Chapter Twenty One
Sekolah Cinta Sekar
POV: Sekar
Aku akan mencatat ini dari awal, supaya jelas siapa yang memulai.
Mas Aries yang memulai.
Hari Selasa, jam enam pagi, dia duduk di meja dan minum tehnya setengah seperti biasa, dan lalu dia berkata — tanpa mengangkat kepala, dengan nada orang melaporkan kerusakan pipa:
“Sekar.”
“Hm.”
“Kamu bilang aku boleh tanya kamu.”
Aku mematikan kompor.
“Tanya apa?”
“Yang kemarin. Yang daftar.”
Aku berbalik.
Kakakku duduk di meja belajar bekas yang kaki depannya diganjal ubin, memakai seragam yang kusetrika semalam, dengan lingkar mata yang tidak pernah hilang sejak umurnya lima belas tahun.
Dan wajahnya adalah wajah orang yang sedang mendaftar ujian ulang.
“Mas serius?”
“Iya.”
“Mas mau belajar pacaran.”
“Iya.”
“Sama aku.”
“Kamu bilang boleh.”
Aku menatapnya cukup lama.
Lalu aku duduk di kursi seberangnya, melipat tanganku di meja, dan berkata:
“Oke. Tapi ada syaratnya.”
“Apa?”
“Mas nggak boleh protes.”
“Kenapa aku protes?”
“Nanti Mas ngerti.”
PELAJARAN SATU: CHAT.
Aku minta HP-nya.
Layarnya retak di sudut kanan dan sudah begitu sejak dua tahun lalu. Aku membuka obrolannya dengan Kak Claudia.
Isinya begini:
06.02 — Pagi.
06.02 — Sudah bangun?
Besoknya:
06.01 — Pagi.
06.01 — Sudah bangun?
Besoknya lagi:
06.03 — Pagi.
06.03 — Sudah bangun?
Sebelas hari.
Persis sama. Kata per kata.
“Mas.”
“Iya?”
“Ini kayak absen.”
“Emang salah?”
“Mas nulisnya ‘sudah’. Bukan ‘udah’. ‘Sudah’.”
“Itu bahasa Indonesia yang benar.”
“Ini bukan ujian, Mas.”
Aku mengembalikan HP-nya.
“Coba sekarang. Chat yang lain.”
“Yang lain gimana?”
“Ya yang lain. Yang bukan absen.”
Dia menatap layar itu selama hampir dua menit.
Dua menit. Aku menghitung di jam dinding.
Lalu dia mengetik. Lalu menghapus. Lalu mengetik lagi.
Lalu dia menyerahkan HP-nya kepadaku untuk diperiksa.
Di kolom pesan tertulis:
Pagi. Semoga harimu lancar dan sehat selalu.
“Mas.”
“Kenapa.”
“Ini kayak spanduk puskesmas.”
PELAJARAN DUA: PANGGILAN.
“Mas manggil Kak Claudia apa?”
“Claudia.”
“Cuma Claudia?”
“Iya.”
“Nggak ada tambahannya?”
“Tambahan apa?”
Aku menarik napas.
“Di sinetron biasanya ada. Sayang. Beb. Yang, gitu.”
Wajah kakakku berubah warna.
Aku serius. Aku belum pernah melihat itu sebelumnya dalam empat belas tahun hidupku. Telinganya duluan, lalu leher.
“Nggak,” katanya.
“Nggak apa?”
“Nggak usah.”
“Coba dulu.”
“Sekar.”
“Coba sekali aja. Ke aku dulu. Latihan.”
“Nggak.”
“Mas—”
Dia berdiri, mengambil tasnya, dan bilang, “Aku telat,” padahal jam masih menunjukkan enam lewat dua puluh dan dia biasanya berangkat jam enam empat puluh.
Aku membiarkannya pergi.
Aku mencatat itu sebagai kemenangan pertamaku dalam tiga tahun.
PELAJARAN TIGA: PUJIAN.
Ini yang paling parah.
Aku menjelaskannya hari Kamis, di dapur, sambil mencuci piring.
“Mas pernah muji Kak Claudia nggak?”
“Muji apa?”
“Ya muji. Bilang dia bagus, cantik, apa gitu.”
“Buat apa?”
Aku menaruh piring.
“Mas.”
“Kalau dia bagus, dia udah tau. Kalau dia nggak tau, berarti aku bohong.”
Aku menatap kakakku.
“Mas, itu bukan gitu cara kerjanya.”
“Terus gimana?”
“Orang tuh butuh denger. Walaupun udah tau.”
“Kenapa?”
Dan aku membuka mulut untuk menjelaskan, dan lalu aku berhenti.
Karena aku sadar aku juga tidak tahu.
Aku tahu itu benar. Aku tahu itu dari sinetron, dari Bu Ratmi yang setiap tahun bercerita tentang almarhum suaminya, dari teman-temanku di sekolah yang membicarakannya di kantin.
Tapi aku tidak bisa menjelaskannya, karena aku tidak pernah mengalaminya.
Tidak sekali pun.
Tidak ada orang yang pernah memujiku, dan aku juga tidak pernah memuji siapa pun, dan di rumah ini kami saling menyayangi lewat gelas teh dan sandal yang dibalik dan selimut yang ditaruh sampai lutut, dan tidak pernah satu kali pun lewat kalimat.
“Sekar?”
“...Pokoknya butuh,” kataku. “Percaya aja.”
“Kamu tau dari mana?”
“Sinetron.”
“Sinetron itu bukan—”
“Aku nonton tiga tahun, Mas.” Aku menyalakan kran lagi. “Tiap malem, jam delapan sampe sepuluh, sama Bu Ratmi, pas Mas kerja.”
Dia diam.
“Tiga tahun,” ulangku.
Dan dia tidak bicara lagi sampai aku selesai mencuci.
PELAJARAN EMPAT: MENERIMA.
Ini pelajaran yang tidak kurencanakan, dan ini satu-satunya yang berhasil.
Hari Jumat, Kak Claudia menaruh sesuatu di meja waktu dia datang: dua kotak susu dan satu bungkus roti.
Dan Mas Aries langsung berkata, “Nggak usah, aku—”
“MAS.”
Dia menoleh.
Aku berdiri di ambang dapur.
“Ambil,” kataku.
“Sekar, ini—”
“Ambil.”
Dia mengambil.
Kak Claudia melihat itu, lalu melihatku, dan matanya menyipit sedikit karena tersenyum.
Malamnya, di dapur, Mas Aries bertanya:
“Kenapa aku harus ambil?”
“Mas tau nggak, orang yang selalu ditolak itu rasanya gimana?”
“Aku nggak nolak dia. Aku nolak barangnya.”
“Sama aja.”
“Nggak sama.”
“Sama, Mas.” Aku menaruh gelasnya di meja. “Kalau aku bikinin teh terus Mas nggak minum, Mas kira aku mikirin tehnya?”
Dan kakakku duduk di kursi itu, memegang gelas yang baru saja kutaruh, dan tidak menjawab selama sepuluh detik.
Lalu dia meminumnya. Sampai habis.
Bukan setengah. Sampai habis.
Aku berbalik ke bak cuci supaya dia tidak melihat wajahku.
PELAJARAN LIMA — yang tidak jadi.
Hari Sabtu malam, dia pulang jam sebelas empat puluh seperti biasa.
Aku belum tidur. Aku sedang menyetrika, karena Sabtu malam aku selalu menyetrika untuk seminggu.
Dia duduk di lantai, punggung ke dinding, sepuluh detik memejamkan mata, lalu membuka lagi.
“Sekar.”
“Hm.”
“Aku mau nanya.”
“Nanya.”
“Bukan soal itu.” Dia menggeser posisinya. “Soal kamu.”
Setrikaku berhenti.
“Kenapa?”
“Kamu di sekolah gimana?”
“Biasa.”
“Ada temen?”
“Ada.”
“Ada yang deket?”
“Ada.”
“Siapa?”
“Namanya Ayu.”
Itu benar. Ayu memang ada. Dia duduk di sebelahku sejak kelas tujuh dan kami saling pinjam penghapus dan kadang makan bersama di kantin, dan itu sudah cukup untuk masuk kategori teman dekat kalau standarnya rendah.
Aku tidak menyebutkan bahwa aku belum pernah main ke rumahnya, karena setiap kali diajak aku bilang harus jaga adik.
Itu juga benar. Aku memang harus jaga adik.
Dua hal bisa benar sekaligus. Itu yang membuat semuanya sulit dibongkar.
“Sekar.”
“Hm.”
“Kamu nggak pernah pengen?”
“Pengen apa?”
“Yang kayak gini.” Dia menggerakkan tangannya, canggung, ke arah dirinya sendiri. “Yang aku lagi belajar.”
Aku melanjutkan menyetrika.
“Nggak.”
“Nggak sama sekali?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
Dan di sinilah aku punya kesempatan.
Aku ingin mencatatnya dengan jujur, karena aku sudah memutarnya berkali-kali di kepalaku sejak itu dan aku tidak akan memperhalusnya.
Aku punya kesempatan. Malam itu. Jam sebelas empat puluh lima, sambil menyetrika seragam kakakku.
Aku bisa bilang: aku pengen, Mas. Aku pengen banget. Aku pengen main ke rumah Ayu. Aku pengen ikut ekskul. Aku pengen ikut program yang ditawarin Bu Rina bulan Februari, dan aku nggak ikut, dan formulirnya masih ada di bawah tumpukan baju di lemari, dan aku nggak buang karena aku nggak sanggup buang.
Itu semua sudah tersusun di kepalaku. Lengkap. Berurutan.
Dan yang keluar dari mulutku adalah:
“Nggak sempet.”
Kakakku menatapku.
“Kamu capek?”
“Nggak.”
“Sekar—”
“Aku nggak capek, Mas.” Aku membalik seragamnya. “Aku bisa.”
Dan aku melihatnya.
Aku melihat wajah kakakku waktu aku mengucapkan kalimat itu — sesuatu bergerak di sana, cepat sekali, seperti orang yang mendengar bunyi dari kamar sebelah dan tidak yakin apakah dia benar-benar mendengarnya.
Dia hampir menangkapnya.
Dia hampir.
Lalu Bumi menangis dari kamar, dan aku menaruh setrika dan pergi, dan waktu aku kembali dua puluh menit kemudian, kakakku sudah tidur di lantai.
Aku menyelesaikan setrikaan jam satu pagi.
Lalu aku mengambil selimut dari kasur Bumi yang selalu ditendang ke lantai, dan menaruhnya di kaki kakakku, sampai lutut, tidak lebih.
Lalu aku duduk di lantai dapur.
Dan aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya, dan tidak pernah kulakukan lagi setelahnya sampai malam itu di bulan Juli.
Aku ke lemari.
Aku mengangkat tumpukan baju.
Dan aku mengeluarkan kertas yang sudah dilipat empat, sudah menguning sedikit di lipatannya, dengan kop sekolah di bagian atas.
Aku membukanya di lantai dapur, jam satu pagi, dengan lampu yang cuma menyala satu.
Aku membacanya sampai habis.
Batas pengembalian formulir: 28 Februari.
Hari ini bulan Mei.
Aku melipatnya lagi. Empat lipatan, di garis yang sama, supaya tidak ada lipatan baru.
Dan aku memasukkannya kembali ke bawah tumpukan baju.
Dan besok paginya aku membuat teh tiga sendok seperti biasa, dan meletakkannya di meja sebelum kakakku duduk, seperti biasa, dan tidak ada yang tahu.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar reading
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu