← Giliranmu Istirahat

Chapter Fifty

Delapan Kali Salah

POV: Aries


Empat puluh tiga hari.

Aku akan menceritakan semuanya, termasuk bagian yang memalukan, karena kalau aku melewatkan bagian yang memalukan maka aku sedang berbohong tentang orang yang aku dulu.


Hari kedua.

Aku pergi ke Bang Jecky.

Aku tahu. Aku tahu persis. Sekar sudah bilang bulan April: “Lain kali jangan tanya Bang Jecky.”

Aku tetap pergi.

Alasannya sederhana dan bodoh: aku malu bertanya ke adikku sendiri tentang hal ini, dan Bang Jecky satu-satunya laki-laki dewasa yang bisa kutanya.

“Bang.”

“Woy.”

“Boleh nanya sesuatu?”

Dan Bang Jecky mematikan motornya, turun, dan berdiri tegak.

“Ries.”

“Bang, saya belum—”

“Gue udah nunggu ini dari lo kelas sepuluh.”

“Bang, itu yang tahun lalu—”

“DIEM.”


Aku menjelaskannya.

Aku menjelaskan bahwa aku ingin mengatakan tiga kata dan tidak bisa dan sudah tidak bisa selama sepuluh bulan.

Bang Jecky mendengarkan sampai selesai.

Lalu dia bilang, “Oke. Gue paham. Ini masalah teknis.”

“Iya, Bang.”

“Yang lo butuhin cuma satu.”

“Apa, Bang?”

Dan dia bilang:

“Suasana.”


Ini yang dia usulkan, dan aku menuliskannya persis karena aku menyimpan catatannya.

“Satu. Ajak ke tempat yang bagus. Yang ada pemandangannya.”

“Bang, saya nggak punya—”

“Bukit belakang pasar. Gratis.”

“Dua. Waktunya sore. Pas matahari mau turun.”

“Sore saya kurir.”

“Ya izin lah, Ries. Sekali doang.”

“Tiga. Nih yang penting.” Dia mencondongkan badan. “Sebelum lo ngomong, lo diem dulu. Lima detik. Biar dramatis.”

“Lima detik diem?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Ya biar dia siap-siap.”

“Empat. Pas ngomong, lo pegang tangannya.”

“Lima. Lo tatap matanya. JANGAN KEDIP.”

“Bang—”

“JANGAN. KEDIP.”


Aku mencobanya hari keenam.

Bukit belakang pasar. Sore. Matahari turun.

Semuanya sesuai rencana sampai poin nomor tiga.

Aku diam lima detik.

Dan di detik ketiga, Claudia bertanya, “Ries, kamu kenapa?”

Dan aku bilang, “Nggak apa-apa.”

Dan dia bilang, “Kamu dari tadi diem terus natap aku.”

Dan aku bilang, “Iya.”

Dan dia bilang, “Kamu sakit?”

Dan aku bilang, “Enggak.”

Dan dia menaruh punggung tangannya di dahiku dan bilang, “Kamu nggak panas sih.”

Dan poin nomor lima gagal karena aku berkedip empat belas kali dalam lima detik karena ternyata manusia tidak bisa tidak berkedip.

Kami pulang.

Aku tidak mengatakan apa pun.


Hari kedua belas.

Aku menyerah dan bertanya ke Sekar.

Dia sedang menyetrika.

“Sekar.”

“Hm.”

“Aku mau minta tolong.”

Dan adikku mematikan setrikanya, menaruhnya berdiri, dan berbalik menghadapku dengan wajah orang yang sudah menunggu sepuluh bulan.

“Akhirnya,” katanya.


Ini yang terjadi selanjutnya dan ini adalah dua jam paling melelahkan dalam hidupku, dan aku sudah pernah menurunkan dua ratus sak semen dalam satu hari.

“Coba bilang ke aku.”

“Ke kamu?”

“Latihan.”

“Sekar, aneh.”

“Mas mau latihan sama Bang Jecky lagi?”

“...Oke.”

Dan aku menarik napas dan bilang:

“Aku sayang kamu.”

Dan Sekar bilang:

“Salah.”


Salah nomor satu.

“Mas ngomongnya kayak lapor.”

“Lapor gimana?”

“Kayak Mas bilang ‘beras udah abis’.”

“Terus harusnya gimana?”

“Ya lebih pelan.”

Aku mengulanginya lebih pelan.

Salah nomor dua.

“Kepelanan. Kayak orang mau minjem duit.”


Salah nomor tiga.

“Mas kenapa natap tembok?”

“Aku nggak berani natap kamu.”

“Mas ini latihan.”

“Iya.”

“Sama adik Mas sendiri.”

“Iya.”

“Mas kenapa nggak berani natap adik Mas sendiri?”

Dan aku bilang, “Aku nggak tau, Sekar.”

Dan dia menghela napas dengan cara yang membuatku merasa berumur enam tahun.


Salah nomor empat.

Aku mengucapkannya sambil menggaruk belakang leherku.

“Tangan Mas ngapain?”

“Gatal.”

“Nggak gatal.”

“Gatal, Sekar.”

“Mas selalu garuk leher kalau bohong.”

Dan aku menurunkan tanganku dan tidak berkata apa-apa karena aku baru tahu itu tentang diriku sendiri di umur delapan belas tahun.


Salah nomor lima.

Aku menambahkan sesuatu di belakangnya.

“Aku sayang kamu, ya.”

“Kenapa ada ‘ya’?”

“Biar nggak terlalu—”

“Mas.”

“Iya?”

“‘Ya’ itu buat minta persetujuan.”

Dan aku bilang, “Oh.”


Salah nomor enam.

“Aku... sayang... kamu.”

“Kenapa dipisah-pisah?”

“Biar jelas.”

“Itu kayak orang lagi diktein alamat.”


Salah nomor tujuh.

Aku mengucapkannya dengan benar.

Nadanya benar. Kecepatannya benar. Tanganku diam. Aku menatapnya.

Dan Sekar diam sebentar.

Dan lalu dia bilang, “Salah.”

“Apanya?”

“Mas nyiapin.”

“Ya emang aku lagi latihan—”

“Bukan. Maksudku Mas nyiapinnya kelihatan.” Dia menaruh setrikanya. “Kayak orang pidato.”

“Terus harusnya gimana?”

Dan adikku bilang:

“Ya jangan disiapin.”

Dan aku bilang, “Sekar, kamu nyuruh aku latihan.”

Dan dia bilang, “Iya.”

Dan aku bilang, “Terus sekarang kamu bilang jangan disiapin.”

Dan dia bilang, “Iya.”

Dan aku bilang, “Itu nggak masuk akal.”

Dan adikku yang berumur empat belas tahun itu berkata, sambil kembali menyetrika:

“Emang. Semua ini nggak masuk akal, Mas. Makanya susah.”


Salah nomor delapan.

Yang terakhir.

Aku sudah lelah dan aku sudah mau berhenti dan aku bilang, “Sekar, udah, aku nggak bisa.”

Dan dia bilang, “Sekali lagi.”

Dan aku bilang, “Buat apa—”

Dan dia bilang, “Sekali lagi, Mas.”

Jadi aku mengucapkannya sekali lagi. Asal. Sudah menyerah. Tanpa nada, tanpa persiapan, sambil melihat ke arah lain.

“Aku sayang kamu.”

Dan Sekar berhenti menyetrika.

Dan dia berdiri di sana selama beberapa detik.

Dan lalu dia bilang, pelan:

“Nah.”

“Nah apa?”

“Yang itu.”

“Yang mana?”

Dan adikku bilang:

“Yang barusan. Yang Mas udah nggak peduli kedengerannya gimana.”


Hari keempat puluh tiga.

Tanggal dua puluh dua Februari.

Hari Sabtu.

Dan aku tidak akan berpura-pura ada yang istimewa dari hari itu, karena tidak ada.

Pagi: gudang bahan bangunan.
Siang: angkat semen.
Sore: pulang, mandi, makan.
Malam: minimarket dengan Claudia, karena Sabtu shift kami sama.

Jam sebelas kami tutup.

Jam sebelas lewat sepuluh kami jalan ke pangkalan angkot.

Seperti setiap Sabtu selama delapan bulan.


Dan di tengah jalan, dia bilang:

“Ries.”

“Hm?”

“Hasilnya keluar.”

Aku berhenti jalan.

“Kapan?”

“Tadi sore. Jam empat.”

“Terus?”

Dan dia bilang, “Aku diterima.”


Aku ingin mencatat apa yang kurasakan di detik itu, dengan jujur, karena aku sudah berjanji akan jujur di seluruh catatan ini.

Yang pertama datang bukan sedih.

Yang pertama datang adalah lega.

Lega, karena selama dua bulan ada bagian di kepalaku yang membayangkan skenario di mana dia ditolak dan tetap di sini, dan bagian itu senang setiap kali membayangkannya, dan aku membencinya setiap kali aku menangkapnya.

Dan waktu dia bilang “aku diterima”, bagian itu mati.

Dan aku lega bagian itu mati.

Yang kedua datang tiga detik kemudian, dan yang kedua adalah sedih, dan yang kedua tidak perlu kujelaskan.


“Ries?”

“Iya.”

“Kamu nggak ngomong apa-apa.”

“Aku lagi mikir.”

“Mikir apa?”

Dan aku bilang, “Aku lagi ngitung.”

Dan dia bilang, “Ngitung apa?”

Dan aku bilang, “Berapa hari lagi.”

Dan dia bilang, “Berapa?”

Dan aku bilang, “Seratus enam puluh delapan.”


Kami sampai di pangkalan angkot jam sebelas lewat lima belas.

Angkot terakhir sudah ada di sana. Pak Dedi. Radio dangdut. Volume yang sama seperti setiap malam selama sepuluh bulan.

Dan Claudia berhenti sebelum naik.

“Ries.”

“Hm?”

“Kamu beneran nggak apa-apa?”

Dan aku bilang, “Enggak.”

Dan dia menoleh cepat, karena itu bukan jawaban yang biasa dia dapat.

“Kamu nggak apa-apa?”

“Enggak,” ulangku. “Aku nggak nggak apa-apa.”

Dan dia menatapku.

Dan dia bilang, “Oke.”

Dan dia tidak menambahkan apa-apa, dan dia tidak menghiburku, dan dia tidak bilang semuanya akan baik-baik saja.

Dia cuma bilang oke.

Dan berdiri di sana.


Dan aku mengeluarkan sesuatu dari saku dalam tasku.

Dari tempat yang sama dengan tiga puluh empat lembar struk yang diikat karet gelang, yang belum pernah dia lihat isinya, dan yang akan kuberikan kepadanya bulan Juli sebelum dia berangkat.

Selembar kertas HVS. Fotokopi miring. Dilipat dua di garis yang sama sejak bulan September.

Aku menyerahkannya.

“Ini apa?”

“Buka.”

Dan dia membukanya.

PENDATAAN RENCANA STUDI LANJUT — KELAS XII
Nama: ARIES KURNIAWAN

Dan enam kolom.

Lima di antaranya masih strip.

Dan yang keenam — yang ketiga dari atas, yang dulu ditulis dengan tekanan pulpen sampai kertasnya bolong —

sudah tidak strip lagi.


Cita-cita: MASINIS


Dia menatap kertas itu.

Dan aku melihat tangannya mulai bergetar.

“Ries.”

“Aku nggak bakal jadi masinis,” kataku cepat. “Aku tau. Aku udah ngecek. Ada sekolahnya, ada tesnya, ada umurnya, dan aku nggak bisa. Aku bukan lagi janji apa-apa.”

“Terus kenapa—”

“Karena kamu bilang kalau aku isi satu kolom, kamu tulis pakai pulpen.”

Dan dia menutup mulutnya dengan tangan.

“Dan karena,” kataku, dan suaraku mulai tidak stabil, “waktu aku umur delapan, kolom itu ada isinya.”

Aku menatap kertas itu di tangannya.

“Dan aku baru sadar bulan Desember,” kataku, “bahwa yang ngosongin kolom itu bukan keadaan.”

“Terus siapa?”

Dan aku bilang:

“Aku.”


Dan lalu aku mengatakannya.

Aku tidak memikirkannya. Aku tidak menyiapkannya. Aku tidak diam lima detik dan aku tidak memegang tangannya dan aku berkedip beberapa kali karena aku manusia.

Aku mengatakannya sambil melihat ke arah kertas di tangannya, bukan ke wajahnya.

Aku mengatakannya dengan nada orang yang sudah menyerah pada kedengarannya seperti apa.

“Aku sayang kamu.”


Empat kata.

Bukan tiga. Aku selalu menyebutnya tiga di kepalaku, dan ternyata empat.

Aku baru menyadari itu setelah mengucapkannya.


Claudia tidak bergerak.

Aku menghitung. Aku tidak bisa berhenti menghitung, bahkan di situ, bahkan saat itu.

Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Enam.
Tujuh.
Delapan.
Sembilan.

Sembilan detik.

Dan aku berdiri di pangkalan angkot jam sebelas lewat delapan belas malam dan aku menyadari sesuatu yang membuatku hampir tertawa di tengah semuanya:

Sembilan detik.

Persis sama seperti aku, bulan Juli, di undakan, waktu memegang botol air mineral empat ribu rupiah.


Dan di detik kesembilan dia bilang:

“Ries.”

“Hm.”

“Ulangin.”

“Hah?”

“Ulangin.”

Dan aku bilang, “Claudia, itu susah banget—”

Ulangin.

Dan aku mengulanginya.

Dan yang kedua lebih mudah dari yang pertama.

Jauh lebih mudah. Tidak ada apa-apa di tenggorokanku sama sekali.

Dan aku mengucapkannya yang ketiga tanpa diminta, dan yang keempat, dan di yang keempat dia sudah menangis dan memukul lenganku dengan kertas fotokopi itu dan bilang “cukup, Ries, cukup, ya Tuhan, cukup.”

Dan Pak Dedi membunyikan klakson dari angkot dan berteriak, “Dik! Berangkat, ora?”

Dan Claudia berteriak balik, “SEBENTAR, PAK!”

Dan Pak Dedi bilang, “Yo wis,” dan mematikan mesinnya dan menyalakan radionya lebih keras, dan aku bersumpah laki-laki itu tahu persis apa yang sedang terjadi dan memilih untuk menunggu.


Kami naik angkot jam sebelas lewat dua puluh empat.

Dan waktu angkotnya jalan, dia menyandarkan kepalanya di bahuku seperti biasa, dan tanganku kesemutan di menit kedua puluh seperti biasa, dan aku tidak menggerakkannya seperti biasa.

Dan dia bilang, dengan suara yang sudah setengah tidur:

“Ries.”

“Hm.”

“Sepuluh bulan.”

“Iya.”

“Kamu tau berapa kali aku bilang ke kamu?”

Dan aku bilang, “Dua ratus delapan puluh satu.”

Dan dia mengangkat kepalanya.

“Kamu ngitung?”

Dan aku bilang, “Aku ngitung semuanya, Claudia. Kamu udah tau itu.”

Dan dia menaruh kepalanya kembali dan tidak bicara lagi, dan aku merasakan bahuku basah, dan aku tidak menyebutkannya, dan dia tidak menyebutkannya.

Dan itu adalah cara kami saling menyayangi, dan itu adalah cara seluruh rumah nomor tujuh saling menyayangi, dan aku sudah berhenti mencoba mengubahnya.


Aku sampai rumah jam dua belas lewat dua puluh.

Air putih di meja, ditutup piring kecil. Sandal di depan pintu, menghadap keluar.

Dan Sekar belum tidur.

Dia duduk di meja, tidak melipat apa-apa, tidak menyetrika apa-apa.

Dia cuma duduk.

“Sekar? Kenapa belum tidur?”

Dan adikku menatapku.

Dan dia tidak bertanya apa-apa.

Dia cuma melihat wajahku selama sekitar tiga detik.

Lalu dia bilang, “Akhirnya.”

Dan berdiri, dan masuk kamar, dan menutup pintunya.