Chapter Fourteen
Tugas Pacar Apa?
POV: Aries
Aku bangun jam empat dua puluh lima seperti biasa, dan selama sekitar sembilan detik semuanya normal.
Lalu aku ingat.
Aku duduk di kasur, di dalam gelap, dengan kaki Bumi di atas perutku, dan otakku mengeluarkan satu kalimat yang sangat jelas:
Aku punya pacar.
Lalu, satu detik setelahnya, kalimat kedua:
Aku nggak tau harus ngapain.
Aku sudah mengangkat lima puluh karung beras. Aku sudah mengurus tiga anak selama tiga tahun. Aku sudah pergi ke ruang BK mewakili wali untuk diriku sendiri.
Aku bisa melakukan itu semua karena semuanya punya bentuk yang jelas. Ada yang harus diangkat, ada yang harus dimasak, ada yang harus ditandatangani.
Ini tidak punya bentuk sama sekali.
Semalam aku sudah bertanya langsung dan jawabannya adalah “nggak ada tugasnya”, yang secara logika berarti tidak ada yang perlu dilakukan, yang berarti tidak ada cara untuk gagal.
Tapi aku sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa kalau seseorang bilang tidak ada yang perlu dilakukan, biasanya ada.
Jadi jam lima kurang, sambil menunggu truk Pak Han, aku mengeluarkan HP retakku dan mengetik di kolom pencarian:
tugas pacar laki laki
Hasilnya tiga puluh delapan juta.
Yang paling atas judulnya “15 Kewajiban Pacar Cowok yang Wajib Kamu Tahu!”
Aku membacanya sampai nomor empat, lalu berhenti, karena nomor empat berbunyi “Selalu ada saat dia butuh — kapan pun, di mana pun.”
Aku menutup HP-ku.
Kapan pun, di mana pun.
Aku punya tujuh pekerjaan dan tiga adik.
Kalau itu syaratnya, aku sudah gagal sebelum truknya datang.
Aku menemui Bang Jecky jam enam lewat, waktu dia sedang memanaskan motor di ujung gang.
“Bang.”
“Woy. Pagi.”
“Boleh nanya sesuatu?”
“Nanya.”
Aku berdiri di sana selama beberapa detik.
Ini bagian yang sulit. Aku tidak pernah meminta apa pun kepada siapa pun, dan meminta nasihat ternyata masuk kategori yang sama, dan tenggorokanku tahu itu sebelum otakku tahu.
“Ries?”
“Bang,” kataku. “Kalau punya pacar, tugasnya apa aja?”
Bang Jecky mematikan motornya.
Dia turun. Dia menaruh helmnya di jok. Dia berjalan mengelilingiku satu putaran penuh, pelan-pelan, sambil memandangiku dari atas ke bawah.
“Bang—”
“DIEM.”
“...Oke.”
Dia berhenti di depanku. Memegang bahuku dengan dua tangan.
Dan berkata, dengan suara yang bergetar:
“Ries. Adek gue.”
“Bang, saya bukan—”
“DIEM DULU.” Dia mengguncang bahuku sekali. “Lo tau nggak, gue udah nunggu momen ini dari lo kelas sepuluh?”
“Nggak.”
“Dua tahun, Ries. DUA TAHUN gue liat lo pulang jam sebelas malem terus tidur di lantai.” Matanya benar-benar berair. “Sekarang lo nanya gue soal cewek.”
“Bang—”
“Gue bangga.”
“Bang, saya buru-buru, jam tujuh masuk—”
“DUDUK.”
Bang Jecky mengeluarkan buku catatan orderan dari jaketnya, membuka halaman kosong, dan mengeklik pulpennya seperti orang mau menandatangani kontrak.
“Oke. Catet baik-baik.”
“Saya nggak bawa—”
Dia menyerahkan pulpennya. Aku mengeluarkan struk bekas dari saku dalam tasku.
“Satu.” Dia mengangkat jari telunjuk. “Chat tiap pagi. Tanya kabar.”
Aku menulis.
“Dua. Anter jemput. Cewek tuh suka dianter.”
Aku menulis.
“Tiga. Traktir. Minimal seminggu sekali.”
Aku menulis, lalu berhenti.
“Empat. Kasih kejutan. Bunga, cokelat, apa gitu.”
“Bang.”
“Lima. INI PALING PENTING.” Dia mencondongkan badan. “Jangan pernah lupa tanggal jadian.”
Aku menatap kertasnya.
“Bang, tanggal jadian saya kemarin.”
“NAH. Catet. Tanggal berapa?”
“...Selasa.”
“Selasa TANGGAL BERAPA, Ries.”
“Saya nggak lihat kalender.”
Bang Jecky menutup matanya dan menarik napas panjang sekali, seperti orang yang sedang menahan diri untuk tidak membanting sesuatu.
“Ya Allah,” katanya. “Ya Allah, gue harus mulai dari nol.”
Aku menatap daftar itu sepanjang jam pertama di sekolah.
Lima poin. Rapi. Bisa dikerjakan.
Lalu, karena aku adalah orang yang begitu, aku membalik struk itu dan mulai menghitung.
1. Chat tiap pagi — kuota. Aku pakai kuota harian tiga ribu. Kalau chat rutin, mungkin naik jadi lima ribu. Selisih dua ribu × 30 = 60.000/bulan.
2. Anter jemput — rumahnya empat puluh menit naik motor. Aku tidak punya motor. Kalau pinjam Bang Jecky, bensin. Kalau ojek, dua puluh lima ribu sekali. Anggap seminggu dua kali = 200.000/bulan.
3. Traktir seminggu sekali — makan berdua di tempat yang layak, minimal lima puluh ribu. × 4 = 200.000/bulan.
4. Kejutan — aku tidak tahu harga bunga. Aku menebak dua puluh ribu. 20.000/bulan.
5. Tanggal jadian — ini gratis.
Total: 480.000 per bulan.
Aku menatap angka itu.
Lalu aku menulis di bawahnya, di baris berikutnya:
Sisa bulan ini setelah semua: 115.000
Dan aku duduk di bangku belakang dekat jendela, jam sembilan pagi, dengan guru Sejarah menjelaskan sesuatu di depan, dan aku menghitung ulang tiga kali karena aku pikir mungkin aku salah kurang.
Tidak salah.
Tiga ratus enam puluh lima ribu kurang.
Aku menghabiskan jam kedua dan ketiga memikirkan cara menutupnya.
Ini bukan kiasan. Aku benar-benar memikirkannya, secara sistematis, seperti aku memikirkan iuran museum Lintang.
Opsi satu: cuci motor Sabtu ditambah jadi enam motor. Tambahan sekitar delapan puluh ribu. Kurang.
Opsi dua: ambil shift Minggu di minimarket. Ada lowongan. Seratus lima puluh ribu seminggu.
Aku sudah hampir memutuskan itu.
Aku sudah membuka aplikasi, sudah mengetik pesan ke Mas Yuda, sudah sampai di kata “Mas, kalau shift Minggu” —
lalu aku berhenti.
Karena Minggu pagi adalah Lintang.
Dan aku menatap layar HP-ku yang retak di sudut kanan, di kelas, jam sepuluh pagi, dan aku menyadari sesuatu yang membuat perutku dingin:
Aku baru saja hampir menukar satu-satunya jam di mana adikku memelukku — dengan uang untuk membeli bunga.
Aku menghapus pesan itu.
Lalu aku duduk diam sampai bel.
Sore itu di undakan, aku tidak bisa bicara normal.
“Ries.”
“Hm.”
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu dari tadi ngeliatin trotoar.”
“Trotoarnya retak.”
“Aries.”
Aku menarik napas.
“Aku nggak sanggup.”
Dia menoleh cepat. “Apa?”
“Aku nggak sanggup jadi pacar kamu.”
Aku ingin mencatat, untuk keadilan, bahwa aku mengucapkan kalimat itu dengan nada orang yang melaporkan kerusakan mesin.
Wajah Claudia hilang warnanya.
“...Kenapa?”
“Empat ratus delapan puluh ribu per bulan.”
“Hah?”
Aku mengeluarkan struk itu dan menyerahkannya.
Dia membacanya.
Aku memperhatikan matanya bergerak dari baris pertama ke bawah, lalu berhenti di angka, lalu naik lagi ke atas, lalu turun lagi.
Lalu dia membalik struknya dan membaca daftar Bang Jecky di sisi sebaliknya.
Dan dia mulai tertawa.
Bukan tertawa kecil.
Dia tertawa sampai membungkuk, sampai memegangi perutnya, sampai ada suara yang keluar dari hidungnya, dan aku duduk di sebelahnya dengan wajah yang — kalau kupikirkan sekarang — pasti terlihat sangat, sangat serius.
“Claudia.”
“Se-sebentar—”
“Ini bukan lucu, ini masalah anggaran.”
Dan itu membuatnya makin parah.
Dia butuh dua menit penuh untuk berhenti.
Waktu berhenti, matanya basah, dan dia mengelapnya dengan punggung tangan.
“Maaf,” katanya. “Maaf. Maaf, Ries, aku—” Dia menarik napas. “Ini dari siapa?”
“Bang Jecky.”
“Bang Jecky pernah pacaran?”
“...Nggak pernah.”
“Aries.”
“Iya, aku tau.”
“Kamu minta saran ke orang yang nggak pernah pacaran.”
“Dia dua puluh empat tahun.” Aku mengangkat bahu. “Dia lebih tua dari aku.”
Claudia menaruh struk itu di pangkuannya, dan menghaluskan lipatannya dengan telapak tangan, dan lalu dia diam agak lama.
“Ries.”
“Hm.”
“Nomor tiga. Traktir.” Dia menunjuknya. “Kamu tau nggak, aku makan di tempat kayak gitu tiap minggu sama Vira sama Nadin?”
“...Oh.”
“Dan aku benci.”
Aku menoleh.
“Aku benci,” ulangnya. “Berisik. Dingin. Foto-foto dulu sebelum dingin. Terus pulang, terus rumahnya sepi lagi.”
Dia mengambil pulpen dari tasku.
Dan mencoret nomor tiga.
“Nomor dua.” Dia mencoret. “Aku nggak mau dianter. Aku mau kamu tidur.”
“Claudia—”
“Nomor empat.” Coret. “Aku alergi serbuk bunga.”
“Beneran?”
“Enggak.” Dia menoleh. “Tapi tetep coret.”
Nomor satu dan nomor lima dia biarkan.
“Yang ini boleh,” katanya. “Chat pagi boleh. Tapi jangan jam empat pagi.”
“Aku belum chat jam empat.”
“Kamu berencana.”
“...Iya.”
“Aku tau.” Dia menyerahkan struk itu kembali. “Ries.”
“Hm.”
“Berapa sisa uang kamu bulan ini?”
Aku diam.
“Berapa?”
“...Seratus lima belas ribu.”
“Dan kamu mau ngeluarin empat ratus delapan puluh.”
“Aku mau cari tambahan.”
“Dari mana?”
“Shift Minggu.”
Dan dia — yang tidak tahu apa pun tentang Pelukan Minggu, yang belum pernah melihatnya, yang tidak akan melihatnya sampai berbulan-bulan kemudian — bertanya:
“Minggu pagi kamu ngapain?”
“Di rumah.”
“Ngapain di rumah?”
Aku membuka mulut.
Dan menemukan bahwa aku tidak bisa menjelaskannya.
Karena bagaimana caranya menjelaskan bahwa setiap Minggu pagi adikmu yang berumur sepuluh tahun datang memelukmu dari belakang di dapur, tidak bilang apa-apa, dan kau tidak pernah tahu kenapa, dan kau tidak pernah bertanya, dan itu adalah satu-satunya jam dalam seminggu yang tidak akan pernah kau tukar dengan apa pun?
“...Ada,” kataku. “Ada urusan.”
Claudia menatapku.
Lalu dia mengangguk pelan, dan tidak bertanya lagi.
Dan itu — bukan tertawanya, bukan coretannya — itu yang membuatku merasa aneh sepanjang shift malam itu.
Karena dia berhenti bertanya di tempat yang tepat.
Persis seperti aku berhenti bertanya soal buku sampul biru.
Jam sebelas empat puluh, di rumah, aku menaruh tasku dan struk itu jatuh ke lantai.
Aku tidak menyadarinya.
Aku menyadarinya besok paginya, waktu Sekar menaruh gelas teh di depanku dan, tanpa menoleh, berkata:
“Mas.”
“Hm.”
“Bang Jecky nggak pernah pacaran.”
Aku hampir menyemburkan tehku.
“Kamu baca?”
“Jatuh di lantai.”
“Sekar—”
“Nomor dua salah. Nomor tiga salah. Nomor empat salah banget.” Dia mencuci gelas dengan punggung membelakangiku. “Nomor lima juga salah, tapi salahnya beda.”
“Kamu tau dari mana?”
“Sinetron.”
“...Sinetron.”
“Iya.” Dia menutup kran. “Aku nonton tiap malem sama Bu Ratmi pas Mas kerja. Udah tiga tahun.”
Aku menatap punggung adikku.
“Mas.”
“Hm.”
“Lain kali jangan tanya Bang Jecky.”
Dia berbalik, dan untuk pertama kalinya sejak entah kapan, ada sesuatu di wajahnya yang bukan datar.
“Tanya aku,” katanya.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa? reading
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu