← Giliranmu Istirahat

Chapter One

Dua Puluh Empat Jam

POV: Aries


Alarmku berbunyi jam empat lewat dua puluh lima.

Aku mematikannya sebelum bunyi kedua. Itu keahlian yang butuh dua tahun untuk kukuasai — mematikan alarm dalam satu setengah detik, tanpa membangunkan siapa pun di kamar yang sama.

Bumi tidur di sebelahku, melintang, kakinya di atas perutku. Anak itu selalu tidur seperti orang yang jatuh dari langit. Kuangkat kaki kecil itu pelan-pelan, kupindahkan ke bantal, lalu kutarik selimut sampai lehernya.

Di sudut lain kamar, Lintang meringkuk membelakangi tembok. Sekar tidur paling ujung, paling rapi, tangan di dada seperti orang yang tidur pun sedang menjaga sesuatu.

Aku turun dari kasur tanpa suara.

Di ruang depan, sandalku sudah menghadap pintu.

Selalu begitu. Setiap malam, sebelum tidur, Bumi membalik sandalku supaya besok paginya tinggal dipakai. Anak lima tahun itu tidak bisa mencuci piring, tidak bisa menyapu dengan benar, tidak bisa apa-apa. Tapi dia bisa membalik sandal, dan dia melakukannya setiap hari seperti pekerjaan yang digaji.

Aku memakainya. Menutup pintu.

Gang Kenanga masih gelap. Cuma lampu di depan rumah Om Yusuf yang menyala, karena lampu itu memang tidak pernah dimatikan sejak tahun lalu.


Toko sembako Pak Han buka jam setengah lima. Truk datang jam lima kurang sepuluh.

Aku sudah berdiri di depan rolling door waktu Pak Han datang dengan motornya.

“Pagi, Pak.”

“Pagi.” Dia melirik jam tangannya. “Kamu tuh nggak pernah telat, ya.”

“Enggak, Pak.”

“Anak sekolah lain kalau saya suruh subuh gini, alasannya sepuluh.”

Aku tidak menjawab. Aku menarik rolling door ke atas.

Beras lima puluh karung. Gula dua puluh. Minyak dus-dusan. Kuangkat satu-satu dari bak truk ke gudang belakang, dan di karung kedua puluh punggungku mulai bicara — bunyi kecil di pinggang kanan, seperti sesuatu yang menggeser.

Aku tidak berhenti. Kalau berhenti, jam enam tidak akan cukup.

Jam enam kurang lima, Pak Han menyerahkan uang yang sudah dilipat rapi.

“Nih. Tambah dikit.”

Kuhitung. Lima ribu lebih banyak dari biasa.

“Pak, ini kelebihan.”

“Ya emang.”

“Nggak usah, Pak. Saya bisa.”

Pak Han menatapku dengan tatapan orang dewasa yang capek berdebat dengan anak tujuh belas tahun.

“Bawa. Beliin adikmu jajan.”

Aku diam sebentar. Lalu memasukkan uang itu ke saku, karena menolak dua kali sudah masuk kategori tidak sopan.

“Terima kasih, Pak.”


Rumah nomor tujuh sudah terang waktu aku pulang.

Sekar berdiri di dapur, masih pakai daster tidur, rambut diikat asal. Di meja sudah ada satu gelas teh, mengepul.

“Mas.”

“Hm.”

“Diminum dulu.”

Aku duduk. Kuminum setengahnya. Manis. Sekar selalu bikin tehnya manis.

“Sekar bangun jam berapa?”

“Biasa.”

“Jam berapa?”

“Biasa,” ulangnya, dan lanjut mengaduk sesuatu di wajan.

Aku tidak mengejar. Kalau Sekar bilang biasa, artinya jangan ditanya. Aku sudah lama belajar bahwa adikku yang satu ini punya pintu-pintu yang tidak boleh diketuk.

Aku berdiri, hendak mengambil piring.

“Nggak usah.” Dia tidak menoleh. “Mas mandi.”

“Aku bisa—”

“Air panasnya udah aku nyalain lima menit lalu. Nanti kebuang.”

Aku menutup mulutku. Adikku empat belas tahun dan sudah tahu cara memenangkan argumen tanpa berdebat.

Di kamar mandi, kutemukan seragamku sudah tergantung di gantungan. Disetrika. Kerahnya kaku. Padahal semalam kulempar seragam itu ke ember dalam keadaan bau minyak.

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu mandi cepat-cepat, karena kalau kupikirkan lebih lama dari itu, ada sesuatu yang akan terasa.


Meja makan kami sebenarnya bukan meja makan. Itu meja belajar bekas, kaki depannya diganjal ubin. Tapi muat empat orang kalau Bumi duduk di pangkuan.

“Mas!” Lintang menghambur dari kamar, rambut masih berdiri. “Mas, tadi malem aku mimpi Mas jadi pilot.”

“Oh ya.”

“Iya! Tapi pesawatnya angkot.”

“Ya udah berarti sopir angkot.”

“Bukan!” Dia duduk, kakinya menggantung. “Terbang kok. Aku liat.”

Bumi merangkak naik ke kursi sebelahku, membawa dua sandal jepit di tangan — bukan sandal siapa-siapa, cuma sandal.

“Bumi, itu buat apa?”

“Buat nanti.”

“Buat nanti apa?”

“Nanti aja.”

Aku mengangguk seolah itu jawaban paling masuk akal di dunia, lalu menuangkan nasi ke piringnya.

Sekar duduk terakhir. Selalu terakhir. Aku tidak pernah bisa membuatnya duduk pertama.

“Sekar, hari ini ada iuran?”

“Nggak.”

“Bener?”

“Nggak ada.”

Lintang mengangkat tangan. “Aku ada. Dua puluh ribu. Buat kunjungan ke museum.”

“Kapan?”

“Bulan depan. Tapi Bu Guru bilang boleh nyicil.”

“Nggak usah nyicil.” Aku berdiri, membuka lemari atas, mengambil kaleng biskuit yang isinya sudah bukan biskuit sejak tiga tahun lalu. Kukeluarkan dua lembar sepuluh ribuan dan kutaruh di samping piring Lintang. “Bayar besok. Sekalian.”

Lintang menatap uang itu. Lalu mengeluarkan buku tulis sampul biru dari tasnya, membukanya, dan menulis sesuatu di sana dengan pensil.

“Kamu nulis apa sih tiap hari.”

“Rahasia.”

“Rahasia terus.”

“Iya, soalnya rahasia.”

Sekar melirik buku itu sebentar, dan tidak berkata apa-apa. Aku memperhatikan lirikan itu tapi tidak sempat memikirkannya, karena jam sudah menunjukkan enam empat puluh dan Bumi belum ganti baju.


Bumi dititipkan ke Bu Ratmi setiap pagi.

Bukan permintaanku. Setahun lalu Bu Ratmi cuma berdiri di depan warungnya dan berkata, “Ries, anak kecilmu itu jangan dikunci di rumah. Titip sini wae.” Sejak itu Bumi jadi bagian dari inventaris warung — duduk di bangku plastik, memakan kerupuk yang tidak pernah dihitung, dipanggil “Bos” oleh setiap pembeli.

“Bu, ini Bumi.”

“Iyo, taruh situ.” Bu Ratmi tidak mengangkat kepala dari kompor. “Kamu udah makan?”

“Udah, Bu.”

“Bohong.”

“Beneran, Bu. Tadi sama Sekar.”

Dia mengangkat kepala. Menatapku dari ujung rambut sampai sepatu.

“Ries.”

“Iya, Bu.”

“Kalau sore laper, sini. Nggak usah beli.”

“Nanti saya bayar, Bu.”

“Sopo sing njaluk dibayar.” Dia kembali ke kompornya. “Wis, sana. Telat kowe.”

Aku berpamitan. Di ujung gang, Bang Jecky sedang memanaskan motornya sambil memakai jaket ojol terbalik.

“Ries! Sekolah?”

“Iya, Bang.”

“Bareng?”

“Nggak usah, Bang. Saya bisa jalan.”

“Ya elah, gue lewat situ juga.”

“Nanti Abang rugi bensin.”

Dia menepuk jok belakang. “Naik. Gue lagi nggak ada orderan. Kalau lo nolak lagi, gue laporin ke Bu Ratmi.”

Ancaman itu bekerja. Aku naik.

Sepanjang jalan Bang Jecky bicara sendiri tentang teori-teorinya soal hidup, soal perempuan, soal kenapa dia belum menikah padahal umurnya dua puluh empat. Aku mendengarkan setengah, dan setengah lagi menghitung: gaji minimarket keluar tanggal lima, uang bongkar muat harian, uang kurir tergantung orderan, dikurangi listrik, dikurangi beras, dikurangi seragam Bumi yang mulai kekecilan.

Angkanya tidak pernah pas. Tapi tidak pernah minus juga.

Selama tidak minus, aku masih menang.


SMA Merbabu jam tujuh pagi ramai seperti pasar.

Aku masuk lewat gerbang samping, menunduk, jalan cepat. Bukan karena aku menghindari orang. Cuma karena tidak ada yang perlu dibicarakan.

Kelasku di lantai dua, ujung koridor. Bangkuku di belakang, dekat jendela, tempat yang tidak diperebutkan siapa-siapa karena kena panas jam sepuluh.

Aku duduk. Menaruh tas. Menempelkan punggung ke sandaran kursi.

Dan untuk pertama kalinya sejak jam empat dua puluh lima, tidak ada yang membutuhkanku.

Perasaan itu aneh setiap pagi. Seperti melepas ransel yang sudah lupa kaupakai.

Di depan, ketua kelas — Gita Ardhani — berdiri di samping papan tulis, membacakan sesuatu dari kertas dengan suara yang jelas dan tersusun. Sesuatu tentang kerja kelompok. Sesuatu tentang batas pengumpulan.

Aku mendengar setengah kalimat pertama, lalu tidak lagi.

Bukan karena tidak peduli. Aku cuma sudah menghitung: kerja kelompok berarti berkumpul sore. Sore aku kurir. Kalau ditukar ke malam, malam aku minimarket. Kalau ditukar ke Minggu—

Minggu tidak bisa.

Minggu pagi adalah satu-satunya waktu Lintang memelukku di dapur, dan aku tidak tahu kenapa adikku melakukan itu, tapi aku tahu satu hal: aku tidak akan pernah tidak ada di sana hari Minggu pagi.

Jadi kerja kelompok tidak masuk. Sesederhana itu.

Kutaruh kepalaku di lipatan tangan.


Jam istirahat aku tidak ke kantin.

Rumah makan Bu Lastri cuma tujuh menit jalan kaki dari sekolah, dan dari jam dua belas sampai jam satu adalah jam paling sibuk mereka. Aku mencuci piring di belakang, satu jam penuh, tangan di dalam air yang tidak pernah benar-benar bersih.

Kadang ada anak sekolahku yang makan di depan. Aku tidak pernah mengintip.

Jam satu kurang lima, kubilas tangan, ganti kaus, lari balik ke sekolah, dan masuk kelas sebelum guru jam kelima datang.

Ada yang bilang tanganku bau.

Aku mengangguk dan bilang maaf.


Pulang sekolah, kurir.

Aplikasi menyala di HP-ku yang layarnya retak di sudut kanan. Enam orderan sore itu. Satu di antaranya paket besar dan penerimanya marah-marah karena telat sepuluh menit.

Aku minta maaf empat kali.

Orang itu tetap marah.

Aku minta maaf sekali lagi, lalu pergi, dan tidak memikirkannya lagi setelah lima puluh meter, karena memikirkannya tidak mengubah apa pun.

Jam tujuh aku pulang sebentar. Bumi sudah mandi — Bu Ratmi yang memandikan. Lintang sedang mengerjakan PR di lantai. Sekar sedang menjemur, walaupun sudah malam, karena siang tadi hujan.

“Mas mau ke minimarket?”

“Iya.”

“Bawa ini.” Dia menyerahkan bungkusan. “Nasi.”

“Aku bisa beli di sana.”

“Yang di sana mahal.”

“Aku bisa—”

Sekar menaruh bungkusan itu di tasku, menutup resletingnya, lalu berbalik meneruskan menjemur. Percakapan selesai. Dia selalu mengakhiri percakapan seperti orang menutup pintu: pelan, dan tidak bisa dibuka lagi.

Di pintu, Lintang berlari menyusul.

“Mas!”

“Apa.”

Dia memeluk pinggangku cepat, dua detik, lalu melepas.

“Sayang Mas.”

“Hm.”

Itu jawabanku. Selalu itu.

Lintang tidak pernah keberatan. Dia melambai dan masuk lagi, dan aku berdiri di ambang pintu satu detik lebih lama dari yang kusadari, lalu berjalan ke ujung gang.


Minimarket jam delapan sampai sebelas.

Sepi. Bagus. Sepi berarti aku bisa duduk di kursi kasir tanpa ada yang protes.

Jam sepuluh, kepalaku mulai berat. Kuminum kopi sachet kedua. Jam sebelas kurang seperempat, aku mengepel lantai. Jam sebelas lewat sepuluh, kukunci pintu dari dalam dan menunggu supervisor mengecek laci.

Jam sebelas tiga puluh, aku jalan pulang.

Gang Kenanga sudah gelap total. Warung Bu Ratmi tutup. Bengkel Pak Somad tutup. Cuma lampu depan rumah Om Yusuf yang menyala, karena lampu itu memang tidak pernah dimatikan.

Kubuka pintu rumah nomor tujuh sepelan mungkin.

Di ruang depan, tiga orang tidur di kasur yang sama seperti semalam. Bumi melintang. Lintang membelakangi tembok. Sekar di ujung, tangan di dada.

Di meja, ada satu gelas air putih ditutup piring kecil.

Kuminum sampai habis.

Lalu duduk di lantai, punggung menempel ke dinding, dan menutup mata selama sepuluh detik. Cuma sepuluh. Kalau lebih dari itu, aku akan tertidur di sana dan besok pinggangku tidak bisa dipakai mengangkat karung.

Sebelum tidur, aku melirik sandalku di depan pintu.

Sudah menghadap keluar.

Jam sebelas empat puluh, dan anak lima tahun itu sudah menyiapkan pagi besok untukku.


Besok paginya, di kelas, jam delapan lewat lima belas, aku tertidur.

Bukan mengantuk. Tertidur. Kepala di lipatan tangan, napas dalam, benar-benar hilang.

Di depan, guru sedang menjelaskan sesuatu. Di sekitarku, tiga puluh lima anak menulis, berbisik, tertawa kecil, hidup seperti anak tujuh belas tahun seharusnya hidup.

Tidak ada yang membangunkanku.

Bukan karena mereka baik. Karena mereka tidak peduli.

Dan itu, bagiku, adalah hadiah terbaik yang bisa diberikan sekolah kepadaku: enam jam sehari di mana tidak ada satu orang pun yang membutuhkanku.

Aku tidak tahu — dan baru tahu berbulan-bulan kemudian, waktu semuanya sudah terlambat untuk dihindari — bahwa pagi itu, dua bangku di depan sebelah kiri, ada seorang perempuan yang menoleh ke belakang untuk ketiga kalinya.

Dia memandangi anak laki-laki yang tidur di bangku paling belakang.

Dan dia bertanya-tanya kenapa lengan seragamnya basah sampai siku.