Chapter Fifty Two
Giliranmu
POV: Aries
Hari terakhir sekolah tanggal enam belas Mei.
Bukan hari kelulusan — itu masih dua minggu lagi, dengan toga dan foto dan orang tua. Ini cuma hari terakhir masuk. Hari di mana kelas dua belas datang untuk mengembalikan buku paket dan membersihkan laci dan menandatangani sesuatu.
Setengah hari. Jam tujuh sampai jam sebelas.
Aku datang jam tujuh kurang.
Dan aku duduk di bangku belakang dekat jendela, tempat yang tidak diperebutkan siapa-siapa karena kena panas jam sepuluh, untuk terakhir kalinya.
Aku tidak akan menulis panjang tentang hari itu.
Ada yang menangis. Ada yang bertukar tanda tangan di seragam. Ridho membawa spidol dan memaksa semua orang menulis sesuatu di kemejanya, termasuk aku, dan aku menulis “Sukses ya” karena aku tidak tahu harus menulis apa dan Ridho bilang “anjir Ries, kayak kartu ucapan.”
Ada foto kelas. Aku berdiri di belakang, seperti biasa.
Dan ada satu hal yang perlu kucatat, karena aku tidak pernah menyangkanya.
Wali kelas kami membacakan sesuatu di akhir. Semacam pesan. Dan di tengah-tengah dia bilang:
“Dan ada satu hal yang mau Bapak sampaikan ke kalian semua.”
Kelas diam.
“Kalian angkatan yang paling Bapak inget,” katanya. “Bukan karena nilai.”
Dia menaruh kertasnya.
“Karena bulan Mei tahun lalu ada anak kecil masuk ke kelas ini,” katanya, “terus bilang empat kata.”
Dan tiga puluh empat kepala tidak menoleh ke arahku.
Tidak satu pun.
Dan aku ingin mencatat itu sebagai kebaikan terbesar yang pernah diberikan oleh tiga puluh empat orang yang tidak pernah kuajak bicara lebih dari sepuluh kalimat.
Mereka tidak menoleh.
Jam sepuluh lewat, semuanya sudah selesai.
Buku sudah dikembalikan. Laci sudah kosong. Tanda tangan sudah selesai.
Dan orang-orang mulai keluar, pelan-pelan, dengan cara yang aneh — tidak ada yang benar-benar mau pergi duluan.
Dan aku duduk di bangkuku dengan tas di pangkuan dan aku berpikir: satu jam lagi.
Satu jam lagi, lalu aku tidak akan punya tempat di mana tidak ada yang membutuhkanku.
Aku tidak berencana tidur.
Aku ingin menekankan itu.
Aku duduk di bangku itu jam setengah sebelas dengan tas di pangkuan, dan aku menyandarkan punggungku, dan aku memejamkan mata.
Sepuluh detik.
Cuma sepuluh detik, seperti tiga tahun terakhir.
Dan aku tidak bangun.
Aku bangun jam dua belas lewat dua puluh.
Yang pertama kusadari: sepi.
Yang kedua: kelasnya kosong.
Yang ketiga — dan ini butuh dua detik untuk sampai ke otakku — ada orang duduk di bangku sebelah.
Claudia duduk di kursi sebelah kiriku, dengan buku di pangkuan, membaca.
Tasnya di lantai. Sepatunya dilepas sebelah, kakinya ditekuk ke kursi.
Dan waktu aku bangun, dia tidak mengangkat kepalanya.
“Jam berapa?” kataku.
“Dua belas lewat dua puluh.”
Aku duduk tegak.
“Bel jam sebelas.”
“Iya.”
“Kenapa nggak—”
“Aries.”
Aku menutup mulutku.
Aku melihat sekeliling.
Kelasnya kosong. Papan tulisnya sudah dibersihkan. Kursi-kursinya sudah dinaikkan ke atas meja — semuanya, tiga puluh tiga kursi, dinaikkan seperti kalau mau dipel.
Kecuali dua.
Kursiku dan kursinya.
“Siapa yang naikin kursinya?”
“Anak-anak.”
“Semua?”
“Semua.” Dia membalik halaman. “Ridho yang mulai. Terus yang lain ikut.”
“Terus kursi aku?”
Dan Claudia bilang, “Ridho bilang, ‘jangan yang itu, dia lagi tidur.’”
Aku duduk di bangku belakang dekat jendela di kelas yang kosong dengan tiga puluh tiga kursi di atas meja.
Dan aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.
“Claudia.”
“Hm?”
“Pak Yanto gimana?”
“Pak Yanto masuk jam setengah dua belas buat ngunci.”
“Terus?”
“Terus dia lihat kamu.”
“Terus?”
Dan dia bilang, “Terus dia keluar lagi terus balik lagi jam dua belas.”
“Kenapa?”
Dan Claudia menutup bukunya, dan menoleh, dan bilang:
“Dia bilang, ‘Wis, tak kunci mengko wae.’”
Aku duduk di sana.
Dan aku ingat sesuatu.
Bulan Februari, tahun lalu. Bangku yang sama. Jam delapan lewat lima belas pagi.
Aku menulis di bagian pertama catatan ini — aku masih ingat kalimatnya — bahwa tidak ada yang membangunkanku waktu itu.
Bukan karena mereka baik. Karena mereka tidak peduli.
Dan itu, bagiku, adalah hadiah terbaik yang bisa diberikan sekolah kepadaku: enam jam sehari di mana tidak ada satu orang pun yang membutuhkanku.
Lima belas bulan.
Bangku yang sama. Jendela yang sama.
Tidak ada yang membangunkanku.
Dan kali ini bukan karena mereka tidak peduli.
“Claudia.”
“Hm?”
“Kamu nunggu satu jam dua puluh menit.”
“Iya.”
“Kenapa nggak bangunin?”
Dan dia mengambil tasnya dan berdiri dan memakai sepatunya yang sebelah, dan dia bilang:
“Karena hari ini terakhir.”
“Terakhir apa?”
Dan dia bilang, “Terakhir kamu punya tempat buat tidur yang bukan tanggung jawab kamu.”
Kami keluar dari kelas itu jam dua belas lewat setengah.
Dan di ambang pintu aku berhenti dan menoleh ke belakang, ke bangku dekat jendela.
Tiga puluh tiga kursi di atas meja.
Dan dua kursi di belakang, di dekat jendela, masih di bawah.
Aku tidak menaikkannya.
Aku ingin mencatat itu: aku tidak menaikkannya, walaupun tanganku bergerak ke arahnya, walaupun selama tiga tahun tanganku selalu bergerak ke arah apa pun yang belum selesai.
Aku membiarkannya.
Sekar berangkat tanggal sepuluh Juli.
Asramanya empat jam perjalanan. Bus.
Dan gang itu — tentu saja — tidak membiarkannya berangkat sendirian.
Bu Ratmi menutup warung setengah hari. Bang Jecky mengantar ke terminal, gratis, dan berdebat dengan siapa pun yang mencoba membayar. Om Yusuf memberikan satu kardus penuh alat tulis dan fotokopi berkas cadangan segala macam, “buat jaga-jaga”.
Dan Mbah Tun memberikan sesuatu di depan pintu, pagi-pagi, sebelum semua orang bangun.
Selendang. Yang lama. Yang sudah pudar.
“Mbah, ini—”
“Nggo nutup sirah nek adem, Nduk.”
Dan Sekar — adikku yang tidak pernah menangis di depan siapa pun sejak umur sebelas tahun kecuali dua kali —
memeluk perempuan tujuh puluh empat tahun itu di depan pintu rumah nomor tujuh jam enam pagi dan tidak melepaskannya selama hampir satu menit.
Uang asramanya kurang satu juta empat ratus.
Beasiswanya menanggung hampir semuanya, tapi ada biaya awal — kasur, lemari, seragam asrama, deposit — yang tidak masuk.
Dan gang itu mengumpulkannya dalam tiga hari.
Dan aku menerimanya.
Aku ingin menuliskan itu dengan jelas, karena butuh empat tahun untuk sampai ke kalimat itu:
Aku menerimanya.
Aku tidak menolak. Aku tidak mengembalikannya. Aku tidak berdiri di depan warung Bu Ratmi selama tiga hari dengan amplop cokelat di atas meja.
Aku bilang terima kasih, dan aku menerimanya, dan aku menghitungnya sekali — sekali saja — lalu berhenti.
Dan lalu aku memanggil Lintang.
“Ntang.”
“Iya?”
“Catet.”
Dan adikku mengambil bukunya.
“Satu juta empat ratus,” kataku. “Dari gang. Tanggal tujuh Juli. Buat asrama Mbak Sekar.”
Dia menulis.
Lalu dia bilang, “Kolom mana, Mas?”
Dan aku bilang, “Utang.”
Dan dia mengangkat kepalanya.
“Kenapa nggak pemberian?”
Dan aku bilang:
“Kalau dicatat, artinya nanti kita bayar.”
Dan Lintang menatapku selama beberapa detik.
Lalu dia bilang, “Itu kan kalimat aku.”
Dan aku bilang, “Iya.”
Dan dia bilang, “Mas nyontek.”
Dan aku bilang, “Iya.”
Di terminal, jam delapan pagi, sebelum busnya berangkat.
Sekar berdiri dengan satu tas ransel dan satu kardus dan selendang Mbah Tun yang sudah dilipat masuk tas.
Dan dia bilang, “Mas.”
“Hm.”
“Aku udah tulis ulang yang dua puluh empat nomor.”
“Kamu apa?”
“Aku tulis ulang.” Dia mengeluarkan map plastik dari ranselnya. “Sekarang tiga puluh satu.”
“Sekar—”
“Nomor dua puluh lima sampai tiga puluh satu itu tentang Lintang,” katanya. “Soalnya nanti Lintang SMP dua tahun lagi dan aku nggak ada.”
Dan dia menyerahkannya kepadaku.
“Ini buat siapa?”
Dan adikku bilang, “Buat Mas.”
Dan aku memegang map plastik itu di terminal bus jam delapan pagi dan aku menyadari sesuatu:
Ini pertama kalinya, dalam empat tahun, adikku memberikan sesuatu kepadaku bukan sebagai layanan.
Sebagai serah terima.
“Sekar.”
“Hm.”
“Boleh Mas ngomong satu hal?”
“Boleh.”
Dan aku berdiri di terminal itu dan aku sudah menyiapkan kalimatnya selama tiga minggu — aku menyiapkannya seperti dia menyiapkan segalanya, seperti Gita menyiapkan segalanya, karena ternyata itu juga menular —
dan aku membuangnya.
Dan aku bilang:
“Sekar. Giliranmu istirahat.”
Adikku berdiri di terminal bus dengan ransel di punggung dan kardus di kaki.
Dan dia tidak bergerak.
“Mas.”
“Hm.”
“Itu kalimat Lintang.”
“Iya.”
“Terus Kak Claudia.”
“Iya.”
Dan aku bilang, “Sekarang kamu.”
Dan aku bilang, “Kamu sebelas tahun waktu Bapak Ibu meninggal, dan kamu langsung mulai kerja hari itu juga, dan kamu nggak pernah berhenti sekali pun selama empat tahun.”
Dan aku bilang, “Empat tahun, Sekar. Nggak ada satu hari pun.”
Dan aku bilang, “Di sana nggak ada yang harus kamu masakin. Nggak ada yang harus kamu jagain. Nggak ada termos.”
Dan aku bilang, “Kamu boleh cuma jadi anak sekolah.”
Dan adikku menangis di terminal bus.
Sekar Kurniawan, empat belas tahun — lima belas bulan depan — yang mengizinkan dirinya sendiri empat puluh detik di bulan Juni tahun lalu.
Kali ini dia tidak menghitung.
Dan aku memeluknya, dan kali ini dia tidak kaku lima detik dulu.
Claudia berangkat tanggal delapan belas Agustus.
Bandara. Jam sebelas malam.
Yang mengantar: aku, Gita, dan Papanya.
Mamanya shift.
Aku ingin mencatat itu apa adanya karena Claudia mencatatnya juga, di tempat lain, dengan caranya sendiri.
Kami berdiri di depan pintu keberangkatan.
Dan aku mengeluarkan sesuatu dari saku dalam tasku.
Bukan amplop.
Tiga puluh empat lembar kertas struk, diikat karet gelang, sebagian sudah pudar tintanya karena struk termal memang memudar dan aku tidak tahu itu sampai bulan Maret waktu aku membuka yang paling lama dan hampir tidak bisa membacanya lagi.
“Ini apa?”
“Buka nanti.”
“Ries—”
“Nanti. Di pesawat.”
Dan dia memegangnya dengan dua tangan dan membaliknya, dan dia melihat tulisan di lembar paling atas — yang bukan struk, yang kertas biasa, yang kutulis semalam.
Satu kalimat.
Kamu satu-satunya yang dateng tanpa alasan.
Dan dia langsung menangis di depan pintu keberangkatan Terminal 3 jam sebelas lewat sepuluh malam dan Papanya melihat ke arah lain dengan sangat sopan.
“Ries.”
“Hm.”
“Empat tahun.”
“Iya.”
“Kamu tau apa yang biasanya kejadian—”
“Kamu udah nanya itu bulan Desember.”
“Aku nanya lagi.”
Dan aku bilang, “Jawabannya masih sama.”
“Apa?”
Dan aku bilang, “Itu urusan nanti.”
Dan dia bilang, “Ries.”
“Hm?”
“Aku sayang kamu.”
Ringan. Seperti biasa. Tanpa jeda, tanpa menunggu.
Dan aku bilang:
“Aku sayang kamu.”
Dan dia berhenti bergerak.
“Kamu langsung jawab.”
“Iya.”
“Nggak ada jeda.”
“Iya.”
“Nggak ada sembilan detik.”
Dan aku bilang, “Aku udah latihan lima ratus enam puluh dua kali.”
Dan dia bilang, “Kamu ngitung?”
Dan aku bilang, “Kamu udah tau jawabannya.”
Gita yang mengantarku pulang.
Kami naik taksi bandara sampai jalan besar lalu ganti angkot, karena aku menolak dibayarkan taksi sampai rumah dan Gita menyerah setelah berdebat empat menit.
Dan di angkot, jam satu pagi, dia bilang:
“Aries.”
“Hm?”
“Sabtu depan aku dateng.”
Dan aku bilang, “Iya.”
Dan dia bilang, “Sabtu depannya juga.”
Dan aku bilang, “Iya.”
Dan dia bilang, “Aku cuma mau kamu tau aja.”
Dan aku bilang, “Aku tau, Git.”
Dan dia menempelkan dahinya ke kaca angkot dan tidak bicara lagi sampai rumah.
Sekarang bagian tentang pekerjaan.
Pak Broto menelepon tanggal dua Juni.
“Aries?”
“Iya, Pak.”
“Kamu udah lulus?”
“Sudah, Pak.”
“Saya butuh orang tetap di gudang. Bukan harian. Kontrak.”
Aku memegang HP-ku dengan dua tangan.
“Jam berapa, Pak?”
“Delapan sampai lima. Sabtu setengah hari. Minggu libur.”
“Minggu libur?”
“Minggu libur.”
Dan aku bertanya, “Bayarannya, Pak?”
Dan dia menyebutkan angkanya.
Dan aku menghitungnya di kepalaku, seperti biasa, dan aku menghitungnya tiga kali karena aku pikir aku salah.
Lebih besar dari tujuh pekerjaanku digabung.
Aku berhenti dari tujuh pekerjaan dalam dua minggu.
Toko Pak Han. Rumah makan Bu Lastri. Kurir. Minimarket. Cuci motor. Toko bangunan Pak Ilyas. Galon.
Dan yang paling sulit ternyata bukan minimarketnya.
Yang paling sulit toko Pak Han, karena aku sudah bongkar muat di sana setiap subuh selama tiga tahun sepuluh bulan, dan waktu aku bilang, beliau diam sebentar lalu bilang:
“Yo wis. Sing penting kowe.”
Dan lalu, waktu aku sudah mau pergi:
“Ries.”
“Iya, Pak?”
“Sesuk esuk aku kelangan alarm.”
Satu pekerjaan.
Aku menulis angka itu di kertas struk di malam pertama setelah semuanya selesai.
7 → 1
Dan aku menatapnya cukup lama.
Dan lalu aku menulis di bawahnya, dan aku menulisnya bukan untuk siapa-siapa, cuma untuk diriku sendiri:
delapan jam. tiap hari. minggu libur.
Dan aku menulis satu baris lagi:
aku nggak tau harus ngapain sama waktunya.
Dan itu adalah masalah baru, dan aku masih mengerjakannya sampai sekarang, dan aku baru tahu belakangan bahwa itu masalah yang bagus untuk dimiliki.
Minggu pertama bulan November.
Aku bangun jam enam.
Bukan empat dua puluh lima. Enam.
Dan aku ke dapur dan menjerang air, dan di luar gang masih setengah tidur — sapu lidi Bu Ning, radio dangdut Pak Somad, lagu yang sama seperti empat tahun terakhir.
Dan ada dua lengan melingkar di perutku dari belakang.
“Lintang.”
Tidak ada jawaban.
Dahi di punggung, di antara tulang belikat.
Dan tangannya kecil dan agak dingin dan jari-jarinya tidak mengetuk.
Sama sekali tidak mengetuk.
“Ntang.”
“Hm.”
“Kamu nggak ngitung?”
Dan adikku bilang, dari balik punggungku:
“Nggak.”
“Kenapa?”
Dan dia bilang, “Udah nggak muat.”
Aku berhenti bergerak.
“Nggak muat gimana?”
Dan Lintang bilang, “Jari aku nggak nyampe lagi.”
Aku berdiri di dapur dengan panci yang mulai berbunyi.
“Terus angkanya berapa?”
Dan dia melepaskan pelukannya, dan berjalan ke meja, dan mengambil bukunya.
Buku sampul biru itu sekarang jelek sekali. Sudutnya sudah rusak semua. Sampulnya sudah disolatip di tiga tempat. Dan tebalnya sudah tidak masuk akal karena ada halaman-halaman tambahan yang dia selipkan sendiri.
Dia membuka bagian dalam sampulnya.
Dan dia menunjukkannya kepadaku.
MAS = 8
“Delapan?”
“Iya.”
“Ntang, dulu sepuluh itu waktu kamu umur delapan.”
“Iya.”
“Sekarang kamu sebelas.”
“Iya.”
“Berarti tangan kamu udah lebih panjang.”
“Iya.”
“Berarti hitungannya—”
“Rusak.” Dia mengangguk. “Sistemnya rusak, Mas. Udah dari bulan Agustus.”
Dan dia menutup bukunya.
“Jadi aku berhenti,” katanya.
Aku duduk di kursi.
“Kamu berhenti ngitung?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Bulan Agustus.”
“Kenapa?”
Dan adikku yang berumur sebelas tahun bilang:
“Soalnya aku bikin sistemnya buat tau Mas berkurang apa enggak.”
Dia mengangkat bahu.
“Sekarang Mas nggak berkurang,” katanya. “Jadi sistemnya nggak kepake.”
Dan lalu dia bilang, “Mas, aku mau nunjukin sesuatu.”
Dan dia membuka bukunya lagi, di halaman baru, di halaman yang paling depan dari bagian yang belum terpakai.
Dan dia sudah menggaris kolom-kolomnya dengan penggaris.
Tiga kolom, seperti biasa.
PEMBERIAN. UTANG.
Dan kolom ketiga.
Yang dulu bertuliskan BELUM TAU, yang dia buat di bulan Maret empat tahun lalu untuk satu nama, dan yang lama-lama diisi tiga nama, lalu tujuh, lalu sebelas.
Dan sekarang tulisannya bukan itu lagi.
Sekarang, di atas kolom ketiga, dengan huruf besar-besar, ditulis pakai spidol, dengan garis bawah dua kali:
KELUARGA
“Ntang.”
“Iya?”
“Kamu ganti namanya?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Bulan September.”
“Kenapa?”
Dan adikku menutup bukunya dan berkata:
“Soalnya aku capek nulis ‘belum tau’ terus.”
Dia duduk di kursi seberangku.
“Mbah Tun aku taruh situ,” katanya. “Bu Ratmi, Pak Somad, Om Yusuf, Bu Ning, Bang Jecky, Pak RT.”
“Terus?”
“Terus Kak Claudia. Terus Kak Gita. Terus Tante Ratih.”
“Terus?”
Dan dia bilang, “Terus Bu Hanifah, tapi aku nggak yakin, jadi aku tulis pake pensil.”
“Ntang.”
“Hm?”
“Kolom itu bukan buat dibayar.”
“Iya.”
“Terus buat apa?”
Dan Lintang bilang:
“Buat diinget.”
Dan dia mengambil bukunya kembali dan memeluknya di dada, seperti dia memeluknya di malam pertama Kak Claudia datang, di depan warung Bu Ratmi, empat tahun lalu.
“Aku dulu nyatet biar kita bisa bayar,” katanya. “Terus aku sadar ada yang nggak bisa dibayar.”
Dia mengangkat bahu.
“Terus kalau nggak bisa dibayar, ya minimal diinget.”
Bumi masuk dapur jam setengah tujuh.
Enam tahun. Kelas satu. Rambutnya masih berdiri.
Dia mengucek mata dan berkata, “Mas.”
“Hm?”
“Lapar.”
Dan aku bilang, “Bentar.”
Dan dia bilang, “Mas udah makan?”
Dan aku bilang, “Belum.”
Dan Bumi bilang, “Ya udah bareng.”
Dan dia memanjat kursi.
Dan aku berdiri di dapur itu dan menyadari bahwa anak itu sudah tidak berbohong tentang lapar lagi.
Sudah tidak, sejak entah kapan.
Dan aku tidak tahu kapan berhentinya, dan aku tidak akan pernah tahu, dan aku memutuskan bahwa itu tidak apa-apa.
Jam tujuh, aku mengantar Bumi ke sekolah.
Aku bisa mengantarnya sekarang. Hari Minggu tidak, karena Minggu libur, tapi Senin sampai Jumat bisa — masuk kerjaku jam delapan, sekolahnya jam tujuh, searah.
Dan di depan pintu, waktu dia memakai sepatunya, aku melihat sandalku di lantai.
Sudah menghadap keluar.
Seperti setiap hari selama empat tahun.
Dan di sebelahnya, sandal Bumi.
Terbalik. Menghadap ke dalam. Karena dia melepasnya buru-buru semalam.
Aku berjongkok.
Dan aku mengambil sandal adikku, dan aku membaliknya, dan aku meluruskannya, dan aku menaruhnya menghadap pintu.
Dan aku menepuknya sekali dengan telapak tangan.
Persis seperti yang dia lakukan di lantai kantor Dinas Sosial bulan September tahun lalu, di depan tujuh orang dewasa yang semuanya berhenti bicara.
“Mas ngapain?”
Aku mengangkat kepalaku.
Bumi berdiri di depanku dengan sepatu sebelah masih di tangan.
Dan aku bilang, “Biar gampang pulang.”
Dan anak itu menatapku selama sekitar dua detik.
Lalu wajahnya berubah — bukan senang persis, sesuatu yang lain, sesuatu seperti orang yang mendengar bahasanya sendiri diucapkan oleh orang lain untuk pertama kalinya.
Dan dia bilang, “Iya.”
Dan dia memakai sepatunya.
Sekarang bagian terakhir, dan aku akan menuliskannya pendek.
Aku menulis semua ini di buku tulis biasa, sampul cokelat, yang kubeli di toko Om Yusuf seharga empat ribu rupiah.
Aku mulai menulis bulan Desember, dan aku menulisnya sedikit-sedikit, malam-malam, setelah semua orang tidur.
Aku tidak tahu ini untuk siapa.
Awalnya kupikir untuk Claudia, supaya dia tahu apa yang terjadi di sini selama dia tidak ada. Tapi kami video call setiap Minggu malam dan dia sudah tahu semuanya, jadi bukan itu.
Lalu kupikir untuk Sekar. Tapi Sekar sudah tahu lebih banyak dari siapa pun dan dia menulis versinya sendiri, dan aku sudah membacanya, dan versinya lebih bagus.
Lalu aku sadar.
Ini untuk kolom.
Bukan kolom Lintang. Kolom yang di formulir sekolah, yang enam, yang lima di antaranya masih strip di kertas fotokopi miring yang sekarang ada di dalam laci meja seorang perempuan di negara lain.
Karena selama empat tahun aku hidup sebagai orang yang tidak punya isi di kolom mana pun.
Dan aku sudah mengisi satu, dan itu tidak cukup.
Jadi aku menulis ini.
Empat tahun. Dua ratus enam puluh satu halaman punya Lintang, dan sekarang ada punyaku juga.
Dan aku baru menyadari sesuatu waktu menulis kalimat ini.
Aku menulis dengan tangan, malam-malam, di meja belajar bekas yang kaki depannya diganjal ubin, di rumah nomor tujuh Gang Kenanga.
Sambil mencatat semua yang diberikan orang.
Dengan tanggalnya.
Dengan namanya.
Aku menghabiskan empat tahun mengkhawatirkan bahwa adikku menuruni sesuatu yang jelek dariku.
Ternyata dua arah.
Sekarang jam dua belas lewat sepuluh malam.
Bumi tidur melintang seperti orang yang jatuh dari langit, seperti selalu.
Lintang membelakangi tembok.
Kasur di ujung kosong, dan akan kosong sampai bulan Desember, dan aku sudah berhenti melihat ke arah sana setiap malam sekitar dua minggu lalu.
Di meja ada gelas air putih ditutup piring kecil.
Bukan Sekar yang menaruhnya. Lintang. Dia mengambil alih bulan Juli, hari kedua setelah kakaknya berangkat, tanpa memberitahu siapa pun.
Aku meminumnya sampai habis.
Sandal di depan pintu menghadap keluar.
Dan besok pagi aku bangun jam enam, bukan jam empat dua puluh lima, dan aku akan menjerang air, dan aku akan mengantar adikku ke sekolah, dan aku akan bekerja delapan jam di satu tempat, dan aku akan pulang jam enam sore.
Jam enam sore.
Aku masih belum terbiasa. Aku masih pulang dan berdiri di ruang depan tidak tahu harus melakukan apa, dan Lintang menertawakanku setiap kali.
Aku sedang belajar.
Aku delapan belas tahun dan aku sedang belajar hal-hal yang seharusnya orang pelajari waktu umur tujuh, dan itu memalukan, dan aku sudah memutuskan untuk tidak malu.
Aku menutup buku ini sekarang.
Aku akan berbaring di kasur — bukan lantai; kami membeli kasurnya bulan September, bekas, satu juta dua ratus, dan Bumi tidak berhenti melompat di atasnya selama dua hari —
dan aku akan tidur delapan jam.
Aku sudah melakukannya tiga bulan terakhir dan aku masih belum percaya.
Dan besok pagi, hari Minggu, adikku akan memelukku dari belakang di dapur.
Dan dia tidak akan menghitung.
Dan aku tidak akan bertanya kenapa, dan dia tidak akan menjelaskan, dan kami akan berdiri di sana sampai airnya mendidih.
Dan itu saja.
Itu saja, dan ternyata itu cukup, dan butuh empat tahun untuk aku mengerti bahwa hal-hal yang cukup memang selalu terlihat sekecil itu.
Giliranku istirahat.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu reading