ada dua ratus orang yang bekerja di bawah lampu neon dan bau sayur busuk dan lumpur yang tidak pernah kering.

Aku datang jam satu lewat empat puluh, ikut Pak Sarwo yang menawariku dua hari lalu, berdiri di dekat pos parkir sambil memakai sandal jepit karena aku tidak mau sepatuku rusak.

“Sepatumu endi?” tanya Pak Sarwo. (“Sepatumu mana?”)

“Nggak dipakai, Pak. Nanti kotor.”

Dia melihat kakiku dan tertawa pendek, tawa yang tidak menghina tapi juga tidak menyenangkan.

“Sesuk nggawa. Ora usah sing apik. Sing penting ana.” (“Besok bawa. Nggak usah yang bagus. Yang penting ada.”)

Aku belum mengerti kenapa. Aku mengerti empat jam kemudian.


Pekerjaannya sederhana kalau dijelaskan.

Truk datang dari arah gunung — Kopeng, Getasan, kadang lebih jauh — membawa sayur dalam karung dan keranjang bambu. Truk berhenti di mulut pasar karena tidak bisa masuk lebih dalam. Barang harus turun, harus masuk ke los, harus sampai ke lapak yang benar sebelum pembeli grosir datang jam empat.

Antara truk dan lapak, ada jarak seratus sampai dua ratus meter. Lorong sempit, lantai basah, gelap di beberapa titik.

Jarak itu diisi oleh manusia.

“Sekali angkut, seribu,” kata orang yang kemudian kutahu namanya Haryo. “Kubis sak kranjang, seribu. Wortel sak karung, seribu lima. Sing abot rong ewu, tapi ora akeh.” (“Sekali angkut seribu. Kubis satu keranjang, seribu. Wortel satu karung, seribu lima ratus. Yang berat dua ribu, tapi nggak banyak.”)

Dia berumur tiga puluhan, badannya pendek dan padat, memakai kaus tanpa lengan yang warnanya sudah tidak bisa ditebak, dengan handuk kecil melingkar di leher.

“Sedina entuk piro, Mas?” tanyaku. (“Sehari dapat berapa, Mas?”)

“Gumantung kowe.” Dia menaikkan alis. “Aku mau bengi patang puluh loro. Bocah anyar biasane rong puluh, terus muntah.” (“Tergantung kamu. Saya semalam empat puluh dua. Anak baru biasanya dua puluh, terus muntah.”)

Aku mengangkat keranjang pertamaku jam dua lewat sepuluh.

Kubis. Keranjang bambu, tinggi sepinggang, penuh sampai atas. Beratnya mungkin dua puluh lima kilo, dan aku pernah mengangkat galon, jadi aku pikir aku tahu apa itu dua puluh lima kilo.

Aku salah, karena galon punya pegangan dan keranjang bambu punya pinggiran yang tajam.

Aku menaikkannya ke bahu seperti yang kulihat dilakukan orang lain. Berjalan tiga puluh meter. Berbelok di lorong yang lantainya licin karena air es dari lapak ikan. Berbelok lagi. Menurunkannya di lapak Bu Painem, nomor dua belas.

Seribu rupiah.

Aku berjalan kembali ke truk dan mengangkat yang kedua.


Yang tidak diberitahukan siapa pun tentang pekerjaan seperti ini adalah bahwa yang berat bukan berat.

Yang berat adalah pengulangan.

Keranjang pertama terasa berat. Keranjang kelima terasa lebih ringan karena badanku sudah hafal. Keranjang kesebelas berat lagi. Keranjang kedua puluh, bahuku sudah tidak mengirim sinyal apa-apa selain panas.

Keranjang ketiga puluh dua, aku berhenti di lorong dan menyandarkan bahu ke tiang selama sepuluh detik.

“Ojo mandheg.”

Haryo lewat di belakangku, memanggul karung wortel di kedua bahunya sekaligus.

“Nek mandheg, ototmu adhem. Nek adhem, sesuk ora iso tangi.” (“Jangan berhenti. Kalau berhenti, ototmu dingin. Kalau dingin, besok nggak bisa bangun.”)

Aku mengangkat lagi.

Jam empat lewat, truk kedua datang. Jam lima, truk ketiga. Langit mulai abu-abu di atas atap seng dan pasar berubah bunyinya: dari bunyi truk dan gerobak jadi bunyi tawar-menawar.

Jam setengah enam, Pak Sarwo memanggilku ke pos.

Dia membuka buku kecil bersampul plastik dan membacanya dengan jari.

“Papat puluh siji.” (“Empat puluh satu.”)

Empat puluh satu keranjang. Empat puluh satu ribu rupiah, dikurangi lima ribu untuk uang pos, jadi tiga puluh enam ribu.

Dia meletakkan uangnya di telapak tanganku, lembar-lembar dua ribuan yang lembap dan bau sayur.

Aku menatapnya.

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang terjadi di dadaku waktu itu. Tiga puluh enam ribu bukan jumlah yang besar. Aku sudah menghitungnya semalaman: dengan tiga puluh enam ribu sehari, kalau aku kerja tiga puluh hari penuh, aku dapat satu juta lebih sedikit. Itu belum cukup. Itu jauh dari cukup.

Tapi aku berdiri di pos parkir Pasar Wonoyoso jam setengah enam pagi, dengan bahu yang tidak bisa kurasakan dan celana yang basah sampai lutut, memegang uang yang aku hasilkan sendiri untuk pertama kali dalam hidupku, dan yang kupikirkan cuma satu hal:

Hari ini kami makan.

Aku hampir tertawa di situ. Aku menahannya karena kalau aku mulai, aku tidak yakin akan berhenti di tawa.


Haryo menemukanku di warung kopi depan pasar.

Aku memesan teh, karena teh dua ribu dan kopi tiga ribu, dan duduk di kursi panjang menghadap jalan.

Dia duduk di sebelahku tanpa bertanya, memesan kopi dan gorengan tiga, dan langsung memakannya.

“Cah SMA, yo?” katanya dengan mulut penuh. (“Anak SMA, ya?”)

“Bukan.”

“Wingi isih.” Dia menoleh. “Rambutmu isih cukuran sekolah.” (“Kemarin masih. Rambutmu masih potongan sekolah.”)

Aku tidak menjawab.

Haryo mengunyah, menelan, lalu mendorong piring gorengan itu ke arahku.

“Mangan.” (“Makan.”)

“Nggak usah, Mas.”

“Mangan, Le. Aku ora nawani ping pindho.” (“Makan, Nak. Saya nggak nawarin dua kali.”)

Aku mengambil satu. Tempe goreng, dingin di pinggir, masih hangat di tengah. Aku memakannya dalam tiga gigitan dan baru sadar setelah gigitan terakhir bahwa aku belum makan sejak siang kemarin.

“Piro sing kok gawa mulih?” tanya Haryo. (“Berapa yang kamu bawa pulang?”)

“Tiga enam.”

Dia bersiul. “Bocah anyar rong puluh. Kowe kesusu.” (“Anak baru dua puluh. Kamu terburu-buru.”)

“Butuh, Mas.”

“Kabeh butuh.” Dia meletakkan gelasnya. “Sing mbedakke iku sepira sing kok simpen kanggo sesuk. Nek awakmu entek dina iki, sesuk kowe ora entuk apa-apa. Sesuke maneh yo ora.” (“Semua butuh. Yang membedakan itu berapa banyak yang kamu simpan untuk besok. Kalau badanmu habis hari ini, besok kamu nggak dapat apa-apa. Besoknya lagi juga nggak.”)

Aku memikirkan itu lebih lama daripada yang dia kira.

“Mas Haryo udah berapa lama?”

“Sewelas taun.” (“Sebelas tahun.”)

“Sebelas tahun tiap hari?”

“Ora tiap hari. Nek udan gedhe, truk telat. Nek riyaya, tutup telung dina.” Dia menyeruput kopinya. “Sisane, iya.” (“Nggak tiap hari. Kalau hujan besar, truk telat. Kalau lebaran, tutup tiga hari. Sisanya, iya.”)

Dia menoleh kepadaku dan menatap agak lama, dengan cara yang membuatku ingin memalingkan wajah.

“Kowe ora bakal sewelas taun,” katanya. (“Kamu nggak akan sebelas tahun.”)

“Kenapa?”

“Merga cah kaya kowe kuwi mesthi ngomong sedhela wae.” Dia mengangkat bahu. “Terus sepuluh taun mengko isih neng kene.” (“Karena anak seperti kamu itu selalu bilang ’sebentar aja’. Terus sepuluh tahun kemudian masih di sini.”)

Aku tidak punya jawaban untuk itu.

Haryo menghabiskan kopinya, membayar punyanya sendiri dan punyaku, mengabaikan protesku, dan pergi dengan handuk kecil masih melingkar di lehernya.


Aku pulang jam tujuh.

Alina sudah berangkat sekolah. Kanaya belum, karena masuknya siang.

Dia sedang menjemur pakaian di halaman sempit di depan petak nomor empat waktu aku masuk gang. Dia melihatku dan berhenti bergerak sekitar dua detik.

“Kakak dari mana?”

“Kerja.”

Dia tidak bertanya kerja apa. Dia melihat celanaku yang basah sampai lutut, sandal yang penuh lumpur, dan kaus yang menempel di punggung, dan dia tidak bertanya apa-apa.

“Aku bikinin teh.”

“Nggak usah. Kakak mau tidur.”

Aku masuk. Aku duduk di tikar dan melepas sandal, dan baru waktu itu aku melihat tanganku.

Kedua telapak tanganku merah. Bukan luka; belum. Kulit di pangkal jari sudah menipis dan mengelupas di beberapa titik dari gesekan pinggiran keranjang bambu, dan ada satu garis di telapak kanan yang mulai membuka.

Aku menatapnya beberapa saat.

Lalu aku mendengar langkah Kanaya masuk ke ruangan.

Aku mengepalkan kedua tanganku dan menaruhnya di pangkuan.

“Kakak,” katanya, “aku taruh teh di sini, ya.”

“Iya.”

Dia meletakkan gelas itu di lantai. Dia tidak langsung pergi.

“Kakak—“

“Nay.”

“Iya?”

Aku mengangkat kepalaku dan tersenyum kepadanya, senyum yang lebar dan mudah, senyum yang akan kupakai berkali-kali selama sepuluh tahun berikutnya sampai aku tidak perlu lagi memikirkannya.

“Berangkat sekolahnya jangan telat.”

Dia menatapku sebentar.

Lalu dia mengangguk dan masuk ke kamar.

Aku menunggu sampai pintunya tertutup. Baru aku membuka telapak tanganku dan melihatnya lagi, dan meniupnya pelan-pelan, sendirian, di ruang depan petak nomor empat, jam tujuh lewat pagi.