Chapter Three
Ketua Kelas
POV: Gita
Aku punya satu prinsip yang tidak pernah kulanggar sejak kelas satu: kalau sesuatu tidak beres, tunjuk yang tidak beres.
Bukan karena aku suka. Justru aku benci melakukannya. Tapi aku sudah melihat terlalu banyak kelas yang berantakan karena semua orang saling melirik dan tidak ada yang buka mulut, dan aku memutuskan sejak lama bahwa lebih baik dibenci karena jujur daripada disukai karena diam.
Jadi pagi itu, jam tujuh lewat sepuluh, aku berdiri di depan kelas dengan buku absen di tangan dan berkata:
“Aries.”
Anak di bangku belakang dekat jendela mengangkat kepala.
Perlu waktu dua detik sebelum matanya benar-benar fokus. Aku memperhatikan itu dan mencatatnya sebagai bukti tambahan.
“Iya?”
“Kelompok tiga.”
“...Iya.”
“Kamu anggota kelompok tiga.”
“Iya.”
Aku membalik satu halaman. “Kemarin sore kelompok tiga kumpul di rumah Ridho. Enam orang. Kamu nggak datang.”
Kelas jadi lebih sepi dari sebelumnya. Aku bisa merasakannya di punggungku — tiga puluh lima kepala yang berhenti melakukan apa pun yang tadi mereka lakukan.
Aries tidak menjawab.
“Ini yang keempat kali,” lanjutku. Suaraku rata. Aku sudah melatih ini. “Kerja kelompok Fisika, kamu nggak datang. Praktikum Biologi, kamu nggak datang. Latihan Class Meeting, nggak datang. Kemarin, nggak datang.”
“Iya.”
“Iya doang?”
“Maaf.”
Aku menunggu.
Aku menunggu apa yang biasanya datang: alasan. Ban bocor, HP mati, disuruh nenek, lupa. Aku sudah menyiapkan jawaban untuk semuanya. Aku selalu menyiapkan jawaban.
Tapi dia cuma duduk di sana, punggung agak bungkuk, tangan di atas meja, dan mengulang:
“Maaf.”
Dan itu — entah kenapa — jauh lebih menjengkelkan daripada alasan apa pun.
Ridho mengangkat tangan dari bangku tengah.
“Git, udahlah. Kita udah selesai kok.”
“Kalian yang ngerjain berenam.”
“Ya emang.”
“Namanya tujuh.”
“Ya nggak apa-apa—”
“Apa-apa.” Kututup buku absenku. “Kalau ada satu orang yang namanya nempel di tugas tanpa ngerjain, itu bukan kelompok. Itu numpang.”
Ada yang menarik napas. Ada yang bilang ihh pelan.
Aku tidak melihat ke arah suara itu. Aku melihat ke belakang, ke bangku dekat jendela.
Anak itu menunduk. Tidak marah. Tidak malu. Tidak apa-apa.
“Aries. Kamu ngerti kan kenapa aku ngomong gini di depan?”
“Ngerti.”
“Kenapa?”
“Biar adil.”
Aku berhenti.
Itu jawaban yang benar. Itu jawaban yang persis kumau. Dan justru karena persis, ada sesuatu di dalamnya yang membuatku merasa seperti mendorong pintu yang ternyata tidak dikunci dan hampir jatuh ke depan.
“...Ya,” kataku. “Betul.”
Aku kembali ke bangkuku.
Di belakang, dia menaruh kepalanya lagi di lipatan tangan.
Dan aku tidak menoleh, jadi aku tidak melihat bahwa dua bangku di depan kiri, Claudia Sintya Bella sedang menggigit bagian dalam pipinya dan memegang pulpennya terlalu kuat.
Aku baru menyadari itu setelah semuanya selesai, dan pada saat itu sudah tidak ada gunanya.
Jam istirahat, dia mendekatiku di koridor.
“Git.”
“Hm?”
“Soal tadi.”
Kututup tutup botol minumku. “Kenapa?”
Dia diam sebentar. Terlalu lama untuk pertanyaan sesederhana itu.
“...Kamu pernah nggak,” katanya akhirnya, “mikir kalau mungkin ada alasannya?”
“Alasan apa?”
“Ya alasan.”
“Kalau ada, dia bisa bilang.” Kumasukkan botol ke tas. “Aku bukan orang yang nggak mau denger, Bella. Aku nanya empat kali. Empat kali dia jawab maaf.”
“Mungkin dia—”
“Kalau seseorang nggak mau ngomong, aku nggak bisa nebak.” Aku mengangkat bahu. “Aku ketua kelas, bukan cenayang.”
Dia membuka mulut.
Aku menunggu.
Lalu dia menutupnya lagi, mengangguk pelan, dan bilang, “Ya. Bener juga.”
Yang aneh bukan kalimatnya. Yang aneh cara dia bilangnya — seperti orang yang sedang menahan sesuatu di belakang gigi, dan memutuskan bahwa itu bukan miliknya untuk dikeluarkan.
Aku memperhatikan itu selama dua detik.
Lalu melupakannya, karena ada hal lain yang harus kuurus.
Aku belum tahu waktu itu bahwa dua detik itu adalah kesempatan pertama dari tiga yang akan kulewatkan.
Surat BK kembali hari itu, ditandatangani.
Aku mengeceknya di ruang guru sore-sore, dan berhenti di kolom paling bawah.
Nama wali: Kurniawan
Hubungan: Kakak kandung
Tanda tangan:
Tanda tangannya sederhana. Dua huruf disambung, garis lurus di bawahnya.
Kubaca ulang barisnya.
Kakak kandung.
“Bu,” kataku ke guru BK yang sedang membereskan meja. “Ini boleh, ya? Yang tanda tangan kakaknya sendiri?”
Bu Hesti melirik sekilas. “Aries?”
“Iya.”
“Boleh.”
“Tapi kan wali harusnya—”
“Boleh, Gita.” Dia menutup laci. “Sudah dari kelas sepuluh begitu.”
Aku menunggu penjelasan lanjutan.
Tidak ada.
Bu Hesti mengambil tasnya, mengucapkan selamat sore, dan pergi.
Dan aku berdiri sendirian di ruang BK yang mulai gelap, memegang surat dengan tanda tangan seorang anak tujuh belas tahun yang menandatangani surat peringatan untuk dirinya sendiri.
Aku menatapnya lama.
Lalu memasukkannya ke map.
Dan berpikir: ya, orang tuanya mungkin kerja di luar kota.
Karena itu penjelasan paling masuk akal. Karena itu yang paling sering terjadi. Karena aku, umur tujuh belas tahun, ketua kelas, juara paralel, anak yang selalu menyiapkan jawaban sebelum bicara — belum pernah sekali pun dalam hidupku harus membayangkan kemungkinan yang lain.
Itu kesempatan kedua.
Malamnya aku mengerjakan laporan kelompok sampai jam sepuluh.
Ibuku masuk membawa susu.
“Belum tidur?”
“Bentar lagi, Ma.”
“Kamu ngapain sih rajin banget.”
“Ini tugas kelompok. Ada satu orang yang nggak ngerjain.”
Ibuku duduk di pinggir kasur. “Terus kamu yang ngerjain?”
“Ya nggak. Aku udah tegur di depan kelas.”
“Di depan kelas?”
“Iya.”
Dia mengangkat alis. “Wih. Galak.”
“Ma.”
“Nggak, nggak.” Dia mengangkat tangan. “Bagus. Ketua kelas emang harus tegas.”
Aku kembali ke laptopku.
Lalu, tanpa kurencanakan, aku bertanya: “Ma.”
“Hm?”
“Kalau ada anak SMA yang jadi wali buat dirinya sendiri, itu artinya apa?”
Ibuku berhenti mengaduk susu.
“...Maksudnya?”
“Di surat sekolah. Kolom wali, dia isi nama kakaknya. Kakaknya sendiri yang tanda tangan.”
“Umur berapa kakaknya?”
“Nggak tau. Dia yang paling tua kayaknya.”
Ibuku diam agak lama.
“Git,” katanya pelan. “Lain kali kalau ada yang kayak gitu, jangan langsung ditegur di depan.”
“Kenapa?”
“Ya... jangan aja.”
“Ma, aku nanya kenapa.”
Ibuku berdiri, mengusap kepalaku sekali, dan berjalan ke pintu.
“Karena ada anak yang nggak punya orang buat ngasih alasan ke sekolah,” katanya, tanpa menoleh. “Jadi mereka berhenti punya alasan sama sekali.”
Pintu ditutup.
Aku duduk di depan laptopku yang menyala, dan untuk pertama kalinya sejak pagi, aku tidak tahu harus mengetik apa.
Besoknya aku datang ke kelas lebih pagi.
Aku sudah menyiapkan kalimat. Aku selalu menyiapkan kalimat. Aries, soal kemarin, aku mau ngomong sebentar. Sederhana. Tidak minta maaf — aku belum yakin aku salah — tapi cukup untuk membuka pintu.
Bangku belakang dekat jendela kosong.
Bel berbunyi. Masih kosong.
Jam kedua, Aries masuk.
Dia minta izin ke guru dengan suara pelan, dua kalimat, dan guru itu mengangguk tanpa bertanya apa-apa. Dia jalan ke belakang. Lewat di samping bangkuku.
Dan aku mencium bau bensin.
Bukan parfum. Bukan bau motor. Bau bensin yang menempel di kain — bau orang yang berdiri terlalu lama di dekat sesuatu.
Dia duduk. Menaruh tas.
Aku menoleh setengah, membuka mulut—
—dan dia sudah menaruh kepala di lipatan tangan.
Dalam empat detik, anak itu tertidur.
Empat detik.
Kuputar badanku kembali ke depan. Jantungku berdetak dengan cara yang tidak kumengerti dan tidak kusuka, dan kualihkan ke satu-satunya tempat yang kutahu cara mengurusnya:
kesal.
Kalau capek, tidur di rumah.
Kalau nggak sanggup sekolah, jangan sekolah.
Kalau ada masalah, ngomong. Nggak ada yang bisa bantu orang yang diem.
Kutulis tiga kalimat itu di pinggir buku catatanku, kecil-kecil, lalu kucoret sampai kertasnya hampir sobek.
Itu kesempatan ketiga.
Di ujung koridor, bel jam ketiga berbunyi.
Dan waktu aku melirik ke samping — bukan sengaja, cuma melirik — aku melihat Claudia menoleh ke belakang untuk kesekian kalinya.
Bukan ke arahku. Ke arah jendela.
Dan dia tersenyum sedikit ke arah anak yang sedang tidur itu. Senyum orang yang menyimpan satu rahasia, dan sudah memutuskan untuk tidak menyimpannya sendirian terlalu lama.
Aku tidak mengerti senyum itu waktu itu.
Aku baru mengerti dua bulan kemudian, dan waktu aku mengerti, aku ingin sekali kembali ke pagi itu dan menampar diriku sendiri.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas reading
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu