Chapter Twenty Three
Rumah yang Terlalu Besar
POV: Claudia
Rumahku punya empat kamar tidur.
Yang dipakai satu.
Kamar Mama dan Papa ada di lantai dua, ujung koridor, dan Mbak Yani membersihkannya setiap Rabu walaupun tidak ada yang tidur di sana lebih dari empat malam sebulan.
Dua kamar sisanya kosong. Bukan kosong tanpa perabot — ada kasur, ada lemari, ada seprai yang diganti sebulan sekali. Kosong dalam arti tidak ada yang pernah masuk.
Aku pernah menghitung, waktu kelas dua SMP, berapa lama waktu yang kuhabiskan di rumah ini dibanding jumlah menit orang lain berada di dalamnya.
Aku berhenti menghitung di tengah jalan karena angkanya membuatku tidak bisa tidur.
Jadwal Mbak Yani: datang jam satu siang, pulang jam lima sore.
Dia memasak, membersihkan, menaruh makanan di bawah tudung saji, dan pergi.
Kalau aku pulang jam empat, aku sempat bertemu dia satu jam.
Kalau aku pulang jam sebelas malam — yang sekarang jadi kebiasaan — aku tidak bertemu siapa-siapa.
Suatu hari aku sengaja pulang jam setengah lima cuma untuk bisa berbicara dengan seseorang di rumahku sendiri.
Aku tidak akan menulis lebih banyak tentang hari itu.
Mama pulang hari Selasa, akhir Mei.
Aku tahu karena mobilnya masuk pagar jam delapan malam, dan aku sedang tidak di rumah, dan Mbak Yani mengirim pesan:
Non, Ibu pulang.
Aku sedang di undakan depan toko kelontong.
Aku menatap layar HP-ku.
“Kenapa?” tanya Aries.
“Mama pulang.”
“Sekarang?”
“Iya.”
Dia langsung berdiri. “Ya udah, pulang.”
“Nggak usah.”
“Claudia.”
“Dia paling bentar. Nanti jam sepuluh berangkat lagi.”
“Kamu belum tau.”
“Aku tau.” Aku memasukkan HP ke saku. “Selalu gitu.”
Dan Aries berdiri di trotoar itu, dan tidak duduk lagi, dan berkata sesuatu yang membuatku akhirnya bangkit:
“Kalau aku punya kesempatan ketemu ibuku dua jam,” katanya, “aku nggak akan duduk di undakan.”
Aku sampai rumah jam setengah sembilan.
Semua lampu lantai bawah menyala. Dua belas.
Mama yang menyalakannya. Dia selalu menyalakan semuanya waktu masuk rumah, tanpa berpikir, seperti orang membuka jendela.
Dia di ruang makan, masih memakai baju kerja, mengetik di laptop dengan satu tangan sambil memegang gelas dengan tangan lain.
“Bella.”
“Halo, Ma.”
“Dari mana?”
“Belajar kelompok.”
“Sampe jam segini?”
“Iya.”
Dia mengangguk dan kembali ke laptopnya.
Aku berdiri di ambang ruang makan selama beberapa detik.
Lalu aku duduk di kursi seberangnya.
Kami tidak bicara selama sekitar delapan menit.
Dia mengetik. Aku duduk.
Aku ingin mencatat bahwa aku tidak bermain HP selama delapan menit itu. Aku duduk dan menunggu, seperti orang yang menunggu giliran di loket.
Lalu dia menutup laptopnya.
“Bella.”
“Iya, Ma.”
“Kamu kurusan.”
“Masa?”
“Iya. Muka kamu beda.”
Dia menatapku dengan cara yang aku kenal — cara dokter. Bukan cara ibu.
“Kamu makan teratur nggak?”
“Teratur.”
“Tidur jam berapa?”
“Dua belas.”
“Kok jam dua belas?”
“Belajar.”
Dia mengangguk.
Dan lalu matanya turun ke tanganku, yang ada di atas meja.
Dan dia berhenti.
Ada tiga hal di tanganku waktu itu.
Yang pertama, luka kecil di sela ibu jari kanan. Kertas struk. Kalau kau menarik gulungan struk terlalu cepat, ujungnya bisa mengiris.
Yang kedua, kuku yang lebih pendek dari biasanya, karena kuku panjang menyusahkan waktu memasukkan barang ke plastik.
Yang ketiga, dan ini yang dia lihat: tangan kananku sedikit lebih gelap dari tangan kiriku, karena setiap Sabtu aku berdiri empat jam di kasir dekat pintu kaca yang kena matahari langsung dari jam sepuluh sampai jam dua.
“Ini apa?”
“Apa?”
“Tangan kamu.”
“Nggak apa-apa.”
Mama meraih tanganku dan membaliknya.
Dan dia menemukannya: garis tipis di pangkal jari telunjuk, agak keras, yang belum ada tiga bulan lalu.
“Bella.”
“Ma—”
“Ini kapalan.”
“Bukan.”
“Mama dokter.”
Aku menarik tanganku.
Percakapan setelah itu berlangsung sebelas menit dan aku ingat semuanya.
“Kamu kerja?”
“Iya.”
“Di mana?”
“Minimarket.”
Wajah Mama tidak berubah, tapi dia menaruh gelasnya, dan dia menaruhnya terlalu pelan.
“Sejak kapan?”
“Dua bulan.”
“Berapa jam?”
“Empat jam. Sabtu doang.”
“Bella.”
“Aku nggak bolos, Ma. Nilai aku nggak turun.”
“Kamu butuh uang?”
Dan di sinilah percakapannya belok, dan aku ingat aku tertawa sedikit, tapi bukan tawa yang menyenangkan.
“Nggak, Ma.”
“Kalau kamu butuh, bilang. Kenapa harus kerja?”
“Aku nggak butuh uang.”
“Terus kenapa?”
“Karena aku mau.”
Mama menatapku.
“Bella, empat jam berdiri di kasir buat delapan belas ribu per jam—”
“Tujuh puluh dua ribu.”
“—itu nggak masuk akal.”
“Ongkos ojek aku lima puluh ribu.”
“Nah.”
“Jadi aku dapet dua puluh dua ribu.” Aku menatapnya. “Sebulan delapan puluh delapan ribu.”
“Bella, kamu ngerti nggak kalau—”
“Aku ngerti banget, Ma. Aku yang ngitung.”
Dan Mama membuka mulutnya, lalu menutupnya, dan lalu dia melakukan hal yang paling dia bisa lakukan.
Dia mengambil dompetnya.
“Ma.”
“Berapa yang kamu mau?”
“Ma, jangan.”
“Kalau kamu mau punya uang sendiri, Mama transfer aja. Nggak usah kamu—”
“MA.”
Aku tidak pernah membentak ibuku sebelumnya.
Ruang makan itu sunyi sekali. Kulkas berdengung. Dua belas lampu menyala.
Mama menaruh dompetnya di meja.
“Ma,” kataku, dan suaraku sudah tidak keras lagi. “Aku mau nanya.”
“...Tanya.”
“Waktu Mama masuk rumah tadi, Mama nyalain semua lampu.”
Dia mengerutkan kening. “Terus?”
“Kenapa?”
“Ya biar terang.”
“Ma, kalau Mama cuma di ruang makan, kenapa lampu tangga nyala?”
“Bella, ini pertanyaan apa sih.”
“Aku cuma nanya.”
Dan Mama menatap ke arah koridor, ke tangga, ke ruang tamu yang tidak dipakai siapa pun sejak Lebaran dua tahun lalu.
Semuanya terang benderang.
Dan dia berkata, pelan, dengan cara yang membuatku sadar bahwa dia belum pernah memikirkan ini sebelumnya:
“...Mama nggak tau.”
Aku mengangguk.
“Aku juga gitu dulu,” kataku.
“Dulu?”
“Sekarang aku matiin. Aku sisain satu.”
“Kenapa?”
Dan aku duduk di ruang makan yang panjangnya cukup untuk delapan orang, di depan ibuku yang pulang empat malam sebulan, dan aku tidak bisa menjelaskannya.
Karena kalau aku menjelaskan, aku harus bercerita tentang gang yang berisik, tentang lantai yang dingin dan ada satu ubin retak, tentang anak sepuluh tahun yang menulis semua kebaikan orang di buku sampul biru, tentang anak lima tahun yang membalik sandal setiap malam, tentang tiga sendok gula.
Dan tentang laki-laki yang mengirim pesan jam sebelas malam yang berbunyi “yang lain aku gantiin” dan besoknya tidak ingat dia mengetiknya.
Semua itu bukan punyaku untuk diceritakan.
Dan sebagian kecilnya punyaku, dan yang bagian itu terlalu berharga untuk kuletakkan di meja makan ini.
“Nggak apa-apa, Ma,” kataku.
Jam sembilan lewat dua puluh, HP Mama berbunyi.
Dia melihatnya, dan wajahnya berubah jadi wajah kerja.
“Ma?”
“Ada pasien.”
“Sekarang?”
“Iya.” Dia sudah berdiri. “Maaf ya, sayang.”
“Nggak apa-apa.”
Dua puluh menit.
Aku tidak marah. Aku ingin mencatat itu, karena kalau kalian membaca ini kalian mungkin mengira aku marah.
Aku tidak marah.
Aku sudah lama sekali tidak marah, dan itu bagian yang lebih buruk.
Dia mengambil tasnya. Memakai sepatunya. Lalu berhenti di pintu.
“Bella.”
“Iya, Ma?”
“Bulan depan Papa pulang. Ada yang mau dibahas.”
“Bahas apa?”
“Kuliah kamu.” Dia membuka pintu. “Papa udah urus yang di luar. Tinggal berkas-berkasnya.”
Aku berdiri di ruang makan.
“...Luar?”
“Iya. Kan udah dari dulu rencananya.”
Dan dia keluar, dan mobilnya menyala, dan pagar terbuka, dan pagar tertutup.
Aku berdiri di ruang makan yang terang benderang selama beberapa menit.
Rencana dari dulu.
Aku mencoba mengingat kapan rencana itu dibicarakan, dan aku menemukan bahwa memang pernah — beberapa kali, di sela-sela makan malam yang jarang, di mobil, di percakapan telepon yang setengah kudengar.
Aku selalu mengangguk.
Aku selalu mengangguk karena tidak ada bedanya. Ada di sini atau ada di sana, sama-sama sendirian, jadi kenapa tidak yang lebih jauh sekalian.
Itu logika Claudia yang dulu, dan logikanya sempurna.
Aku berdiri di ruang makan itu, dan untuk pertama kalinya, logikanya tidak berlaku lagi.
Aku mematikan lampunya satu per satu.
Ruang tamu. Koridor. Tangga. Teras belakang. Gudang. Kamar tamu satu, kamar tamu dua.
Sebelas.
Aku menyisakan yang di dapur, yang paling kecil, seperti setiap malam sejak dua minggu lalu.
Lalu aku duduk di lantai dapur — bukan di kursi, di lantai, membelakangi kulkas, dengan lutut ditekuk — dan aku sadar bahwa aku sedang meniru cara duduk orang lain.
Punggung ke dinding.
Aku duduk seperti itu selama sepuluh detik, dan aku menghitungnya, dan di hitungan kesepuluh aku membuka mata.
Lalu aku membuka HP-ku.
Jam sebelas lewat dua.
Dan pesan itu masuk, seperti setiap malam:
Sudah sampai rumah.
Aku menatapnya lama.
Lalu aku mengetik:
Ries.
Hm?
Kalau aku pergi jauh, kamu gimana?
Centang satu. Centang dua. Dibaca.
Dan tidak ada balasan.
Satu menit. Dua menit.
Lalu:
Pergi ke mana?
Belum tau. Nanti. Setelah lulus.
Dibaca.
Sedang mengetik...
Berhenti.
Sedang mengetik...
Berhenti.
Empat menit.
Dan yang akhirnya masuk cuma tiga kata, dan aku tahu persis bahwa dia mengetik dan menghapusnya berkali-kali sebelum akhirnya mengirim yang paling aman:
Ya harus pergi.
Aku duduk di lantai dapur dan membaca tiga kata itu berulang-ulang.
Lalu, satu menit kemudian, masuk satu lagi.
Maaf. Aku ngetik yang bener tapi kehapus.
Dan aku mengetik: Yang bener apa?
Dan dia tidak menjawab sampai besok pagi.
Dan waktu dia menjawab besok pagi, jawabannya adalah “lupa”, dan telinganya merah waktu aku menagihnya di kelas, dan aku tidak pernah tahu apa yang dia ketik malam itu.
Sampai bulan Juli.
Sampai malam di dapur jam lima pagi, waktu dia akhirnya mengucapkannya, dan kalimatnya persis empat kata, dan dia bilang dia sudah menyimpannya sejak Mei.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar reading
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu