← Kakak Sudah Makan

Chapter Two

Umur Tujuh Belas

POV: Damar

Namanya Bu Wulan. Dia duduk di tikar yang belum sempat kugulung, meletakkan map plastik biru itu di depannya, dan menerima teh yang kubuat dengan gula seadanya.

Dia tidak meminumnya. Dia cuma memegang gelasnya dengan dua tangan, seperti orang yang tahu bahwa menerima adalah bagian dari sopan santun tapi meminum adalah bagian yang bisa dilewati.

“Jadi begini, Mas Damar.” Dia membuka map. “Ini bukan penilaian ke siapa-siapa, ya. Ini prosedur biasa. Kalau ada anak di bawah umur yang kehilangan orang tua, kami wajib datang, mendata, memastikan mereka aman.”

“Mereka aman.”

“Saya percaya.” Dia mengangguk. “Tapi saya tetap harus menuliskannya di sini.”

Dia mengeluarkan formulir. Aku bisa melihat kolom-kolomnya dari tempat dudukku, terbalik, dan meskipun terbalik aku bisa membaca beberapa: Nama Wali. Hubungan. Usia. Pekerjaan. Penghasilan per bulan.

“Ayah kandung anak-anak,” katanya, “atas nama Bayu Santika. Beliau di mana sekarang?”

“Nggak tahu.”

“Terakhir kontak kapan?”

Aku memikirkannya. “Empat tahun lalu. Lebih, mungkin.”

“Nggak ada kabar sama sekali?”

“Nggak ada.”

Bu Wulan menulis. Pulpennya bergerak lama sekali untuk kalimat sependek itu.

Dari kamar depan terdengar suara Alina bertanya sesuatu, lalu suara Kanaya menjawab pendek. Aku sudah menyuruh mereka di kamar. Kanaya tidak bertanya kenapa, yang artinya dia sudah tahu kenapa.

“Nah.” Bu Wulan menaruh pulpennya. “Kolom wali.”

“Saya.”

“Mas Damar umurnya tujuh belas.”

“Delapan belas Februari.”

“Sekarang bulan Agustus.” Dia mengatakannya dengan sangat lembut, dan justru kelembutan itu yang terasa seperti dorongan di dada. “Secara hukum, wali harus dewasa, Mas. Minimal dua puluh satu, atau sudah menikah. Ini bukan aturan saya. Ini aturan dari sananya.”

“Terus gimana?”

“Ada beberapa opsi.” Dia mengurutkannya dengan jari, dan aku tahu dia sudah mengurutkannya seperti ini di banyak rumah lain sebelum rumahku. “Satu, ada keluarga lain. Om, tante, sepupu, siapa pun yang sudah dewasa dan mau.”

“Nggak ada.”

“Nggak ada sama sekali?”

“Bapak Ibu saya sudah nggak ada. Mbak Laras anak pertama, saya anak terakhir. Yang tengah meninggal waktu bayi.” Aku mendengar suaraku sendiri dan suaranya terdengar seperti orang lain yang sedang membacakan silsilah. “Dari pihak suaminya, saya nggak kenal siapa-siapa.”

“Dua,” katanya, seolah aku tidak baru saja menghabiskan seluruh keluargaku dalam empat kalimat, “penitipan sementara. Ada beberapa lembaga di Wonoyoso, ada juga di kabupaten. Anak-anak tetap sekolah, tetap dapat pendampingan—“

“Nggak.”

“Mas—“

“Nggak.” Aku mengatakannya lebih keras dari yang kumaksudkan. Aku menurunkan suaraku. “Maaf. Nggak, Bu.”

Bu Wulan menutup mulutnya sebentar. Lalu, dengan hati-hati:

“Boleh saya jujur?”

“Boleh.”

“Saya sudah delapan tahun kerja di bidang ini. Dan setiap kali ada anak seumuran Mas yang bilang nggak di detik pertama, saya selalu senang.” Dia menatapku. “Terus enam bulan kemudian saya datang lagi, dan yang saya temukan biasanya bukan hal yang bikin senang.”

Aku tidak menjawab.

“Ini bukan soal Mas sayang atau nggak sayang. Saya sudah lihat dari kemarin. Ini soal Mas belum punya penghasilan, belum punya rumah sendiri, dan bulan depan Mas harus masuk sekolah lagi.”

“Saya bisa kerja.”

“Kerja apa?”

Kalau saja dia bertanya dengan nada mengejek, mungkin akan lebih mudah. Aku bisa marah. Marah itu gampang. Tapi dia bertanya dengan nada orang yang benar-benar ingin mendengar jawabannya, dan aku tidak punya satu pun.

“Apa aja,” kataku akhirnya.

Bu Wulan menghela napas. Bukan napas kesal. Napas orang yang sudah tahu percakapan ini akan berakhir di mana dan tetap harus melewatinya.

“Opsi tiga,” katanya. “Ada orang dewasa yang bersedia jadi wali secara resmi, dan Mas Damar yang mengasuh sehari-hari. Ini yang paling sering dipakai. Tapi orangnya harus jelas, harus mau tanda tangan, harus mau bertanggung jawab kalau ada apa-apa.”

“Bu Ratih?”

“Bu Ratih sudah saya tanya tadi, sebelum masuk ke sini.” Dia menggeleng pelan. “Beliau mau. Sangat mau. Tapi beliau punya empat tanggungan sendiri dan warung yang penghasilannya nggak tetap. Kalau saya ajukan atas nama beliau, ditolak di kecamatan.”

Ruang depan itu jadi sangat sunyi. Kipas angin pinjaman sudah dikembalikan pagi tadi.

“Ada nama lain, Mas?” tanya Bu Wulan. “Siapa pun. Guru, atasan, tokoh masyarakat. Yang punya penghasilan tetap dan kenal Mas cukup lama.”

Aku memikirkannya lama sekali.

Dan yang muncul di kepalaku bukan siapa-siapa dari kampung ini.


Pak Umar mengajar Bahasa Indonesia dan merangkap wali kelas dua IPS satu. Umurnya lima puluhan, badannya kurus, dan dia satu-satunya guru di sekolahku yang kalau menegur muridnya tidak pernah di depan kelas — selalu dipanggil ke belakang, selalu dua menit, selalu selesai.

Aku menemuinya di ruang guru jam satu siang, masih dengan seragam yang sama, karena aku benar-benar tidak punya yang lain.

Dia melihatku dari balik tumpukan buku tugas dan langsung berdiri.

“Damar.”

“Pak.”

“Bapak dengar dari sekolah.” Dia menarik kursi. “Bapak nggak sempat takziah, Nak. Maaf. Ibu Bapak lagi opname di Semarang, baru pulang tadi subuh.”

“Nggak apa-apa, Pak.”

“Duduk.”

Aku duduk. Ruang guru siang itu hampir kosong. Kipas di langit-langit berputar pelan dan mengeluarkan bunyi tek setiap satu putaran, dan entah kenapa bunyi itu yang membuatku hampir tidak sanggup bicara.

Aku menjelaskannya dengan cepat. Bu Wulan, map biru, tiga opsi, kolom wali. Aku menjelaskannya seperti orang yang takut kalau berhenti sebentar saja dia tidak akan bisa mulai lagi.

Pak Umar mendengarkan tanpa memotong satu kali pun.

Ketika aku selesai, dia melepas kacamatanya dan menggosok pangkal hidungnya dengan ibu jari.

“Adikmu yang kecil umur berapa?”

“Delapan, Pak. Yang besar dua belas.”

“Dan kamu tujuh belas.”

“Delapan belas Februari.”

Dia tersenyum tipis, kecil sekali. “Kamu bilang begitu terus, ya?”

“Iya, Pak.”

Dia memakai kacamatanya lagi. Lalu dia menarik selembar kertas kosong dari laci, meletakkannya di meja, dan menulis sesuatu yang tidak bisa kulihat.

“Damar,” katanya sambil menulis, “kamu tahu kalau Bapak tanda tangan, artinya apa?”

“Artinya Bapak jadi wali resminya.”

“Bukan cuma itu.” Dia berhenti menulis. “Artinya kalau suatu hari ada yang salah — ada yang sakit, ada yang kenapa-kenapa, ada yang lapor ke polisi — yang dipanggil pertama itu Bapak. Dan yang Bapak bilang ke mereka nanti adalah: saya percaya sama anak umur tujuh belas ini.

Aku menunduk ke lantai.

“Bapak nggak lagi nakut-nakutin,” lanjutnya. “Bapak lagi kasih tahu berapa harganya. Karena Bapak mau kamu tahu harganya sebelum kamu terima.”

“Saya tahu, Pak.”

“Nggak.” Suaranya tetap tenang. “Kamu belum tahu. Nggak ada anak tujuh belas yang tahu. Tapi Bapak juga nggak punya cara buat bikin kamu tahu selain membiarkan kamu jalani.”

Dia mendorong kertas itu ke arahku. Bukan formulir. Cuma nama, alamat, NIP, dan nomor telepon rumahnya, ditulis dengan huruf besar semua supaya jelas terbaca.

“Kasih ke petugasnya. Suruh datang ke sekolah kalau perlu tanda tangan basah.”

Aku memegang kertas itu dengan dua tangan.

“Pak—“

“Belum selesai.” Pak Umar bersandar. “Bapak ada syarat.”

“Apa, Pak?”

“Kamu tetap sekolah.”

Kipas di langit-langit berbunyi tek.

“Bapak tahu apa yang biasanya terjadi,” katanya. “Bapak sudah dua puluh tahun di sini. Anak yang kayak kamu, tiga bulan lagi izin, enam bulan lagi hilang. Terus lima belas tahun kemudian ketemu Bapak di pasar, panggil Bapak, salim, terus bilang maaf ya Pak, dulu saya nggak sempat.

Dia menatapku lurus-lurus.

“Bapak nggak mau ketemu kamu di pasar, Damar.”

Aku memegang kertas itu lebih erat.

“Iya, Pak,” kataku.

Dan aku bersungguh-sungguh. Aku bersungguh-sungguh dengan seluruh diriku, siang itu, di ruang guru yang hampir kosong, dan itu satu-satunya hal yang bisa kukatakan untuk membelanya nanti.


Bu Wulan datang lagi tiga hari kemudian, dengan map biru yang sama dan satu map baru berwarna kuning.

Kami duduk di tempat yang sama. Kali ini Kanaya tidak di kamar. Dia berdiri di dekat pintu dapur dengan lap di tangan, tidak ikut duduk, tidak juga pergi, dan aku tidak menyuruhnya masuk.

Bu Wulan mengeluarkan berkasnya satu per satu dan menjelaskannya satu per satu. Surat pernyataan wali. Fotokopi KK yang harus diurus ulang karena kepala keluarganya sudah tidak ada. Surat keterangan tidak mampu dari kelurahan, yang katanya bisa membantu untuk keringanan SPP. Surat pernyataan kesanggupan mengasuh.

Yang terakhir itu yang disodorkan kepadaku.

Dua lembar. Huruf kecil-kecil. Ada belasan poin bernomor, dan di bawahnya ada kolom untuk nama, tanda tangan, dan materai yang sudah ditempelkan Bu Wulan sendiri karena aku tidak punya.

“Dibaca dulu, Mas,” katanya. “Nggak usah buru-buru. Saya tunggu.”

Aku membacanya.

Poin satu, poin dua, poin tiga. Bersedia mengasuh, merawat, membiayai, dan memenuhi kebutuhan pendidikan. Poin empat, poin lima. Kalimatnya panjang-panjang dan berputar-putar dan setiap kali aku sampai di ujung baris aku sadar aku tidak menyerap satu pun kata di baris itu.

Di ambang pintu dapur, Kanaya berdiri diam. Aku bisa merasakannya tanpa perlu menoleh.

Aku sampai di poin delapan.

Lalu aku berhenti, mengambil pulpen dari meja, membalik ke halaman terakhir, dan menulis namaku di kolom yang kosong.

Bu Wulan mengangkat kepala. “Sudah dibaca semua, Mas?”

“Sudah,” kataku.

Itu bohong yang pertama.