← Giliranmu Istirahat

Chapter Forty Three

Giliranmu Istirahat

POV: Claudia


Empat hari.

Itu berapa lama Aries Kurniawan bertahan sebelum dia mengambil pekerjaan baru.


Aku tahu dari Mas Yuda, yang menelepon Sekar, yang menelepon aku.

Rantai informasi di gang itu lebih cepat daripada aplikasi apa pun.

“Kak, Mas nambah kerjaan.”

“Nambah?”

“Cuci piring hotel. Malem. Jam dua belas sampe jam tiga.”

Aku duduk di kasur.

“Sekar, dia baru selesai shift minimarket jam sebelas.”

“Iya.”

“Terus jam dua belas dia mulai lagi?”

“Iya.”

“Sampe jam tiga?”

“Iya.”

“Terus jam setengah lima dia bongkar muat?”

Dan Sekar bilang, dengan suara yang sudah tidak datar lagi:

“Iya, Kak.”


Aku bertanya kenapa.

Bukan kepada Aries. Kepada Sekar dulu, karena aku sudah belajar bahwa kalau kau bertanya langsung kepada Aries Kurniawan, kau akan mendapat jawaban yang benar tapi bukan yang sebenarnya.

“Sekar, kenapa dia nambah?”

“Aku nanya.”

“Dia bilang apa?”

“Dia bilang buat nabung.”

“Nabung buat apa?”

Dan Sekar diam sebentar.

“Kasur,” katanya.

Aku memegang HP-ku dengan dua tangan.

“Kasur?”

“Malem itu, waktu kita tidur di ruang depan,” katanya. “Mas nanya kita mau apa.”

“Terus?”

“Terus Bumi bilang mau kasur yang muat empat.”

Dan aku duduk di kasurku sendiri, di kamarku sendiri, di rumah dengan dua belas lampu di lantai bawah, dan aku menutup mataku.

“Berapa harganya, Sekar?”

“Yang bekas, satu setengah juta. Yang baru, tiga.”

“Dia mau yang mana?”

Dan Sekar bilang, “Dia nanya-nanya harga yang baru.”


Ini yang tidak dimengerti orang tentang Aries Kurniawan, dan aku baru mengerti sendiri di bulan September:

Dia tidak menyiksa dirinya sendiri.

Dia tidak sedang menghukum diri. Dia tidak punya masalah dengan istirahat secara moral. Dia tidak pernah sekali pun mengatakan bahwa istirahat itu malas.

Yang terjadi jauh lebih sederhana dan jauh lebih sulit dilawan:

Setiap kali dia melihat ada yang bisa diperbaiki, tangannya bergerak.

Itu saja.

Bukan kewajiban. Bukan trauma. Refleks.

Sama seperti tangan orang bergerak menangkap gelas yang jatuh dari meja.

Dan selama tiga tahun, tidak ada satu hari pun di mana tidak ada yang bisa diperbaiki.

Jadi tangannya tidak pernah berhenti.

Dan sekarang, tepat setelah semua orang di dunia berkumpul di satu ruangan untuk memberitahunya bahwa dia tidak sendirian, adiknya yang berumur lima tahun mengucapkan enam kata dalam gelap —

biar Mas nggak di lantai

— dan tangannya bergerak lagi.


Aku memikirkannya selama tiga hari.

Dan setiap solusi yang kutemukan salah, dan salahnya selalu dengan cara yang sama.

Aku beliin kasurnya. — Bulan Maret. Amplop putih. Tiga minggu tanpa kata “aku”. Tidak.

Aku patungan sama gang. — Dia akan mencatat, dia akan membayar, utangnya bertambah. Tidak.

Aku bilang ke Sekar biar Sekar yang larang. — Memakai adiknya sebagai senjata. Tidak.

Aku marah. — Dia akan minta maaf dalam tiga detik dan tidak berubah sama sekali.

Dan hari ketiga aku menyadari sesuatu.

Semua solusiku berusaha membuatnya berhenti.

Dan kau tidak bisa membuat tangan berhenti bergerak dengan melarangnya.

Kau harus memberinya tempat lain untuk pergi.


Aku mencari harga tiket kereta hari Kamis malam.

Kereta lokal. Yang paling murah. Yang berhenti di setiap stasiun kecil dan penumpangnya membawa karung dan ayam dan kardus.

Dari stasiun kota kami ke stasiun terakhir jurusan itu: satu jam empat puluh menit.

Harganya delapan ribu rupiah.

Delapan ribu.

Pulang pergi enam belas ribu untuk dua orang jadi tiga puluh dua ribu.

Aku menatap angka itu di layar HP-ku dan aku menghitungnya berkali-kali seperti orang yang tidak percaya, dan aku ingat aku tertawa sendirian di kamar jam sebelas malam.

Tiga puluh dua ribu.

Lebih murah dari dua es krim dan dua ojek.


Hari Minggu pagi, jam setengah tujuh, aku ke gang.

Aku sudah bicara dengan Sekar sehari sebelumnya. Sekar yang mengatur semuanya — dia bilang dia akan urus Bumi dan Lintang, dia bilang dia sudah bilang ke Bu Ratmi, dia bilang aku tidak usah khawatir.

Dan dia bilang satu hal lagi, di telepon, dengan suara datarnya:

“Kak.”

“Hm?”

“Jangan bilang mau ke mana.”

“Kenapa?”

“Kalau Mas tau tujuannya, dia bakal ngitung waktunya.”


Aries sedang di dapur waktu aku sampai.

Dan aku berhenti di ambang pintu dapur, karena Lintang sedang memeluknya dari belakang.

Diam. Dahi di punggung. Tangan melingkar di depan perut.

Aku sudah pernah melihat ini sekali, bulan Juli, dan aku belum pernah bisa melihatnya lagi tanpa merasakan sesuatu menekan dadaku.

Aku menunggu di ambang pintu sampai selesai.

Lintang melepaskan. “Udah.”

“Udah apa?”

“Udah aja.”

Dan dia berbalik dan melihatku dan wajahnya langsung berubah jadi wajah orang yang tahu sesuatu.

Dia tidak bilang apa-apa.

Dia cuma mengacungkan jempol ke arahku, dengan tangan di bawah meja, supaya kakaknya tidak lihat.


“Claudia?” Aries menoleh. “Pagi banget.”

“Ayo.”

“Ke mana?”

“Ikut aja.”

“Claudia—”

“Ayo, Ries.”

“Aku ada kerjaan jam satu.”

“Aku tau. Kita balik jam dua belas.”

Dan dia berdiri di depan kompor memegang panci, dan aku melihat otaknya bekerja — aku sudah hafal wajah itu, wajah orang yang sedang membuka spreadsheet di kepalanya.

“Berangkat sekarang?”

“Iya.”

“Ke arah mana?”

“Nggak usah tau.”

“Claudia, aku harus ngitung—”

“Aries.”

“Kalau aku nggak tau jaraknya, aku nggak bisa—”

Aries.

Dia berhenti.

Dan aku berkata, “Percaya aku sekali aja.”

Dan dia menatapku selama sekitar tiga detik.

Lalu dia menaruh pancinya.


Kami sampai stasiun jam tujuh lewat dua puluh.

Dan waktu dia melihat papan namanya, dia berhenti berjalan.

“Claudia.”

“Hm?”

“Ini stasiun.”

“Iya.”

“Kita mau naik kereta?”

“Iya.”

Dan dia berdiri di depan stasiun kecil itu dengan tas selempangnya, dan aku memperhatikan wajahnya, dan aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat di wajah Aries Kurniawan sebelumnya.

Bukan senang.

Bingung.

Bingung seperti orang yang dibawa ke tempat yang dia kenal dari mimpi.

“Ke mana?”

“Ujung.”

“Ujung mana?”

“Stasiun terakhir.”

“Terus?”

“Terus balik.”

Dia menoleh.

“Balik lagi?”

“Iya.”

“Kita nggak ngapa-ngapain di sana?”

“Enggak.”

“Terus buat apa ke sana?”

Dan aku bilang, “Buat naik keretanya.”


Dan di sinilah dia mengucapkannya.

Aku ingat persis. Aku ingat dia berdiri di depan loket, dan aku ingat aku sudah mengeluarkan uang tiga puluh dua ribu dari saku rokku, dan aku ingat dia melihat uang itu.

Dan dia bilang:

“Nggak usah, aku bisa.”

Empat kata.

Kata-kata yang sudah kudengar dari mulutnya sejak bulan Februari. Puluhan kali. Ratusan mungkin.

Kata-kata yang dia ucapkan waktu Pak Han memberinya lima ribu lebih. Waktu Bang Jecky menawarkan tumpangan. Waktu aku menawarkan apa pun.

Kata-kata yang diwarisi adiknya yang berumur empat belas tahun dan tidak bisa mencentang kotak di bulan Februari.

Aku berdiri di depan loket stasiun kecil itu jam tujuh lewat dua puluh lima pagi hari Minggu.

Dan aku bilang:

“Ries.”

“Aku bawa uang, Claudia. Aku bisa—”

“Aries.”

“Berapa harganya? Biar aku—”

Delapan ribu.

Dia berhenti.

“Delapan ribu satu orang,” kataku. “Enam belas pulang pergi. Tiga puluh dua buat berdua.”

Dia menatapku.

“Itu lebih murah dari es krim kita berdua kali empat,” kataku. “Itu lebih murah dari ongkos ojek aku sekali jalan.”

Aku menyerahkan uangnya ke petugas loket.

“Dan aku udah beli,” kataku. “Jadi kalau kamu maksa bayar, kamu bukan lagi bayarin tiket. Kamu lagi bayarin aku biar aku nggak ngasih kamu apa-apa.”

Dan Aries Kurniawan berdiri di depan loket itu dan tidak berkata apa-apa.

Dan dia tidak pernah mengucapkan empat kata itu lagi kepadaku.

Tidak sekali pun.

Aku tidak menyadarinya sampai bulan Desember, waktu aku menghitung ke belakang dan sadar bahwa hari Minggu pagi di stasiun kecil itu adalah terakhir kalinya.


Keretanya datang jam setengah delapan.

Gerbong ekonomi. Kursi keras. Kipas angin di langit-langit yang berputar terlalu pelan.

Penumpangnya: ibu-ibu dengan karung, dua orang tua yang tidur sebelum kereta jalan, satu bapak dengan ayam di keranjang plastik, tiga anak sekolah.

Kami duduk di dekat jendela.

Dia di sisi luar, seperti biasa.

Dan waktu keretanya mulai jalan, aku memperhatikannya.


Aku ingin mencatat ini dengan tepat karena ini satu-satunya hal yang benar-benar penting dari seluruh hari itu.

Selama sepuluh menit pertama, dia tidak berubah sama sekali.

Dia duduk tegak. Tangan di pangkuan. Sesekali melihat jam.

Dia menghitung. Aku tahu dia menghitung.

Lalu di menit kesebelas, kereta keluar dari kota.

Dan sawah muncul.

Dan aku melihat sesuatu terjadi pada bahunya.

Turun.

Bukan sedikit. Turun sungguhan — dua sentimeter, mungkin tiga — dan tetap di sana.

Aku belum pernah melihat bahu Aries Kurniawan turun kecuali dua kali: waktu dia melihatku di halte bulan Juni, dan waktu Lintang memeluknya di dapur.

Dan di menit kedua puluh, dia menyandarkan kepalanya ke jendela.

Dan di menit kedua puluh lima, dia berkata:

“Claudia.”

“Hm?”

“Ini bunyinya.”

“Bunyi apa?”

Dan dia bilang, sangat pelan, tanpa mengalihkan matanya dari jendela:

“Ini bunyi yang sama.”


“Sama kayak apa?”

Dan dia diam lama sekali.

Lalu dia bilang:

“Umur delapan. Ke Kediri. Sama Bapak.”

Aku tidak bicara.

“Aku inget bunyinya,” katanya. “Aku nggak inget wajahnya waktu itu. Aku nggak inget kita ngomongin apa. Aku nggak inget kita ngapain di Kediri.”

Dia menatap sawah yang lewat.

“Aku cuma inget bunyinya.”

Dan lalu dia bilang, dan suaranya pecah di tengah:

“Aku nggak pernah naik kereta lagi sejak itu.”


Aku tidak memeluknya.

Aku ingin mencatat itu karena aku hampir melakukannya dan aku menahan diriku.

Kalau aku memeluknya, dia akan sadar bahwa aku memperhatikan, dan dia akan minta maaf, dan dia akan duduk tegak lagi.

Jadi aku tidak melakukan apa-apa.

Aku cuma menggeser bahuku dua sentimeter ke arahnya.

Dan setelah beberapa detik, dia menyandarkan kepalanya.

Bukan ke jendela.


Dia tidur satu jam dua belas menit.

Aku menghitungnya. Aku sudah tertular penyakit itu darinya dan aku tidak berencana sembuh.

Satu jam dua belas menit, dengan kepala di bahuku, di gerbong ekonomi kereta lokal seharga delapan ribu rupiah, dengan sawah dan kampung dan tiang listrik lewat di jendela.

Dan tanganku kesemutan di menit ketiga puluh dan aku tidak menggerakkannya.

Ibu-ibu di seberang kami melihat, dan tersenyum, dan tidak berkata apa-apa.

Dan waktu bapak dengan ayam di keranjang berdiri terlalu berisik di stasiun ketujuh, ibu itu berkata, “Ssst. Bocahé turu.”

Dan bapak itu diam.

Dan aku duduk di gerbong itu dan hampir menangis karena dua orang asing yang tidak tahu apa-apa baru saja menjaga tidur seseorang yang tidak mereka kenal.


Dia bangun di stasiun terakhir.

“Kita di mana?”

“Ujung.”

“Aku ketiduran?”

“Satu jam dua belas menit.”

Dan dia langsung duduk tegak. “Bahu kamu—”

“Aries.”

“Iya. Oke. Maaf—”

“Aries.”

“...Oke.”

Dan aku melihat dia menahan dirinya sendiri, dengan susah payah, untuk tidak minta maaf lagi.

Itu kemajuan. Bulan Maret dia butuh tiga kali diingatkan. Sekarang satu.


Stasiun terakhir itu kecil sekali.

Peronnya satu. Ada warung. Ada pohon besar. Ada anjing tidur di bawah bangku.

Kereta baliknya jam sepuluh lewat.

Jadi kami punya empat puluh menit.

Kami duduk di bangku peron dan membeli dua teh botol dan tidak melakukan apa-apa.

Dan di menit kedua puluh, dia berkata:

“Claudia.”

“Hm?”

“Kenapa kamu bawa aku ke sini?”

Dan aku sudah menyiapkan jawabannya sejak Kamis malam.

Aku bilang:

“Karena kamu nggak bisa benerin apa-apa di kereta.”

Dia menoleh.

“Nggak ada yang bocor,” kataku. “Nggak ada yang berat. Nggak ada yang bisa diangkat. Nggak ada tetangga yang manggil.”

Aku memegang teh botolku.

“Selama satu jam empat puluh menit, tangan kamu nggak ada kerjaan,” kataku. “Dan itu satu-satunya cara buat bikin kamu berhenti.”

Dan dia duduk di bangku peron stasiun kecil itu dan tidak bicara selama beberapa detik.

Lalu dia bilang, “Kamu mikirin ini berapa lama?”

“Tiga hari.”

“Buat tiga puluh dua ribu?”

“Iya.”

Dan dia mulai tertawa.

Dan aku belum pernah — dalam delapan bulan, dalam ratusan jam di undakan dan halte dan angkot dan ruang depan rumah nomor tujuh —

aku belum pernah mendengar Aries Kurniawan tertawa seperti itu.

Bukan sopan. Bukan pendek.

Dia tertawa sampai membungkuk ke depan dengan tangan di lutut, di peron stasiun kecil jam setengah sepuluh pagi, dan anjing di bawah bangku mengangkat kepalanya.

“Kenapa?” kataku.

“Nggak apa-apa.”

“Ries.”

“Nggak apa-apa.” Dia menghapus matanya. “Aku cuma— kamu mikirin tiga hari. Buat tiga puluh dua ribu.”

“Terus?”

Dan dia bilang, masih tertawa, dengan suara yang berubah di tengah kalimat:

“Aku mikirin dua hari buat dua belas ribu.”

Dan dia berhenti tertawa.

Dan kami berdua duduk di peron itu.

“Kita sama-sama gila ya,” katanya.

“Iya.”

“Claudia.”

“Hm.”

Dan dia menatap rel yang kosong.

“Aku nggak bisa gini terus,” katanya.

“Gini gimana?”

“Kerja terus.” Dia mengetuk botolnya sekali dengan jari. “Aku tau. Aku bukan nggak tau.”

“Terus kenapa nambah lagi?”

Dan dia bilang, “Karena kalau aku diem, aku denger.”

“Denger apa?”

Dan Aries Kurniawan berkata:

“Denger semua yang belum kelar.”


Keretanya datang jam sepuluh lewat delapan.

Kami naik.

Dan waktu keretanya jalan, dan sawah muncul lagi di jendela, aku berkata:

“Ries.”

“Hm?”

“Tidur.”

“Aku nggak ngantuk.”

“Tidur.”

“Claudia, aku beneran nggak—”

Dan aku menggeser bahuku dua sentimeter.

Dan aku bilang, pelan, ke arah jendela, supaya dia tidak perlu melihat wajahku waktu aku mengucapkannya:

“Ries. Giliranmu istirahat.”


Dia diam.

Dan aku merasakannya — seluruh badannya — berhenti bergerak.

“Claudia.”

“Hm.”

“Itu kalimatnya Lintang.”

“Aku tau.”

“Dia yang bilang.” Suaranya aneh. “Bulan Juli. Waktu malam itu.”

“Aku tau.”

“Kamu tau?”

“Sekar cerita.”

Dan dia tidak bicara lagi.

Dan setelah mungkin sepuluh detik, aku merasakan kepalanya turun ke bahuku.

Dan setelah dua puluh detik, napasnya berubah.

Dan setelah dua menit, dia tidur.

Satu jam tiga puluh satu menit, kali ini.

Dan aku duduk di gerbong ekonomi kereta lokal dengan tangan kanan yang kesemutan sejak menit kedua puluh, dan sawah lewat di jendela, dan kipas angin berputar terlalu pelan di langit-langit.

Dan aku tidak menggerakkan tanganku sama sekali.

Karena aku sudah belajar dari orang yang sedang tidur di bahuku:

Kalau kau menyayangi seseorang, kau tidak bergerak.

Kau duduk diam sampai lenganmu mati rasa, dan kau tidak pernah menyebutkannya, dan kau tidak pernah minta dibayar.

Dan kau menyebutnya biasa saja.