← Giliranmu Istirahat

Chapter Thirty Two

Yang Tidak Bisa Dicabut

POV: Aries


Aku membuat daftar hari Senin malam.

Di kertas struk, karena itu satu-satunya kertas yang selalu ada di tanganku.

Aku menulisnya di kursi kasir minimarket jam sepuluh malam, dan aku menulisnya seperti orang menulis rencana kerja, karena itu satu-satunya cara aku tahu untuk memperbaiki sesuatu.

ATURAN BARU

1. Tiap hari bilang satu hal jujur ke Sekar. Satu aja.

2. Kalau capek, bilang capek.

3. Kalau nggak punya uang, bilang nggak punya uang.

4. Kalau ada yang nawarin bantuan, terima. Jangan mikir dulu.

5. Jangan pernah bilang “nggak usah, aku bisa” di depan mereka.

Aku membacanya ulang.

Lalu aku menambahkan satu baris di bawah, dan baris itu adalah alasan seluruh daftarnya:

Mereka niru. Semua yang aku lakuin, mereka niru.

Aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku dalam tasku, ke tempat yang sama dengan dua puluh satu lembar lainnya.

Aku pikir daftar itu akan berhasil.

Aku pikir kalau aku bisa mengangkat lima puluh karung beras setiap pagi selama tiga tahun, aku pasti bisa mengucapkan lima kalimat.


Hari pertama.

Aku pulang jam sebelas empat puluh.

Sekar belum tidur. Dia sedang melipat baju di meja.

“Sekar.”

“Hm.”

Dan aku berdiri di ruang depan rumahku sendiri dan mencoba mengucapkan satu hal jujur.

Yang tersedia di kepalaku ada banyak. Terlalu banyak. Punggungku sakit di titik yang sama sejak Februari. Aku belum makan sejak jam dua. Uang bulan ini sisa delapan puluh ribu. Aku takut.

Aku memilih yang paling kecil.

“Aku capek.”

Dia berhenti melipat.

Dan dia menoleh, dan menatapku, dan wajahnya — untuk sepersekian detik — terbuka.

Lalu dia bilang, “Ya udah, tidur.”

“Iya.”

“Mas mau aku bikinin teh?”

“Nggak usah, aku—”

Aku berhenti.

Terlambat setengah detik.

Aku sudah mengucapkan lima kata pertamanya.

Sekar tidak berkomentar. Dia berbalik dan membuat teh, dan menaruhnya di meja, dan aku meminumnya sampai habis.

Dan aku tidur malam itu sambil berpikir: sembilan puluh persen. Delapan dari sembilan kata. Hampir.

Aku benar-benar berpikir begitu.

Aku benar-benar berpikir ini soal persentase.


Hari keempat.

Aku gagal total di hari keempat, dan aku bahkan tidak menyadarinya sampai malam.

Yang terjadi: Om Yusuf memanggilku sore-sore untuk mengangkat mesin fotokopi.

Mesin itu berat. Sangat berat. Kami mengangkatnya berdua dan waktu kami menaruhnya, ada yang bergeser di punggungku dengan bunyi yang bisa kudengar dari dalam.

Aku berdiri diam selama sepuluh detik.

Lalu Om Yusuf bertanya, “Ries, kamu nggak apa-apa?”

Dan aku bilang, “Nggak apa-apa, Om.”

Otomatis. Sebelum aku sempat berpikir. Sebelum daftar itu sempat muncul di kepalaku.

Aku pulang. Aku mandi. Aku berangkat ke minimarket. Aku berdiri delapan jam.

Dan jam sepuluh malam, di kursi kasir, aku mengeluarkan daftar itu dan membacanya —

dan baru sadar aku sudah melanggar nomor dua dan nomor tiga dan nomor lima dalam satu kalimat berdurasi dua detik.

Aku menatap kertas itu cukup lama.

Lalu aku menulis di bawahnya:

hari 4: gagal


Hari kedelapan.

Ini hari yang membuatku berhenti percaya bahwa daftar itu bisa berhasil.

Sore itu Lintang pulang membawa surat dari sekolah.

Karyawisata. Kelas empat sampai enam. Ke museum dan kebun binatang. Dua hari satu malam.

Biayanya dua ratus delapan puluh ribu.

Aku membaca suratnya di ruang depan. Lintang duduk di lantai di depanku, memangku bukunya, memperhatikan wajahku.

Dan sebelum aku sempat bicara, dia bilang:

“Aku nggak ikut.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Kamu belum tau aku bilang apa.”

“Aku nggak ikut kok.”

“Lintang.”

“Nggak apa-apa.” Dia mengangkat bahu. “Museumnya udah pernah. Tahun lalu.”

“Yang tahun lalu bukan yang ini.”

“Sama aja.”

“Kamu belum pernah ke kebun binatang.”

“Aku udah liat di YouTube.”

Dan dia mengatakannya dengan wajah yang sangat ceria, dan dia mengatakannya cepat sekali, dan aku tahu persis kenapa dia mengatakannya cepat.

Supaya aku tidak sempat merasa tidak enak.

Adikku yang berumur sepuluh tahun sudah tahu cara mengucapkan penolakan dengan kecepatan yang tepat supaya orang lain tidak sempat merasa bersalah.

Aku tahu dari mana dia belajar itu.


“Lintang.”

“Hm?”

“Kamu pengen ikut nggak?”

“Nggak.”

“Lintang.”

“Nggak pengen kok.”

“Lihat aku.”

Dia melihatku.

Dan aku bertanya lagi, pelan-pelan, satu kata satu kata:

“Kamu. Pengen. Ikut. Nggak.”

Dan adikku menatapku selama sekitar empat detik.

Lalu matanya turun ke lantai.

Dan dia bilang, sangat pelan:

“...Pengen.”

Dan lalu, cepat sekali, seperti menutup pintu:

“Tapi nggak apa-apa!”


Aku ke dapur.

Aku membuka lemari atas. Aku mengambil kaleng biskuit.

Isinya seratus dua puluh ribu.

Aku berdiri di dapur memegang kaleng itu, dan di ruang depan adikku mulai bersenandung sambil mengerjakan PR, dan aku mendengarnya bersenandung dan itu jauh lebih menyakitkan daripada kalau dia menangis.

Dua ratus delapan puluh.

Aku punya seratus dua puluh.

Aku bisa mengambil dari amplop. Amplop itu masih ada sisa lima ratus delapan puluh ribu.

Aku bisa.

Tapi kalau kuambil, itu utang yang bertambah, dan yang mencatatnya adalah anak yang sekarang sedang bersenandung di ruang depan, dan yang akan membayarnya nanti kalau dia besar adalah anak yang sama.

Aku menutup kalengnya.

Aku mengembalikannya ke lemari atas.

Dan aku ke ruang depan dan berkata, “Ntang.”

“Iya?”

“Kamu ikut.”

Dia mengangkat kepalanya cepat. “Beneran?”

“Beneran.”

“Uangnya?”

“Ada.”

“Dari mana?”

Dan di sinilah, tepat di sini, aku punya kesempatan untuk menaati nomor tiga.

Belum ada. Mas cari dulu. Mas belum tau dari mana.

Sembilan kata.

“Udah ada dari kemarin,” kataku.


Aku mengambil dua shift tambahan minggu itu.

Aku menjual jam tangan Bapak.

Aku ingin menuliskan itu dengan datar dan tidak bisa, jadi biar begini saja: aku menjual jam tangan Bapak seharga dua ratus ribu ke tukang loak di dekat pasar, hari Kamis, jam tiga sore, dan aku tidak memberitahu siapa pun, dan tidak ada yang tahu sampai delapan bulan kemudian.

Lintang berangkat karyawisata hari Sabtu.

Dia melompat-lompat sepanjang gang sambil memakai topi sekolahnya.

Dia memelukku di mulut gang dan bilang, “SAYANG MAS!”

Dan aku bilang, “Hm.”

Dan bus itu pergi.

Dan aku berdiri di mulut gang dengan pergelangan tangan yang kosong dan berpikir: ini berhasil.

Ini yang benar. Aku memberinya sesuatu, dan dia bahagia, dan tidak ada yang tahu harganya.

Butuh empat hari sampai aku sadar bahwa yang barusan kulakukan adalah persis, persis, hal yang sama yang membuat semua ini terjadi.


Hari kedua belas.

Bumi yang menghabisi.

Sore itu makan malamnya sedikit. Aku baru pulang dari toko bangunan, dan tinggal nasi dan telur dan sisa sayur dari kemarin.

Aku menaruhnya di dua piring. Satu untuk Bumi, satu untuk Lintang.

Sekar sudah makan, katanya. Aku belum, dan aku tidak berencana.

Bumi makan setengah, lalu berhenti, lalu mendorong piringnya.

“Kenapa?”

“Udah.”

“Baru setengah.”

“Bumi kenyang.”

“Bumi, ini setengah.”

“Bumi nggak laper.”

Dan dia turun dari kursi.

Dan aku duduk di sana dan menatap piring itu.

Setengah porsi. Anak lima tahun. Yang tadi pagi tidak sarapan karena telat.

“Bumi.”

“Apa.”

“Sini.”

Dia datang.

Aku memegang bahunya.

“Bumi laper nggak?”

“Nggak.”

“Beneran nggak?”

Dia mengangguk.

Dan aku menatap wajah anak lima tahun itu, dan aku mencari, dan aku menemukannya.

Matanya bergerak ke arah lain waktu menjawab.

Ke arah piringku yang kosong.


Aku duduk di kursi itu dan tidak bisa bernapas dengan benar selama beberapa detik.

“Bumi.”

“Hm.”

“Kenapa Bumi bilang nggak laper?”

“Bumi kenyang.”

“Bumi.”

Dan anak itu berdiri di depanku, memegang ujung kausnya sendiri, dan berkata dengan suara yang sangat kecil:

“Mas belum makan.”


Lima tahun.

Aku ingin menuliskan itu berkali-kali sampai kalian merasakannya seperti aku merasakannya.

Lima tahun.

Anak itu tidak bisa membaca. Dia tidak bisa berhitung sampai dua puluh. Dia masih memanggil garpu “yang tajem”.

Dan dia sudah tahu cara berbohong tentang lapar demi orang lain.

Bukan karena ada yang mengajarinya dengan kata-kata.

Karena dia sudah melihatnya dilakukan, di depan matanya, setiap malam, sejak dia berumur dua tahun.

Aku tidak mengajari Sekar. Aku tidak mengajari Lintang. Aku tidak mengajari Bumi.

Aku cuma melakukannya.

Dan itu ternyata cukup.

Itu selalu cukup, dan aku tidak pernah tahu.


Aku ke warung Bu Ratmi malam itu.

Jam sembilan lewat. Dia sedang membereskan.

“Bu.”

“Ries. Kenapa?”

Dan aku berdiri di depan warung itu, dan aku sudah menyiapkan kalimatnya sepanjang jalan dari rumah — dua puluh langkah, dua puluh langkah untuk menyiapkan satu kalimat.

Kalimatnya: Bu, saya butuh bantuan.

Empat kata.

Aku sudah mengucapkannya di dalam kepalaku enam kali di sepanjang dua puluh langkah itu.

“Ries?”

Aku membuka mulut.

Dan tenggorokanku menutup.

Bukan kiasan. Ada sesuatu yang secara fisik menutup, dan aku berdiri di depan warung Bu Ratmi jam sembilan lewat sepuluh malam dan tidak bisa mengeluarkan empat kata itu.

“Ries, kamu kenapa? Lungguh.”

“Nggak apa-apa, Bu.”

“Ries.”

“Beneran nggak apa-apa.” Aku mundur satu langkah. “Saya cuma... lewat.”

“Ries—”

“Selamat malam, Bu.”

Dan aku berjalan pulang.

Dua puluh langkah.

Dan di langkah kedelapan aku berhenti dan berdiri di tengah gang yang gelap dan menutup wajahku dengan kedua tangan selama mungkin lima belas detik, dan lalu aku menurunkannya dan melanjutkan jalan.


Malam itu aku mengeluarkan daftar itu lagi.

Aku membacanya dari nomor satu sampai lima.

Dua belas hari.

Nomor satu: gagal.
Nomor dua: gagal.
Nomor tiga: gagal.
Nomor empat: gagal.
Nomor lima: gagal.

Aku memegang pulpen dan aku tidak mencoret apa pun.

Karena aku sadar sesuatu, duduk di kursi kasir minimarket jam sepuluh malam pada hari kedua belas:

Aku pikir ini kebiasaan.

Kebiasaan bisa diganti. Kau membuat daftar, kau berlatih, kau memaksa diri, dan setelah beberapa minggu tanganmu bergerak ke arah yang baru.

Ini bukan kebiasaan.

Ini bahasa.

Ini satu-satunya bahasa yang kupelajari waktu umur empat belas tahun di depan rumah nomor tujuh sambil menggendong anak yang menangis enam jam, dan aku sudah memakainya setiap hari selama tiga tahun, dan sekarang tiga orang lain memakainya juga karena mereka tumbuh di rumah yang cuma punya satu bahasa.

Dan kau tidak bisa berhenti memakai bahasamu sendiri hanya dengan menulis lima aturan di kertas struk.

Kau butuh orang lain.

Kau butuh orang yang bicara bahasa lain, yang datang terus-menerus, bertahun-tahun, dan mengucapkan kalimat-kalimatnya di depanmu sampai anak-anak di rumah itu mendengar bahwa ada cara lain untuk hidup.

Aku tidak punya itu.

Aku menulis satu baris terakhir di bawah daftarnya.

Lalu aku melipat kertasnya dan memasukkannya ke saku dalam tasku bersama dua puluh satu lembar lainnya, dan aku tidak pernah membukanya lagi sampai bulan November.

Barisnya berbunyi:

aku nggak bisa sendiri.

Dan itu adalah pertama kalinya dalam tiga tahun aku menuliskan kalimat itu.

Dan aku menuliskannya di kertas struk bekas, sendirian, jam sepuluh malam, di minimarket kosong — dan tidak mengucapkannya kepada satu orang pun.