← Giliranmu Istirahat

Chapter Twenty Nine

Dua Perempuan, Satu Bak Cuci

POV: Gita


Gips Mbah Tun dilepas hari Minggu, dan Gang Kenanga memutuskan itu perlu dirayakan.

Aku belum pernah melihat perayaan yang begitu.

Tidak ada undangan. Tidak ada susunan acara. Bu Ratmi cuma memasak lebih banyak dari biasa, dan Om Yusuf membawa dua puluh gelas plastik, dan Pak Somad menggeser motor-motor dari depan bengkelnya supaya ada tempat duduk.

Jam sebelas siang, ada dua puluh delapan orang di gang sempit itu.

Aku menghitung. Aku selalu menghitung.

Anak-anak duduk di tikar. Ibu-ibu di bangku plastik. Bapak-bapak berdiri, karena entah kenapa bapak-bapak selalu berdiri.

Dan Mbah Tun duduk di kursi rotan yang dibawa keluar dari rumahnya, dengan tangan kanan yang sekarang kurus dan pucat karena tiga bulan di dalam gips, dan dia menepuk-nepuk tangan itu ke pahanya sepanjang acara seperti orang yang baru menemukan kembali barang hilang.


Aries ada di sana selama dua jam.

Dia tidak duduk sekali pun.

Dia mengangkat meja. Dia membagikan gelas. Dia mengejar Bumi yang lari ke ujung gang. Dia memperbaiki tiang jemuran yang roboh karena tertabrak anak main bola.

Dan setiap kali ada yang bilang, “Ries, duduk,” dia bilang, “Iya, bentar,” dan tidak pernah duduk.

Jam satu, dia pergi. Toko bangunan Pak Ilyas.

Dan aku melihat sesuatu yang menarik: begitu dia pergi, ada tiga orang yang langsung menoleh ke arah mulut gang, hampir bersamaan, tanpa saling melihat.

Bu Ratmi. Mbah Tun. Dan Sekar.

Seperti tiga orang yang sudah lama punya kebiasaan mengecek apakah sesuatu masih ada.


Piringnya ada tiga puluh empat.

Aku tahu karena aku yang mengumpulkannya.

Aku membawanya ke belakang rumah nomor tujuh, ke bak cuci semen yang menempel di dinding dapur, yang airnya keluar dari kran yang harus diputar dua kali karena putaran pertama cuma bunyi.

Dan waktu aku sampai di sana, Claudia sudah berdiri di depan bak itu, lengan sudah digulung, dengan tumpukan piring pertama.

Kami saling melihat.

“Aku bantu,” kataku.

“Oke.”

Dan itu saja.


Sistemnya terbentuk dalam satu menit tanpa dibicarakan.

Dia mencuci. Aku membilas. Aku menaruh di rak. Dia mengambil piring berikutnya.

Air mengalir. Ada suara anak-anak dari depan. Ada radio dangdut Pak Somad, volume kecil, lagu yang sama seperti setiap Minggu.

Kami tidak bicara selama sekitar dua belas piring.

Aku menghitung.


Aku sudah menyiapkan kalimat.

Tentu saja aku sudah menyiapkan. Aku Gita Ardhani. Aku menyiapkan kalimat untuk pertemuan orang tua, untuk rapat OSIS, untuk berdiri di depan kelas dan menuduh seseorang numpang di tugas kelompok.

Aku menyiapkan enam versi selama tiga minggu terakhir.

Versi satu: Bella, aku mau ngomong sesuatu, dan aku mau kamu tau ini bukan ancaman.

Versi dua lebih pendek.

Versi enam cuma satu paragraf.

Dan berdiri di depan bak cuci semen itu, dengan tangan di air sabun, aku membuang keenamnya.

Karena semuanya punya masalah yang sama seperti empat versi permintaan maaf dulu.

Semuanya disusun supaya aku terdengar baik.


“Bella.”

“Hm?”

Piring ketiga belas.

“Aku suka sama Aries.”

Tangannya tidak berhenti.

Aku memperhatikan itu. Aku benar-benar memperhatikan, karena aku ingin tahu.

Tangannya tidak berhenti. Dia menggosok bagian tengah piring, memutar, membalik, membilas sabunnya sedikit, lalu menyerahkannya kepadaku.

Aku menerimanya.

“Aku tau,” katanya.

“Dari kapan?”

“Sabtu kedelapan.”

Aku hampir menjatuhkan piring itu.

“...Apa?”

“Waktu Bumi ngasih mobil-mobilan.” Dia mengambil piring berikutnya. “Aku lagi di dapur. Aku lihat muka kamu.”

Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.

“Aku sendiri baru sadar hari itu.”

“Iya,” katanya. “Aku tau.”


Piring keempat belas. Kelima belas.

“Bella.”

“Hm.”

“Aku nggak akan bilang ke dia.”

Dan di sini tangannya berhenti.

Cuma sebentar. Setengah detik. Lalu jalan lagi.

“Kenapa?”

Dan aku sudah menyiapkan jawaban untuk ini juga, dan jawabannya bagus, dan jawabannya adalah karena aku nggak mau ngerusak kalian.

Aku tidak memakainya.

“Karena dia bakal bilang iya,” kataku.

Air mengalir.

“Bukan karena dia suka aku,” lanjutku. “Karena dia nggak tau cara bilang enggak ke orang yang dateng bawa kebutuhan.”

Claudia menyerahkan piring keenam belas kepadaku.

“Iya,” katanya. “Dia bakal bilang iya.”

“Kamu tau itu?”

“Aku tau.”

“Dan kamu tetep sama dia?”

Dan dia menoleh — untuk pertama kalinya sejak piring pertama — dan menatapku.

“Aku sama dia justru karena itu,” katanya.


Aku ingin mencatat sesuatu di sini, dan aku ingin mencatatnya sejujur mungkin.

Aku datang ke bak cuci itu dengan senjata di tangan.

Bukan kiasan.

Aku tahu, kalau aku mau, aku bisa. Aku sudah menghitungnya. Aku sudah menghitungnya berkali-kali di angkot, di kamar, jam dua pagi.

Aku juara paralel. Aku bisa masuk mana saja. Aku bisa mengurus beasiswa Sekar. Aku bisa mengurus surat-surat sekolah. Aku punya ibu yang punya kenalan di dinas pendidikan. Aku bisa jadi orang yang paling berguna di rumah itu dalam tiga bulan.

Dan yang paling penting: aku tidak akan pergi ke mana-mana.

Aku tinggal dua puluh menit dari gang itu. Aku akan tetap di kota ini.

Kalau aku mau bertanding, aku punya semua yang dibutuhkan.

Dan aku berdiri di depan bak cuci semen itu dengan tangan di air sabun, dan aku menaruh semuanya di lantai.

Bukan karena aku mulia.

Karena Sekar sudah menjelaskan kepadaku, sepuluh minggu lalu di undakan, apa bedanya orang yang datang dan orang yang datang membawa sesuatu untuk ditukar.

Dan aku memutuskan aku mau jadi yang pertama.

Walaupun itu artinya aku tidak akan pernah menang.


Piring kedua puluh.

“Git.”

“Hm?”

“Boleh aku ngomong satu hal juga?”

“Boleh.”

Dan dia mencuci selama beberapa detik tanpa bicara, dan aku tahu dari caranya menggosok — terlalu lama di satu tempat — bahwa dia sedang menyusun sesuatu.

“Tahun depan aku pergi.”

Aku menaruh piring yang sedang kubilas.

“Pergi ke mana?”

“Luar negeri. Kuliah.” Dia mengambil piring berikutnya. “Papa udah urus dari lama. Aku baru tau bulan lalu kalau berkasnya udah jalan.”

“Kamu... setuju?”

“Dulu setuju.” Dia mengangkat bahu. “Dulu nggak ada bedanya mau di sini atau di sana.”

“Sekarang?”

Dia tidak menjawab.

Kran itu berbunyi. Air mengalir.

“Dia tau?” tanyaku.

“Enggak.”

“Bella.”

“Aku pernah nanya, sekali. Lewat chat.” Suaranya jadi lebih pelan. “Aku nanya kalau aku pergi jauh dia gimana.”

“Dia jawab apa?”

“Tiga kata.” Dia menggosok piring. “‘Ya harus pergi.’”

Aku menatap sisi wajahnya.

“Terus?”

“Terus satu menit kemudian dia kirim lagi.” Dia menarik napas. “Dia bilang, ‘Maaf, aku ngetik yang bener tapi kehapus.’”

Air mengalir.

“Dan aku nggak tau sampai sekarang apa yang dia ketik,” katanya.


Piring kedua puluh empat.

Aku memegang senjata kedua di tanganku sekarang.

Aku ingin menuliskan ini juga, karena kalau aku tidak menuliskannya aku sedang menjadikan diriku lebih baik daripada aku yang sebenarnya.

Selama kira-kira empat detik, aku berpikir tentang apa yang bisa kulakukan dengan informasi itu.

Empat detik.

Aku tahu persis apa yang akan terjadi kalau Aries tahu Claudia akan pergi. Aku sudah kenal anak itu delapan bulan lebih dan aku sudah kenal cara kerjanya.

Dia tidak akan menahannya.

Dia akan melakukan yang sebaliknya. Dia akan mulai mundur pelan-pelan, sedikit demi sedikit, supaya waktu hari itu datang, dia sudah tidak ada di sana.

Dia akan menyebutnya tidak merepotkan.

Dan aku akan ada di sana setiap Sabtu.

Empat detik.

Lalu aku menaruh piring kedua puluh empat di rak dan mengambil yang kedua puluh lima.

“Bella.”

“Hm.”

“Kamu harus bilang ke dia.”

Dia menoleh.

“Bukan sekarang,” kataku. “Tapi kamu harus bilang, dan kamu harus bilang sebelum dia denger dari orang lain.”

“Aku tau.”

“Kalau dia denger dari orang lain, dia bakal mikir kamu nyembunyiin.”

“Aku tau, Git.”

“Dan dia bakal minta maaf.” Aku menaruh piring itu di rak. “Karena dia selalu minta maaf. Bahkan buat hal yang bukan salahnya.”

Claudia berhenti mencuci.

Dan dia menatap air di bak itu cukup lama.

“Kenapa kamu ngomong gitu ke aku?” tanyanya.

Dan aku berdiri di depan bak cuci semen itu, dengan tiga puluh empat piring yang tinggal sembilan, dan berkata hal paling jujur yang pernah kukatakan tahun itu:

“Karena aku nggak mau menang dengan cara diem.”


Kami menyelesaikan sembilan piring terakhir tanpa bicara.

Dan waktu piring terakhir masuk ke rak, Claudia mematikan kran, dan mengelap tangannya di celana, dan berkata:

“Git.”

“Hm?”

“Sabtu depan kamu dateng?”

“Dateng.”

“Sabtu depannya?”

“Dateng.”

Dia mengangguk.

“Bagus,” katanya.

Dan lalu, sambil berjalan masuk ke dapur, tanpa menoleh, dia menambahkan satu kalimat yang membuatku berdiri di belakang rumah itu selama hampir dua menit setelah dia pergi:

“Kalau aku beneran pergi, aku butuh ada yang tetep dateng.”


Malamnya aku pulang jam enam.

Di angkot, aku membuka aplikasi catatan di HP-ku.

Aku membuka daftar aturan yang kutulis tiga minggu lalu.

1. Sabtu tetap jalan. Tidak boleh berhenti. Tidak boleh nambah.
2. Tidak boleh datang di hari lain.
3. Tidak boleh datang jam sepuluh sampai satu.
4. Tidak boleh bilang.
5. Tidak boleh berharap Claudia salah.

Aku menghapus nomor empat.

Bukan karena aku melanggarnya — aku tidak bilang ke Aries, dan aku tidak akan pernah.

Aku menghapusnya karena aturan itu sudah tidak diperlukan lagi.

Aku sudah bilang ke orang yang paling penting.

Lalu aku mengetik nomor enam.

Aku menatapnya lama sebelum menyimpannya.

6. Kalau Bella pergi, jangan ambil tempatnya.
Tetap datang. Tapi jangan ambil tempatnya.

Dan aku menyimpannya, dan aku memasukkan HP ke tas, dan aku menempelkan dahi ke kaca angkot dan menatap jalan sampai rumah.