← Kakak Sudah Makan

Chapter Twenty Two

Yang Ngangkat Beton

POV: Haryo · Tahun keenam

Saya sudah tujuh belas tahun di pekerjaan ini kalau dihitung sampai sekarang, dan sebelas tahun waktu pertama kali ketemu anak itu.

Ada yang perlu saya jelaskan dulu supaya orang paham.

Kerja kasar itu bukan satu jenis. Orang luar mengira semua sama: angkat, pikul, pulang. Padahal ada tingkatannya, dan tingkatannya ditentukan oleh satu hal — berapa lama badanmu bertahan.

Kuli pasar itu tingkat paling ringan. Berat, tapi jaraknya pendek dan waktunya subuh, jadi tidak kena matahari.

Bongkaran satu tingkat di atasnya. Debunya yang membunuh, bukan beratnya.

Cor-coran itu di atasnya lagi. Angkat ember beton naik tangga, tujuh sampai sepuluh jam, tanpa berhenti karena adonan tidak bisa menunggu.

Dan yang paling atas, yang tidak semua orang mau, adalah angkat gording sama bongkar cor lama. Itu bukan berat lagi. Itu badan dipakai sebagai alat.

Damar mengerjakan keempat-empatnya.

Bukan bergantian. Berbarengan.


Jadwal anak itu, tahun keenam, kalau ditulis:

Jam dua sampai enam pagi, pasar. Pulang sebentar, antar dua anak sekolah pakai sepeda.

Jam delapan sampai empat sore, proyek.

Jam enam sampai sebelas malam, cuci piring di rumah makan Padang. Ini yang paling lama dia sembunyikan dari saya; saya baru tahu tahun kelima, waktu saya kebetulan makan di situ jam sepuluh malam dan lihat dia keluar dari belakang.

Kalau dihitung, itu tujuh belas jam sehari.

Sisanya tujuh jam. Dipotong perjalanan, dipotong mandi, dipotong urusan anak-anak.

Saya pernah menghitungnya dan sampai di angka empat jam, dan saya berhenti menghitung karena saya tidak suka hasilnya.


Ada yang bilang orang seperti itu kuat.

Saya tidak sependapat.

Saya sudah lihat orang kuat. Mandor saya yang dulu, namanya Pak Diman, badannya seperti tembok, bisa angkat gording sendirian dan besoknya masih bisa main bola sore-sore. Itu kuat.

Damar bukan kuat.

Damar itu tipis. Tinggi, tapi tipis. Bahunya tidak lebar, tangannya panjang, dan kalau berdiri di antara kami dia selalu kelihatan seperti anak yang nyasar ke lokasi proyek.

Yang membuat dia bisa mengerjakan itu semua bukan badannya.

Yang membuat dia bisa adalah dia tidak pernah berhenti.

Orang normal itu berhenti. Bukan malas — berhenti. Duduk lima menit. Ngobrol dua menit sambil minum. Merokok. Lihat handphone. Itu bukan kemalasan, itu cara badan minta izin ke pemiliknya.

Anak itu tidak pernah minta izin ke badannya sendiri.

Saya perhatikan selama enam tahun. Kalau ada jeda, dia isi. Kalau adonan belum siap, dia rapikan bata. Kalau menunggu truk, dia sapu. Sekali saya lihat dia berdiri diam selama satu menit penuh dan saya langsung menghampiri karena saya kira dia mau pingsan.

Ternyata dia sedang mengingat-ingat sesuatu.

“Ngapa?” tanya saya. (“Kenapa?”)

“Lupa, Mas. Alina minta dibeliin apa gitu tadi pagi.”

Satu menit. Itu istirahat terpanjang yang pernah saya lihat dari orang itu dalam enam tahun, dan dia pakai buat mengingat pesanan anak kelas satu SMP.


Sekarang bagian yang mau saya ceritakan.

Bulan Juli, tahun keenam. Proyek ruko dua lantai di dekat terminal. Kami lagi cor lantai atas.

Cor itu kerja paling tidak enak karena tidak ada jeda sama sekali dari jam tujuh sampai selesai. Molen jalan terus. Kalau berhenti, adonan mengeras di jalan dan semuanya hancur.

Hari itu kami mulai jam tujuh dan selesai jam lima sore.

Sepuluh jam.

Waktu selesai, semua duduk. Semua. Delapan orang duduk di lantai bawah, tidak ada yang bicara selama sepuluh menit pertama karena tidak ada yang punya tenaga untuk itu.

Damar duduk di ujung, bersandar ke tiang, dengan kepala menengadah.

Terus dia ketawa.

Sendirian. Pelan. Tapi ketawa.

“Sinting,” kata Bejo dari sebelah saya.

“Damar.”

Dia menoleh ke saya, masih dengan kepala di tiang.

“Kenapa, Mas?”

“Ngapa ngguyu?” (“Kenapa ketawa?”)

Dan dia bilang — dan saya ingat kalimat ini persis, karena saya sudah menceritakannya ke banyak orang selama sepuluh tahun dan saya tidak pernah salah:

“Kanaya diterima, Mas.”

“Diterima apa?”

“Kuliah. Negeri. Di Semarang.”

Kami semua menoleh.

“Terus?” kata Bejo.

“Dapet beasiswa. Yang penuh.” Dia masih menengadah, masih menatap langit-langit cor yang baru kami tuang. “SPP-nya nggak bayar. Dapet uang saku juga, tujuh ratus sebulan.”

Bejo bertepuk tangan sekali, keras, dan yang lain ikut, dan ada yang berteriak sesuatu, dan seseorang bilang harus selamatan.

Saya tidak ikut bertepuk tangan.

Karena saya duduk paling dekat dengan tiang itu, dan dari tempat saya, saya bisa melihat dengan jelas.

Anak itu sedang menangis.

Tanpa suara sama sekali. Kepala masih menengadah, mata masih terbuka, air mata jatuh miring ke pelipis karena posisinya. Mulutnya masih membentuk senyum karena dia belum sempat menurunkannya.

Enam tahun saya kenal orang itu.

Enam tahun saya lihat dia dihina majikan, ditipu majikan, ditolak di sana-sini, batuk sampai tidak bisa napas di belakang tembok bongkaran, kerja tujuh belas jam sehari, makan kerupuk untuk makan siang.

Enam tahun, dan itu pertama kalinya saya melihat dia menangis.

Dan dia menangis karena kabar baik.

Saya berdiri dan pura-pura mengambil ember di sisi lain ruangan, supaya orang-orang ikut menoleh ke arah saya dan bukan ke arah dia.


Malamnya kami minum kopi di warung dekat terminal.

Saya yang bayar. Dia protes, seperti biasa. Saya bilang kalau dia protes sekali lagi saya tidak akan bicara sampai lebaran.

“Le.”

“Nggih.”

“Kowe eling ora, patang taun kepungkur aku ngomong apa?” (“Kamu ingat tidak, enam tahun lalu saya bilang apa?”)

“Yang mana, Mas?”

“Sing kowe ora bakal sewelas taun.” (“Yang kamu tidak akan sebelas tahun.”)

Dia tersenyum ke gelasnya.

“Ingat.”

“Saiki wis nem taun.” (“Sekarang sudah enam tahun.”)

“Iya.”

“Kurang limang taun.” (“Kurang lima tahun.”)

Dia tidak menjawab itu.

Saya melihat tangannya waktu dia mengangkat gelas. Enam tahun lalu telapaknya merah dan mengelupas. Sekarang tidak lagi. Sekarang kulitnya sudah tebal dan keras dan warnanya beda dari kulit lengannya, dan kalau dia menggenggam, garis-garisnya tidak hilang.

Itu tangan orang umur empat puluh.

Anak itu dua puluh tiga.

“Damar.”

“Nggih.”

“Nek Kanaya wis lulus kuliah, terus kerja, kowe arep ngapa?” (“Kalau Kanaya sudah lulus kuliah, terus kerja, kamu mau apa?”)

Dia meletakkan gelasnya.

Dan dia diam.

Bukan diam yang mikir. Saya kenal orang mikir. Damar itu kalau mikir matanya bergerak ke kiri dan bibirnya bergerak sedikit.

Ini diam yang lain. Ini diam orang yang ditanya sesuatu dalam bahasa yang tidak dia mengerti.

“Ya Alina, Mas.”

“Sakwise Alina?”

“Alina masih SMP.”

“Aku ngerti. Aku takon sakwise.” (“Saya paham. Saya tanya sesudahnya.”)

Dia mengangkat bahu. Dia tersenyum. Dia bilang, “Ya nggak tahu, Mas. Masih lama.”

Terus dia ganti topik ke harga semen.

Saya biarkan.

Tapi saya ingat malam itu sampai sekarang, karena itu satu-satunya pertanyaan dalam sebelas tahun yang tidak bisa dijawab oleh orang yang bisa menghitung semuanya di kepalanya sampai ke rupiah terakhir.

Dia tahu berapa harga semen. Dia tahu berapa SPP anak SMP di tiga sekolah berbeda. Dia tahu berapa ongkos angkot ke Semarang, berapa harga tiket bus malam, berapa biaya kos per bulan di dekat kampus, dan dia sudah menghitung semuanya sebelum pengumuman keluar.

Dan waktu ditanya dia sendiri mau apa, dia bilang tidak tahu.

Saya sudah lihat ratusan orang di pekerjaan ini.

Yang paling saya kasihani bukan yang paling miskin.

Yang paling saya kasihani itu yang tidak tahu bahwa dirinya juga orang.


Satu lagi, terus saya berhenti.

Bulan Desember tahun itu, ada kejadian di proyek.

Anak baru, namanya siapa saya lupa, umur sembilan belas, kerja belum sebulan. Dia menjatuhkan seember cor dari lantai dua. Tidak kena orang, tapi kena mesin molen dan macet dan kami rugi setengah hari.

Mandornya marah besar. Namanya Pak Tarno, mulutnya kasar.

Dia memaki anak itu di depan semua orang selama mungkin lima menit. Bukan cuma soal ember. Sampai ke soal orang tuanya, soal sekolahnya, soal kenapa orang bodoh dilahirkan.

Anak itu berdiri saja. Merah mukanya.

Dan Damar berjalan mendekat, sambil mengelap tangannya, dan berkata dengan suara biasa:

“Pak. Yang naruh embernya di pinggir tadi saya.”

Itu bohong. Saya lihat sendiri. Anak itu yang menaruh.

Pak Tarno berbalik ke Damar dan memakinya, tapi cuma satu menit, dan tidak sampai ke soal orang tua, karena semua orang di proyek itu tahu Damar tidak punya orang tua dan bahkan Pak Tarno punya batas.

Selesai. Kerja lanjut.

Malamnya saya tanya, “Ngapa mbelani bocah kuwi?” (“Kenapa membela anak itu?”)

Dan Damar menjawab, sambil terus memasang kembali rantai sepedanya yang lepas untuk kesekian kali:

“Dia baru sembilan belas, Mas.”

“Terus?”

“Umur sembilan belas itu masih kebawa,” katanya. “Kalau dimaki gitu di depan orang banyak, dia bakal inget lama. Bisa sampai tua.”

Saya menatap punggungnya.

“Nek kowe?” (“Kalau kamu?”)

Dia mengangkat kepalanya dan tersenyum ke saya, senyum yang sudah saya lihat ribuan kali dan yang sampai sekarang tidak bisa saya artikan.

“Saya udah dua puluh tiga, Mas,” katanya. “Saya udah nggak kebawa.”

Dia dua puluh tiga.

Dan waktu dia bilang begitu, saya baru sadar bahwa saya belum pernah sekali pun, dalam enam tahun, melihat ada orang membela anak itu.