← Kakak Sudah Makan

Chapter Twenty Four

Tiga Ratus Empat Puluh Ribu

POV: Damar · Tahun kesembilan

Kemejanya batik. Warna cokelat tua dengan motif parang, lengan panjang, dan ada satu kancing yang warnanya beda karena pernah lepas dan diganti.

Haryo membawanya ke petak nomor empat hari Kamis malam, dibungkus kantong plastik.

“Nggo sesuk.” (“Buat besok.”)

“Mas, saya punya kemeja.”

“Sing biru kae? Sing tak silihi telung taun kepungkur?” Dia meletakkannya di lantai. “Kuwi kemeja nglamar kerja, Le. Dudu kemeja wisudan.” (“Yang biru itu? Yang saya pinjami tiga tahun lalu? Itu kemeja melamar kerja, Nak. Bukan kemeja wisudaan.”)

“Ini punya Mas Haryo?”

“Punyaku sing paling apik.” Dia menoleh ke Alina yang sedang mengintip dari kamar. “Nduk, gedhen ora, nek dienggo kakakmu?” (“Punya saya yang paling bagus. Nduk, kebesaran tidak, kalau dipakai kakakmu?”)

“Kegedean, Mas,” kata Alina.

“Yo dilempit.” (“Ya dilipat.”)

Aku memegang kemeja itu.

Aku tahu kemeja ini. Aku pernah melihatnya sekali, empat tahun lalu, waktu anak Haryo yang pertama sunatan.

“Mas, ini kan—“

“Ojo akeh omong.” Dia sudah di ambang pintu. “Sesuk jam pira mangkate?” (“Jangan banyak omong. Besok jam berapa berangkatnya?”)

“Bus jam empat pagi.”

“Yo wis. Turu.” (“Ya sudah. Tidur.”)

Dia pergi.

Alina keluar dari kamar dan mengangkat kemeja itu dan mengukurnya ke bahuku dengan wajah sangat serius.

“Kegedean beneran, Yah.”

“Nggak apa-apa.”

“Dilipet ya lengannya. Dua kali. Kayak yang di sekolah.”

“Iya.”

“Sini aku setrika.”

“Alina.”

“Aku bisa.”

“Kamu terakhir nyetrika bikin bolong seragam Mbak.”

“Itu setahun lalu!”

Kami menyetrikanya berdua. Maksudku, dia menyetrika dan aku duduk di dekatnya memberi instruksi yang tidak dia ikuti sama sekali.

Selesai, dia menggantungnya di paku di dinding, dan berdiri di depannya, dan menepuk bahunya sekali seperti orang merapikan patung.

“Bagus,” katanya.

“Iya.”

“Mbak Nay pasti nangis.”

“Nggak. Nay nggak pernah nangis.”

Alina menoleh kepadaku dengan ekspresi yang tidak bisa kuartikan.

“Ya udah,” katanya. “Nggak.”


Aku tidak dapat izin sehari penuh.

Aku sudah minta tiga minggu sebelumnya. Bapak yang punya rumah makan Padang itu orang baik, tapi Sabtu adalah malam paling ramai dan tukang cuci piring cuma dua dan yang satu lagi baru masuk sebulan.

Yang aku dapat: libur sampai jam empat sore.

Wisudanya jam sembilan pagi di Semarang. Selesai sekitar jam dua belas. Kalau aku naik bus jam satu, aku sampai Wonoyoso jam setengah empat, dan aku bisa masuk shift jam enam.

Aku menghitungnya berkali-kali dan tidak ada versi yang memungkinkan aku tinggal sampai sore.

Aku tidak memberitahu Kanaya.

Aku memberitahu Alina, karena Alina harus tahu kami pulang naik bus yang mana.

“Jam satu?” Dia mengerutkan dahi. “Foto-fotonya kapan?”

“Ada waktu sebelum.”

“Nggak ada. Mbak Nay bilang acaranya sampai jam dua belas, terus baru foto sama keluarga sama temen-temen sampai sore.”

“Nanti kita foto sebelum masuk.”

“Yah—“

“Lin.” Aku menoleh. “Kamu tetap di sana sampai sore. Kamu pulang sama Mbak Nay naik bus malam.”

“Terus Ayah sendirian?”

“Iya.”

Dia berdiri di tengah ruangan dengan setrika masih di tangan.

“Aku ikut Ayah aja.”

“Nggak boleh.”

“Kenapa?”

“Karena harus ada yang di foto sama dia.”

Alina tidak menjawab itu.

Dia menaruh setrikanya. Dia duduk di lantai di sebelahku, terlalu dekat seperti biasa, dan menyandarkan kepalanya ke lenganku.

Dia sudah enam belas. Kepalanya sudah setinggi bahuku kalau duduk.

“Yah.”

“Hm.”

“Nggak bisa bilang ke bapaknya kalau ini wisuda?”

“Udah.”

“Terus?”

“Terus dikasih sampai jam empat.”

“Ya kan berarti udah dibilang.”

Aku tidak menjelaskan lebih jauh, karena yang perlu dijelaskan adalah bahwa orang seperti aku tidak menawar dua kali, dan itu bukan hal yang perlu diketahui anak enam belas tahun tentang omnya.


Aku mengeluarkan amplop itu jam sebelas malam.

Amplop cokelat, di bawah tikar, di bagian yang tidak pernah digulung. Kertasnya sudah lunak seperti kain dan tulisannya sudah pudar tapi masih terbaca.

KULIAH NAY.

Sembilan tahun.

Tiga tahun pertama kosong. Aku ingat memutuskan itu di malam yang sama aku menulisnya: bahwa tidak ada gunanya, bahwa aku sudah terlambat, bahwa yang bisa kuselamatkan cuma Alina.

Lalu tahun keempat aku mulai memasukkan.

Aku tidak tahu kenapa. Aku sudah tahu angkanya tidak akan cukup. Aku tetap memasukkan, lima ribu, sepuluh ribu, sekali dua puluh lima ribu waktu ada borongan yang bagus.

Dan aku mengeluarkannya lagi.

Waktu Alina masuk SMP. Waktu gigi Alina harus dicabut dua. Waktu Kanaya butuh kalkulator ilmiah yang ternyata harganya seratus lima puluh ribu dan dia bilang tidak usah dan aku tetap membelinya. Waktu atap petak nomor empat akhirnya harus diganti tiga lembar.

Waktu Kanaya diterima kuliah, aku membukanya dengan tangan gemetar dan isinya seratus dua puluh ribu, dan aku tertawa sendirian di ruang depan sampai batuk.

Beasiswanya penuh. Itu yang menyelamatkan kami. Bukan aku.

Aku menuangkan isinya ke lantai malam itu dan menghitungnya di bawah lampu lima watt.

Tiga ratus empat puluh ribu.

Sembilan tahun.

Aku menghitungnya dua kali karena aku tidak percaya, dan aku ingin mencatat bahwa aku tidak percaya bukan karena terlalu sedikit — melainkan karena aku sudah yakin isinya nol.

Aku duduk memandangi tumpukan itu cukup lama.

Lalu aku memasukkannya ke saku kemeja batik yang tergantung di paku, dan aku memutuskan aku akan membelikan Kanaya sesuatu di Semarang besok.


Aku tidak tidur.

Aku berbaring di tikar sampai jam dua belas, lalu duduk lagi, lalu berbaring lagi.

Yang aku kerjakan di kepalaku selama tiga jam berikutnya adalah ini:

Beli apa?

Kelihatannya pertanyaan mudah.

Aku memulainya dengan rapi, seperti aku memulai semua hitungan. Aku menyusun daftar.

Tas. Anak kantoran butuh tas.

Lalu aku sadar aku tidak tahu Kanaya suka tas seperti apa. Dia punya satu tas, ransel hitam, yang dia pakai sejak SMA dan yang talinya sudah dijahit ulang sendiri dua kali dengan gunting dan benang Ibu.

Sepatu. Tapi aku tidak tahu ukurannya. Aku tahu ukuran sepatu Alina karena Alina yang membeli sendiri dan selalu bercerita. Kanaya membeli sendiri dan tidak pernah bercerita.

Baju. Aku tidak tahu warna kesukaannya.

Aku berhenti di situ dan mengulangi kalimat itu di kepalaku.

Aku tidak tahu warna kesukaannya.

Sembilan tahun.

Aku tahu berapa nilai rapornya setiap semester sejak kelas satu SMP. Aku tahu jam berapa dia bangun, berapa lama dia mandi, di halaman berapa dia biasanya berhenti belajar. Aku tahu dia tidak suka bawang putih mentah dan selalu menyisihkannya ke pinggir piring. Aku tahu kalau dia berbohong, dia menjawab satu detik lebih cepat dari biasanya.

Aku tidak tahu warna kesukaannya.

Aku tidak tahu lagunya apa. Aku tidak tahu dia punya teman dekat atau tidak di kampus. Aku tidak tahu dia pernah suka orang atau belum. Aku tidak tahu dia mau bekerja di mana, dan kalau aku jujur, aku bahkan tidak tahu apa jurusannya persisnya mengerjakan apa.

Aku tahu semua yang bisa dihitung tentang anak itu.

Dan aku tidak tahu satu pun hal yang tidak bisa dihitung.

Aku duduk di tikar petak nomor empat jam tiga pagi dengan tiga ratus empat puluh ribu di saku kemeja pinjaman, dan aku menyadari bahwa aku sudah membesarkan seseorang selama sembilan tahun dan aku tidak pernah sekali pun bertanya kepadanya tentang apa pun yang tidak berhubungan dengan sekolah, uang, atau kesehatan.

Aku tidak menangis malam itu.

Aku cuma duduk, dan mengulang pertanyaannya berkali-kali, dan tidak menemukan jawabannya.


Alina bangun jam setengah empat karena alarmnya.

Dia keluar dari kamar dengan mata setengah tertutup dan langsung berhenti waktu melihat aku sudah duduk berpakaian lengkap.

“Ayah nggak tidur?”

“Tidur.”

“Bohong.”

“Sedikit.”

Dia duduk di sebelahku dan menyandarkan kepalanya ke lenganku lagi, dan kami duduk begitu selama beberapa menit di ruang depan yang gelap.

“Yah.”

“Hm.”

“Ayah udah makan?”

Aku menoleh kepadanya.

Ada nasi di tudung saji. Aku sudah melihatnya waktu mengambil air jam satu tadi. Setengah piring, sisa semalam, ditutup dengan piring lain supaya tidak kering.

Aku sudah memutuskan sejak kemarin bahwa itu untuk Alina, karena kami berangkat jam empat dan tidak akan makan sampai siang, dan anak itu tidak bisa berpikir kalau lapar.

“Kakak sudah makan,” kataku.

Alina tidak bergerak dari lenganku.

“Ayah bilang Kakak,” katanya.

“Hm?”

“Ayah selalu bilang ’Kakak sudah makan’. Nggak pernah ’Ayah sudah makan’.”

Aku diam.

Aku tidak pernah menyadarinya. Aku sumpah, dalam sembilan tahun, aku tidak pernah sekali pun menyadarinya.

“Kenapa, ya?” kataku.

Alina mengangkat kepalanya dan menatapku di dalam gelap.

Lalu dia berkata, dengan suara yang sangat pelan, dengan nada anak enam belas tahun yang sedang berhati-hati sekali dengan pertanyaan yang sudah lama dia simpan:

“Soalnya kalau bilang ’Ayah’, berarti Ayah beneran ayah. Terus kalau Ayah beneran ayah, berarti nggak boleh capek.”

Dia menyandarkan kepalanya kembali.

“Kalau ’Kakak’ kan boleh,” katanya. “Kakak masih boleh capek.”

Bus kami berangkat empat puluh menit kemudian.

Aku memakai kemeja batik pinjaman dengan lengan dilipat dua kali dan tiga ratus empat puluh ribu di saku dada, dan aku duduk di dekat jendela, dan Alina tidur di bahuku sepanjang jalan ke Semarang.