← Giliranmu Istirahat

Chapter Thirty Eight

Kolom Kosong

POV: Claudia


Formulirnya dibagikan hari Kamis, jam kesembilan, oleh wali kelas.

Selembar per orang. Kertas HVS, dua sisi, dicetak agak miring karena mesin fotokopi sekolah kami memang begitu sejak kelas sepuluh.

PENDATAAN RENCANA STUDI LANJUT — KELAS XII
Dikumpulkan paling lambat Jumat depan.

Wali kelas menjelaskan di depan. Ini bukan pendaftaran, ini pendataan. Untuk arsip sekolah. Untuk statistik. Supaya sekolah tahu berapa persen yang lanjut kuliah, berapa persen yang kerja, berapa persen yang belum tahu.

“Nggak ada yang salah,” katanya. “Isi apa adanya.”

Aku mengisi punyaku dalam empat menit.

Rencana: ☑ Kuliah
Dalam/Luar Negeri: Luar
Jurusan:

Aku mengosongkan jurusan.

Aku belum pernah memikirkannya sekali pun, dan itu baru terasa aneh setelah aku menuliskannya.

Aku mengumpulkan punyaku hari itu juga.


Hari Senin, waktu piket kelas, aku menemukan formulirnya di tempat sampah.

Bukan sengaja mencari. Aku memang piket hari Senin.

Tempat sampah kelas kami ada di pojok belakang, dekat bangku dekat jendela.

Dan di dalamnya, di antara bungkus roti dan rautan pensil dan tisu, ada kertas HVS yang dilipat dua.

Aku mengambilnya karena aku sedang memindahkan sampah, dan aku membukanya karena kertasnya masih bersih, dan orang tidak membuang kertas bersih tanpa alasan.


PENDATAAN RENCANA STUDI LANJUT — KELAS XII

Nama: ARIES KURNIAWAN
Kelas: XII IPA 3

Rencana setelah lulus:
☐ Kuliah
☐ Bekerja
☐ Belum menentukan

Tiga kotak.

Semuanya kosong.

Cita-cita:

Satu strip.

Jika memilih bekerja, bidang apa:

Satu strip.

Jika memilih kuliah, perguruan tinggi tujuan:

Satu strip.

Catatan tambahan (opsional):

Satu strip.

Enam kolom. Empat strip. Nol centang.


Aku berdiri di pojok kelas dengan kantong sampah di satu tangan dan kertas itu di tangan lain.

Dan aku melihat sesuatu yang membuatku duduk di bangku terdekat.

Stripnya.

Empat strip itu ditulis dengan tinta yang berbeda ketebalan.

Yang pertama tipis. Yang kedua lebih tebal. Yang ketiga tebal sekali — ada lubang kecil di kertasnya, tempat pulpennya menembus.

Yang keempat tipis lagi.

Dia tidak mengisinya dalam empat menit seperti aku.

Dia duduk di bangku itu dan menatap enam kolom itu dan menuliskan strip satu per satu, dan di strip ketiga dia menekan terlalu keras.


Aku memasukkannya ke tasku.

Aku ingin mencatat bahwa aku tahu itu salah waktu aku melakukannya.

Itu formulir orang lain. Itu dibuang. Kalau seseorang membuang sesuatu, artinya dia tidak mau benda itu ada.

Aku memasukkannya ke tasku, ke bagian dalam yang ada resletingnya, ke tempat yang sama dengan empat lembar tulisan tangan Sekar.


Aku tidak membicarakannya selama sembilan hari.

Sembilan hari. Aku menghitung.

Aku membawanya di tasku setiap hari, dan setiap hari aku memikirkan cara membicarakannya, dan setiap cara yang kutemukan punya masalah yang sama:

Semuanya berakhir dengan aku menyuruhnya.

Ries, kamu harus kuliah.
Ries, kamu pinter, sayang banget.
Ries, ada beasiswa, aku bantu cariin.

Dan aku sudah belajar apa yang terjadi kalau aku datang membawa jawaban.

Aku sudah belajarnya di bulan Maret, di bawah pohon, di luar pagar sekolah, waktu dia menyerahkan amplop putih berisi tiga puluh lima ribu— bukan. Satu juta tiga ratus lima puluh ribu.

Aku masih ingat nomor itu. Aku akan selalu ingat nomor itu.


Hari kesepuluh, dia yang membicarakannya duluan.

Kami di undakan. Awal September. Sudah mulai sering hujan sore.

“Claudia.”

“Hm?”

“Kamu isi apa?”

“Isi apa?”

“Formulir kemarin. Yang pendataan.”

Aku menaruh minumanku.

“Kuliah,” kataku.

“Di mana?”

Dan di sinilah aku punya kesempatan.

Aku ingin menuliskan ini dengan sangat jujur karena aku sudah memutarnya ribuan kali sejak saat itu.

Aku punya kesempatan. Awal September, di undakan semen depan toko kelontong yang sudah tutup, dia bertanya kepadaku di mana, dan yang perlu kulakukan cuma menjawab.

Delapan kata. Luar negeri. Papa udah urus. Aku belum bilang.

Dan aku bilang:

“Belum tau.”


Dia mengangguk.

Dan tidak bertanya lagi.

Karena dia Aries Kurniawan, dan Aries Kurniawan berhenti bertanya di tempat yang tepat, dan itu adalah sifat yang kucintai dari dirinya dan yang malam itu kupakai sebagai tempat sembunyi.


“Kamu isi apa?” tanyaku.

“Nggak isi.”

“Nggak isi sama sekali?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan dia mengangkat bahu, dan berkata dengan nada orang menjelaskan cuaca:

“Nggak ada yang bener.”

“Maksudnya?”

“Kotaknya tiga.” Dia menghitung dengan jari. “Kuliah, kerja, belum nentuin.”

“Terus?”

“Aku nggak kuliah. Jadi bukan yang pertama.”

“Terus yang kedua?”

“Aku udah kerja.” Dia menatap jalan. “Dari tiga tahun lalu. Jadi itu bukan rencana. Itu keadaan.”

Aku menoleh.

“Terus yang ketiga? Belum nentuin?”

Dan dia diam agak lama.

“Itu paling salah,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena ‘belum nentuin’ artinya nanti bakal nentuin.”

Aku menatap sisi wajahnya.

“Dan kamu nggak bakal nentuin?”

“Nggak ada yang bisa dinentuin, Claudia.”

Dia mengatakannya dengan tenang. Sangat tenang. Tidak pahit sedikit pun, dan itu bagian terburuknya.

“Bumi lima tahun,” katanya. “Dia lulus SMA tiga belas tahun lagi. Umurku tiga puluh.”

Aku merasakan sesuatu yang dingin turun di punggungku.

“Kamu udah ngitung itu?”

“Baru bulan lalu.”

“Baru?”

“Iya.” Dia mengangguk. “Tante Ratih yang bikin aku ngitung.”


Aku mengeluarkan kertas itu dari tasku.

Aku tidak merencanakannya. Tanganku yang memutuskan.

“Ini.”

Dia melihatnya.

Dan wajahnya berubah — bukan marah, bukan malu. Sesuatu yang lebih pelan.

“Kamu ambil dari tempat sampah?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena kertasnya masih bersih.”

Dia menerimanya. Membukanya. Menatap enam kolom itu.

“Ries.”

“Hm.”

“Kolom cita-cita.”

“Iya.”

“Kenapa strip?”

Dan dia menatap kertas itu di tangannya, dan dia butuh waktu lama sekali untuk menjawab, dan waktu dia menjawab suaranya berbeda:

“Karena aku nggak punya.”

“Semua orang punya.”

“Aku enggak.”

“Ries—”

“Aku pernah punya.” Dia melipat kertas itu di garis yang sama. “Waktu SD. Aku mau jadi masinis.”

Aku menoleh cepat.

“Masinis?”

“Iya.” Dia mengangkat bahu. “Aku suka kereta. Bapak pernah ngajak naik kereta sekali, ke Kediri, waktu aku umur delapan.”

“Terus?”

“Terus umur empat belas kolomnya jadi nggak relevan.”


Aku ingin mencatat apa yang tidak kulakukan selanjutnya, karena itu yang paling penting.

Aku tidak bilang: Ries, kamu masih bisa.

Aku tidak bilang: Ada beasiswa buat anak yatim, aku cariin.

Aku tidak bilang: Nanti aku bantu.

Aku tidak mengeluarkan HP-ku dan mencari kuota masuk sekolah masinis, walaupun jariku benar-benar bergerak ke arah tas dan aku harus menahannya.

Karena aku sudah belajar.

Bulan Maret aku datang membawa jawaban, dan aku menghapus tiga bulan kerja seorang laki-laki dalam sepuluh menit di depan meja Tata Usaha, dan dia bilang terima kasih dua kali dan berhenti memanggilku dengan kata “aku” selama tiga minggu.

Jadi aku tidak melakukan apa pun.

Aku cuma bertanya satu hal.


“Ries.”

“Hm.”

“Kalau Bumi udah lulus SMA.”

“Iya.”

“Kamu tiga puluh.”

“Iya.”

“Terus kamu ngapain?”

Dan Aries Kurniawan berhenti bergerak.

Aku memperhatikannya. Aku sengaja memperhatikan, seperti waktu aku bertanya kamu mau apa di lantai ruang depan bulan Februari.

Dan reaksinya sama persis.

Bukan berpikir. Bingung.

Alisnya bergerak sedikit. Matanya bergeser ke lantai. Dan aku bisa melihat otaknya membuka laci yang selama ini dia kira berisi sesuatu.

“...Nggak tau,” katanya.

“Nggak tau?”

“Nggak.”

“Ries.”

“Aku belum pernah mikirin sampai situ.”

“Coba mikirin sekarang.”

“Claudia—”

“Aku tungguin.”

Dan dia duduk di undakan itu.

Dan dia benar-benar mencoba. Aku bisa melihat dia mencoba. Dia menatap trotoar dan tangannya bergerak sedikit di pangkuannya seperti orang menghitung.

Satu menit.

Dua menit.

Lalu dia bilang:

“Tidur.”

Dan aku hampir tertawa, dan lalu aku hampir menangis, karena itu adalah jawaban yang persis sama dengan bulan Februari.

Tujuh bulan.

Tujuh bulan, dan satu-satunya hal yang bisa diinginkan Aries Kurniawan untuk dirinya sendiri masih tidur.


“Ries.”

“Hm.”

“Aku nggak akan maksa kamu kuliah.”

Dia menoleh.

“Aku nggak akan cariin beasiswa. Aku nggak akan daftarin kamu diem-diem.” Aku menatap jalan. “Aku janji.”

“...Oke.”

“Tapi aku minta satu hal.”

“Apa?”

“Simpen kertasnya.”

Dia menatap kertas yang sudah dilipat di tangannya.

“Buat apa?”

“Nggak buat apa-apa.” Aku mengambil minumanku. “Cuma jangan dibuang lagi.”

“Claudia, ini cuma pendataan sekolah. Nggak ada gunanya.”

“Aku tau.”

“Terus kenapa disimpen?”

Dan aku bilang hal yang paling jujur yang bisa kupikirkan:

“Karena kalau suatu hari kamu mau ngisinya,” kataku, “aku nggak mau kamu harus minta yang baru.”


Dia menyimpannya.

Dia memasukkannya ke saku dalam tasnya — tempat yang sudah kutahu ada isinya, tempat yang sudah kutahu ada karet gelangnya, tempat yang belum pernah kulihat isinya sampai bulan November.

Dan dia bilang, “Oke.”

Dan itu saja.


Malam itu aku pulang jam dua belas kurang.

Rumahku gelap kecuali satu lampu di dapur.

Aku naik ke kamar. Aku membuka laci meja belajarku.

Di dalamnya ada map plastik yang diberikan Papa bulan Juli waktu dia pulang tiga hari.

Aku membukanya.

Berkas pendaftaran. Bahasa Inggris. Kop universitas. Tanggal-tanggal. Deadline bulan Januari. Formulir yang sudah diisi setengah — oleh Papa, bukan olehku, dengan tulisan tangan yang rapi dan efisien.

Dan di halaman ketiga, ada kolom yang kosong.

Intended field of study:

Kosong.

Papa mengosongkannya karena dia bilang, “Nanti Bella yang isi, itu haknya Bella.”

Dan aku belum mengisinya sejak Juli.


Aku duduk di lantai kamarku.

Dan aku menaruh dua kertas di lantai, berdampingan.

Yang kiri: berkas universitas luar negeri, kop resmi, kertas tebal, satu kolom kosong.

Yang kanan: fotokopi miring dari mesin sekolah, diambil dari tempat sampah — bukan, dia menyimpannya, aku tidak punya yang kanan.

Aku memikirkannya sebentar.

Lalu aku mengambil kertas kosong dari buku tulisku, dan aku menuliskan ulang enam kolom itu dari ingatan, dan aku menaruhnya di sebelah kanan.

Dua kertas.

Kiri: satu kolom kosong dari enam belas.

Kanan: enam kolom kosong dari enam.

Aku duduk di lantai kamarku jam dua belas lewat dan menatap dua kertas itu selama entah berapa lama.

Dan aku memikirkan sesuatu yang membuatku merasa sangat kecil.

Selama tujuh bulan, aku pikir aku sedang belajar cara mencintai orang yang tidak bisa menerima pertolongan.

Aku salah.

Yang sebenarnya terjadi adalah: dia dan aku punya masalah yang sama, dari dua arah yang berlawanan.

Dia tidak bisa mengisi kolomnya karena tidak ada yang tersisa untuk dirinya sendiri.

Aku tidak bisa mengisi kolomku karena tidak pernah ada yang bertanya.

Dan kami berdua sama-sama menulis strip, dan menyebutnya keadaan, dan menganggapnya wajar.


Aku mengambil pulpen.

Dan di kertas yang kanan — di kertas tiruan, di kolom cita-cita yang di aslinya diisi strip yang tebal sekali sampai kertasnya bolong —

aku tidak menulis apa-apa.

Aku menutup pulpennya.

Bukan tugasku.

Tapi di kertas yang kiri, di kolom intended field of study, aku menulis satu kata untuk pertama kalinya sejak bulan Juli.

Dan aku menuliskannya dengan pensil, bukan pulpen, karena aku belum berani.

Dan aku tidak akan menuliskan di sini apa kata itu.

Bukan karena aku malu.

Karena orang pertama yang berhak mendengarnya sedang berdiri di kasir minimarket jam dua belas malam, menghitung laci bersama supervisornya, dengan selembar fotokopi miring berisi enam kolom kosong terlipat rapi di dalam tasnya.