← Giliranmu Istirahat

Chapter Nine

[Kesaksian] Buku Sampul Biru

POV: Lintang


Namaku Lintang. Umurku sepuluh tahun. Aku kelas empat.

Aku punya satu buku yang nggak boleh dilihat siapa-siapa.

Bukan buku diary. Diary itu buat nulis perasaan, kata Bu Guru. Bukuku bukan buat perasaan. Bukuku buat angka.

Aku mulai nulis waktu umurku tujuh tahun. Waktu itu tulisanku masih jelek banget, huruf-hurufnya gede-gede dan miring. Halaman pertama sampai halaman sepuluh masih tulisan jelek. Habis itu makin bagus.

Sekarang udah dua ratus tiga belas halaman.

Aku tau persis, soalnya tiap malem aku ngitung.


Hari itu Kak Claudia dateng lagi.

Aku seneng banget soalnya udah empat hari dia nggak dateng dan PR pecahan aku susah dan Mas Aries pulangnya jam sebelas terus.

Kita ngerjain PR di lantai. Bumi tidur di sofa. Mbak Sekar di dapur.

Terus abis selesai lima soal, Kak Claudia nanya.

“Lintang.”

“Hm?”

“Itu buku biru kamu, ya?”

Aku langsung nutupin.

“Rahasia.”

“Iya, aku tau. Nggak apa-apa.”

Terus dia balik ngerjain soal nomor enam sama aku.

Nah itu.

Itu yang bikin aku mikir.

Soalnya biasanya kalau orang dibilangin rahasia, mereka malah maksa. Mas Aries nggak maksa sih, tapi Mas Aries emang nggak pernah maksa apa-apa. Tapi orang lain maksa. Tante Ratih dulu pernah maksa. Bu Guru pernah maksa.

Kak Claudia nggak.

Dia cuma bilang nggak apa-apa, terus lanjut soal nomor enam.

Jadi aku diem sebentar.

Terus aku bilang, “Kak.”

“Hm?”

“Kakak mau lihat nggak?”


Aku buka halaman pertama.

Tulisannya jelek banget. Aku malu.

BU RATMI. NASI. 3 KALI. TGL 14.
BU RATMI. TELOR. TGL 15.
OM YUSUF. SURAT2. AKU GA TAU BRP.
MBAH TUN. SAYUR. TGL 15.
MBAH TUN. SAYUR. TGL 16.
MBAH TUN. SAYUR. TGL 17.

Kak Claudia nggak bilang apa-apa.

Aku jelasin. “Ini waktu aku kelas satu. Makanya jelek.”

“Nggak jelek kok.”

“Jelek. Hurufnya kegedean.”

Terus aku balik halaman.

Terus balik lagi.

Terus balik lagi.

Kak Claudia bilang, “Pelan-pelan, Ntang.”

Jadi aku pelanin.


Aku jelasin sistemnya, soalnya kalau nggak dijelasin nanti dia bingung.

“Nih, ada dua kolom.” Aku nunjuk. “Yang kiri PEMBERIAN. Yang kanan UTANG.”

“Bedanya apa?”

“Kalau PEMBERIAN itu artinya nggak usah dibayar. Kalau UTANG artinya nanti dibayar.”

“Ohh.” Kak Claudia ngangguk. “Terus yang mana yang PEMBERIAN?”

Aku diem.

“Lintang?”

“...Kosong.”

“Kosong?”

“Iya.” Aku bolak-balik halamannya biar dia lihat. “Kolom PEMBERIAN kosong semua. Dari halaman satu sampe halaman dua ratus tiga belas.”

Kak Claudia nggak ngomong.

Jadi aku lanjut jelasin, soalnya aku pikir dia belum ngerti.

“Soalnya kalau ditulis di PEMBERIAN, artinya kita nggak bayar. Terus nanti kalau nggak bayar, itu namanya—”

Aku lupa istilahnya.

Aku nyoba inget. Mas Aries pernah bilang, sekali, waktu dia lagi capek banget dan aku nggak sengaja denger dia ngomong sendiri di dapur.

“Oh iya,” kataku. “Namanya dikasihani.”

Kak Claudia narik napas agak keras.

“Kakak kenapa?”

“Nggak apa-apa.” Suaranya aneh dikit. “Lanjut.”


Terus aku tunjukin bagian yang aku paling suka.

“Nih, yang ini aku udah bisa ngitung harganya.”

BU NING. ANTENA TV. — MAS BENERIN. LUNAS TGL 3 MARET.

“Lunas?”

“Iya! Yang ini udah lunas.” Aku nunjuk yang lain. “Ini juga. Ini juga. Ini Mas yang bayarin, tapi aku yang catet.”

“Kamu nyatetnya gimana?”

“Ya aku lihat aja. Kalau Mas benerin sesuatu di rumah orang, aku catet. Terus aku coret yang di kolom utang.”

Aku nunjukin halaman yang banyak coretannya.

“Yang udah dicoret berarti udah lunas.”

Kak Claudia lihatnya lama banget.

Terus dia bilang, “Lintang, yang dicoret sedikit banget.”

“Iya.” Aku ngangguk. “Yang belum masih banyak.”

“Berapa banyak?”

“Banyak banget.” Aku ketawa. “Tapi nggak apa-apa, aku kan masih kecil. Nanti kalau aku udah gede aku kerja, terus aku bayar semuanya.”

Kak Claudia diem lagi.

Orang dewasa suka gitu ya. Diem tiba-tiba.


Terus dia nanya.

“Ntang, nama aku ada nggak di situ?”

“Ada dong.”

“Ada?”

“Ada. Bentar.”

Aku balik ke belakang, ke halaman yang baru-baru.

Ketemu.

KAK CLAUDIA. HARI KE-3.
NUNGGUIN MAS ARIES DI WARUNG SAMPE JAM 11 MALEM.
4 JAM.
AKU GA TAU HARGANYA BERAPA.

Kak Claudia baca itu lama banget.

Aku jelasin, “Aku nulis ‘aku nggak tau harganya berapa’ kalau aku beneran nggak tau. Soalnya kalau nunggu orang kan nggak ada harganya di warung.”

Terus aku nunjukin yang lain.

KAK CLAUDIA. AJARIN AKU MATEMATIKA. 5 KALI.
KAK CLAUDIA. SUSU KOTAK KE MAS ARIES.
KAK CLAUDIA. TELPON WARUNG NANYAIN PR AKU.

“Kamu nyatet itu semua?”

“Iya. Semua dicatet.”

Terus Kak Claudia ngomong pelan banget, kayak ngomong sama dirinya sendiri.

“...Hari ketiga.”

“Hm?”

“Nggak apa-apa.”


Terus dia nanya lagi.

Yang ini aku agak lama jawabnya.

“Ntang.”

“Hm?”

“Mas Aries ada nggak di buku ini?”

Aku megang bukuku agak erat.

“Kenapa?” tanyanya.

“Ada.”

“Boleh lihat?”

Aku nggak jawab.

“Nggak apa-apa kalau nggak boleh.”

Nah, dia gitu lagi.

Makanya aku kasih.


Aku buka dari belakang.

Soalnya bagian Mas Aries nggak di depan. Bagian Mas Aries aku mulai dari halaman paling belakang, terus maju ke depan. Jadi kayak dua buku dalam satu buku.

Halaman paling belakang tulisannya:

UTANG AKU SAMA MAS ARIES

Terus di bawahnya banyak banget.

MAS GA JADI BELI SEPATU BARU. SEPATU AKU YANG DIBELI. TGL 8.
MAS GA MAKAN MALEM. BILANGNYA UDAH MAKAN. BOHONG. TGL 12.
MAS GA TIDUR. AKU BANGUN JAM 2 MALEM MAS MASIH DUDUK. TGL 19.
MAS GA MAKAN MALEM LAGI. TGL 20.
MAS BOLOS KERJA GARA2 AKU DEMAM. GAJI MAS DIPOTONG. AKU GA TAU BRP.
MAS GA IKUT ACARA SEKOLAH. AKU GA TAU ACARA APA.
MAS TIDUR DI LANTAI. KASUR BUAT BUMI. TGL 2.
MAS GA MAKAN MALEM.
MAS GA MAKAN MALEM.
MAS GA MAKAN MALEM.

Aku bilang ke Kak Claudia, “Yang ‘nggak makan malem’ banyak banget ya. Aku sampe capek nulisnya.”

Kak Claudia nggak jawab.

Aku lihat mukanya.

Terus aku bilang, “Kak, Kakak nangis?”

“Nggak.”

“Bohong.”

“...Iya.”

Aku bingung. Jadi aku ambil tisu di meja terus aku kasih.


Terus aku jelasin bagian yang paling penting, soalnya ini yang bikin aku suka mikir kalau malem.

“Kak.”

“Hm.”

“Bagian Mas Aries nggak ada yang dicoret.”

“...Nggak ada?”

“Nggak ada satupun.” Aku bolak-balik halamannya. “Nih. Dari halaman dua ratus tiga belas sampe halaman seratus tujuh puluh. Nggak ada coretan.”

“Kenapa?”

“Ya soalnya aku nggak bisa bayar.”

Aku nutup bukunya.

“Kalau Bu Ratmi ngasih nasi, aku bisa bayar nanti kalau aku kerja. Kalau Om Yusuf ngasih fotokopi, aku bisa bayar. Semua yang di depan aku bisa bayar.”

Aku megang sampulnya.

“Tapi yang belakang aku nggak tau caranya.”

“Ntang—”

“Kayak yang ‘Mas nggak makan malem’ itu.” Aku nunjuk sampulnya walaupun bukunya udah ketutup. “Aku mau bayar. Tapi aku nggak bisa bikin Mas makan malem yang udah lewat. Udah lewat, Kak. Udah nggak bisa dibalikin.”

Kak Claudia nutup mukanya pake tisu.

Aku nunggu.

Terus aku bilang, “Kak, kalau Kakak nangisnya kenceng nanti Bumi bangun.”

Terus dia ketawa. Sambil nangis. Orang dewasa aneh banget.


Habis itu dia duduk lama, terus dia bilang:

“Lintang.”

“Hm?”

“Aku boleh minta sesuatu?”

“Apa?”

“Nama aku...” Dia narik napas. “Jangan ditulis di kolom UTANG.”

Aku langsung nggak seneng.

“Kenapa? Kakak nggak mau dibayar?”

“Bukan gitu.”

“Terus?”

“Tulis di kolom sebelahnya.”

Aku bengong.

“PEMBERIAN?”

“Iya.”

“Tapi PEMBERIAN kosong.”

“Iya, aku tau.”

“Dari halaman satu.”

“Iya.”

“Berarti Kakak yang pertama.”

Kak Claudia ngangguk.

Aku megang pensilku, tapi aku nggak nulis.

“Kenapa, Ntang?”

“...Aku nggak mau.”

“Kenapa?”

“Soalnya kalau ditulis di situ, artinya kita nggak bayar.” Aku megang bukuku erat-erat. “Terus nanti kalau kita nggak bayar, nanti kita jadi—”

Aku nggak jadi ngomong.

Soalnya tiba-tiba aku inget mukanya Mas Aries waktu ngomong sendiri di dapur malem itu.

Mas Aries nggak nangis. Mas Aries nggak pernah nangis.

Tapi mukanya waktu itu kayak orang yang mau nangis tapi lupa caranya.


Kak Claudia megang tanganku.

“Ntang, dengerin ya.”

“Hm.”

“Aku nggak mau dibayar sama kamu. Aku juga nggak mau dibayar sama Mas Aries.”

“Tapi—”

“Aku bukan orang yang ngasih makan kalian tiga tahun kayak Mbah Tun. Aku baru dateng empat kali.” Dia meremas tanganku pelan. “Aku belum punya hak buat ditulis di kolom utang, Ntang.”

Aku mikir.

Lama.

Terus aku buka bukuku lagi, ke halaman kosong yang paling baru.

Terus aku bikin garis pake penggaris.

Bukan dua kolom.

Tiga.

Kak Claudia lihatin aku.

“Ini apa?”

“Kolom baru.”

“Namanya apa?”

Aku mikir lagi.

Terus aku tulis, gede-gede, di atas kolom ketiga:

BELUM TAU

“Belum tau?”

“Iya.” Aku ngangguk. “Aku belum tau Kak Claudia masuk yang mana. Jadi aku taruh sini dulu.”

Kak Claudia lihat kolom itu lama banget.

Terus dia bilang, suaranya kecil, “...Oke. Boleh.”

“Nanti kalau aku udah tau, aku pindahin.”

“Oke.”

“Tapi mungkin lama.”

“Nggak apa-apa.”


Malemnya, jam sebelas empat puluh, Mas Aries pulang.

Aku pura-pura tidur soalnya kalau aku bangun nanti Mas ngerasa harus nemenin aku, terus dia jadi tidurnya lebih malem lagi.

Tapi aku ngintip dikit.

Mas duduk di lantai kayak biasa. Punggungnya nempel tembok. Terus dia merem sebentar.

Terus dia lihat meja.

Di situ ada bukuku.

Aku lupa naruhnya di kamar.

Aku deg-degan banget. Aku hampir bangun buat ngambil.

Tapi Mas Aries cuma lihat bukunya.

Terus dia geser bukunya dikit, biar nggak kena tumpahan air.

Terus dia naruh gelasnya di tempat lain.

Terus dia tidur di lantai.

Dan dia nggak buka bukunya sama sekali.

Padahal boleh, kok. Kalau Mas mau buka, boleh banget.

Cuma Mas nggak pernah tanya dua kali kalau udah dibilang rahasia.

Itu yang aku paling suka dari Mas Aries.

Dan itu juga yang bikin aku pengen nangis, kadang-kadang, kalau lagi malem.