← Giliranmu Istirahat

Chapter Fifty One

[Kesaksian] Tentang Kakak Kami

POV: Sekar → Lintang → Bumi → Sekar


SEKAR

Bu Hanifah datang tanggal lima April, jam sembilan pagi, hari Sabtu.

Kunjungan berkala. Tiga bulan sekali. Ini yang keempat.

Dia membawa tas hitam yang sama dan map yang sama dan permen untuk Bumi yang sama, dan dia melepas sepatunya walaupun Mas Aries bilang tidak usah, seperti setiap kali.

Tapi kali ini ada yang berbeda, dan aku tahu ada yang berbeda sebelum dia duduk.

Karena dia membawa map kedua.


“Mas Aries, ini kunjungan terakhir yang sifatnya wajib.”

“Terakhir, Bu?”

“Iya. Setelah ini sifatnya sukarela — kalau Mas butuh, hubungi saya. Kalau nggak, ya sudah.”

“Kenapa, Bu?”

Dan Bu Hanifah membuka map keduanya.

“Karena ada perubahan susunan rumah tangga,” katanya. “Salah satu anak akan pindah ke asrama bulan Juli.”

Dan semua orang di ruangan itu menoleh ke arahku.


Aku diterima tanggal empat Maret.

Aku tidak akan menuliskan reaksiku waktu suratnya datang, karena aku sudah membaca ulang bagian ini empat kali dan setiap kali aku menghapusnya.

Yang akan kutulis cuma ini:

Tanggal empat Maret.

Tanggal yang sama.

Empat tahun setelah pagi itu, di tanggal yang sama, aku menerima surat yang bilang aku boleh pergi.

Dan aku duduk di ruang depan memegang surat itu dan aku tidak tahu harus merasa apa selama sekitar satu jam, dan lalu Mas Aries pulang dan aku menyerahkannya kepadanya, dan dia membacanya, dan dia bilang:

“Sekar.”

“Iya.”

“Ini tanggalnya.”

“Iya, Mas.”

Dan kami berdua tidak mengatakan apa-apa lagi tentang tanggal itu, tidak sekali pun, sampai sekarang.


“Jadi begini,” kata Bu Hanifah. “Prosedurnya, sebelum saya tutup berkas, saya harus melakukan satu wawancara terakhir dengan anak-anak.”

Dan Mas Aries langsung berdiri.

“Iya, Bu. Saya di luar.”

Dan dia sudah berjalan ke pintu, dan dia sudah memegang gagangnya, karena dia sudah melakukan ini sebelumnya, karena dia sudah duduk di undakan depan pintu selama satu jam empat puluh menit bulan September.

“Mas Aries.”

“Iya, Bu?”

Dan Bu Hanifah bilang:

“Kali ini Mas di sini aja.”


Dia berhenti di depan pintu.

“...Di sini, Bu?”

“Iya.”

“Tapi yang kemarin—”

“Yang kemarin beda.” Dia membuka mapnya. “Yang kemarin saya harus tahu apakah anak-anak ini aman. Sekarang saya nggak perlu tahu itu lagi.”

“Terus sekarang apa, Bu?”

Dan Bu Hanifah bilang:

“Sekarang saya perlu tahu apa yang mereka ceritakan tentang Mas.”


Mas Aries berdiri di depan pintu itu selama sekitar tiga detik.

Lalu dia bilang, “Bu, saya rasa lebih baik saya—”

“Duduk, Mas.”

“Bu—”

“Mas Aries.” Bu Hanifah menaruh pulpennya. “Sebelas tahun saya kerja di bagian ini. Saya sudah wawancara ratusan anak.”

Dia menatapnya.

“Dan setiap kali, orang dewasanya keluar ruangan,” katanya. “Dan setiap kali, anak-anak itu cerita hal-hal yang nggak pernah didengar sama orang yang paling perlu dengar.”

Dia menunjuk kursi.

“Duduk.”

Dan kakakku duduk.


Dan aku memperhatikannya, karena aku selalu memperhatikannya, karena aku punya dua puluh empat nomor di kepalaku dan nomor-nomor itu tidak bisa dimatikan.

Dia duduk di kursi paling ujung.

Dia menaruh tangannya di pangkuan.

Dan dia menatap lantai.

Dan dia tidak mengangkat kepalanya selama satu jam dua belas menit berikutnya.


“Sekar dulu, ya,” kata Bu Hanifah.

“Iya, Bu.”

“Ceritakan tentang kakakmu.”

Dan aku duduk di lantai ruang depan rumah nomor tujuh dengan kakakku di kursi tiga meter dariku, dan aku membuka mulutku.


Aku akan menuliskan apa yang kukatakan, karena aku ingat semuanya.

Aku ingat semuanya karena aku sudah menyusunnya selama empat tahun tanpa pernah tahu bahwa aku sedang menyusunnya.


“Namanya Aries Kurniawan. Umurnya delapan belas.”

“Iya.”

“Waktu Bapak Ibu meninggal umurnya empat belas.”

“Iya.”

“Aku sebelas. Lintang tujuh. Bumi dua.”

Dan aku menarik napas.

“Hari itu Bumi nangis enam jam,” kataku. “Dan Mas Aries gendong dia enam jam. Nggak duduk. Aku ingat karena aku duduk di lantai dan aku lihat kakinya.”

Aku menatap lantai.

“Dan yang aku ingat paling jelas dari hari itu bukan ambulansnya,” kataku. “Yang aku ingat: jam sepuluh malam, dia masuk dapur, dan dia buka kulkas.”

“Buka kulkas?”

“Iya.”

“Buat apa?”

Dan aku bilang, “Buat ngecek besok kita makan apa.”

Ruangan itu sunyi.

“Bapak Ibu meninggal jam empat sore,” kataku, “dan jam sepuluh malam kakakku ngecek isi kulkas.”


“Terus?”

Dan aku bercerita.

Aku bercerita tentang termos. Satu tahun. Selasa, Rabu, Jumat. Dua puluh lima menit pergi, dua puluh lima menit pulang. Dan bagaimana aku berbohong bahwa itu titipan Bu Ratmi selama satu tahun penuh.

Dan bagaimana dia tahu — belakangan — dan tidak pernah bilang apa-apa, karena kalau dia bilang, aku akan berhenti.

Aku bercerita tentang tehnya.

“Dulu dua sendok gula,” kataku. “Sekarang tiga.”

“Kenapa berubah?”

Dan aku bilang, “Karena dua nggak cukup lagi.”

“Nggak cukup gimana?”

Dan aku bilang, “Karena badannya nggak nyimpen tenaga lagi, Bu. Semuanya keluar hari itu juga.”

Dan aku mendengar kursi di ujung ruangan berbunyi sedikit.

Aku tidak menoleh.


Aku bercerita tentang bulan Februari.

Tentang formulir dua kotak yang tidak kucentang. Tentang seratus lima belas hari di bawah tumpukan baju.

Dan Bu Hanifah bertanya, “Kenapa nggak kamu centang yang ‘tidak bersedia’?”

Dan aku bilang, “Karena aku nggak bisa.”

“Kenapa nggak bisa?”

Dan aku bilang hal yang tidak pernah kukatakan kepada siapa pun, termasuk kepada kakakku sendiri di ruang depan ini bulan Juni tahun lalu:

“Karena kalau aku nyentang itu, aku harus ngaku.”

“Ngaku apa?”

“Ngaku bahwa aku pengen.”


Dan lalu aku mengatakan bagian yang membuat kakakku menutup matanya.

Aku tahu dia menutup matanya karena aku melihatnya dari sudut mataku, walaupun aku tidak menoleh.

“Bu.”

“Iya, Sekar?”

“Aku mau ngomong satu hal, dan aku belum pernah ngomong ini.”

“Silakan.”

Dan aku bilang:

“Aku pernah benci sama kakakku.”


Ruangan itu berhenti.

“Setahun,” kataku. “Dari umur dua belas sampai tiga belas.”

“Kenapa?”

“Karena dia nggak pernah minta tolong.”

Aku menatap lantai.

“Semua orang di gang ini bilang kakakku hebat karena dia nggak pernah ngeluh,” kataku. “Dan mereka bener. Dia nggak pernah ngeluh sekali pun.”

Aku menarik napas.

“Tapi Bu, kalau ada orang di rumah yang nggak pernah ngeluh, yang lain nggak boleh ngeluh juga.”

“Sekar—”

“Aku nggak boleh capek, karena dia lebih capek. Aku nggak boleh sedih, karena dia lebih sedih. Aku nggak boleh pengen apa-apa, karena dia nggak pengen apa-apa.” Suaraku tetap datar dan aku bangga sampai sekarang bahwa suaraku tetap datar. “Aku umur dua belas dan aku nggak punya izin buat capek.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Jadi aku benci,” kataku. “Setahun. Dan aku nggak pernah bilang, dan aku masak tehnya tiap hari sambil benci.”


Bu Hanifah tidak menulis.

Dia menaruh pulpennya sejak lima menit lalu dan dia tidak mengambilnya lagi.

“Sekar, sekarang gimana?”

Dan aku bilang, “Sekarang udah nggak.”

“Sejak kapan?”

Dan aku bilang, “Sejak dia bilang ‘saya nggak sanggup sendirian’ di ruangan Bapak Danang.”

Dan aku menoleh, untuk pertama kalinya, ke arah kursi di ujung ruangan.

“Sejak itu aku boleh capek,” kataku.

Dan kakakku tidak mengangkat kepalanya.

Tapi bahunya bergerak sekali.


LINTANG

Aku yang kedua.

Aku bawa buku aku.

Aku nggak disuruh. Aku bawa sendiri.

Dan waktu aku duduk, Bu Hanifah bilang, “Lintang, kamu masih nyatet?”

Aku bilang, “Masih dong.”

Dia bilang, “Berapa halaman sekarang?”

Aku bilang, “Dua ratus enam puluh satu.”


Terus dia bilang, “Ceritakan tentang kakakmu.”

Dan aku bilang, “Yang mana? Banyak banget.”

Dan dia bilang, “Yang kamu mau.”

Dan aku mikir lama banget.

Terus aku bilang, “Bu, aku boleh cerita yang belum pernah aku ceritain?”

Dan dia bilang, “Boleh.”

Dan aku noleh ke Mas Aries.

Dan Mas Aries nunduk terus.

Dan aku bilang, “Mas.”

Dan dia bilang, “Hm.”

Dan aku bilang, “Nanti Mas jangan marah ya.”


Dan aku buka bukuku.

Bukan yang depan. Bukan yang belakang.

Aku buka sampulnya. Yang dalem.

Dan aku kasih ke Mas Aries.

Bukan ke Bu Hanifah.

Ke Mas Aries.


Mas ngambilnya.

Terus dia baca.

Dan aku liatin mukanya.

MAS = 10
MAS = 10
MAS = 10
MAS = 9
MAS = 9

Terus ke bawah terus.

MAS = 8
MAS = 7
MAS = 6
MAS = 5
MAS = 4

Dan pas dia sampe angka empat, tangannya gemeter.

Aku liat. Kertasnya gerak.


“Ntang.”

“Iya, Mas?”

“Ini apa?”

Dan aku bilang, “Itu Mas.”

Dan aku jelasin.

Aku jelasin semuanya. Soal aku mulai umur delapan. Soal jari aku ketemu ujung sama ujung waktu itu. Soal aku bikin sepuluh. Soal tiap Minggu aku peluk terus aku ngitung jari aku lewat berapa ruas.

Soal aku nggak boleh ganti sistemnya di tengah soalnya nanti angkanya nggak nyambung.

Dan Mas Aries denger semuanya tanpa motong sekali pun.


Terus dia bilang, suaranya aneh:

“Lintang.”

“Iya?”

“Tiap Minggu pagi kamu meluk aku.”

“Iya.”

“Dua tahun.”

“Tiga, Mas.”

“Tiga tahun kamu meluk aku tiap Minggu.”

“Iya.”

Dan dia bilang, “Dan tiap kali kamu ngitung?”

Dan aku bilang, “Iya.”

Dan dia nutup mukanya pake tangan yang satu, dan tangan yang satu lagi masih megang bukuku.


Terus dia bilang, dari balik tangannya:

“Kenapa nggak pernah bilang.”

Dan aku bilang, “Soalnya kalau Mas tau, Mas bakal makan pura-pura di depan aku.”

Dan Mas Aries bilang, “Iya.”

Dan aku bilang, “Hah?”

Dan dia bilang, “Iya, Ntang. Kamu bener. Aku bakal gitu.”

Dan itu pertama kalinya seumur hidup aku Mas Aries ngaku sesuatu yang jelek tentang dirinya sendiri.


Terus aku bilang, “Mas.”

“Hm.”

“Balik halamannya.”

“Kenapa?”

“Balik aja.”

Dan dia balik.

Dan di bawah MAS = 4, ada tulisan lagi.

Yang aku tulis bulan Desember.

MAS = 5

Dan di bawahnya lagi, bulan Februari:

MAS = 5

Dan di bawahnya lagi, bulan Maret:

MAS = 6


Dan Mas Aries berhenti napas. Aku denger.

“Ntang.”

“Iya?”

“Ini naik.”

“Iya!”

“Ini... naik?”

Dan aku bilang, dan aku bilangnya keras banget soalnya aku seneng banget:

“IYA, MAS! NAIK!”


Dan aku bilang, “Bu Hanifah, Ibu tau nggak?”

“Apa, Lintang?”

Dan aku bilang, “Aku nulis angka itu dari umur delapan. Tiga tahun.”

Aku ngangkat tiga jari.

“Dan itu turun terus,” kataku. “Turun, turun, turun. Nggak pernah naik sekali pun.”

Aku nunjuk bukuku.

“Bulan Desember pertama kali naik.”

Dan aku bilang, dan aku nggak bisa ngomong bener soalnya aku udah mulai nangis:

“Aku nulisnya sampe salah, Bu. Aku sampe ngitung empat kali. Aku pikir aku salah ngitung. Aku pikir jari aku yang gerak.”

Dan aku bilang, “Terus aku ngitung lagi hari Minggu depannya. Terus tetep naik.”

Dan aku bilang:

“Terus aku nangis di kamar mandi sendirian, Bu. Setengah jam.”


Dan Mas Aries nangis.

Dan dia nggak nutupin.

Dan itu kedua kalinya seumur hidup aku liat Mas nangis dan nggak nutupin.

Yang pertama bulan Juli, di lantai, waktu Mbak Sekar taruh gelas di sebelah kakinya.

Dan yang ini.


Dan aku jalan ke kursinya.

Dan aku peluk dia dari depan, bukan dari belakang, soalnya dari depan itu buat meluk dan dari belakang itu buat ngitung dan aku nggak lagi ngitung.

Dan aku bilang, “Mas.”

Dan dia bilang, “Hm.”

Dan aku bilang, “Sekarang Mas makan yang bener terus ya.”

Dan dia bilang, “Iya.”

Dan aku bilang, “Janji?”

Dan dia bilang, “Janji.”

Dan aku bilang, “Aku catet lho.”

Dan dia ketawa sambil nangis, dan itu bunyinya jelek banget, dan aku seneng banget dengernya.


BUMI

Aku Bumi.

Umur aku enam sekarang.

Aku SD kelas satu.


Bu Hanifah bilang, “Bumi, cerita tentang Mas kamu.”

Aku bilang, “Cerita apa?”

Dia bilang, “Apa aja.”

Aku bilang, “Mas tinggi.”

Dia bilang, “Iya. Terus?”

Aku bilang, “Mas kurus.”

Dia bilang, “Terus?”

Aku bilang, “Udah.”


Terus dia nanya lagi.

Dia bilang, “Bumi, kamu inget ayah ibu kamu?”

Aku bilang, “Nggak.”

Dia bilang, “Nggak sama sekali?”

Aku bilang, “Nggak.”

Dia bilang, “Nggak inget mukanya?”

Aku bilang, “Nggak.”

Terus aku bilang, “Aku pernah nyoba.”

Dia bilang, “Nyoba apa?”

Aku bilang, “Nyoba inget.”

Dia bilang, “Terus?”

Aku bilang, “Nggak bisa.”


Terus dia bilang, “Terus kamu inget siapa?”

Dan aku bilang, “Mas.”

Dia bilang, “Dari kapan?”

Aku bilang, “Dari dulu.”

Dia bilang, “Dari umur berapa?”

Dan aku bilang, “Aku nggak inget umur. Aku cuma inget Mas dari dulu ada.”


Terus dia nanya yang bikin semua orang diem.

Dia bilang, “Bumi, dulu kamu pernah manggil Mas kamu ‘Ayah’?”

Dan aku bilang, “Iya.”

Dia bilang, “Kenapa?”

Dan aku bilang, “Di PAUD semua punya ayah.”

Dia bilang, “Terus?”

Aku bilang, “Aku nggak punya.”

Dia bilang, “Terus?”

Aku bilang, “Terus aku bingung.”

Dia bilang, “Bingung kenapa?”

Dan aku bilang, “Kalau ada yang nanya, aku nggak tau jawab apa.”


Terus dia bilang, “Sekarang kamu manggil apa?”

Aku bilang, “Mas.”

Dia bilang, “Kenapa ganti?”

Dan aku mikir lama.

Terus aku bilang, “Soalnya capek.”

Dia bilang, “Capek gimana?”

Dan aku bilang:

“Mas capek jadi dua.”


Terus semua orang diem lagi.

Aku nggak ngerti kenapa.

Terus Bu Hanifah bilang, “Bumi, maksudnya gimana?”

Dan aku bilang, “Kalau Mas jadi ayah, Mas kerjanya dua.”

Dan aku bilang, “Kalau Mas jadi Mas doang, kerjanya satu.”

Dan aku bilang, “Jadi aku bilang Mas aja.”


Terus Mas nangis lagi.

Dan aku bilang, “Mas kenapa nangis?”

Dan Mas bilang, “Kelilipan.”

Dan Lintang bilang, “BOHONG.”

Dan Mbak Sekar bilang, “Lintang.”

Dan Lintang bilang, “Ya emang bohong.”


Terus aku turun dari kursi.

Terus aku jalan ke Mas.

Terus aku naik ke pangkuannya.

Terus aku diem aja.

Soalnya kalau aku duduk di badan Mas, Mas nggak bisa berdiri.

Dan kalau Mas nggak bisa berdiri, Mas nggak bisa pergi kerja.

Aku tau itu dari dulu.

Aku nggak tau siapa yang ngajarin.


SEKAR

Bu Hanifah menutup mapnya jam sepuluh lewat dua belas.

Dia tidak menulis apa pun sejak menit kedelapan.

Dan waktu dia menutupnya, dia bilang:

“Mas Aries.”

Dan kakakku mengangkat kepalanya untuk pertama kalinya dalam satu jam dua belas menit.

Wajahnya basah dan dia tidak mengelapnya dan Bumi masih duduk di pangkuannya.

“Iya, Bu.”

Dan Bu Hanifah bilang:

“Saya sudah wawancara empat ratus tujuh rumah tangga.”

“Iya, Bu.”

“Dan setiap kali saya tanya anak-anak tentang orang dewasanya, ada dua jawaban yang paling sering muncul.”

Dia menaruh mapnya di meja.

“Yang pertama: takut.”

“Yang kedua: nggak tau.”

Dan dia menatap kakakku.

“Ini pertama kalinya,” katanya, “jawabannya berupa data.”


Dia berdiri dan memakai sepatunya di depan pintu.

Dan sebelum pergi, dia bilang satu hal lagi.

“Mas Aries.”

“Iya, Bu?”

“Boleh saya kasih satu catatan pribadi? Bukan sebagai petugas.”

“Boleh, Bu.”

Dan Bu Hanifah bilang:

“Bulan September kemarin, waktu kunjungan pertama, saya hitung Mas ngomong ‘nggak apa-apa’ empat puluh tiga kali dalam satu jam.”

Kakakku mengangguk.

“Hari ini,” katanya, “satu jam dua belas menit, nol.”

Dia mengangkat tasnya.

“Nol, Mas.”

Dan dia keluar.


Aku menutup pintu setelah dia pergi.

Dan aku berbalik.

Dan kakakku masih duduk di kursi itu dengan Bumi di pangkuannya dan buku sampul biru Lintang di tangannya, terbuka di halaman yang salah — bukan halaman angka, dia sudah membaliknya entah kapan.

Halaman kolom.

Kolom kiri. PEMBERIAN.

Yang kosong dari halaman satu sampai halaman dua ratus tiga puluh, dan yang baris pertamanya ditulis di angkot tanggal dua belas September dengan tangan yang bergetar sampai hurufnya miring.

Dan sekarang sudah ada sebelas baris di sana.

Dan kakakku membacanya dari atas ke bawah, pelan-pelan, sebelas baris.

Dan dia berhenti di baris terakhir.

Dan dia bilang, “Lintang.”

“Iya, Mas?”

“Yang paling bawah ini apa?”

Dan Lintang datang dan melihatnya, dan wajahnya langsung berubah jadi wajah orang yang ketahuan.

“Oh. Itu—”

“Lintang.”

“Itu baru kemarin.”

“Bacain.”

Dan adikku berdiri di ruang depan rumah nomor tujuh dan membacakan tulisannya sendiri dengan suara kecil:

“4 April. Mas Aries. Bilang sayang. 3 orang. Nggak diminta.”

Dan Mas Aries bilang, “Kenapa ini masuk kolom pemberian?”

Dan Lintang bilang, “Ya soalnya nggak usah dibayar.”

Dan Mas Aries bilang, “Bukan gitu maksudku.”

Dan dia mengangkat kepalanya.

“Maksudku,” katanya, “kenapa ini masuk daftar sama sekali? Ini bukan barang. Ini bukan uang. Ini bukan bantuan.”

Dan adikku yang berumur sebelas tahun berkata:

“Mas.”

“Hm.”

“Aku nunggu itu seribu dua ratus empat puluh tiga kali.”

Dan dia mengambil bukunya kembali dari tangan kakaknya.

“Menurut Mas itu bukan pemberian?”