Chapter Forty Six
Yang Tidak Kuingat Wajahnya
POV: Kanaya
Aku pulang jam enam kurang dan ada dua laki-laki duduk di teras.
Yang satu Om Damar.
Yang satu lagi aku tidak mengenalinya dari mulut gang, dan aku tidak mengenalinya dari sepuluh meter, dan aku baru mengenalinya dari tiga meter.
Bukan dari wajahnya.
Dari cara dia duduk. Bertumpu ke depan, dua siku di lutut, tangan menggantung.
Ibu duduk seperti itu.
Aku berhenti di depan teras.
Om Damar berdiri.
“Nay.”
Aku tidak menoleh kepadanya.
Laki-laki itu berdiri juga. Pelan, dengan satu tangan di bangku.
Dan dia melihatku, dan wajahnya melakukan sesuatu yang tidak bisa kutuliskan dengan baik — semacam runtuh, tapi pelan, dari dalam.
“Kanaya.”
Aku tidak menjawab.
“Kowe wis—“ Suaranya berhenti. “Wis gedhe.” (“Kamu sudah — sudah besar.”)
Dan aku berdiri di gang Sidomulyo dengan tas kantor di bahu, dan hal pertama yang keluar dari mulutku setelah empat belas tahun adalah:
“Bapak mau apa?”
Namanya Bayu Santika.
Umurnya lima puluh dua. Dia pergi waktu aku delapan tahun dan Alina empat.
Aku ingat wajahnya sampai umur tiga belas. Setelah itu mulai kabur. Umur enam belas aku sadar aku sudah tidak bisa memanggilnya di kepala, dan aku ingat rasa panik waktu menyadarinya, dan aku ingat aku mencari foto di seluruh rumah malam itu dan tidak menemukan satu pun karena Ibu sudah membuang semuanya.
Yang tersisa cuma tiga hal.
Bau rokok kretek.
Suara pintu depan yang ditutup pelan-pelan jam dua pagi, berkali-kali, bertahun-tahun.
Dan Ibu, duduk di ruang depan, menunggu.
Kami masuk ke dalam.
Om Damar yang menyuruh. Dia bilang tidak enak dilihat gang.
Alina pulang jam setengah tujuh dan berhenti di ambang pintu dan berkata, “Ini siapa?”
Dan aku melihat sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Laki-laki itu berdiri untuk kedua kalinya, dan berkata:
“Alina.”
Dan Alina menoleh kepadaku dan bertanya, dengan nada yang sepenuhnya biasa:
“Siapa, Mbak?”
Dia tidak ingat.
Aku tahu itu secara teori. Aku sudah tahu itu sejak dia berumur delapan tahun dan mulai memanggil Om Damar “Ayah” karena tidak tahu harus memanggil apa.
Tapi mengetahui secara teori dan melihatnya berdiri di ambang pintu menanyakan siapa kepada laki-laki yang membuatnya ada — itu dua hal yang berbeda.
“Bapak kamu,” kataku.
Alina menatap orang itu.
Dia menatapnya lama sekali. Tiga detik, empat, lima.
Dan lalu dia berkata, “Oh.”
Dan dia melepas sepatunya dan menaruhnya di rak, tidak sejajar, karena Alina tidak pernah menaruh sepatunya sejajar.
Dan dia duduk di lantai dan mengeluarkan HP-nya.
Itu saja.
Dan aku melihat wajah laki-laki itu waktu Alina duduk, dan aku sadar bahwa dari semua hal yang mungkin terjadi kepadanya sore itu, yang barusan adalah yang paling buruk.
Dia bercerita selama dua puluh menit.
Aku akan meringkasnya, karena aku sudah mendengarnya sekali dan aku tidak sanggup menuliskannya lengkap.
Dia pergi tahun dua ribu sekian, bulan Maret. Utang. Judi bola, awalnya kecil, lalu tidak kecil. Dia sudah menjual motor Ibu dan cincin Ibu dan dia mulai memikirkan hal-hal lain yang bisa dijual.
Dia bilang dia pergi karena dia takut pada dirinya sendiri.
Dia bilang itu dengan kalimat yang lebih panjang dan lebih berputar-putar, tapi isinya itu.
Dia ke Kalimantan. Sawit. Delapan tahun.
Dia mengirim uang dua kali di tahun pertama. Ibu mengembalikannya dua-duanya lewat wesel, tanpa surat.
Setelah itu dia berhenti mengirim.
Sekarang dia sakit. Ginjal. Cuci darah dua kali seminggu di Semarang, di tempat adiknya, yang menampungnya sejak tahun lalu.
“Aku ora njaluk apa-apa,” katanya. “Aku sumpah. Aku ora njaluk dhuwit.” (“Saya tidak minta apa-apa. Saya sumpah. Saya tidak minta uang.”)
“Terus Bapak ke sini kenapa?”
Dan dia menjawab, dan jawabannya yang membuat semuanya meledak:
“Aku pengin njaluk ngapura.” (“Saya ingin minta maaf.”)
Aku berdiri.
“Nay,” kata Om Damar.
“Minta maaf.”
“Nay.”
“Bapak dateng ke sini buat minta maaf.”
“Kanaya.”
Dan aku menoleh ke Om Damar dan aku berkata, “Kakak diam.”
Dan aku belum pernah mengatakan itu kepadanya seumur hidupku, dan aku masih memikirkannya sampai sekarang.
“Bapak tahu Ibu meninggal jam berapa?”
Dia tidak menjawab.
“Setengah lima sore. Tanggal dua puluh satu Agustus. Hari Selasa.”
Aku berdiri di ruang depan petak nomor empat dan aku tidak menaikkan suaraku sama sekali, karena aku tidak pernah menaikkan suara kecuali sekali dalam sepuluh tahun dan itu bukan untuk orang ini.
“Dua hari sebelumnya dia jatuh di tempat kerja. Dia jahit di konveksi Bu Tarmi waktu itu, dua belas jam sehari, karena kami tiga orang dan yang kerja satu.”
“Nduk—“
“Tagihan rumah sakitnya dua juta seratus ribu.”
Aku menyebutkan angkanya seperti aku menyebutkan semua angka.
“Yang bayar anak umur tujuh belas tahun. Nyicil sebelas bulan. Dari ngangkat keranjang di pasar jam dua pagi, seribu rupiah per keranjang.”
Aku menoleh ke Om Damar.
“Duduk, Kak.”
“Nay—“
“Duduk.”
Dan dia duduk. Dan itu satu-satunya kali dalam sepuluh tahun dia melakukan apa yang aku suruh tanpa membantah, dan aku baru sadar kenapa jauh setelahnya.
“Bapak tahu berapa penghasilan kami tahun pertama?”
“Aku—“
“Tiga ratus dua puluh ribu sebulan. Untuk tiga orang.”
Aku menghitung dengan jari, seperti biasa, supaya tanganku ada kerjaan.
“Seribu lima ratus lima puluh rupiah per orang per hari.”
“Kanaya—“
“Bapak tahu apa yang dia lakukan waktu Alina demam empat puluh derajat di tahun pertama?”
Dia menggeleng.
“Dia jual gitarnya.”
Aku menoleh ke Alina, yang masih duduk di lantai dengan HP-nya, dan yang sekarang tidak lagi menatap HP-nya.
“Gitar yang dibeliin Ibu waktu dia lima belas tahun. Nabung empat bulan. Empat puluh, empat puluh, tiga lima, empat lima.” Aku menoleh kembali. “Aku tahu angkanya karena aku nemu catetannya Ibu di laci.”
Alina menaruh HP-nya di lantai.
“Aku bilang dipinjem Mas Haryo,” kata Om Damar pelan.
“Aku tahu, Kak. Aku tahu dari umur empat belas.”
“Delapan belas tahun, Pak,” kataku.
“Nduk—“
“Bapak pergi waktu saya delapan. Sekarang saya dua puluh dua.”
Aku menarik napas.
“Empat belas tahun. Dan dari empat belas tahun itu, sepuluh tahun ada orang di rumah ini yang ngerjain kerjaan Bapak.”
Aku menunjuk ke arah tikar dengan daguku.
“Umur tujuh belas.”
Laki-laki itu menunduk.
“Bapak dateng ke sini buat minta maaf,” kataku. “Bapak mau maaf saya. Ya?”
Dia tidak menjawab.
“Nggak bisa, Pak.”
Aku mengangkat tasku dari lantai.
“Bukan karena saya benci Bapak. Saya nggak benci Bapak; saya bahkan nggak bisa inget wajah Bapak sampai tadi sore.” Aku menyampirkan tasnya ke bahu. “Nggak bisa karena maaf saya nggak ada gunanya.”
Aku menoleh ke Om Damar yang duduk di tikar.
“Yang Bapak ambil bukan dari saya.”
Dan Alina berdiri.
Aku menunggunya sejak menit pertama. Aku tahu bagaimana anak itu bekerja; aku sudah melihatnya di ruang guru SMA, di kantin kampus, di hajatan Pak Kirno.
Dia berdiri, dan dia berjalan ke tengah ruangan, dan dia berhenti di depan laki-laki itu.
Dan yang terjadi bukan yang aku tunggu.
“Om.”
Laki-laki itu mengangkat kepalanya.
“Aku nggak inget Om sama sekali,” kata Alina.
Suaranya biasa. Betul-betul biasa. Tidak dingin, tidak marah.
“Aku udah nyoba tadi. Dari tadi aku duduk di sini nyoba inget.” Dia mengangkat bahu sedikit. “Nggak ada.”
“Nduk—“
“Aku nggak marah, Om. Aku pengin marah, tapi nggak bisa.”
Dan dia berjongkok, supaya wajahnya sejajar dengan wajah orang yang duduk itu — dan aku melihat gerakan itu dan aku hampir tidak bisa berdiri, karena itu gerakan Om Damar, persis, sepuluh tahun anak itu melihatnya dan sekarang tubuhnya sudah hafal.
“Buat marah, harus ada yang diambil,” kata Alina. “Om nggak ngambil apa-apa dari aku.”
Dia berdiri lagi.
“Aku punya ayah.”
Laki-laki itu menangis.
Tanpa suara, dengan kedua tangan menutup wajahnya, di lantai ruang depan petak nomor empat.
Dan Alina berdiri di depannya dan tidak melakukan apa-apa, dan aku berdiri di dekat pintu dan tidak melakukan apa-apa, dan kami dua-duanya menunggu.
Dan Om Damar berdiri dari tikar dan mengambil gelas dan mengisinya dengan air dan meletakkannya di lantai di sebelah laki-laki itu.
“Kak.”
“Nay, sebentar.”
“Kakak—“
“Sebentar.”
Dia menunggu sampai orang itu selesai.
Mungkin lima menit. Dia duduk kembali di tikar dan menunggu lima menit dan tidak berkata apa-apa.
Lalu dia bicara.
“Pak Bayu.”
“Damar—“
“Saya nggak akan bilang Bapak bener.”
Ruangan itu diam.
“Bapak salah. Bapak pergi, terus anak Bapak dua-duanya tumbuh tanpa Bapak, dan itu nggak bisa dibalikin.” Suaranya biasa. “Yang barusan Kanaya bilang, semuanya bener. Nggak ada satu pun yang dilebih-lebihkan.”
Dia menggeser posisinya di tikar.
“Tapi saya mau bilang satu hal, dan saya mau anak-anak saya dengar.”
Dia menoleh kepada kami berdua.
“Tahun kedua,” katanya, “saya pernah mikir buat pergi.”
Aku tidak bisa menuliskan apa yang terjadi di dadaku waktu mendengar itu.
“Kak—“
“Dengerin dulu, Nay.”
Dia menatap lantai.
“Bulan Februari. Aku delapan belas. Aku baru dipecat Pak Wignyo dan aku belum dapet kerja tetap, dan bulan itu kita makan nasi sama kerupuk sembilan hari berturut-turut.”
Dia menggosok telapak tangannya ke celana.
“Malem tanggal berapa aku nggak inget. Kalian tidur. Aku duduk di tikar dan aku ngitung, kayak biasa. Dan malem itu hitungannya nggak ketemu. Bukan bulan itu — semuanya. Aku ngitung sampai lima tahun ke depan dan nggak ada satu pun versi yang jalan.”
Dia mengangkat kepalanya.
“Terus aku mikir: kalau aku pergi ke Jakarta, aku bisa kirim uang.”
Alina duduk di lantai. Aku tidak melihatnya duduk.
“Aku mikir kalian bisa dititipin ke panti yang di kabupaten, yang dulu ditawarin Bu Wulan, yang tetep bisa sekolah.” Suaranya masih rata. “Aku mikir itu lebih masuk akal. Aku mikir itu lebih bener buat kalian.”
Dia diam sebentar.
“Aku mikirin itu sampai jam empat pagi. Empat jam.”
“Terus kenapa nggak?” tanya Alina.
Dan Om Damar tersenyum. Senyum yang itu. Yang dia pakai sepuluh tahun.
“Karena jam empat kamu bangun,” katanya. “Kamu mimpi buruk. Kamu keluar dari kamar dan kamu manggil aku.”
Alina tidak bergerak.
“Kamu umur sembilan,” katanya. “Kamu manggil Ayah.”
Dia mengangkat bahunya sedikit.
“Terus aku nggak jadi mikir.”
Ruangan itu sunyi cukup lama.
Lalu Om Damar menoleh kepada Pak Bayu.
“Saya cuma empat jam, Pak,” katanya. “Dan yang bikin saya berhenti bukan karena saya orang baik. Karena ada anak umur sembilan tahun yang kebetulan mimpi buruk di jam yang tepat.”
Dia menatap laki-laki itu.
“Bapak mikirnya berapa lama?”
Pak Bayu tidak menjawab.
“Bapak salah,” kata Om Damar. “Tapi saya nggak bisa bilang saya beda sama Bapak. Saya cuma lebih beruntung.”
Dan lalu Pak Bayu bicara untuk terakhir kalinya malam itu.
Suaranya sudah hampir habis.
“Damar.”
“Nggih, Pak.”
“Aku ora tau ngerti siji perkara.” (“Saya tidak pernah mengerti satu hal.”)
Dia mengangkat kepalanya.
“Wiwit mau aku ngrungokke bocah-bocah iki ngomong. Wiwit mau.” Dia menyeka wajahnya dengan lengan bajunya. “Kabeh sing diomongke bener. Kabeh.” (“Dari tadi saya mendengarkan anak-anak ini bicara. Dari tadi. Semua yang mereka bilang benar. Semua.”)
“Nggih.”
“Ning ora ana siji wae sing takon kowe.” (“Tapi tidak ada satu pun yang bertanya kepada kamu.”)
Om Damar tidak bergerak.
“Umurmu pitulas,” kata Pak Bayu. “Ana wong sing mati, terus ana bocah loro, terus kowe njupuk. Kabeh wong ngomong kowe apik.”
(“Umurmu tujuh belas. Ada orang yang meninggal, lalu ada dua anak, lalu kamu mengambilnya. Semua orang bilang kamu baik.”)
Dia menatap laki-laki yang duduk di tikar.
“Ora ana sing takon: kowe gelem apa ora.”
(“Tidak ada yang bertanya: kamu mau atau tidak.”)
Aku berdiri di dekat pintu ruang depan petak nomor empat, tanggal dua puluh satu April, jam delapan lewat malam.
Dan aku menonton laki-laki yang membesarkanku sejak umur dua belas tahun membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan itu.
Dan menutupnya lagi.
Dan membukanya lagi.
Dan tidak mengeluarkan apa-apa.
Sepuluh tahun.
Dan yang akhirnya menanyakannya adalah laki-laki yang meninggalkan kami.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya reading
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku