Chapter Thirteen
Halte, Hujan, Bahu
POV: Aries
Selasa itu langitnya sudah hitam sejak jam lima sore, tapi hujannya menahan diri sampai jam tujuh, seperti orang yang sedang menunggu semua orang duduk sebelum mulai bicara.
Aku sampai di undakan jam setengah tujuh lewat tiga.
Claudia sudah di sana.
Dan di pangkuannya ada termos.
Aku berhenti di trotoar.
Termos itu warna hijau tua, tutupnya sudah tidak orisinal karena tutup aslinya hilang dua tahun lalu dan diganti tutup toples yang ukurannya kebetulan pas. Di badannya ada bekas stiker yang sudah dikelupas sampai tinggal lemnya.
Aku mengenali termos itu seperti aku mengenali tanganku sendiri.
“Kamu dapet itu dari mana?”
Claudia mengangkat wajahnya. “Sore.”
“Claudia.”
“Duduk dulu.”
“Kamu dapet itu dari mana.”
Dia menepuk undakan di sebelahnya.
Aku duduk, tapi tidak melepaskan mataku dari termos itu.
“Dari Sekar,” katanya.
Ada beberapa detik di mana aku benar-benar tidak mengerti apa yang barusan dia katakan.
Bukan karena kalimatnya sulit. Karena otakku sudah punya penjelasan yang tersimpan rapi selama satu tahun, dan penjelasan itu sedang berusaha bertahan hidup.
“Bukan,” kataku. “Itu titipan Bu Ratmi.”
“Bukan.”
“Bang Jecky yang nganterin ke minimarket.”
“Aries.”
“Setiap Selasa, Rabu, sama Jumat, Bu Ratmi—”
“Aries.”
Aku berhenti.
Claudia membuka tutup termos itu, menuangkan isinya ke tutup toples, dan menyerahkannya kepadaku.
Uapnya naik. Baunya teh.
“Sekar jalan kaki ke minimarket,” katanya, pelan. “Dua puluh lima menit pergi, dua puluh lima menit pulang. Dia titipin ke Mas Yuda. Terus dia pulang jalan kaki lagi.”
“...Nggak.”
“Tiga kali seminggu.”
“Nggak.”
“Udah setahun lebih.”
Aku memegang tutup toples berisi teh panas itu, dan aku tidak bisa merasakan panasnya.
Aku ingin menuliskan bahwa aku menolak percaya. Tapi itu bohong.
Yang sebenarnya terjadi adalah aku langsung percaya, dalam satu detik, tanpa perlawanan sama sekali — karena begitu kalimat itu keluar, semua hal kecil yang selama setahun tidak masuk akal langsung berbaris rapi dan masuk semua.
Kenapa termosnya selalu masih hangat padahal Bu Ratmi tutup jam sepuluh.
Kenapa nasinya selalu dibungkus terpisah — Bu Ratmi tidak pernah memisahkan nasi, Bu Ratmi menaruh semuanya di satu wadah karena itu lebih cepat.
Kenapa Bang Jecky, kalau kutanya, selalu menjawab, “Iya, iya, gue yang bawa,” dengan nada orang yang sedang menghafal.
Kenapa hari Kamis, waktu aku pulang lebih awal, aku pernah melihat sepatu Sekar basah di depan pintu padahal siang itu tidak hujan.
Aku menaruh tutup toples itu di undakan.
“Aku harus pulang.”
“Aries—”
“Aku harus pulang sekarang.”
“Ries.” Dia menahan lenganku. Bukan menarik. Cuma menahan, tiga jari, di lengan bawah. “Buat apa?”
“Buat—”
Aku berhenti.
Karena aku tidak tahu jawabannya.
Buat apa? Marah? Aku tidak marah. Melarang? Melarang apa? Berterima kasih?
Kalau aku pulang sekarang dan mengucapkan terima kasih kepada adikku yang berumur empat belas tahun karena sudah jalan kaki lima puluh menit tiga kali seminggu selama setahun untuk mengantar teh kepadaku, apa yang akan terjadi?
Dia akan bilang nggak apa-apa.
Dan lalu dia akan berhenti melakukannya.
Karena begitu ketahuan, itu jadi beban, dan Sekar tidak pernah membiarkan orang lain memikul beban yang bisa dia pikul sendiri.
Dia belajar itu dari seseorang.
Aku tahu persis dari siapa.
“...Nggak,” kataku. “Nggak jadi.”
Claudia melepaskan tanganku.
“Kamu nggak marah?”
“Nggak.”
“Beneran?”
“Iya.” Aku mengambil tutup toples itu lagi. “Kalau aku marah, dia berhenti.”
Aku minum.
Tehnya manis sekali. Terlalu manis, sebenarnya, tapi aku tidak pernah bilang, karena kalau aku bilang dia akan menguranginya, dan aku sudah lama menganggap rasa manis itu bagian dari hari Selasa.
Aku baru tahu artinya delapan bulan kemudian.
Kalau aku tahu malam itu, aku tidak akan sanggup menghabiskannya.
Hujannya turun jam tujuh lewat sepuluh.
Bukan gerimis. Langsung deras, seperti orang menumpahkan ember.
Atap seng di atas undakan itu cukup untuk melindungi kepala tapi tidak untuk kaki, dan dalam sepuluh detik sepatu kami berdua sudah basah.
“Halte,” kataku.
“Yang mana?”
“Sebelah sana. Empat puluh meter.”
“Kita lari?”
“Iya.”
Dan kami lari.
Aku ingin mencatat bahwa itu adalah pertama kalinya dalam tiga tahun aku berlari untuk alasan yang bukan karena terlambat.
Haltenya kosong.
Atapnya utuh, bangkunya besi, dingin, dan ada satu lampu neon yang menyala setengah.
Kami duduk. Aku memeluk termos supaya tidak jatuh.
Claudia mengibaskan rambutnya dan air menciprat ke wajahku.
“Maaf.”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu basah banget.”
“Kamu juga.”
“Iya, tapi kamu masih ada shift.”
“Iya.”
“Nanti kedinginan.”
“Nggak apa-apa. AC-nya di minimarket rusak dari bulan lalu.”
Dia tertawa.
Aku tidak mengerti bagian mana yang lucu, tapi aku senang dia tertawa, dan itu juga hal yang belum sempat kupikirkan waktu itu.
Kami duduk di halte itu dan hujannya tidak berhenti.
Jam tujuh dua puluh. Tujuh tiga puluh.
Aku minum teh. Aku makan nasinya — sedikit, karena kalau kuhabiskan sekarang aku akan mengantuk di shift.
Claudia bicara tentang sesuatu. Aku tidak ingat apa. Sesuatu tentang film yang dia tonton dan endingnya tidak masuk akal.
Suaranya bercampur dengan suara hujan di atap seng.
Dan aku ingat berpikir: bentar aja. Merem bentar aja. Sepuluh detik.
Aku bangun karena mendengar suara napasku sendiri.
Itu selalu jadi tanda. Kalau kau sampai mendengar napasmu sendiri, artinya kau tidur benar-benar, bukan tidur sepuluh detik.
Yang pertama kusadari: hangat.
Yang kedua: bahuku sakit, karena leherku miring ke kanan dalam posisi yang salah.
Yang ketiga — dan ini butuh dua detik penuh untuk sampai ke otakku —
kepalaku ada di bahu orang.
Aku bangun secepat orang kesetrum.
“Maaf—”
“Ries—”
“Maaf. Maaf. Maaf.” Aku sudah berdiri. Termos jatuh dari pangkuanku dan menggelinding di lantai halte. “Aku nggak—”
“Aries.”
“—aku nggak sengaja, aku cuma mau merem sepuluh detik, terus—”
“Aries.”
“—jam berapa sekarang? Astaga. Astaga, maaf, bahu kamu pasti pegel, kamu duduknya nggak gerak berapa lama—”
“Aries.”
Aku berhenti.
Dia duduk di bangku besi itu, basah, rambut menempel di pipi, dan dia menatapku dengan wajah yang sangat tenang.
“Duduk,” katanya.
“Aku harus—”
“Duduk dulu. Dua menit.”
Aku duduk.
Aku mengambil termos yang jatuh dan memeluknya lagi, karena tanganku butuh sesuatu untuk dipegang.
“Empat puluh menit,” katanya.
“...Hah?”
“Kamu tidur empat puluh menit.”
Aku melihat HP-ku.
Jam delapan lewat empat.
Aku terlambat.
Untuk pertama kalinya dalam satu tahun dua bulan, aku terlambat masuk shift.
Dan hal yang paling aneh — hal yang membuatku memikirkannya berhari-hari setelahnya — adalah bahwa perutku tidak jatuh. Tidak ada panik. Otakku menghitung: terlambat empat menit, potongan tidak ada karena Mas Yuda tidak pernah lapor, jalan kaki dari sini dua menit.
Lalu otakku berhenti menghitung dan tidak mau melanjutkan.
“Kamu nggak bangunin aku,” kataku.
“Enggak.”
“Kenapa?”
Claudia menatap hujan.
“Kamu bilang kamu mau tidur delapan jam,” katanya. “Aku cuma bisa kasih empat puluh menit.”
Ada sesuatu yang naik di dadaku dan aku tidak punya nama untuk itu.
Aku ingin menuliskannya dengan jujur, karena kalau aku memperindahnya sekarang aku sedang berbohong tentang orang yang aku dulu.
Yang kurasakan waktu itu bukan bahagia.
Yang kurasakan adalah takut.
Takut yang spesifik dan sangat jelas: kalau aku membiarkan ini terjadi lagi, aku akan mulai menunggunya. Dan kalau aku mulai menunggu sesuatu, aku jadi orang yang bisa kecewa. Dan aku tidak punya ruang untuk jadi orang yang bisa kecewa. Tidak dengan tiga anak di rumah.
Jadi yang keluar dari mulutku adalah:
“Jangan diulangi.”
Claudia menoleh. “Apa?”
“Yang tadi.” Aku menatap lantai halte. “Kamu duduk empat puluh menit nggak gerak. Bahu kamu pasti sakit. Itu nggak—”
“Ries.”
“—itu nggak sepadan. Nggak usah. Aku bisa—”
“Aries.”
“—aku bisa tidur di rumah, aku cuma perlu ngatur—”
“Nggak usah minta maaf.”
Aku berhenti.
“Kamu boleh,” katanya.
Tiga kata.
Aku duduk di halte itu memegang termos hijau tua bertutup toples, dan tiga kata itu masuk ke suatu tempat di dalam diriku yang sudah tiga tahun kukunci dan kuanggap sudah tidak ada lagi.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan wajahku.
Jadi kubiarkan saja apa adanya, dan aku tidak tahu bentuknya seperti apa waktu itu, dan aku tidak akan pernah tahu.
Tapi aku tahu apa yang kulihat di wajahnya.
Karena dia melihatku, dan wajahnya berubah, dan dia mengalihkan pandangannya ke hujan dengan cepat sekali seperti orang yang tidak mau ketahuan.
“Claudia.”
“Hm.”
“Aku mau nanya sesuatu, tapi jangan ketawa.”
“Oke.”
“Beneran jangan ketawa.”
“Iya, aku janji.”
Aku menarik napas.
“Kita ini apa?”
Dia berkedip.
“Maksudnya?”
“Ya... ini.” Aku menggerakkan tanganku ke arah kami berdua, ke termos, ke halte, ke hujan. “Ini apa.”
“Menurut kamu apa?”
“Aku nggak tau.”
“Tebak.”
“Aku nggak bisa nebak.”
“Kenapa?”
“Karena aku nggak punya datanya.”
Dan dia tertawa.
“Kamu janji nggak ketawa.”
“Maaf—” Dia menutup mulutnya dengan tangan. “Maaf. Ya Tuhan. Maaf.”
“Claudia.”
“Iya. Iya, maaf.” Dia menarik napas, meluruskan wajahnya, dan gagal, lalu mencoba lagi dan berhasil setengah. “Oke. Serius. Kamu beneran nggak tau?”
“Nggak.”
“Aries, kamu nggak pernah pacaran?”
“Nggak.”
“Nggak pernah suka orang?”
Aku memikirkannya. Benar-benar memikirkannya, dari SD sampai sekarang, secara sistematis.
“Nggak,” kataku.
“Sama sekali?”
“Sama sekali.”
Dia menatapku lama.
Dan lalu wajahnya berubah — bukan jadi geli lagi, tapi jadi sesuatu yang lebih lembut dan lebih berat, dan itu membuatku ingin melihat ke arah lain.
“Ries.”
“Hm.”
“Kamu suka nggak, aku dateng ke sini tiap Selasa Rabu Jumat?”
Pertanyaan itu punya jawaban yang mudah, dan jawaban yang mudah itu adalah nggak apa-apa, dan aku sudah membuka mulut untuk mengucapkannya.
Lalu aku ingat termos di pangkuanku.
Dan aku ingat adikku, empat belas tahun, berjalan lima puluh menit tiga kali seminggu selama satu tahun tanpa memberitahu siapa pun.
Dan aku berpikir: kalau semua orang di sekitarku bisa melakukan hal-hal yang tidak masuk akal secara diam-diam, mungkin aku boleh mengatakan satu hal yang benar dengan suara keras. Sekali.
“Suka,” kataku.
“...Oke.”
“Aku suka.”
“Oke, Ries, cukup—”
“Aku suka kamu dateng.” Aku menatap lantai halte. “Aku jalan lebih cepet dari orderan terakhir. Aku nggak tau kenapa. Aku udah ngecek, nggak ada alasannya.”
Hening.
Suara hujan.
“...Kamu jalan lebih cepet?” katanya, pelan.
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Minggu ketiga.”
“Kamu ngitung mingguannya?”
“Aku ngitung semuanya.”
Dan lalu tidak ada yang bicara selama mungkin sepuluh detik, dan sepuluh detik itu terasa jauh lebih panjang daripada empat puluh menit tadi.
“Aries.”
“Hm.”
“Aku bakal dateng terus, ya.”
Aku mengangguk.
“Terus kalau kamu ketiduran lagi, aku nggak bangunin.”
Aku mengangguk lagi.
“Dan kalau kamu minta maaf lagi buat itu, aku bakal marah.”
“...Oke.”
“Beneran marah, Ries.”
“Oke.”
Dia menyandarkan punggungnya ke dinding halte.
Dan aku — karena aku benar-benar tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan seseorang di situasi seperti ini, dan karena satu-satunya sistem yang kupunya di kepalaku adalah sistem yang kupakai untuk pekerjaan —
bertanya:
“Jadi aku harus ngapain?”
Dia menoleh.
“Ngapain gimana?”
“Ya... tugasku apa.” Aku menggeser posisi dudukku. “Kalau ada yang harus aku kerjain, bilang aja. Jam berapa, di mana. Aku atur.”
Claudia menatapku selama tiga detik penuh.
Lalu dia menaruh wajahnya di kedua telapak tangannya dan mengeluarkan suara yang aneh, campuran antara tertawa dan mengerang.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Claudia, kenapa.”
“Nggak apa-apa!” Dia mengangkat wajahnya. Matanya berair, tapi dia tersenyum lebar sekali. “Nggak ada tugasnya, Ries.”
“Nggak ada?”
“Nggak ada.”
“Terus gimana aku tau aku udah bener?”
Dan dia berhenti tersenyum.
Bukan karena sedih. Karena sesuatu yang lain.
“Kamu udah bener,” katanya.
“Aku belum ngapa-ngapain.”
“Iya.” Dia menyandarkan kepalanya ke dinding halte dan menutup mata sebentar. “Itu justru bagiannya.”
Aku terlambat empat menit ke minimarket.
Mas Yuda melirik jam, melirikku, melirik seragamku yang basah dan termos di tanganku.
Lalu dia kembali menghitung laci dan tidak bilang apa-apa.
Jam sepuluh, sepi, aku duduk di kursi kasir dan mengeluarkan struk bekas dari laci.
Aku menulis:
— nggak boleh minta maaf kalau ketiduran
— dia nggak mau dibangunin
— dia bilang aku udah bener padahal aku belum ngapa-ngapain
Aku menatap baris ketiga cukup lama.
Lalu aku melipat struk itu dua kali dan memasukkannya ke saku dalam tasku, ke tempat yang sama.
Sekarang ada dua lembar di sana.
Jam sebelas empat puluh aku pulang.
Air putih di meja, ditutup piring kecil. Sandal di depan pintu, menghadap keluar.
Dan di kasur, di ujung, Sekar tidur membelakangi tembok dengan tangan di dada.
Aku berdiri di ambang kamar cukup lama.
Aku ingin membangunkannya. Aku ingin bilang aku tahu. Aku ingin bilang bahwa dua puluh lima menit jalan kaki itu terlalu jauh untuk anak empat belas tahun di jalan yang lampunya mati sebagian, dan bahwa dia tidak perlu melakukan itu, dan bahwa dia tidak boleh melakukan itu lagi.
Tapi kalau aku bilang, dia berhenti.
Dan kalau dia berhenti, dia akan mencari cara lain untuk melakukan hal yang sama, karena begitulah dia, dan cara lain itu mungkin lebih tersembunyi dan lebih berat dan aku tidak akan pernah tahu.
Jadi aku berdiri di ambang pintu, dan aku tidak mengatakan apa-apa.
Aku cuma mengambil selimut yang tergeser dari kakinya, dan menaruhnya kembali.
Cuma sampai lutut.
Kalau sampai bahu, dia bangun.
Aku sudah tahu itu sejak dia umur sembilan tahun.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu reading
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu