Chapter Thirty Five
Pertanyaan
POV: Damar
Trotoar di depan blok C nomor sebelas lebarnya satu setengah meter dan ada pohon mangga yang menjatuhkan buah busuk setiap dua hari.
Kami duduk di situ hari Rabu, jam setengah lima sore, karena pekerjaan hari itu selesai lebih cepat dan Mas Haryo sudah pulang duluan dan aku menunggu jam enam untuk berangkat shift.
Eliza keluar membawa dua gelas.
“Teh.”
“Makasih.”
Dia duduk.
Bukan di ujung yang lain. Di sebelahku, dengan jarak yang normal untuk dua orang duduk di trotoar selebar itu, yang artinya lututku dan lututnya bersentuhan.
Aku merasakannya.
Aku tidak menggeser.
Aku ingin mencatat itu karena aku memikirkannya berhari-hari sesudahnya, dan karena aku tahu persis apa yang seharusnya kulakukan, dan karena aku tidak melakukannya.
“Damar.”
“Hm.”
“Aku mau nanya sesuatu.”
“Soal kusen?”
“Bukan soal kusen.”
“Soal listriknya? Yang di kamar belakang itu memang harus—“
“Damar.” Dia menoleh. “Bukan soal rumah.”
“Oh.”
Aku minum tehku.
“Film apa yang kamu suka?”
Aku menurunkan gelasnya.
“Hah?”
“Film. Yang kamu suka.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena aku nanya.”
“Nggak, maksudku—“ Aku berhenti. “Kenapa nanya itu?”
Dan Eliza melakukan sesuatu yang paling tidak bisa kulawan sepanjang tiga minggu itu.
Dia tidak menjelaskan.
Dia cuma menunggu.
“Aku nggak nonton film.”
“Nggak pernah?”
“Nggak.”
“Sama sekali?”
“Ada TV di rumah makan. Yang di dinding.” Aku mengangkat bahu. “Kadang kelihatan dari dapur. Tapi nggak ada suaranya.”
“Terus dulu?”
“Dulu kapan?”
“Waktu SMA.”
Aku memikirkannya.
Dan aku sadar, sambil memikirkannya, bahwa aku sedang mengerjakan sesuatu yang tidak pernah kukerjakan: mencari sesuatu di bagian ingatan yang sudah bertahun-tahun tidak kubuka karena tidak ada gunanya dibuka.
“Ada,” kataku. “Yang dulu diputer di kelas waktu pelajaran Sejarah. Yang tentang—“ Aku berhenti. “Aku lupa judulnya.”
“Ceritanya apa?”
“Ada gurunya. Terus muridnya banyak. Terus mereka berdiri di atas meja.”
Eliza menatapku.
“Dead Poets Society,” katanya.
“Iya. Itu.”
“Pak Umar yang muterin.”
“Kamu inget?”
“Kelas dua semester dua.” Dia menyandarkan punggungnya ke tembok pagar. “Kamu nangis.”
“Nggak.”
“Damar.”
“Nggak nangis. Mataku perih. AC-nya kenceng.”
“Ruang audiovisual kita nggak ada AC-nya. Kipas doang.”
Aku minum tehku lagi supaya tidak perlu menjawab.
“Kamu masih bisa main gitar?”
Aku menoleh terlalu cepat.
“Siapa yang bilang aku bisa main gitar?”
“Kamu, kelas satu. Di acara kelas. Kamu maju.”
“Aku nggak inget.”
“Kamu nyanyi Padi.”
“Liz.”
“Sumbang banget.”
“Ya udah, berarti nggak bisa.”
Dia tertawa.
Dan aku ikut tertawa, dan itu terasa seperti sesuatu yang harus kulakukan dengan hati-hati karena aku sudah lama tidak melakukannya di depan orang yang bukan Alina.
“Gitarnya masih ada?”
Aku menatap jalan.
“Nggak.”
“Ke mana?”
“Dijual.”
“Kapan?”
“Tahun pertama.”
Eliza tidak bertanya kenapa.
Itu bagian yang paling aku ingat dari seluruh sore itu. Semua orang akan bertanya kenapa. Bahkan Alina bertanya kenapa, dan Alina umur sembilan tahun waktu itu.
Eliza cuma bilang, “Oh.”
Dan minum tehnya.
Dan aku duduk di trotoar itu dan merasakan sesuatu yang aneh di dadaku, dan butuh waktu lama untuk aku sadari bahwa yang aneh adalah tidak ada yang perlu kujelaskan.
“Damar.”
“Hm.”
“Kamu dulu mau kuliah apa?”
Dan di situ aku berhenti.
Bukan berhenti bicara. Berhenti seluruhnya. Aku memegang gelas teh yang sudah dingin dan aku duduk di trotoar selebar satu setengah meter dengan lutut menyentuh lutut orang lain dan aku tidak bisa menghasilkan apa-apa.
Sepuluh detik.
Dua puluh.
“Nggak apa-apa kalau nggak—“
“Bentar.”
Eliza diam.
Aku mengerjakannya seperti aku mengerjakan hitungan. Aku mundur. Aku mencari titik awalnya.
Kelas dua SMA, semester satu. Ada formulir. Selalu ada formulir; hidupku ternyata dibagi oleh formulir.
Formulir peminatan, dibagikan bulan Juli, dikumpulkan bulan Agustus.
Aku mengisinya.
Aku ingat mengisinya. Aku ingat duduk di kelas dan mengisinya, dan aku ingat Rendi di sebelahku bertanya aku pilih apa.
Dan aku tidak bisa mengingat apa yang kutulis.
“Aku ngisi formulirnya,” kataku pelan. “Bulan Agustus. Aku inget ngisi.”
“Terus?”
“Terus tanggal sembilan belas Agustus Mbak Laras masuk rumah sakit.”
Eliza tidak bergerak.
“Aku nggak inget aku nulis apa,” kataku. “Aku beneran nggak inget, Liz. Aku udah coba.”
“Nggak apa-apa.”
“Nggak, aku—“ Aku menaruh gelasnya di trotoar karena tanganku tidak enak memegangnya. “Aku udah coba beberapa kali. Kadang malem. Aku coba inget.”
Aku mendengar suaraku sendiri dan suaranya terdengar seperti orang lain.
“Dan aku nggak bisa.”
Kami duduk cukup lama.
Ada anak kecil lewat naik sepeda. Ada penjual bakso mendorong gerobaknya dan membunyikan mangkuk tiga kali.
“Damar.”
“Hm.”
“Kalau sekarang?”
Aku menoleh.
“Sekarang apa?”
“Kalau sekarang kamu boleh milih. Bukan dulu. Sekarang.” Dia menatap jalan, bukan menatapku, dan aku baru mengerti bertahun-tahun kemudian bahwa itu disengaja. “Kamu mau apa?”
“Liz, aku dua puluh tujuh.”
“Aku nggak nanya umur kamu.”
“Aku nggak bisa—“
“Aku nggak nanya kamu bisa apa nggak.” Suaranya tetap ringan. “Aku nanya kamu mau apa.”
Dan aku ingin sekali mengatakan bahwa aku tidak tahu.
Itu jawaban yang sudah kusiapkan seumur hidup. Itu jawaban yang kuberikan kepada Mas Haryo enam tahun lalu di warung kopi dekat terminal, waktu dia menanyakan hal yang hampir sama, dan waktu itu jawabannya benar.
Tapi sore itu, di trotoar itu, ada sesuatu yang naik ke permukaan sebelum aku sempat menahannya.
“Guru,” kataku.
Eliza menoleh.
“Apa?”
Dan aku langsung menyesal, dan aku langsung mulai membongkarnya kembali, secepat mungkin, seperti orang yang menjatuhkan sesuatu dan buru-buru memungutnya sebelum ada yang lihat.
“Nggak. Nggak apa-apa. Lupain.”
“Damar—“
“Itu bodoh. Aku nggak lulus SMA, Liz. Buat jadi guru itu harus S1, terus PPG, terus—“
“Damar.”
“—terus ada tesnya, terus honorer dulu bertahun-tahun. Mas Gito di SMA-nya Alina udah sembilan tahun honorer dan gajinya di bawah UMK. Sembilan tahun.” Aku menggosok tanganku ke celana. “Nggak masuk akal.”
“Aku nggak nanya masuk akal apa nggak.”
“Ya tapi—“
“Damar.”
Aku berhenti.
Eliza menoleh sepenuhnya, dan lututnya masih menyentuh lututku, dan dia tidak menggeser juga.
“Kenapa guru?” tanyanya.
Dan aku tahu kalau aku menjawab yang ini, aku tidak akan bisa membongkarnya lagi.
Jadi aku menjawabnya.
“Kelas satu, aku pernah nyontek.”
Eliza mengangkat alis.
“Ulangan Bahasa Indonesia. Aku nggak belajar karena malemnya Kanaya demam — bukan Kanaya, maksudku, itu sebelum. Itu waktu Mbak Laras lembur dan aku yang jaga anak-anak.” Aku berhenti. “Pokoknya aku nggak belajar. Terus aku nyontek. Terus ketahuan.”
“Sama Pak Umar?”
“Iya.”
“Terus?”
“Terus dia nggak ngapa-ngapain.”
Aku memungut gelasku lagi dan memutar-mutarnya.
“Dia nggak marah di depan kelas. Dia nggak nyita kertasnya. Dia cuma jalan lewat mejaku, terus berdiri di sana sebentar, terus jalan lagi.” Aku menatap gelasnya. “Selesai ulangan dia manggil aku ke belakang. Bukan ke ruang guru. Ke belakang kelas, di koridor.”
“Terus?”
“Terus dia nanya, kamu semalem ngapain?”
Aku diam.
“Bukan kenapa kamu nyontek.” Aku menoleh ke Eliza. “Kamu semalem ngapain.”
Eliza tidak bicara.
“Aku cerita. Terus dia bilang ulangannya boleh diulang minggu depan, tapi jangan cerita ke siapa-siapa karena nggak adil buat yang lain. Terus dia suruh aku balik ke kelas.”
Aku minum tehku yang sudah dingin.
“Dua menit,” kataku. “Semua orang di sekolah itu kalau negur muridnya di depan kelas, biar yang lain takut. Pak Umar nggak pernah. Selalu di belakang. Selalu dua menit. Selalu selesai.”
Aku menaruh gelasnya.
“Aku pikir waktu itu — kalau ada orang yang bisa bikin anak yang salah ngerasa masih boleh ada di ruangan itu, ya berarti kerjaan itu kerjaan yang bagus.”
Aku mengangkat bahu.
“Udah. Gitu doang.”
Eliza tidak berkata apa-apa selama mungkin setengah menit.
Lalu dia bertanya, sangat pelan:
“Kamu pernah ketemu dia lagi?”
“Nggak.”
“Sepuluh tahun?”
“Sepuluh tahun.”
“Kenapa?”
Dan aku menjawab yang ini dengan cepat, karena yang ini tidak perlu dicari di mana-mana; yang ini ada di permukaan, setiap hari, selama sepuluh tahun.
“Dia yang tanda tangan jadi waliku,” kataku. “Waktu aku tujuh belas. Dia yang jamin ke dinas sosial. Dia bilang ke mereka, saya percaya sama anak umur tujuh belas ini.”
Aku menatap jalan.
“Terus dia kasih satu syarat. Satu doang.”
“Apa?”
“Aku tetep sekolah.”
Bakso itu lewat lagi dari arah sebaliknya. Mangkuknya berbunyi tiga kali.
“Empat hari,” kataku. “Aku janji hari Senin. Hari Kamis aku nulis surat pengunduran diri di bangku beton di bawah pohon mangga.”
Eliza tidak bergerak sama sekali.
“Terus dia bilang apa?”
“Nggak tahu.”
“Nggak tahu?”
“Aku nggak pernah ngasih suratnya sendiri,” kataku. “Aku berdiri di depan TU dua puluh menit dan aku nggak bisa masuk, karena dinding ruang guru sama TU itu triplek dan nggak sampai ke langit-langit. Kalau aku ngomong di TU, dia denger.”
Aku mengangkat bahu.
“Terus ada temen yang bawain.”
Dan Eliza Wirawan duduk di trotoar di depan rumahnya sendiri, dengan lutut menyentuh lututku, memegang gelas teh yang tidak dia minum sejak sepuluh menit yang lalu.
“Oh,” katanya.
Suaranya aneh.
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.” Dia berdiri terlalu cepat. “Aku ambil piring. Kamu belum makan, kan?”
“Liz, aku jam enam berangkat—“
“Lima belas menit, Damar.”
Dia masuk.
Aku duduk di trotoar itu sendirian dan aku tidak mengerti apa yang terjadi, dan aku baru mengerti sepuluh bulan kemudian, di ruangan yang sangat berbeda, waktu perempuan itu mengeluarkan selembar kertas dari dompetnya.
- 1 Tanah yang Belum Kering
- 2 Umur Tujuh Belas
- 3 Petak Nomor Empat
- 4 Aritmatika
- 5 Tulisan yang Rapi
- 6 Pasar Subuh
- 7 Kata yang Baru
- 8 Kolom Tanda Tangan
- 9 Pekerjaan Orang Tua
- 10 Dua Bungkus
- 11 Empat Senar
- 12 Tujuh Amplop
- 13 Yang Dibicarakan Orang
- 14 Tamu
- 15 Suara Orang Dewasa
- 16 Tiga Orang
- 17 Debu
- 18 Yang Tidak Kuserahkan
- 19 Dua Amplop dan Satu Lemari
- 20 Kardus di Bawah Tempat Tidur
- 21 Seratus Meter
- 22 Yang Ngangkat Beton
- 23 Tiga Hari
- 24 Tiga Ratus Empat Puluh Ribu
- 25 Baris Paling Belakang
- 26 Yang Ada Strukanya
- 27 Yang Nunggu di Parkiran
- 28 Toko Sinar Jaya
- 29 Sepuluh Tahun, Diringkas
- 30 Kotaknya Masih Ada
- 31 Gunting Dapur
- 32 Sekrup
- 33 Empat Sebelumnya
- 34 Metode Alina
- 35 Pertanyaan reading
- 36 Empat Jam
- 37 Dua Juta Enam Ratus Ribu
- 38 Tanggal Lima
- 39 Panci
- 40 Dua Puluh Sentimeter
- 41 Sepuluh Tahun Angkatan
- 42 Delapan Setengah
- 43 Hajatan
- 44 Sampul Cokelat
- 45 Rujukan
- 46 Yang Tidak Kuingat Wajahnya
- 47 Lampu Putih
- 48 Hari Jumat
- 49 Buku Induk
- 50 Koridor
- 51 Empat Ratus Tiga Belas
- 52 Aku