Chapter Four
Bukan Bella
POV: Aries
Ada dua hal yang mengganggu pikiranku pagi itu, dan keduanya berhubungan dengan angka.
Yang pertama: satu piring nasi, tempe orek, sayur bening di warung Bu Ratmi. Harga normal delapan ribu. Tapi Bu Ratmi tidak menerima uang untuk piring itu, yang artinya piring itu masuk ke daftar panjang hal-hal yang tidak bisa kubayar, dan daftar itu sudah terlalu panjang.
Yang kedua: ongkos ojek dari Gang Kenanga ke rumah anak itu. Dua puluh tiga ribu. Aku yang memesan, tapi aku tidak punya uang tunai jam sebelas empat puluh malam, jadi yang membayar di aplikasi adalah dia sendiri.
Dua puluh tiga ribu.
Kuhitung tiga kali di jalan menuju sekolah, seolah kalau dihitung ulang angkanya bisa berubah.
Aku menunggu di depan kelas.
Bukan masuk. Menunggu. Karena kalau masuk, aku akan duduk, dan kalau duduk aku akan tidur, dan kalau tidur urusan ini akan menggantung sampai besok, dan aku tidak suka hal-hal yang menggantung.
Dia datang jam tujuh kurang seperempat, jalan bersama dua perempuan lain yang tertawa cukup keras.
Aku maju satu langkah.
“Claudia.”
Tiga perempuan itu berhenti serentak.
Dua yang di samping menoleh ke temannya dengan ekspresi yang tidak kumengerti sama sekali — semacam kaget, tapi kaget yang dicampur sesuatu. Salah satunya menutup mulut.
Yang di tengah cuma berkedip.
“...Iya?”
Kukeluarkan amplop kecil dari saku dalam tasku. Amplop putih, bekas amplop lain, sudah agak lecek.
“Ini.”
“Apa?”
“Dua puluh tiga ribu. Ongkos kemarin.” Kuserahkan. “Sama delapan ribu buat makannya. Jadi tiga puluh satu. Tapi di dalam ada tiga puluh lima, soalnya aku nggak punya kembalian empat ribu, jadi—”
“Ries.”
“—jadi nanti sisanya aku potong dari—”
“Aries.”
Aku berhenti.
Dia menatap amplop itu. Lalu menatapku. Lalu menatap amplop itu lagi.
“Kamu ngitungin?”
“Iya.”
“Semalem?”
“Iya.”
“Jam berapa?”
Kupikirkan sebentar. “Setengah satu.”
Sesuatu terjadi di wajahnya yang tidak bisa kubaca. Bukan marah. Bukan senang.
Salah satu temannya berbisik, tidak cukup pelan: “Bell, dia manggil kamu apa tadi?”
Dia tidak menjawab bisikan itu.
Dia mengambil amplopnya.
“Oke,” katanya. “Makasih.”
“Sama-sama. Maaf ngerepotin.”
“Nggak repot.”
“Repot.” Kusandang tasku lagi. “Kamu nunggu empat jam.”
Lalu aku masuk kelas, duduk di bangku belakang dekat jendela, dan tidur.
Yang tidak kulihat waktu itu — dan baru kutahu jauh belakangan, dari mulutnya sendiri — dia berdiri di koridor beberapa detik lebih lama dari yang wajar, memegang amplop bekas berisi tiga puluh lima ribu, dan tidak bergerak.
Dan waktu temannya bertanya lagi, “Serius, dia manggil kamu Claudia?” dia cuma menjawab, “Iya.”
“Kamu nggak bilangin?”
“...Nggak.”
“Kenapa?”
Dia memasukkan amplop itu ke saku roknya — bukan ke tas, ke saku — dan bilang, “Nggak apa-apa.”
Jam istirahat pertama, aku tidak ke mana-mana.
Rumah makan Bu Lastri libur hari Selasa. Itu berarti satu jam kosong di tengah hari, dan satu jam kosong adalah barang mewah yang aku tidak pernah tahu harus kuapakan.
Aku tetap di kelas. Menaruh kepala. Belum tidur, cuma memejamkan mata.
Kursi di sebelahku ditarik.
“Ini kosong, kan?”
Kubuka satu mata. “Kosong.”
Dia duduk. Menaruh dua kotak susu di meja.
“Yang cokelat atau yang putih?”
“...Hah?”
“Milih.”
“Aku nggak—”
“Aries.” Dia mendorong yang cokelat ke arahku. “Ini dari kembalian empat ribu kamu. Jadi ini uang kamu sendiri. Kamu nggak lagi dikasih apa-apa.”
Aku menatap kotak susu itu.
Logikanya benar. Kucek ulang di kepalaku dua kali, mencari celahnya, dan tidak menemukan.
Kuambil.
Dia tersenyum ke arah mejanya sendiri, cukup lama, dan aku tidak mengerti kenapa.
“Boleh nanya?” katanya.
“Boleh.”
“Kenapa kamu manggil aku Claudia?”
Aku berhenti dengan sedotan setengah masuk.
“...Itu nama kamu.”
“Iya.”
“Di absen ditulisnya Claudia Sintya Bella.”
“Iya.”
“Jadi Claudia.” Kutusuk kotakku. “Salah?”
“Nggak salah.”
“Terus kenapa?”
Dia menopang dagu. “Semua orang manggil aku Bella. Dari SD.”
Aku memproses ini.
Delapan bulan sekelas. Aku benar-benar tidak tahu. Tapi kalau dipikir-pikir, aku juga tidak tahu nama panggilan tiga puluh empat orang lain di ruangan ini, karena tidak pernah ada alasan untuk tahu.
“Oh,” kataku. “Maaf. Nanti aku ganti.”
“Jangan.”
“Kenapa?”
Dia membuka kotak susunya sendiri. “Nggak apa-apa. Enak aja.”
“Enak gimana?”
“Ya enak.”
“Itu bukan jawaban.”
“Iya.”
Aku menunggu jawaban yang benar. Tidak datang. Dia cuma minum susunya sambil melihat ke luar jendela dengan wajah orang yang sedang menang.
Aku menyerah dan meminum susuku juga.
Aku, baru kusadari belakangan. Tadi aku bilang aku, bukan saya.
Aku tidak tahu kapan itu terjadi.
“Ries.”
Ridho menghadangku di tangga waktu pulang.
“Iya?”
“Lo... kenal Bella dari mana?”
“Sekelas.”
“Bukan itu maksud gue.”
“Terus apa?”
Dia menggaruk belakang lehernya. “Ya... dia nyamperin lo. Duduk sejam. Beliin susu.”
“Itu uang aku.”
“Hah?”
“Kembalian.” Aku turun satu anak tangga. “Kenapa emangnya?”
Ridho menatapku dengan ekspresi yang pernah kulihat sebelumnya — ekspresi orang yang menyadari bahwa lawan bicaranya berasal dari planet lain dan sedang memutuskan apakah menjelaskan atau menyerah.
“Nggak apa-apa,” katanya akhirnya. “Lupain.”
“Oke.”
Aku melanjutkan turun.
Di belakangku, dia memanggil sekali lagi. “Ries!”
“Apa.”
“Kemaren gue nggak enak.”
Aku berhenti.
“Soal kerja kelompok,” lanjutnya. “Gue nggak bilang apa-apa waktu Gita ngomong. Gue diem aja.”
“Nggak apa-apa.”
“Ya tapi—”
“Gita bener.” Kusandang tasku. “Namaku nempel di tugas yang nggak aku kerjain. Itu emang nggak adil.”
“Lo bisa jelasin ke dia kali.”
“Jelasin apa?”
Ridho membuka mulut, lalu menutupnya.
Karena dia tidak tahu.
Karena tidak ada satu orang pun di sekolah itu yang tahu, dan itu sepenuhnya karena aku menginginkannya begitu.
Sore itu ada tujuh orderan.
Yang keenam alamatnya salah tulis, dan aku menghabiskan dua puluh menit berputar-putar di kompleks yang semua rumahnya berwarna sama.
Waktu akhirnya ketemu, penerimanya seorang ibu-ibu yang langsung bilang, “Kok lama banget sih, Mas.”
“Maaf, Bu.”
“Saya udah nunggu dari tadi.”
“Maaf, Bu.”
“Kalau nggak tau alamat ya nanya.”
“Iya, Bu. Maaf.”
Ibu itu menutup pagar.
Aku berdiri di depan pagar itu selama tiga detik. Punggungku berdenyut di titik yang sama seperti kemarin.
Lalu aku naik motor pinjaman Bang Jecky dan pergi ke orderan ketujuh, dan pada meter kelima puluh aku sudah tidak memikirkannya lagi.
Itu keahlian kedua yang butuh dua tahun untuk kukuasai.
Jam tujuh, di rumah, Lintang menyerbuku di pintu.
“MAS! Mas Mas Mas!”
“Apa.”
“Kak Claudia tadi telepon Bu Ratmi!”
Aku berhenti melepas sepatu.
“...Hah?”
“Iya! Telepon warung! Nanyain aku!”
“Nanyain kamu apa?”
“Nanyain PR aku susah nggak.” Dia melompat sekali. “Terus aku bilang susah. Terus dia bilang besok dia ajarin.”
“Besok?”
“Besok!”
Aku menatap adikku.
Lalu menatap Sekar, yang berdiri di dapur, tidak berbalik, tapi jelas mendengarkan.
“Sekar.”
“Hm.”
“Kamu ngasih nomor warung ke dia?”
“Nggak.”
“Terus?”
“Bu Ratmi.” Dia menuang air ke gelas. “Kemarin malem, sebelum dia pulang.”
Aku duduk di ambang pintu, kaus kaki masih sebelah.
“Kenapa?”
“Nggak tau.” Dia menaruh gelas itu di meja, di depan tempatku biasa duduk. “Tanya Bu Ratmi.”
Bumi datang merangkak, membawa sandalku dari luar, dan menaruhnya di dalam — menghadap pintu.
“Bumi, itu harusnya di luar.”
“Di sini aja.”
“Kenapa?”
“Biar deket.”
Kuusap kepala anak itu.
Di belakangku, Lintang masih melompat-lompat sambil bicara tentang PR, tentang Kak Claudia, tentang apakah Kak Claudia bisa main ke rumah, tentang apakah boleh.
“Nggak usah,” kataku.
Dia berhenti melompat. “Kenapa?”
“Repotin orang.”
“Dia yang nawarin.”
“Tetep repotin.”
“Tapi—”
“Lintang.” Aku berdiri, menepuk kepalanya sekali. “PR-nya aku aja yang ajarin.”
“Mas kan pulang malem.”
“Nanti aku ajarin.”
“Jam berapa?”
Aku membuka mulut.
Dan berhenti.
Karena jawabannya adalah jam sebelas empat puluh, dan anak kelas empat SD tidur jam sembilan, dan aku sudah tahu itu sebelum kalimatku selesai.
Lintang menunggu.
Wajahnya tidak menuntut. Itu bagian yang paling tidak enak — dia tidak menuntut sama sekali. Dia cuma menunggu, dengan wajah yang sudah siap menerima jawaban apa pun dan tetap bilang tidak apa-apa.
“...Hari Minggu,” kataku akhirnya.
“Yeee!” Dia mengangkat kedua tangan. “Minggu!”
Dan berlari ke dalam.
Aku berdiri di ambang pintu, memakai kaus kaki sebelahku lagi.
Waktu aku mendongak, Sekar sedang menatapku dari dapur, tangannya berhenti di tengah-tengah mengelap gelas.
“Apa,” kataku.
Dia melanjutkan mengelap.
“Nggak apa-apa.”
Jam sebelas empat puluh, aku pulang.
Air putih di meja, ditutup piring kecil.
Sandal di depan pintu, menghadap keluar.
Dan di atas meja, di sebelah gelas, ada satu buku tulis matematika kelas empat yang dibuka di halaman soal, dengan tulisan pensil besar-besar di pinggirnya:
MAS BOLEH KERJAIN DULUAN KALO MAU. NANTI MINGGU AKU DENGERIN.
Aku duduk.
Membaca ulang.
Lalu mengambil pensil, dan mengerjakan tiga soal, dan tertidur di soal keempat dengan kepala di atas buku tulis adikku.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella reading
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu