Chapter Two
Alamat yang Salah
POV: Claudia
Rumahku punya dua belas lampu di lantai bawah.
Aku tahu jumlahnya karena pernah kuhitung, suatu malam, waktu kelas satu SMP, saat aku sadar bahwa menghitung lampu adalah satu-satunya kegiatan yang tersedia.
Malam itu kunyalakan semuanya. Dua belas. Ruang tamu, ruang keluarga, dapur, koridor, tangga.
Rumahku tetap sepi.
Ternyata terang dan ramai itu dua hal yang berbeda, dan tidak ada satu pun saklar yang bisa mengubah yang pertama jadi yang kedua.
“Siapa yang mau antar ini ke rumah Aries?”
Gita berdiri di depan kelas sambil mengangkat map cokelat. Suaranya seperti biasa: jelas, tersusun, tidak menyisakan ruang untuk pura-pura tidak dengar.
Tidak ada yang mengangkat tangan.
“Ini surat dari BK. Harus ditandatangani wali. Besok pagi sudah harus kembali.”
Masih tidak ada.
“Ada yang tahu rumahnya di mana?”
Hening.
Aku melirik ke belakang. Bangku dekat jendela sudah kosong dari tadi. Anak itu keluar jam istirahat dan tidak kembali sampai bel jam kelima, dan waktu dia kembali, rambutnya basah di bagian depan seperti orang yang cuci muka buru-buru.
“Aku aja.”
Suaraku keluar sebelum aku sempat memutuskan apa pun.
Gita menoleh. Sedikit terkejut, tapi tidak menunjukkannya lama. “Kamu tahu alamatnya?”
“Nggak.”
“Terus?”
Aku mengangkat bahu. “Di map-nya ada, kan?”
Gita menyerahkan map itu dengan ekspresi orang yang sudah menyerah pada hari itu. “Jangan sampai hilang. Dan Bella—”
“Hm?”
“Kalau dia nggak ada di rumah, jangan ditunggu. Titip aja.”
Aku mengangguk.
Aku tidak berencana menunggu. Sungguh. Rencanaku adalah: antar, titip, pulang, mandi, makan malam sendirian seperti biasa.
Alamat di map itu ditulis tangan, dan yang menulisnya jelas orang yang buru-buru.
Gg. Kenanga No. 7, RT 04.
Tidak ada nama jalan besar. Tidak ada patokan. Aplikasi peta di HP-ku menunjukkan tiga gang berbeda dengan nama Kenanga, dua di antaranya berjarak empat kilometer satu sama lain.
Aku turun dari ojek di gang pertama. Salah.
Gang kedua, salah lagi. Yang di sana rumah nomor tujuh dihuni pasangan tua yang menatapku seperti aku salesman panci.
Jam lima sore, matahari sudah miring, dan aku berdiri di mulut gang ketiga sambil memegang map cokelat yang sudah agak lecek karena keringat tanganku.
Gang itu sempit. Motor cuma bisa lewat satu-satu. Kabel listrik menyilang di atas kepala seperti jaring laba-laba yang menyerah. Ada jemuran di mana-mana.
Dan berisik.
Itu hal pertama yang menabrakku. Bukan pemandangannya — suaranya. Ada TV nyala di rumah kedua. Ada ibu-ibu teriak memanggil anaknya dari lantai atas. Ada anak-anak main bola dengan bola plastik yang menghantam seng dan bunyinya seperti petir kecil. Ada bau gorengan dari suatu tempat, bau sabun cuci dari tempat lain, bau hujan sisa siang tadi.
Aku berdiri di sana beberapa detik lebih lama dari yang perlu.
Lalu masuk.
“Nyari sopo, Mbak?”
Perempuan di warung itu memanggilku sebelum aku sempat membaca nomor rumah. Umurnya lima puluhan, rambut disanggul asal, tangannya sedang menyendok sesuatu ke dalam plastik.
“Eh — anu, Bu. Nomor tujuh?”
“Rumah Aries?”
“I-iya.”
Dia menaruh sendoknya. “Kamu temen sekolahe?”
“Iya, Bu.”
“Ariese durung mulih.” Dia melirik jam dinding warung yang angkanya sudah hilang setengah. “Jam sebelasan paling.”
Aku berkedip. “Jam sebelas... malam?”
“Iyo.”
“Oh.” Kugeser map di tanganku. “Ya udah, Bu, ini titip aja—”
“Kamu udah makan?”
“Hah?”
“Udah makan durung.”
“Belum, Bu, tapi—”
“Lungguh.”
“Ap—”
“Duduk.” Dia menunjuk bangku plastik biru di depan warung dengan sendok. “Kene.”
Dan entah bagaimana, aku duduk.
Namanya Bu Ratmi. Aku tahu itu dalam empat menit, bersama dengan: nama suaminya, jumlah anaknya, kenapa anak keduanya pindah ke Kalimantan, dan pendapat Bu Ratmi tentang harga cabai.
Di depanku sudah ada piring. Nasi, tempe orek, sayur bening. Aku tidak memesan apa pun.
“Bu, ini saya bayar—”
“Hush.”
“Tapi—”
“Mangan.”
Aku makan.
Sayur beningnya terlalu asin. Tempenya kemanisan. Nasinya sedikit keras di bagian bawah.
Kuhabiskan sampai tidak ada satu butir pun tersisa, dan aku tidak tahu kenapa tenggorokanku terasa sempit di suapan terakhir.
“Kakak siapa?”
Anak perempuan itu muncul dari balik bangku, sekitar sepuluh tahun, rambut dikuncir dua yang tingginya tidak sama. Dia membawa buku tulis sampul biru di dadanya seperti orang membawa barang berharga.
“Aku Claudia. Kamu?”
“Lintang.” Dia langsung duduk di sebelahku, sangat dekat, tanpa basa-basi. “Kakak temen Mas Aries?”
“Iya. Sekelas.”
“Ohh.” Dia mengangguk-angguk penting. “Mas Aries di kelas gimana?”
Aku membuka mulut.
Lalu sadar aku tidak punya jawaban.
Aku sekelas dengan anak itu delapan bulan, dan yang kutahu cuma: duduk di belakang, tidur, tidak ikut apa-apa.
“...Dia pinter,” kataku akhirnya, yang bukan bohong dan bukan jawaban.
“Iya kan!” Lintang menoleh ke arah warung. “Bu Ratmi! Kata Kak Claudia Mas Aries pinter!”
“Yo emang.”
Dia berbalik lagi ke arahku dengan wajah puas, seperti baru saja memenangkan sesuatu.
Lalu seorang anak laki-laki kecil menabrak lututku.
Umurnya mungkin empat atau lima tahun. Dia berdiri di sana, memandangiku dari bawah dengan mata yang sangat serius, dan berkata:
“Kakak siapa?”
“Aku Claudia.”
“Bukan.”
“...Bukan?”
“Bukan Kakak.” Dia menggeleng tegas. “Kakak cuma satu.”
Lintang tertawa. “Itu Bumi. Adikku. Dia gitu.”
Bumi memanjat ke bangku sebelah, membawa dua sandal jepit yang jelas bukan miliknya, dan menaruhnya di lantai dengan hati-hati, menghadap ke arah mulut gang.
Aku menatap sandal itu. “Itu punya siapa?”
“Nggak tau,” kata Lintang riang. “Bumi suka gitu. Semua sandal dibalik. Kata dia biar gampang.”
Anak perempuan yang ketiga muncul jam tujuh.
Dia berbeda.
Aku menyadarinya dalam dua detik — cara jalannya, cara dia melihat sekeliling sebelum melihat orangnya. Umurnya mungkin empat belas, memakai kaus rumahan, rambut diikat, dan dia berhenti di jarak tiga meter dari warung dan tidak mendekat lagi.
“Sekar!” Lintang melambai. “Ini Kak Claudia, temen sekolah Mas Aries!”
Sekar tidak menjawab.
Dia menatapku. Lama. Bukan tatapan tidak sopan — tatapan orang yang sedang menghitung sesuatu.
“Mau apa?” tanyanya akhirnya.
“Eh — aku mau nganter surat dari sekolah. Buat wali.”
“Wali.”
“Iya, harus ditandatangan—”
“Nggak ada wali di sini.” Dia mengulurkan tangan. “Sini. Nanti aku kasih ke Mas.”
Kuserahkan map itu.
Dia mengambilnya, membaliknya, membaca sekilas nama di depan, lalu menyelipkannya ke bawah lengan.
“Udah, kan?”
“...Iya.”
“Pulang.”
“Sekar!” Lintang menyikut kakaknya.
“Udah malem,” kata Sekar, datar, tanpa nada apa-apa. “Kasihan kalau kemaleman.”
Dan itu, baru kusadari belakangan, sebenarnya kalimat baik. Cuma dikirim dengan cara yang tidak terlihat baik sama sekali.
Aku berdiri. Merapikan rokku. Bilang terima kasih ke Bu Ratmi tiga kali dan ditolak tiga kali juga.
Lalu aku melihat HP-ku.
Tidak ada notifikasi.
Tidak ada satu pun pesan dari rumah menanyakan aku di mana, padahal sekarang jam tujuh lewat, dan aku belum pulang.
Aku menatap layar itu beberapa detik.
Lalu duduk kembali.
“Kak Claudia nggak jadi pulang?” tanya Lintang.
“...Nanti.”
“Nunggu Mas Aries?”
Aku membuka mulut untuk bilang tidak.
“Iya,” kataku.
Dari arah rumah nomor tujuh, Sekar berhenti sebentar di ambang pintu, menoleh, lalu masuk tanpa berkata apa-apa.
Jam sembilan, Lintang tertidur di bangku, kepalanya di pahaku.
Bumi sudah digendong masuk sejak jam delapan.
Jam sepuluh, Bu Ratmi menutup setengah warungnya tapi menyisakan satu lampu.
“Mbak.”
“Iya, Bu?”
“Kamu beneran nunggu?”
“Iya.”
Dia memandangiku lama. Lalu mengangguk pelan, seperti mencatat sesuatu di dalam kepalanya, dan masuk ke dalam.
Aku menyandarkan kepala ke tiang warung.
Gang itu sudah tenang sekarang. TV-TV sudah mati. Bola plastik sudah tidak ada. Tapi masih ada suara — kipas angin dari rumah sebelah, batuk seseorang di rumah ujung, kucing berkelahi di atas seng.
Bukan sunyi.
Rumahku sunyi. Ini bukan.
Aku memejamkan mata sebentar. Cuma sebentar.
Yang membangunkanku adalah suara sandal.
Bukan langkah cepat. Langkah orang yang menyeret kaki karena tidak sanggup mengangkatnya lebih tinggi.
Aku membuka mata.
Jam di dinding warung menunjukkan sebelas lewat empat puluh.
Dan di mulut gang, berdiri anak laki-laki dengan seragam sekolah yang sudah dipakai sembilan belas jam, tas di satu bahu, bau samar minyak goreng dan pengharum lantai.
Aries berhenti.
Dia menatapku. Menatap Lintang yang masih tidur di pangkuanku. Menatap warung Bu Ratmi yang lampunya sengaja disisakan satu.
Wajahnya tidak menunjukkan kaget.
Itu bagian yang paling aneh. Dia tidak kaget. Dia cuma terlihat seperti orang yang sedang menghitung berapa lama lagi dia bisa berdiri.
“Maaf,” katanya.
Aku berkedip. “...Maaf?”
“Kamu nunggu lama.”
“Aku—”
“Saya antar pulang.”
Dan dia sudah berbalik, sudah mengeluarkan HP retaknya, sudah membuka aplikasi, sebelum aku sempat bilang apa pun.
“Eh — nggak usah—”
“Jam segini nggak aman.”
“Aku bisa pesen sendiri.”
“Nggak usah.” Dia menempelkan HP ke telinga. “Saya bisa.”
Saya.
Dia bilang saya, ke teman sekelasnya sendiri.
Aku berdiri, memindahkan kepala Lintang pelan-pelan ke bangku, dan waktu aku mengangkat wajah, aku melihatnya lagi:
Lengan seragam Aries basah sampai siku.
Sudah kering di bagian atas, masih lembap di bagian bawah. Seperti orang yang mencelupkan tangan ke air berkali-kali sepanjang hari dan tidak pernah punya waktu untuk mengeringkannya dengan benar.
“Aries.”
Dia menoleh. “Iya?”
Aku membuka mulut.
Ada seratus pertanyaan, dan tidak satu pun yang boleh ditanyakan jam sebelas empat puluh malam di depan warung yang sudah tutup.
“...Nggak jadi.”
Dia mengangguk, menerima itu tanpa penasaran sedikit pun, dan kembali bicara ke teleponnya.
Di belakangnya, di ambang pintu rumah nomor tujuh, Sekar berdiri memperhatikan.
Dia tidak menatapku.
Dia menatap punggung kakaknya, dan tangannya memegang gagang pintu terlalu erat.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah reading
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu