← Kakak Sudah Makan

Chapter Three

Petak Nomor Empat

POV: Damar

Pak Kirno datang di hari kesembilan.

Dia pemilik rumah yang kami tempati, tinggal di ujung gang, punya empat pintu kontrakan dan satu ruko kecil di dekat pasar. Bukan orang jahat. Waktu Mbak Laras di rumah sakit, dia yang meminjamkan mobil bak untuk mengangkut, dan dia tidak minta ganti bensin.

Dia datang sore-sore, memakai sarung, duduk di teras dan tidak mau masuk.

“Aku ora arep nagih, Le,” katanya. “Aku mung arep rembugan.” (“Saya tidak mau menagih, Nak. Saya cuma mau bicara.”)

“Nggih, Pak.”

Dia menatap gang yang mulai gelap.

“Kontrakan iki kadaluwarsa wulan ngarep. Mbakyumu wis mbayar nganti September.” Dia menghitung dengan jari. “Tapi sing telung sasi sadurunge iku durung lunas. Pitung atus seket.” (“Kontrak ini habis bulan depan. Kakakmu sudah bayar sampai September. Tapi tiga bulan sebelumnya belum lunas. Tujuh ratus lima puluh ribu.”)

Aku mengangguk.

“Aku ngerti kahananmu,” lanjutnya. “Mula aku ora nagih. Aku mung kudu ngomong, merga wulan Oktober aku wis dijanji wong liya.” (“Saya paham keadaanmu. Makanya saya tidak menagih. Saya cuma harus bilang, karena bulan Oktober sudah dijanjikan ke orang lain.”)

“Nggih, Pak. Ngapunten.”

“Ora usah ngapunten.” Dia menepuk lututku satu kali, lalu berdiri. “Sing penting kowe ngerti wektumu.” (“Tidak usah minta maaf. Yang penting kamu tahu waktumu.”)

Dia pulang. Aku duduk di teras sampai lampu gang menyala.

Tujuh ratus lima puluh ribu. Tagihan rumah sakit dua juta seratus, yang sudah aku cicil seratus ribu dari uang amplop takziah dan sisanya masih menganga. SPP Alina dua bulan. SPP Kanaya satu bulan. Listrik. Air.

Dan di tanganku ada uang sisa amplop takziah: empat ratus dua puluh tiga ribu, disimpan di kaleng biskuit di atas lemari, jumlahnya sudah kuhitung tiga kali malam itu dan tidak pernah berubah.


Kami menjual barang selama dua hari.

Aku tidak menyebutnya menjual di depan Alina. Aku bilang kita mau pindah ke rumah yang lebih kecil, jadi barangnya harus dikurangi, karena nanti nggak muat. Alina menerima penjelasan itu dengan gembira. Dia bahkan membantu. Dia berkeliling rumah menunjuk barang-barang sambil bilang “ini nggak muat” dengan nada sangat yakin, dan setengah dari yang dia tunjuk adalah miliknya sendiri.

Yang datang membeli namanya Pak Sarwo, tukang loak yang kadang lewat gang kami dengan gerobak.

Dia membeli lemari kayu Mbak Laras: dua ratus ribu.

Mesin jahit yang dipakai Mbak Laras terima jahitan tetangga: tiga ratus lima puluh ribu, setelah tawar-menawar dua puluh menit yang aku kalah di semua putarannya.

Kompor dua tungku, ditukar dengan kompor satu tungku plus tiga puluh ribu.

Rak piring. Kursi plastik empat, sisakan dua. Kipas angin berdiri yang mati sebelah. Jam dinding. Satu set gelas kaca yang sebenarnya laku cuma dua puluh ribu tapi tetap kulepas karena dua puluh ribu adalah dua puluh ribu.

Tempat tidur besar Mbak Laras dibongkar di halaman. Papannya dijual terpisah dari kasurnya.

Sepanjang dua hari itu Kanaya tidak berkata apa-apa. Dia membantu mengangkat, membantu membersihkan debu di bawah lemari, membantu menahan pintu waktu mesin jahit dikeluarkan. Wajahnya sama seperti di pemakaman.

Baru di hari kedua, sore, waktu Pak Sarwo sudah pergi dan halaman sudah kosong dan yang tersisa cuma bekas persegi panjang di lantai tempat lemari itu berdiri sepuluh tahun, dia bicara.

“Kakak.”

“Hm.”

“Aku ambil satu, boleh?”

Aku menoleh. Dia sedang berdiri di depan kardus terakhir — kardus yang isinya barang-barang kecil, yang belum sempat kupilah, yang rencananya besok kubawa ke pasar loak sendiri.

“Ambil apa aja.”

Dia mengaduk kardus itu pelan-pelan. Cukup lama. Ada beberapa barang yang dia angkat, dia lihat, dia kembalikan.

Lalu dia berhenti.

Yang dia ambil bukan foto. Bukan kalung, bukan cincin, bukan apa pun yang akan kupilih kalau aku jadi dia.

Yang dia ambil adalah gunting.

Gunting jahit Mbak Laras. Gunting besar dengan pegangan hitam, yang berat sekali, yang dulu tidak boleh dipakai siapa pun untuk apa pun kecuali kain, yang kalau ketahuan dipakai memotong kertas hukumannya cuci piring seminggu.

Kanaya memegangnya dengan dua tangan.

“Ini nggak dijual, ya,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Nggak.”

“Ini punya Ibu.”

“Iya.”

Dia mengangguk. Lalu dia membawanya ke kamar dan tidak keluar lagi sampai magrib.

Aku berdiri di ruang depan yang sudah hampir kosong dan baru menyadari sesuatu yang membuat kerongkonganku sakit: dari semua barang di rumah ini, satu-satunya yang dipilih Kanaya adalah barang yang bisa dipakai bekerja.


Petak nomor empat ada di gang yang lebih dalam, dua belokan dari gang lama, di deretan enam pintu yang menghadap tembok pabrik tahu.

Satu kamar. Satu ruang yang merangkap segalanya. Dapur di belakang yang sebenarnya cuma bak cuci dan ruang selebar satu setengah meter. Kamar mandi di ujung deretan, dipakai bersama enam pintu, antre kalau pagi.

Sewanya seratus delapan puluh ribu sebulan.

Kami pindah pada hari Minggu, mengangkut dengan gerobak dua kali jalan, dibantu Bu Ratih dan anaknya yang nomor dua.

Barang kami muat dalam dua kali jalan. Sepuluh tahun sebuah keluarga, dua kali jalan gerobak.

Waktu semuanya sudah masuk, ruangan itu masih terasa kosong, dan itu yang paling membuatku tidak enak.

“Kamar buat kalian berdua,” kataku.

“Terus Om Damar?” tanya Alina.

“Kakak di depan. Enak di depan, ada angin.”

“Nggak ada kasurnya.”

“Ada tikar.”

Alina mempertimbangkannya dengan serius sekali, dahinya berkerut, lalu memutuskan bahwa itu masuk akal dan langsung lari ke kamar untuk memilih sisi mana yang jadi miliknya.

Kanaya tidak lari. Dia berdiri di tengah ruangan, memandangi tikar yang sudah kugelar di dekat pintu, dan aku tahu persis apa yang akan dia katakan.

“Kakak—“

“Nay.”

“Aku bisa di depan.”

“Nggak.”

“Aku—“

“Nay.” Aku berjongkok supaya wajahku sejajar dengannya. “Dengerin Kakak sekali aja, ya. Ada hal-hal yang kamu boleh atur. Banyak. Nanti Kakak kasih tahu apa aja. Tapi yang ini bukan salah satunya.”

Dia menatapku. Rahangnya bergerak sedikit.

“Kenapa?”

“Karena kamu anak perempuan dan kamu tidur di kamar yang ada pintunya.” Aku berdiri. “Udah. Itu aja.”

Dia diam beberapa detik. Lalu dia mengangguk sekali, pendek, dan masuk ke kamar.

Aku mendengarnya dari luar, mengatur letak barang dengan Alina, suaranya pelan dan sabar, sambil menjelaskan kenapa lemari plastik harus di sudut dan bukan di dekat jendela.

Malam itu aku tidur di tikar, di ruang depan petak nomor empat, dengan kaleng biskuit berisi tiga ratus dua puluh ribu di bawah bantal karena tidak ada tempat lain yang bisa dikunci.


Aku terbangun jam dua.

Bukan karena mimpi. Bukan karena suara. Aku terbangun begitu saja, cara orang terbangun di malam pertama di tempat baru, ketika tubuh belum hafal ke mana harus meletakkan diri.

Lampu ruang depan sudah kumatikan. Yang menyala cuma lampu jalan dari luar, masuk lewat celah di atas pintu, membuat satu garis kuning di lantai.

Aku duduk. Kepalaku terasa berat.

Aku mengeluarkan kaleng biskuit itu dan membukanya di pangkuanku, di dalam gelap, dan menghitung isinya lagi meskipun aku sudah tahu jumlahnya.

Tiga ratus dua puluh ribu.

Sewa seratus delapan puluh, sudah dibayar. Sisa seratus empat puluh untuk makan bertiga sampai gajian yang belum ada. Pak Sarwo bilang mungkin ada yang butuh tenaga di pasar subuh; dia belum janji apa-apa.

Aku menutup kaleng itu.

Lalu aku berdiri dan berjalan ke pintu kamar.

Aku tidak tahu kenapa. Aku cuma ingin memastikan mereka ada. Itu terdengar bodoh kalau ditulis, tapi begitulah rasanya malam itu: seperti kalau aku tidak melihat sendiri, mereka bisa saja tidak ada lagi besok pagi.

Pintunya kubuka pelan. Engselnya berdecit sedikit di awal, lalu diam.

Mereka tidur di satu kasur, di bawah satu selimut. Alina di sisi tembok, terlentang, satu tangannya menggantung ke luar kasur. Kanaya di sisi luar, memunggungi pintu, menghadap adiknya.

Aku berjongkok di sisi kasur.

Aku merapikan selimut yang melorot dari kaki Alina. Aku memindahkan tangannya yang menggantung supaya kembali ke atas kasur. Rambutnya menempel di pipi karena keringat; aku menyibakkannya dengan punggung tanganku, bukan telapak, karena telapakku sudah mulai kasar dan aku takut menggores.

Lalu aku menunduk dan mencium keningnya.

Aku pindah ke sisi Kanaya.

Selimutnya baik-baik saja. Rambutnya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kurapikan, dan aku tetap berjongkok di sana, selama mungkin satu menit penuh, menatap punggung anak dua belas tahun yang hari ini memilih gunting.

Mbak, kataku dalam hati, aku nggak tahu ini caranya gimana.

Aku nggak tahu apa-apa, Mbak.

Aku menyibakkan rambut di keningnya dengan punggung tanganku dan menciumnya, dan pada detik itu dadaku pecah untuk kedua kalinya dalam dua minggu.

Aku menangis dengan tangan menutup mulut. Bahuku bergetar. Aku menangis di lantai kamar petak nomor empat, jam dua pagi, sambil berusaha keras supaya tidak ada satu pun suara yang lolos.

Butuh waktu lama sampai aku bisa berhenti.

Aku menyeka wajahku dengan lengan kaus, merapikan selimut sekali lagi meskipun tidak perlu, lalu keluar dan menutup pintu.

Yang tidak kutahu malam itu — yang baru kutahu sepuluh tahun kemudian, di koridor sebuah rumah sakit, dari mulut orangnya sendiri — adalah bahwa Kanaya sudah bangun sejak engsel pintu berdecit.

Dia mendengar semuanya.

Dan dia berbaring diam, memunggungi pintu, dengan mata terbuka lebar di dalam gelap, sambil membuat satu keputusan yang akan dia pegang selama sepuluh tahun berikutnya tanpa pernah sekali pun dia langgar:

Kalau aku bangun, Kakak nggak akan berani nangis lagi.