Chapter Forty Six
Kata yang Terakhir Kudengar
POV: Aries
Aku sudah mencoba dua puluh tiga kali.
Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya.
Dari malam di lantai ruang depan bulan September, waktu aku berjanji pada diriku sendiri dalam gelap, sampai bulan November — dua puluh tiga kali aku membuka mulut untuk mengucapkan tiga kata itu dan gagal.
Aku akan menuliskan beberapa, supaya kalian tahu bentuk kegagalannya.
Percobaan keempat. Lintang di pintu, mau berangkat sekolah. Dia bilang, “Sayang Mas!” Aku membuka mulut. Yang keluar: “Hati-hati.”
Percobaan kesembilan. Bumi digendong, setengah tidur, jam sembilan malam. Dia bilang, “Bumi sayang Mas.” Aku membuka mulut. Yang keluar: napas.
Percobaan kedua belas. Sekar menaruh teh di meja. Aku sudah menyiapkannya sejak di angkot. Aku sudah mengulanginya di kepala sebelas kali sepanjang jalan pulang. Aku bilang: “Sekar.” Dia bilang: “Hm?” Dan yang keluar dari mulutku adalah: “Besok kamu ada iuran nggak?”
Percobaan kesembilan belas. Aku menulisnya di kertas. Aku benar-benar menulisnya, dengan pulpen, di struk bekas, di kursi kasir minimarket jam sepuluh malam. Tiga kata. Rencananya: aku taruh di meja, mereka baca sendiri, selesai.
Aku merobek kertas itu di angkot pulang.
Bukan karena malu.
Karena kalau ditulis, itu bukan diucapkan. Dan yang mereka butuhkan bukan tulisan.
Aku perlu menjelaskan kenapa.
Aku belum pernah menjelaskannya kepada siapa pun sampai malam itu, dan aku bahkan belum pernah menjelaskannya kepada diriku sendiri dengan kalimat lengkap.
Begini.
Tanggal empat Maret, tiga tahun lalu.
Jam setengah tujuh pagi.
Aku di dapur, membuat kopi. Air panas baru saja kutuang dan tanganku basah dan uapnya naik ke wajahku.
Sekar di ruang depan, menyapu. Aku ingat bunyi sapunya.
Lintang masih tidur. Bumi masih tidur.
Ibu berdiri di ambang pintu dapur, sudah rapi, sudah pakai kerudung.
Dan dia bilang:
“Sayang, jangan lupa Bumi dikasih makan jam sembilan.”
Dan aku bilang, “Iya.”
Dan aku tidak menoleh.
Karena tanganku basah, dan karena kopinya baru dituang, dan karena tidak ada satu pun alasan di dunia untuk menoleh ketika ibumu mengucapkan kalimat yang dia ucapkan setiap pagi selama empat belas tahun.
Dan dia pergi.
Dan jam empat sore ada telepon.
Ini yang terjadi pada kata itu setelahnya, dan aku tahu ini tidak masuk akal, dan aku tahu tidak ada logikanya, dan aku tetap tidak bisa melepaskannya:
Kata itu jadi kata terakhir.
Bukan kata terakhir yang dia ucapkan — kalimatnya masih ada lanjutan, soal Bumi, soal jam sembilan.
Tapi “sayang” adalah kata pertama di kalimat terakhir yang pernah kudengar dari mulut ibuku.
Dan otak anak empat belas tahun tidak bekerja dengan logika.
Otak anak empat belas tahun mencari pola, dan waktu dia menemukan pola, dia mengunci pintunya dan menelan kuncinya.
Dan polanya begini: kata itu diucapkan, lalu orangnya hilang.
Aku tahu itu bodoh.
Aku tahu itu sejak umur lima belas. Aku tahu itu sekarang, waktu menulis ini.
Tapi setiap kali aku membuka mulut untuk mengucapkannya kepada salah satu dari tiga anak yang tidur di kamar sebelah, ada sesuatu di tenggorokanku yang menutup, dan yang menutupnya bukan aku.
Tanggal delapan belas November aku berumur delapan belas tahun.
Aku tidak memberitahu siapa pun.
Bukan karena aku merahasiakannya. Karena tidak pernah relevan.
Ulang tahun di rumah kami ada tiga: Sekar bulan April, Lintang bulan November, Bumi bulan Juni.
Tiga. Selalu tiga.
Aku mengurus tiga ulang tahun setiap tahun selama tiga tahun. Aku tahu Lintang mau kue yang ada cokelatnya di atas, aku tahu Bumi tidak suka lilin karena takut apinya, aku tahu Sekar tidak mau dirayakan tapi tetap mau ada tehnya lebih manis hari itu.
Ulang tahunku ada di kartu keluarga.
Itu saja fungsinya.
Tanggal delapan belas November, hari Senin.
Aku bangun jam empat dua puluh lima. Bongkar muat. Sekolah. Cuci piring. Kurir. Minimarket.
Jam sebelas empat puluh aku pulang.
Dan lampu ruang depan menyala penuh.
Empat-empatnya.
Aku berhenti di ambang pintu.
Karena lampu ruang depan tidak pernah menyala empat-empatnya jam sebelas empat puluh malam.
Mereka bertiga duduk di lantai.
Bumi sudah setengah tidur, disandarkan ke bahu Sekar, matanya buka-tutup.
Lintang duduk bersila dengan wajah yang jelas sekali sudah menahan diri selama berjam-jam.
Dan Sekar duduk paling ujung dengan punggung lurus.
Dan di lantai, di antara mereka, ada piring.
Di atas piring ada roti.
Roti tawar. Ditumpuk tiga. Dilapis selai cokelat. Dipotong bentuk persegi.
Dan di atasnya ada satu lilin kecil yang jelas diambil dari lilin darurat waktu listrik mati, dipotong pendek, dan ditancapkan miring.
Dan lilinnya tidak dinyalakan.
“SELAMAT ULANG TAHUN MAS!”
Lintang berteriak dan Bumi kaget dan hampir menangis dan Sekar bilang “Lintang, pelan,” dan Lintang bilang “Maaf” dan mengulanginya lagi dengan suara berbisik yang jauh lebih keras dari perlu.
Aku berdiri di ambang pintu.
Dengan tas di bahu. Dengan seragam yang sudah dipakai sembilan belas jam.
“Kalian belum tidur?”
“Nggak dong!”
“Ini jam sebelas empat puluh.”
“Kita nunggu dari jam sembilan,” kata Lintang. “Bumi tidur dua kali terus bangun lagi.”
Dan aku tidak bisa bergerak dari ambang pintu itu.
“Mas.”
“...Hm.”
“Duduk.”
Dan aku duduk.
“Kenapa lilinnya nggak dinyalain?”
“Bumi takut api,” kata Sekar.
“Oh.”
“Jadi kita nyanyi aja.”
“Nggak usah nyanyi—”
Dan mereka menyanyi.
Bertiga. Jam sebelas empat puluh lima malam. Dengan volume yang jelas sudah dilatih supaya tidak mengganggu tetangga, yang mana artinya suaranya pelan sekali dan jadi terdengar sangat aneh dan sangat sedih dan sangat lucu sekaligus.
Bumi salah lirik di dua tempat.
Lintang menyanyikan bagian “panjang umurnya” tiga kali karena dia bilang itu bagian terpenting.
Dan Sekar menyanyi.
Sekar Kurniawan, empat belas tahun, yang tidak pernah menaikkan suaranya satu desibel dalam tiga tahun, menyanyi selamat ulang tahun untuk kakaknya di lantai ruang depan jam sebelas empat puluh lima malam.
“Mas potong rotinya.”
“Ini roti tawar, Ntang.”
“Ya potong aja.”
“Ini udah dipotong.”
“POTONG LAGI, MAS.”
Aku memotongnya lagi.
Dan aku membaginya empat, dan Lintang protes karena bagianku harus paling besar, dan aku bilang tidak, dan Sekar bilang “Mas, sekali ini aja”, dan aku diam dan mengambil yang besar.
Dan kami makan roti tawar dengan selai cokelat di lantai ruang depan jam dua belas kurang lima belas.
Dan Bumi tertidur di tengah suapan kedua dengan mulut masih ada cokelatnya.
“Mas.”
“Hm.”
“Ada hadiah.”
“Lintang, nggak usah—”
“Udah dibeli.”
Dan dia mengeluarkan sesuatu dari belakang punggungnya.
Dibungkus kertas kado. Bukan kertas kado sungguhan — kertas kalender bekas yang dibalik, ditempel selotip, dengan gambar bunga digambar tangan pakai spidol.
Aku membukanya.
Di dalamnya ada kaus kaki.
Tiga pasang. Kaus kaki kerja. Yang tebal. Yang untuk sepatu boots.
Dan aku memegangnya di tanganku dan aku tidak bisa bicara.
“Mas kaus kakinya udah bolong dua-duanya,” kata Lintang. “Aku lihat waktu jemuran.”
“Ini dari mana?”
“Beli.”
“Dari uang apa?”
Dan Lintang bilang, dengan bangga sekali:
“Uang jajan. Bertiga. Dikumpulin dua bulan.”
Dua bulan.
Uang jajan Lintang dua ribu sehari. Bumi tidak punya uang jajan. Sekar tidak pernah mengambil uang jajan sama sekali sejak umur dua belas dan aku baru tahu itu tahun lalu dan aku tidak pernah bisa memaksanya.
Dua bulan.
Aku memegang tiga pasang kaus kaki kerja di lantai ruang depan rumahku sendiri dan aku menghitungnya — karena aku selalu menghitung, karena aku tidak tahu cara berhenti menghitung —
dan aku mendapat angka yang membuatku harus menaruh kaus kaki itu di lantai.
“Mas.”
“Hm.”
“Mas nggak suka?”
“Suka.”
“Bohong. Muka Mas jelek.”
“Aku suka, Lintang.”
“Beneran?”
“Beneran.”
Dan aku mengusap kepalanya, seperti biasa, seperti seribu dua ratus kali sebelumnya.
Dan itu momennya.
Itu momen yang benar. Semua orang akan setuju itu momen yang benar. Ada roti, ada lilin yang tidak dinyalakan, ada kaus kaki dari uang jajan dua bulan.
Aku membuka mulutku.
Dan tenggorokanku menutup.
Dan yang keluar adalah:
“Makasih.”
Percobaan kedua puluh empat.
Gagal.
Kami membereskan piringnya jam dua belas lewat.
Bumi digendong ke kasur. Lintang menguap sampai matanya berair dan tetap bilang dia tidak mengantuk dan tertidur empat menit kemudian.
Dan aku duduk di meja — meja belajar bekas yang kaki depannya diganjal ubin — sementara Sekar mencuci piring.
Dan Sekar mulai bicara.
Tentang hal yang paling tidak penting di dunia.
“Mas, air bulan ini naik.”
“Naik berapa?”
“Delapan belas ribu.”
“Kenapa naik?”
“Nggak tau. Aku udah cek nggak ada yang bocor.” Dia menggosok piring. “Mungkin gara-gara Bumi mandi dua kali sehari sekarang.”
“Kenapa dua kali?”
“Katanya gerah.”
“Ini November.”
“Iya, aku juga bilang gitu.”
Dan dia terus bicara. Tentang air. Tentang tagihan. Tentang apakah kita perlu ganti kran belakang.
Dan aku duduk di meja itu dan mendengarkan adikku membicarakan tagihan air.
Empat belas tahun.
Membicarakan tagihan air jam dua belas lewat sepuluh malam.
Dan sesuatu di dalam diriku — bukan tenggorokan, sesuatu yang lebih dalam dari tenggorokan — patah.
“Sekar.”
“Hm? Iya, jadi menurut aku krannya nggak usah diganti dulu, soalnya yang bocor bukan—”
“Aku sayang kamu.”
Gelas itu jatuh.
Bukan pecah — jatuh ke dalam bak cuci yang masih ada airnya, bunyinya berat dan tumpul, dan airnya muncrat ke dinding.
Dan Sekar tidak bergerak.
Punggungnya membelakangiku. Tangannya masih di posisi memegang gelas yang sudah tidak ada.
Dan aku duduk di meja itu dan lanjut bicara, karena kalau aku berhenti sekarang aku tidak akan bisa mulai lagi.
“Aku sayang kamu,” ulangku.
Dan lalu, lebih keras, ke arah kamar:
“Lintang.”
Tidak ada jawaban.
“Lintang, aku tau kamu belum tidur.”
Dan aku mendengar bunyi kasur.
Dan adikku muncul di ambang pintu kamar dengan rambut berantakan dan mata setengah tertutup dan wajah bingung.
“Kenapa, Mas?”
Dan aku bilang:
“Aku sayang kamu.”
Lintang berdiri di ambang pintu itu selama sekitar dua detik.
Dua detik.
Lalu wajahnya berubah, dan berubahnya cepat sekali, dan dia mengeluarkan suara yang tidak pernah kudengar dari mulut adikku seumur hidupnya.
Bukan tangis biasa.
Suara yang keluar dari orang yang menunggu sesuatu terlalu lama sehingga waktu benda itu datang, badannya tidak siap.
Dia menangis sampai cegukan.
Sungguhan cegukan — yang bunyinya keras, yang membuatnya tidak bisa bicara, yang membuat dia harus berhenti setiap tiga detik.
Dan dia jalan ke arahku dan menabrak lututku dan memegang kausku dengan dua tangan dan menangis sambil cegukan dan berusaha mengatakan sesuatu dan tidak bisa.
“Ntang—”
“Ma— (hik) —Mas—”
“Iya.”
“Mas b— (hik) —bilang—”
“Iya.”
“Mas nggak per— (hik) —nah—”
“Iya. Aku tau.”
Dan dia menangis lebih keras.
Dan Bumi bangun.
Tentu saja Bumi bangun. Bumi selalu bangun kalau ada yang berisik.
Dia keluar dari kamar sambil menyeret selimutnya yang biru, matanya setengah tertutup, dan dia melihat Lintang menangis dan Sekar berdiri membelakangi bak cuci dan aku duduk di meja.
Dan dia tidak mengerti apa-apa.
Dan dia mulai menangis juga.
“Bumi, kenapa nangis?”
“Nggak tau.”
“Bumi kenapa?”
“NGGAK TAU.”
Dan dia menabrak sisi lain lututku dan menangis dengan sangat keras dan sangat tidak jelas dan sepenuhnya tanpa alasan.
Dan aku duduk di kursi itu dengan dua anak menangis di dua sisi kakiku, jam dua belas lewat lima belas malam, di hari ulang tahunku yang kedelapan belas.
Dan aku berkata ke arah anak lima tahun yang tidak mengerti apa pun:
“Bumi.”
“Hm— (hik)”
“Aku sayang kamu.”
Dan Bumi bilang, sambil menangis:
“Iya.”
Dan lalu, setelah dua detik:
“Bumi juga.”
Seperti biasa. Seperti yang sudah dia lakukan setiap malam sejak dia bisa bicara.
Karena buat Bumi, tidak ada yang aneh malam itu.
Buat Bumi, kata itu memang selalu ada di rumah ini.
Dia cuma tidak pernah tahu bahwa selama tiga tahun, cuma satu arah.
Sekar tidak berbalik selama mungkin dua menit.
Dua menit penuh, dengan punggung ke arah kami, dengan kran yang sudah dia matikan entah kapan, dengan tangan bertumpu di tepi bak cuci.
Lalu dia mengambil gelas yang jatuh itu.
Dan dia mencucinya.
Dia benar-benar mencucinya. Gelas yang sudah bersih. Dia menggosoknya selama mungkin empat puluh detik, sangat teliti, seperti ada noda yang tidak ada.
Lalu dia menaruhnya di rak.
Lalu dia mematikan lampu dapur.
Dan dalam gelap, dari arah bak cuci, adikku berkata:
“Mas.”
“Iya.”
“Kenapa sekarang?”
Dan aku menjawab jujur.
“Karena kamu ngomongin tagihan air.”
Diam.
“Hah?”
“Kamu empat belas tahun,” kataku. “Dan kamu ngomongin tagihan air jam dua belas malam.”
Dan aku mendengar dia menarik napas.
“Dan aku sadar,” kataku, “kalau aku nunggu momen yang bener, aku nggak akan pernah ngomong.”
Dan lalu, dalam gelap, adikku bertanya hal yang sudah dia simpan selama tiga tahun:
“Mas.”
“Iya.”
“Kenapa selama ini nggak pernah?”
Dan aku menceritakannya.
Tanggal empat Maret. Jam setengah tujuh. Kopi. Tangan yang basah. Ibu di ambang pintu dapur.
Kalimat itu.
Dan aku tidak menoleh.
Dan aku bilang, “Sejak itu kata itu artinya berubah di kepala aku.”
“Berubah gimana?”
Dan aku bilang, “Kalau diucapin, orangnya hilang.”
Sekar diam sangat lama.
Lalu dia bilang, “Aku udah nebak.”
Aku mengangkat kepalaku dalam gelap.
“Kamu tau?”
“Nebak. Bukan tau.”
“Dari kapan?”
“Lama.”
“Kenapa nggak pernah nanya?”
Dan adikku berkata:
“Karena kalau ternyata bener, aku nggak tau harus ngapain sama jawabannya.”
Dan aku duduk di kursi itu di dapur yang gelap dan aku berpikir: kami ini sama.
Kami berdua menyimpan hal yang sama persis, di rumah yang sama, di jarak dua meter, selama tiga tahun.
Dan tidak ada satu pun dari kami yang bertanya.
“Mas.”
“Hm.”
“Ibu nggak hilang gara-gara ngomong itu.”
“Aku tau, Sekar.”
“Aku tau Mas tau.” Suaranya bergetar untuk pertama kalinya sepanjang percakapan. “Tapi aku mau tetep bilang.”
Dan aku menutup mataku dalam gelap.
“Ibu ngomong itu tiap pagi,” katanya. “Empat belas tahun ke Mas. Sebelas tahun ke aku. Tujuh ke Lintang.”
Aku mendengar dia bergerak.
“Ribuan kali, Mas.”
Dan dia berhenti di depan meja.
“Yang terakhir cuma satu.”
Aku menangis di dapur yang gelap itu.
Dan aku ingin mencatat sesuatu yang aneh: tidak ada yang mematikan lampu, karena lampunya sudah mati.
Tidak ada yang membaca keras-keras, karena Lintang sudah tidak bisa bicara.
Tidak ada yang naik ke pangkuanku, karena Bumi sudah tertidur lagi di lantai sambil memegang celanaku dengan satu tangan.
Protokolnya tidak dipakai.
Karena protokol itu dibuat untuk menahan orang yang mau berdiri dan pergi bekerja.
Dan malam itu aku tidak ke mana-mana.
Aku tidur jam satu pagi.
Empat orang di lantai ruang depan lagi, karena tidak ada yang mau pindah ke kamar.
Dan sebelum tidur, dalam gelap, aku mendengar Lintang — yang cegukannya sudah berhenti tapi napasnya masih putus-putus — berbisik ke arah Sekar:
“Mbak.”
“Hm.”
“Aku hitung.”
“Hitung apa?”
Dan adikku bilang:
“Tiga kali. Mas bilang tiga kali. Ke Mbak, ke aku, ke Bumi.”
Diam.
Dan lalu Lintang bilang, dengan suara yang paling kecil di dunia:
“Aku catet besok, ya?”
Dan Sekar bilang, “Iya.”
“Di kolom mana?”
Dan adikku yang berumur empat belas tahun berkata, dalam gelap, dengan suara yang rata seperti biasa:
“Kiri, Ntang. Yang kiri.”
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar reading
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu