Chapter Eighteen
Yang Tidak Kuserahkan
POV: Eliza
Ayahku dipindah ke Surabaya di bulan Maret dan aku diberi tahu di bulan April, sebelas hari sebelum berangkat.
Aku marah selama tiga hari. Aku marah dengan cara yang tidak berguna sama sekali — membanting pintu kamar, tidak makan malam sekali, menangis di depan ibuku dengan argumen tentang kelas tiga dan teman-teman dan ujian.
Semua argumen itu benar dan tidak satu pun jujur.
Yang jujur adalah ini: ada satu orang di kota ini yang tidak akan tahu aku pergi kalau aku tidak memberitahunya sendiri, karena dia tidak punya telepon, tidak punya alamat yang bisa ditulis dengan benar, dan tidak akan pernah, dalam keadaan apa pun, menghubungi siapa pun lebih dulu.
Aku menelepon warung itu hari Sabtu jam tujuh pagi.
Ibu warungnya bilang anaknya sedang keluar. Aku bilang tolong sampaikan aku mau pamit. Beliau bertanya siapa. Aku bilang Eliza, teman sekolahnya.
Lalu beliau diam sebentar di ujung sana dan berkata, “Sing tas mrene wingi kae, ya?” (“Yang kemarin ke sini itu, ya?”)
“Iya, Bu.”
“Mrenea,” katanya. “Ora usah telpon-telponan.” (“Ke sini saja. Tidak usah telepon-teleponan.”)
Aku datang hari Minggu, empat hari sebelum berangkat.
Damar tidak ada.
Yang membuka pintu Kanaya.
“Kakak kerja,” katanya. “Pulangnya sore.”
“Oh.” Aku berdiri di gang dengan tas kain di bahu dan merasa sangat bodoh. “Ya udah, aku—“
“Mbak mau nunggu?”
Aku menatapnya.
Bulan lalu anak ini mengajukan tiga pertanyaan kepadaku yang mana ketiganya adalah tuduhan yang disamarkan jadi basa-basi. Sekarang dia menawariku menunggu.
“Boleh?”
“Boleh.” Dia membuka pintu lebih lebar. “Tapi di teras aja, ya, Mbak. Di dalam nggak ada kursi.”
Aku duduk di bangku papan itu selama dua jam empat puluh menit.
Alina keluar dalam waktu tiga puluh detik dan tidak pergi lagi. Dia duduk di sebelahku — di sebelahku, bukan di ujung lain — dan menanyaiku dua puluh enam pertanyaan yang aku hitung karena aku tidak punya kerjaan lain.
Apakah rumahku ada pagarnya. Berapa kamarnya. Apakah aku punya adik. Apakah aku bisa naik sepeda. Kenapa rambutku begitu. Apakah aku pernah ke Jakarta. Apakah Surabaya lebih jauh dari Jakarta.
Dan, di pertanyaan kedua puluh satu:
“Mbak Eliza pindah beneran?”
“Iya.”
“Kapan balik?”
“Nggak tahu.”
Dia mempertimbangkan itu dengan sangat serius.
Lalu dia berkata, “Ya udah,” dan pindah ke pertanyaan tentang apakah di Surabaya ada laut.
Kanaya keluar sekali, membawa teh, dan berdiri di ambang pintu sebentar sebelum masuk lagi.
“Mbak.”
“Ya?”
“Mbak tahu Kakak berhenti sekolah gara-gara kami, kan?”
Aku hampir menumpahkan tehnya.
“Nay!” Alina menoleh. “Nggak boleh gitu.”
“Aku nanya.”
Aku meletakkan gelas itu di bangku.
“Aku tahu,” kataku.
Kanaya mengangguk.
“Terus?” tanyanya.
“Terus apa?”
“Mbak mikir apa soal itu?”
Anak ini berumur tiga belas tahun. Dia berdiri di ambang pintu rumah petak dengan lap di bahunya, menanyakan sesuatu yang aku sendiri sudah kupikirkan berbulan-bulan tanpa berani menyusunnya jadi kalimat, dan dia menanyakannya dengan nada yang sama seperti orang menanyakan jam berapa sekarang.
Aku ingin menjawab yang benar. Aku ingat betul keinginan itu.
“Aku mikir,” kataku pelan-pelan, “kalau aku jadi kalian, aku bakal ngerasa itu salahku. Padahal bukan.”
Kanaya tidak bergerak.
“Dan aku mikir,” lanjutku, “kalau kalian ngerasa itu salah kalian, terus kalian mau bayar seumur hidup, itu juga bukan yang dia mau.”
Sesuatu berubah di wajahnya. Sangat kecil. Kalau aku berkedip, aku akan melewatkannya.
“Terima kasih, Mbak,” katanya.
Lalu dia masuk.
Dan aku duduk di teras itu dan menyadari bahwa aku baru saja diuji, dan bahwa aku tidak tahu apakah aku lulus.
Damar pulang jam setengah lima.
Aku melihatnya masuk gang dari jauh dan aku hampir tidak mengenalinya.
Bukan karena kotornya, meskipun dia kotor — dia abu-abu dari rambut sampai sepatu, jenis abu-abu yang cuma dihasilkan oleh puing tembok, dan kausnya diikat menutupi hidung dan baru dia turunkan waktu melihat ada orang di terasnya.
Bukan itu.
Yang membuatku hampir tidak mengenalinya adalah bahwa delapan bulan lalu anak ini duduk dua bangku di depanku di kelas XI IPS 1, dan kami berdua diomeli bersama karena tidak mengumpulkan tugas Sosiologi tepat waktu.
“Liz.”
“Hai.”
Dia berhenti di depan terasnya sendiri, tidak tahu harus berbuat apa.
“Aku bau,” katanya.
“Aku tahu.”
“Aku mandi dulu.”
“Damar, jangan mandi. Aku udah nunggu tiga jam.”
Dia berdiri di situ.
Lalu dia menoleh ke belakangnya, ke arah pintu, dan aku baru sadar bahwa Alina masih berdiri di teras dan Kanaya sudah kembali ke ambang pintu.
“Lin, masuk dulu.”
“Nggak mau.”
“Lin.”
“Kenapa sih.”
Kanaya menarik lengan Alina dan menyeretnya masuk, dan pintunya ditutup, dan aku tahu persis — aku tahu persis, karena aku juga pernah tiga belas tahun — bahwa mereka berdua berdiri di balik pintu itu.
Kami jalan ke mulut gang.
Sepuluh menit. Aku menghitungnya. Sepuluh menit dari petak nomor empat sampai ke warung Bu Ratih kalau berjalan pelan, dan kami berjalan sepelan yang bisa dilakukan dua orang tanpa terlihat sedang memperlambat.
“Surabaya,” katanya.
“Iya.”
“Kapan?”
“Kamis.”
“Kamis ini?”
“Kamis ini.”
Dia mengangguk. Dia melihat ke depan, ke gang, ke genangan-genangan.
“Sekolahnya gimana?”
“Pindah. Udah diurus.”
“Bagus.”
“Damar.”
“Hm.”
Dan di sini aku harus jujur, karena aku sudah menceritakan kejadian ini kepada diriku sendiri berkali-kali selama sepuluh tahun dan setiap kali aku memperbaiki sedikit-sedikit sampai akhirnya jadi versi yang lebih bagus daripada yang sebenarnya terjadi.
Yang sebenarnya terjadi: aku tidak mengatakan apa-apa.
Aku sudah menyusunnya. Aku menyusunnya selama tiga hari. Aku bahkan menuliskannya, di kamar, di buku diari yang kemudian kubakar waktu umurku dua puluh satu karena aku tidak tahan membacanya lagi.
Aku akan bilang: aku nggak tahu ini apa, tapi aku tahu ini ada, dan aku nggak mau pergi tanpa ngomong.
Itu kalimatnya. Aku hafal.
Yang keluar dari mulutku, di mulut gang Sidomulyo, jam lima sore, adalah:
“Kamu udah makan?”
Damar menoleh.
“Belum. Nanti.”
“Ya udah.”
“Iya.”
Kami berdiri di situ.
Angkot lewat. Yang pertama tidak kunaiki. Aku bilang bukan jurusanku, dan itu bohong.
“Liz.”
“Hm?”
“Makasih.”
“Buat apa?”
Dia memikirkannya. Dia memikirkannya lama sekali, dan aku menunggu, dan aku ingat berpikir bahwa kalau dia mengatakan sesuatu yang benar sekarang aku akan menangis di pinggir jalan raya di depan warung.
“Buat dateng,” katanya.
Angkot kedua lewat.
Aku menaikinya.
Aku menitipkan tas kain itu ke Bu Ratih.
Aku melakukannya sebelum Damar pulang, waktu masih menunggu di teras, waktu Alina sedang dipanggil masuk untuk sesuatu.
Empat buku catatan. Matematika, Ekonomi, Sosiologi, Sejarah.
“Bu, titip ini.”
“Nggo sapa?” (“Untuk siapa?”)
“Buat Damar. Tapi jangan dikasih sekarang.”
Bu Ratih memandangi tas itu.
“Terus kapan?”
“Kalau suatu hari dia nanya.”
“Nek ora tau nakon?” (“Kalau tidak pernah tanya?”)
Aku tidak punya jawaban untuk itu.
Beliau menghela napas dan mengambil tas itu dan menaruhnya di rak paling atas, di belakang kaleng-kaleng kerupuk, dan aku ingat berpikir bahwa itu tempat yang aman.
Aku tidak tahu, waktu itu, bahwa tas itu akan tetap di rak yang sama selama sepuluh tahun.
Bus ke Surabaya berangkat jam sembilan malam hari Kamis.
Aku duduk di dekat jendela. Ibuku tidur setelah dua jam. Ayahku tidak pernah bisa tidur di kendaraan dan menghabiskan malam itu membaca koran kemarin dengan lampu kecil.
Di suatu tempat setelah Salatiga, aku membuka dompetku.
Surat itu masih di sana. Dilipat tiga, di belakang kartu pelajar, sudah agak lecek di lipatannya karena aku membukanya terlalu sering.
Kepada Yth. Bapak Kepala SMA Negeri 1 Wonoyoso, di tempat.
Aku membacanya lagi di bawah lampu bus.
Sembilan baris. Tulisannya rapi sekali — itu yang selalu membuatku tidak tahan. Bukan isinya. Kerapiannya. Huruf-hurufnya berdiri lurus dan marginnya lurus dan tidak ada satu pun coretan, dan aku tahu persis apa artinya itu, karena aku melihatnya duduk di bangku beton di bawah pohon mangga selama empat puluh menit untuk sembilan baris.
Aku ingat hari itu dengan jelas.
Aku berdiri di depan loket TU dengan surat itu di tangan. Petugasnya, Bu Sri, sedang menelepon. Beliau mengangkat satu jari yang artinya sebentar.
Dan dalam sebentar itu, aku berpikir:
Kalau ini masuk, selesai.
Bukan drama. Bukan pengorbanan. Cuma itu, kalimat sependek itu, dan sangat masuk akal di kepalaku saat itu: kalau kertas ini menyeberangi meja, ada satu kolom di satu buku induk yang berubah, dan tidak ada seorang pun di sekolah ini yang akan repot-repot mengubahnya kembali.
Aku memasukkannya ke saku rokku.
Aku bilang pada diriku sendiri: hari Senin.
Hari Senin aku bilang: minggu depan saja, dia mungkin berubah pikiran.
Minggu depannya aku bilang: sebulan.
Dan setelah sebulan aku berhenti memberi diriku sendiri tenggat, karena aku sudah tahu bahwa aku tidak akan menyerahkannya, dan aku belum berani menanyakan kepada diriku sendiri kenapa.
Aku melipatnya kembali dan memasukkannya ke belakang kartu pelajarku.
Ini bagian yang paling aku tidak bisa jelaskan kepada siapa pun, bahkan sepuluh tahun kemudian, bahkan kepada orangnya sendiri:
Aku menyimpan surat itu melewati tiga dompet.
Dompet SMA yang kancingnya rusak. Dompet kuliah yang dibelikan ibuku waktu aku diterima. Dompet kerja yang kupakai sampai sekarang.
Setiap kali ganti dompet, aku memindahkannya. Setiap kali. Tanpa berpikir, seperti orang memindahkan KTP.
Dan setiap kali aku memindahkannya, ada bagian kecil di kepalaku yang berkata: ini konyol, Liz, orangnya sudah nggak sekolah delapan tahun, kertas ini nggak ada gunanya.
Dan aku tetap memindahkannya.
Karena selama kertas itu ada di dompetku, ada satu hal di dunia ini yang belum resmi.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan reading
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku