Chapter Twenty Six
Kencan Empat Puluh Menit
POV: Aries
Hari itu Rabu, dan aku sudah memutuskan sesuatu sejak Senin.
Aku akan membeli sesuatu.
Aku ingin menuliskan itu dengan benar, karena kalau dibaca sekilas kedengarannya seperti bukan apa-apa. Membeli sesuatu. Semua orang membeli sesuatu setiap hari.
Terakhir kali aku membeli sesuatu yang bukan untuk dimakan bersama, yang bukan untuk adikku, yang bukan kebutuhan — aku umur empat belas tahun.
Tiga tahun.
Bukan karena aku tidak pernah punya uang di tangan. Aku memegang uang setiap hari. Aku memegang uang orang lain di kasir minimarket delapan jam seminggu.
Tapi setiap kali ada uang yang jadi milikku, uang itu sudah punya nama sebelum sampai ke tanganku.
Listrik. Beras. Buku Lintang. Seragam Bumi. Kaleng biskuit.
Tidak pernah ada uang yang belum punya nama.
Aku mulai menghitungnya hari Senin malam, di kursi kasir, di atas struk bekas.
Es krim 2 × 6.000 = 12.000
Aku menatap angka itu.
Dua belas ribu.
Dua belas ribu itu satu setengah jam kerja di minimarket. Dua belas ribu itu setengah dari uang buku Lintang bulan lalu. Dua belas ribu itu enam bungkus mi instan.
Aku memikirkannya selama dua hari.
Aku ingin kalian tahu itu. Dua hari. Untuk dua belas ribu rupiah.
Dan yang akhirnya membuatku memutuskan bukan keberanian.
Yang membuatku memutuskan adalah aku ingat kalimat adikku di dapur: “Kalau aku bikinin teh terus Mas nggak minum, Mas kira aku mikirin tehnya?”
Kalau aku tidak pernah memberi apa pun, Claudia tidak akan berpikir aku sedang berhemat.
Dia akan berpikir dia tidak masuk hitungan.
Rabu jam setengah tujuh, aku sampai di undakan lebih dulu.
Itu pertama kalinya. Biasanya dia yang lebih dulu.
Aku duduk dengan dua es krim di tangan, dan aku sudah membelinya lima menit sebelumnya di warung ujung jalan, dan aku baru menyadari kesalahan besarku di menit ketiga.
Es krim mencair.
Aku tahu es krim mencair. Semua orang tahu es krim mencair. Aku bukan orang bodoh.
Tapi aku menghabiskan dua hari memikirkan harganya dan nol detik memikirkan suhunya, dan sekarang ada cairan cokelat yang mulai merembes keluar dari bungkusnya dan turun ke tanganku.
Aku memindahkannya ke tangan kiri.
Lalu ke tangan kanan lagi.
Lalu aku berdiri dan mencari tempat yang lebih teduh, yang tidak ada.
Jam enam empat puluh dua, ojek berhenti di ujung jalan.
Dan waktu Claudia jalan mendekat, dia melihat seorang laki-laki berdiri di trotoar memegang dua es krim yang meleleh di kedua tangannya dengan wajah orang yang baru saja gagal ujian nasional.
“...Ries?”
“Ini buat kamu.”
“Kenapa dua?”
“Satu buat aku.”
“Oh.” Dia mengambil satu. “Kok tangan kamu—”
“Meleleh.”
“Iya, aku lihat.”
“Aku beli lima menit lalu.”
“Ries.”
“Aku nggak kepikiran suhunya.”
Dan dia mulai tertawa.
“Claudia.”
“Maaf—”
“Ini masalah teknis.”
Dan itu membuatnya makin parah, seperti biasa.
Kami duduk di undakan.
Es krimku sudah tinggal setengah bentuk. Aku memakannya cepat-cepat, dari bawah, karena kalau dari atas dia akan jatuh.
Claudia memakannya pelan sekali, dan aku curiga dia melakukannya sengaja.
“Ries.”
“Hm.”
“Ini kamu beli pakai uang kamu?”
“Iya.”
“Bukan kembalian?”
“Bukan.”
Dia berhenti mengunyah.
“Berapa?”
“Dua belas ribu.”
“Untuk dua?”
“Iya.”
Dan dia diam.
Dan aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya, dan aku panik, karena aku pikir aku salah lagi.
“Kalau kamu nggak suka rasanya, aku bisa—”
“Ries.”
“—warung sebelah ada yang lain, cuma delapan ribu—”
“Aries.”
Aku berhenti.
“Kamu mikirin ini berapa lama?”
Aku mempertimbangkan untuk berbohong.
“...Dua hari.”
Dia menoleh cepat.
“Dua hari?”
“Iya.”
“Buat es krim dua belas ribu?”
“Iya.”
Dan dia menatapku dengan mata yang sudah mulai berair, dan aku bersumpah aku tidak mengerti bagian mana yang menyedihkan, dan aku bilang begitu.
“Aku nggak ngerti kenapa kamu mau nangis.”
“Aku nggak nangis.”
“Kamu mau nangis.”
“Aku nggak—” Dia menghapus matanya dengan pergelangan tangan, karena jarinya lengket. “Ya Tuhan, Ries.”
“Apa?”
“Nggak apa-apa.”
“Itu bukan jawaban.”
“Iya,” katanya. “Aku belajar dari kamu.”
Kami duduk di trotoar itu empat puluh menit.
Lalu lintasnya ramai jam segitu. Ada anak-anak SMP lewat naik sepeda. Ada penjual bakso dorong yang lewat setiap malam jam tujuh lewat sepuluh, persis, sampai aku bisa mengecek jam dari suaranya.
Kami tidak melakukan apa-apa.
Aku ingin mencatat itu karena penting: kami benar-benar tidak melakukan apa-apa.
Kami duduk di undakan semen di depan toko kelontong yang sudah tutup, memakan es krim yang setengahnya sudah menjadi cairan, dan Claudia bercerita tentang Nadin yang sekarang tidak berhenti bertanya tentang Bumi setiap hari, dan aku bilang “hm”, dan dia bercerita lagi.
Jam delapan kurang lima aku berdiri.
“Aku masuk.”
“Iya.”
“Makasih ya.”
Dia menatapku. “Makasih buat apa?”
“Buat dateng.”
“Ries, aku dateng tiap hari.”
“Iya.” Aku menyandang tasku. “Makasih.”
Jam sepuluh, minimarket sepi.
Aku duduk di kursi kasir dan mengeluarkan struk bekas dari laci.
Aku menulis:
— es krim mencair. lain kali beli di deket.
— dia makannya pelan. sengaja?
— 12.000 (keluar dari uang jajan, bukan pos lain)
Aku menatap baris ketiga.
Dan aku merasa sesuatu yang aneh, dan butuh beberapa menit sampai aku tahu apa itu.
Aku tidak menyesal.
Itu saja. Cuma itu.
Dua belas ribu keluar, dan tidak ada bagian di dalam kepalaku yang menghitung ulang, tidak ada bagian yang bilang itu bisa buat mi enam bungkus, tidak ada bagian yang mencari cara menggantinya besok.
Tiga tahun aku menyesali setiap rupiah yang keluar untuk hal yang tidak bisa dimakan.
Malam itu tidak.
Aku menulis satu baris lagi di bawahnya:
— nggak nyesel
Lalu aku melipat struknya dan memasukkannya ke saku dalam tas.
Sekarang ada sembilan lembar.
Jam sebelas kurang seperempat, waktu aku mengepel lantai, HP-ku bergetar.
Ries.
Hm?
Tadi itu kencan pertama kita.
Aku berhenti mengepel.
Aku membaca ulang.
Kencan?
Iya.
Yang tadi?
Iya.
Di trotoar?
Iya.
Aku berdiri di tengah minimarket dengan gagang pel di satu tangan dan HP retak di tangan lain, dan aku memproses ini seperti orang memproses tagihan yang tidak dia rasa pernah dia pesan.
Kencan itu — sepengetahuanku, dari daftar Bang Jecky, dari sinetron Sekar, dari tiga puluh delapan juta hasil pencarian — kencan itu punya bentuk.
Ada tempatnya. Ada bajunya. Ada uangnya. Minimal lima puluh ribu, kata daftar itu, dan daftar itu sudah dicoret tapi angkanya masih ada di kepalaku.
Yang tadi tidak punya bentuk apa pun.
Yang tadi adalah dua orang duduk di semen sambil memakan es krim yang meleleh.
Aku nggak nyiapin apa-apa.
Aku tau.
Aku nggak tau itu kencan.
Aku tau.
Kalau aku tau, aku bakal nyiapin.
Dan balasannya butuh waktu lama.
Ries, itu justru kenapa itu kencan.
Aku membaca kalimat itu.
Lalu aku membacanya lagi.
Lalu aku memasukkan HP ke saku dan menyelesaikan mengepel dan mengunci pintu dan menghitung laci bersama supervisor, dan sepanjang itu aku memikirkan satu hal:
Kalau yang tadi kencan, berarti aku sudah berkencan sekali.
Dan aku baru tahu satu jam setelah kencannya selesai.
Jam sebelas empat puluh aku pulang.
Air putih di meja, ditutup piring kecil. Sandal menghadap keluar.
Aku duduk di lantai. Punggung ke dinding. Sepuluh detik.
Lalu aku bangun dan pergi ke kamar dan mengguncang bahu adikku.
“Sekar.”
“...Hm.”
“Sekar, bangun.”
Dia membuka mata. “Kenapa? Bumi kenapa?”
“Nggak, Bumi nggak apa-apa.”
“Terus kenapa?”
Aku berjongkok di samping kasur.
“Kencan itu apa?”
Sekar menatapku selama beberapa detik dalam gelap.
“Mas.”
“Iya.”
“Ini jam sebelas empat puluh lima malem.”
“Iya.”
“Mas bangunin aku buat nanya kencan itu apa.”
“Iya.”
Dia menarik selimutnya ke atas kepala.
“Sekar.”
“Kencan itu kalau dua orang keluar bareng terus seneng,” katanya dari balik selimut. “Udah. Tidur.”
“Cuma itu?”
“Cuma itu.”
“Nggak ada syaratnya?”
“Nggak ada.”
“Nggak ada minimal harganya?”
Selimut itu turun.
Adikku menatapku dari kasur, dalam gelap, dan aku bisa melihat matanya berkilat sedikit karena lampu ruang depan.
“Mas beli apa?”
“Es krim.”
“Berapa?”
“Enam ribu satu.”
Dia diam.
Lalu dia menarik selimutnya lagi ke atas kepala dan berkata, dengan suara yang teredam dan aneh:
“Ya udah. Itu kencan.”
“Sekar—”
“Tidur, Mas.”
Aku berdiri dan keluar.
Dan di ambang pintu, aku mendengarnya menarik napas — sekali, agak dalam, dengan cara yang tidak seperti orang mau tidur.
Aku hampir berbalik.
Aku tidak berbalik.
Dan aku sudah memikirkan malam itu ratusan kali sejak saat itu, dan setiap kali aku berpikir: aku berdiri di ambang pintu kamar adikku sendiri, di jarak dua meter, di bulan Mei.
Dua meter.
Dan di bawah tumpukan baju di lemari yang jaraknya satu meter lebih dekat lagi dariku, ada kertas yang dilipat empat, sudah menguning di lipatannya, dengan batas pengembalian tanggal dua puluh delapan Februari.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit reading
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu