← Giliranmu Istirahat

Chapter Forty Seven

Mau Jadi Apa

POV: Claudia


Papa pulang tanggal enam Desember.

Empat hari. Itu jatah kami tahun itu.

Dan di hari kedua, jam delapan malam, dia menaruh map plastik di meja makan dan berkata:

“Bella, ini tinggal wawancara sama tanda tangan.”

Aku menatap map itu.

“Wawancaranya kapan, Pa?”

“Januari. Online. Dua puluh menit.”

“Terus?”

“Terus kalau lolos, Agustus berangkat.”

Agustus.

Aku menghitungnya di kepalaku — sembilan bulan — dan aku menyadari bahwa aku sudah tertular penyakit itu sepenuhnya dan tidak ada obatnya.

“Bella?”

“Iya, Pa.”

“Kamu kok diem.”

Dan aku bilang, “Nggak apa-apa.”

Dan Papa mengangguk dan kembali ke laptopnya, karena Papa juga tidak punya kolom untuk pertanyaan lanjutan.


Tujuh bulan.

Itu berapa lama aku menyimpannya.

Sejak Mei, di ruang makan ini juga, waktu Mama berdiri di pintu dan bilang “kan udah dari dulu rencananya” lalu pergi ke rumah sakit.

Tujuh bulan, dan aku sudah punya sembilan kesempatan yang kuhitung sendiri, dan aku melewatkan sembilan-sembilannya.

Yang paling parah bulan September. Di undakan. Dia bertanya langsung — “Di mana?” — dan aku bilang “belum tau”, dan dia berhenti bertanya karena dia selalu berhenti bertanya di tempat yang tepat, dan aku memakai sifat yang paling kucintai dari dirinya sebagai tempat sembunyi.

Gita sudah memperingatkanku bulan Juli, di depan bak cuci semen, di piring kedua puluh empat.

“Kamu harus bilang sebelum dia denger dari orang lain.”

Dan aku bilang aku tahu.

Dan aku tidak melakukan apa-apa selama lima bulan.


Hari Minggu tanggal delapan Desember, aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan.

Aku mengundangnya ke rumahku.

“Ke rumah kamu?”

“Iya.”

“Ngapain?”

“Nggak ngapa-ngapain.”

“Claudia.”

“Ries.” Aku memegang tali tasku. “Aku udah dateng ke rumah kamu delapan bulan. Tiap minggu. Ratusan jam.”

Dia diam.

“Kamu belum pernah sekali pun ke rumah aku.”

Dan dia berdiri di ruang depan rumah nomor tujuh dengan wajah orang yang baru menyadari sesuatu yang seharusnya sudah jelas sejak lama.

“...Oh,” katanya.

“Iya.”

“Aku nggak pernah kepikiran.”

“Aku tau.”

“Kenapa aku nggak pernah kepikiran?”

Dan aku bilang, “Karena kamu nggak pernah mikirin apa yang kamu mau, Ries. Kamu cuma mikirin apa yang harus.”


Kami naik angkot jam empat sore.

Dan sepanjang jalan dia gelisah dengan cara yang tidak pernah kulihat sebelumnya — dia terus membetulkan kerah kausnya, dan dua kali dia bertanya apakah dia harus ganti baju, dan sekali dia bertanya apakah dia harus membawa sesuatu.

“Nggak usah bawa apa-apa.”

“Claudia, nggak sopan.”

“Rumahnya kosong, Ries.”

“Kosong gimana?”

“Kosong.”


Kami sampai jam lima kurang.

Dan dia berhenti di depan pagar.

Aku sudah menyiapkan diri untuk itu. Rumahku besar. Aku tahu rumahku besar. Aku sudah membayangkan wajahnya seratus kali.

Tapi yang kubayangkan salah.

Dia tidak melihat rumahnya.

Dia melihat pagarnya, lalu halamannya, lalu dia bilang:

“Rumputnya nggak dipotong.”

“...Hah?”

“Rumputnya.” Dia menunjuk. “Udah tinggi. Kalau dibiarin, nanti akarnya masuk ke pinggiran paving.”

Aku menatapnya.

“Aries.”

“Hm?”

“Kamu berdiri di depan rumah aku pertama kali dan yang kamu lihat rumput.”

Dan dia bilang, “Ya emang tinggi.”


Aku membuka pintu.

Dan aku menyalakan lampu.

Aku menyalakan satu — yang di koridor — karena aku sudah tidak menyalakan dua belas sejak bulan Juni.

Dan dia masuk.

Dan dia berdiri di ruang tamu.

Dan dia tidak berkata apa-apa selama mungkin dua puluh detik.


“Claudia.”

“Hm?”

“Ini rumah kamu?”

“Iya.”

“Kamu tinggal di sini sendiri?”

“Sama Mbak Yani. Tapi Mbak Yani pulang jam lima.”

“Mama kamu?”

“Shift.”

“Papa kamu?”

“Lagi di rumah. Empat hari.” Aku menaruh tasku. “Hari ini dia ada urusan sampai malam.”

Dan dia berdiri di tengah ruang tamu yang tidak dipakai siapa pun sejak Lebaran dua tahun lalu, dan dia berputar pelan sekali, dan lalu dia berkata:

“Berapa kamar?”

“Empat.”

“Yang dipakai?”

“Satu.”

Dan aku melihat sesuatu terjadi di wajahnya.


Aku membawanya keliling.

Bukan pamer. Aku ingin mencatat itu — aku tidak sedang pamer, aku sedang menunjukkan sesuatu, dan aku baru menyadari apa yang kutunjukkan di tengah-tengah.

Ruang tamu: tidak dipakai.

Ruang keluarga: TV-nya menyala kadang, tapi tidak ada yang menonton.

Kamar tamu satu: kosong, seprai diganti sebulan sekali.

Kamar tamu dua: kosong.

Kamar Mama dan Papa: dibersihkan Mbak Yani setiap Rabu, ditiduri empat malam sebulan.

Dan ruang makan.

Meja panjang. Delapan kursi.

Dan aku berdiri di ambang pintu ruang makan dan berkata:

“Ini yang mau aku tunjukin.”

Dia melihat mejanya.

“Delapan kursi,” katanya.

“Iya.”

“Kalian berapa orang?”

“Tiga.”

“Terus kenapa delapan?”

Dan aku bilang, “Aku nggak tau. Udah dari dulu.”

Dan dia berdiri di sana dan berkata, pelan sekali:

“Di rumah aku mejanya muat empat kalau Bumi di pangkuan.”


Aku menyalakan lampunya.

Semuanya.

Dua belas.

Dan aku bilang, “Nih. Ini yang aku bilang di angkot bulan Mei.”

Dan rumah itu terang benderang.

Ruang tamu, koridor, tangga, teras belakang, gudang, dua kamar tamu, ruang keluarga, dapur, ruang makan.

Dua belas lampu menyala di rumah yang isinya dua orang.

Dan Aries Kurniawan berdiri di tengah ruang makan itu dan menatap sekeliling, dan aku memperhatikan wajahnya, dan aku menunggu.

Dan dia bilang:

“Sepi.”

Satu kata.

Dan aku duduk di salah satu dari delapan kursi itu dan menutup wajahku dengan kedua tangan.


Kami duduk di ruang makan itu selama hampir satu jam.

Aku memasak — kalau menuangkan air panas ke mi instan bisa disebut memasak — dan kami memakannya di meja untuk delapan orang, berdua, di ujung yang sama.

Dan dia bilang, “Ini enak.”

Dan aku bilang, “Ini mi instan.”

Dan dia bilang, “Iya. Enak.”


Jam tujuh, aku mengeluarkan map plastik itu.

Aku sudah membawanya turun sebelum dia datang. Aku menaruhnya di rak dekat kulkas, dan aku sudah melihatnya empat kali sepanjang makan, dan dia tidak pernah melihatnya sekali pun karena dia tidak pernah mencari-cari.

“Ries.”

“Hm?”

“Aku mau nunjukin sesuatu.”

Dan aku menaruh map itu di meja.


Dia tidak langsung membukanya.

Dia melihat mapnya. Lalu dia melihatku.

“Ini apa?”

“Buka.”

Dan dia membukanya.

Kertas tebal. Kop universitas. Bahasa Inggris.

Aku memperhatikan matanya bergerak. Dia tidak bisa bahasa Inggris dengan baik — nilainya selalu tujuh koma sekian, cukup untuk lulus dan tidak lebih — dan aku melihat dia mencari kata yang dia kenali.

Dan aku tahu persis kapan dia menemukannya, karena tangannya berhenti.

Nama kota.

Lalu tanggal.

August.


Dia menutup mapnya.

Pelan sekali.

Dan dia menaruhnya di meja, dan meluruskannya sedikit supaya sejajar dengan tepi meja, yang mana adalah hal yang dia lakukan waktu tangannya butuh melakukan sesuatu.

“Bulan Agustus,” katanya.

“Iya.”

“Tahun depan.”

“Iya.”

“Berapa lama?”

“Empat tahun.”

Dan dia mengangguk.

Dan lalu dia bertanya, dan suaranya sepenuhnya normal, dan itulah yang membuatku hancur:

“Kamu tau dari kapan?”


“Bulan Mei,” kataku.

Dan aku melihatnya menghitung.

Aku melihat wajahnya melakukan hal yang selalu dia lakukan, dan aku ingin sekali dia berhenti melakukannya, dan aku tahu dia tidak bisa.

“Mei,” katanya. “Berarti tujuh bulan.”

“Iya.”

“Bulan September aku nanya kamu kuliah di mana.”

“Iya.”

“Kamu bilang belum tau.”

“Iya.”

Dan aku menunggu.

Aku menunggu dia marah. Aku ingin dia marah. Aku sudah menyiapkan diri untuk marahnya selama tujuh bulan dan aku hampir menginginkannya.

Dan dia tidak marah.

Dia duduk di kursi itu dan berkata:

“Maaf ya.”


“...Apa?”

“Maaf.”

“Aries, kenapa kamu—”

“Aku bikin kamu susah ngomongnya,” katanya. “Selama tujuh bulan.”

Dan aku berdiri dari kursi.

“Jangan.”

“Claudia—”

“Jangan minta maaf.” Suaraku pecah. “Jangan. Sekali ini aja, tolong, jangan.”

“Tapi—”

“Aku bohong ke kamu tujuh bulan!”

Dan dia menatapku.

Dan dia bilang, dengan tenang:

“Kamu nggak bohong. Kamu nggak bilang. Itu beda.”

“Itu sama—”

“Enggak.” Dia menggeleng. “Aku nggak bilang soal gudang tiga minggu. Aku nggak bilang soal jam tangan Bapak delapan bulan. Aku nggak bilang ke Sekar kalau aku takut selama tiga tahun.”

Dia menatap map itu.

“Kalau nggak bilang itu bohong,” katanya, “aku pembohong paling parah di gang itu.”


Aku duduk lagi.

Dan aku menangis di meja makan untuk delapan orang di rumah dengan dua belas lampu menyala, dan dia tidak menyentuhku, dan dia tidak bilang tidak apa-apa, dan dia cuma duduk di sana sampai aku selesai.

Itu yang dia lakukan sekarang.

Itu yang dia pelajari.


“Claudia.”

“Hm.”

“Kamu harus pergi.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Apa?”

“Kamu harus pergi,” ulangnya.

Dan ada sesuatu yang jatuh di dalam dadaku, cepat sekali.

“Ries—”

“Aku serius.”

“Kamu bahkan belum—”

“Claudia.” Dan dia menatapku, dan matanya merah, dan suaranya sama sekali tidak stabil. “Dengerin dulu.”

Aku diam.

“Aku nggak bilang gitu karena aku nggak apa-apa,” katanya. “Aku nggak apa-apa. Aku sangat nggak apa-apa.”

Dan aku melihat dia menelan sesuatu.

“Aku bilang gitu karena aku udah lihat apa yang terjadi kalau orang nggak pergi.”


“Maksud kamu apa?”

Dan dia bilang:

“Sekar.”

Aku menutup mataku.

“Februari,” katanya. “Dua kotak. Dua-duanya kosong. Seratus lima belas hari di bawah tumpukan baju.”

Suaranya bergetar.

“Adikku nggak pergi karena dia mikirin aku,” katanya. “Dan aku nggak akan pernah bisa mundurin itu. Nggak akan pernah, seumur hidupku.”

Dia menatap meja.

“Dan kalau kamu nggak pergi gara-gara aku,” katanya, “aku bakal punya dua.”


Aku tidak bisa bicara.

“Aku nggak sanggup punya dua, Claudia.”

Dan dia mengucapkannya dengan suara yang paling kecil yang pernah kudengar dari mulutnya.


Kami duduk di ruang makan itu lama sekali.

Lalu aku bilang, “Empat tahun itu lama.”

“Iya.”

“Kamu tau apa yang biasanya kejadian sama orang yang pisah empat tahun?”

“Tau.”

“Terus?”

Dan dia bilang, “Terus itu urusan nanti.”

“Ries—”

“Claudia.” Dia mengangkat wajahnya. “Aku baru delapan belas tahun tiga minggu.”

Aku menoleh.

“Dan tiga minggu lalu aku baru pertama kali bilang ‘aku sayang kamu’ ke adik-adikku sendiri,” katanya. “Umur delapan belas. Pertama kali.”

Dia mengangkat bahu, kecil.

“Aku nggak tau apa-apa soal empat tahun,” katanya. “Aku nggak tau apa-apa soal apa pun. Aku baru belajar hal-hal yang harusnya orang belajar waktu umur tujuh.”

Dan lalu dia bilang sesuatu yang kutulis di catatan HP-ku malam itu juga, kata per kata, dan yang masih ada di sana sampai sekarang:

“Yang aku tau cuma satu, dan ini bukan janji, ini cuma fakta.”

“Apa?”

“Kamu satu-satunya orang yang pernah dateng ke gang itu tanpa alasan.”

Dia menatapku.

“Dan aku nggak akan lupa itu, Claudia. Mau empat tahun, mau empat puluh.”


Jam sembilan, aku menanyakannya.

Aku sudah menyiapkan pertanyaan itu sejak bulan September, sejak malam aku duduk di lantai kamarku dengan dua kertas berdampingan.

“Ries.”

“Hm?”

“Aku mau nanya sesuatu, dan aku mau kamu jawab jujur, walaupun jawabannya nggak enak.”

“Oke.”

Dan aku bilang, “Kamu mau jadi apa?”

Dan dia langsung menjawab.

“Nggak ada.”

“Aries—”

“Claudia, kita udah pernah bahas ini.” Dia menggeleng. “Aku nggak bisa jadi apa-apa. Aku lulus SMA bulan Mei. Bumi lulus SMA tiga belas tahun lagi. Kolomnya nggak—”

“Aku belum selesai.”

Dia berhenti.

Dan aku menarik napas, dan aku mengucapkan pertanyaan yang sudah kususun selama tiga bulan:

“Aku nggak nanya kamu mau jadi apa,” kataku.

“Terus?”

“Aku nanya kamu mau jadi orang yang gimana.”


Dan Aries Kurniawan berhenti bergerak.

Aku sudah hafal wajah itu — wajah orang yang membuka laci yang selalu dia kira kosong.

Tapi kali ini beda.

Karena kali ini lacinya tidak kosong.

Kali ini dia menemukan sesuatu di dalamnya dan tidak tahu bagaimana mengeluarkannya.

“Claudia.”

“Hm.”

“Ulangin pertanyaannya.”

“Kamu mau jadi orang yang gimana?”

Dan dia duduk di kursi itu dan mulutnya bergerak dua kali tanpa suara.

Dan lalu dia bilang, pelan:

“Boleh aku mikir?”

“Boleh.”

“Berapa lama?”

Dan aku bilang, “Selamanya, Ries. Kamu boleh mikir selamanya.”


Dia berpikir selama empat menit.

Aku menghitungnya.

Empat menit, di ruang makan untuk delapan orang, dengan dua belas lampu menyala, dengan mangkuk mi instan yang sudah kosong di antara kami.

Dan lalu dia bilang:

“Yang bisa dikasih tau.”

“Hah?”

“Aku mau jadi orang yang bisa dikasih tau.”

Dan aku menoleh.

“Maksudnya gimana?”

Dan dia bilang, dan dia bilangnya sambil menatap meja, dan tangannya bergerak sedikit seperti orang yang menyusun sesuatu yang belum pernah dia susun sebelumnya:

“Sekar nggak ngasih tau aku soal formulir itu karena dia takut aku nambah shift.”

“Iya.”

“Lintang nggak ngasih tau aku soal buku birunya karena dia takut aku makan pura-pura.”

“Iya.”

“Bumi bilang dia nggak laper karena dia lihat piring aku kosong.”

Dia mengangkat kepalanya.

“Semua orang di rumah aku nyimpen hal-hal, Claudia. Semuanya. Bertahun-tahun.” Suaranya bergetar. “Dan bukan karena aku galak. Aku nggak pernah galak sekali pun.”

“Terus kenapa?”

Dan dia bilang:

“Karena aku bikin diriku jadi orang yang nggak boleh dikasih beban.”


Aku tidak bisa bernapas dengan benar selama beberapa detik.

“Ries.”

“Hm.”

“Itu jawaban paling bagus yang pernah aku denger.”

“Itu bukan cita-cita.”

“Itu cita-cita.”

“Itu nggak bisa ditulis di kolom, Claudia. Nggak ada sekolahnya. Nggak ada ijazahnya.”

Dan aku bilang, “Aku tau.”

Dan aku mengambil map plastikku sendiri dari meja, dan aku membukanya di halaman ketiga, dan aku mendorongnya ke arahnya.

“Ini kolom aku,” kataku. “Intended field of study. Kosong dari bulan Juli.”

“Kenapa kosong?”

“Karena Papa bilang itu hak aku, dan aku nggak pernah dikasih hak apa-apa sebelumnya jadi aku nggak tau caranya.”

Dan aku menunjuk baris di bawahnya.

Ada tulisan pensil di sana. Tipis. Sudah agak pudar karena tiga bulan.

Dia membacanya.

“Ini apa?”

“Aku tulis bulan September.”

“Kenapa pensil?”

Dan aku bilang, “Karena aku belum berani.”


Aku tidak akan menuliskan katanya di sini.

Aku sudah bilang itu di bulan September dan aku masih memegangnya.

Yang akan kutuliskan cuma reaksinya.

Dia membaca tulisan pensil itu.

Dan dia menaruh mapnya di meja.

Dan dia menatapku.

Dan dia bilang, “Claudia.”

“Hm.”

“Itu gara-gara aku?”

Dan aku bilang, “Enggak.”

Dan dia bilang, “Bohong.”

Dan aku bilang, “Iya.”

Dan dia menutup matanya, dan dia menutupnya cukup lama, dan waktu dia membukanya lagi dia bilang:

“Tulis pakai pulpen.”

“Ries—”

“Bukan sekarang.” Dia menggeser mapnya kembali ke arahku. “Tapi suatu hari, tulis pakai pulpen.”

Dan aku bilang, “Kalau kamu juga.”

“Kalau aku juga apa?”

Dan aku bilang, “Formulir yang di tas kamu. Yang enam kolom. Yang aku ambil dari tempat sampah.”

Dan dia diam.

“Masih ada?”

“Masih.”

“Di mana?”

“Di tas.”

“Sejak September?”

“Iya.”

Dan aku bilang, “Kalau kamu isi satu kolom aja — satu, yang mana aja — aku tulis pakai pulpen.”

Dan Aries Kurniawan berkata:

“Deal.”

Dan itu adalah satu-satunya kali seumur hidupnya dia mengucapkan kata “deal”, dan dia mengucapkannya dengan aksen yang sangat buruk, dan aku menertawakannya sampai aku menangis lagi.