← Giliranmu Istirahat

Chapter Forty Four

Kalau Aku Nyeberang Malam Itu

POV: Gita


Sabtu ketiga puluh satu.

Aku tahu angkanya karena aku mengetiknya di kalender HP-ku setiap Sabtu sejak bulan April, dan aku tidak pernah melewatkan satu pun.

Tiga puluh satu.

Dan aku ingat berpikir, di angkot menuju gang pagi itu: dua puluh satu lagi.

Dua puluh satu Sabtu lagi sampai lima puluh dua.

Dan setelah itu aku akan mulai lagi dari satu, karena itulah yang kujanjikan di undakan bulan April kepada anak perempuan berumur empat belas tahun yang tidak menerima permintaan maaf.


Hari itu tidak istimewa.

Aku mengajari Sekar dua jam. Fisika. Dia sudah lebih cepat dariku di beberapa bab dan kami berdua tahu itu dan tidak ada yang menyebutkannya.

Aku menemani Lintang mengerjakan tugas prakarya yang melibatkan lem dan sedotan dan kesabaran.

Bumi duduk di pangkuanku selama dua puluh menit sambil memainkan mobil-mobilan beroda tiga yang sama, yang sekarang sudah beroda dua.

Aku pulang jam lima sore.

Dan Aries mengantarku ke mulut gang.


Dia mulai melakukan itu sejak bulan September.

Aku tidak tahu kapan persisnya dimulai, dan aku tidak pernah bertanya. Dia cuma mulai berdiri waktu aku berdiri, dan jalan di sebelahku sampai mulut gang, dan berdiri di sana sampai angkotku datang.

Dua puluh langkah.

Setiap Sabtu.

Dan selama dua puluh langkah itu kami biasanya membicarakan hal-hal seperti: Lintang butuh sepatu baru, Sekar ada ujian bulan depan, apakah Bumi harus daftar TK B tahun ini atau tahun depan.

Hari itu berbeda.

Di langkah kelima, dia bilang:

“Git.”

“Hm?”

“Aku mau ngomong sesuatu.”

Dan aku berhenti jalan, karena aku sudah kenal anak ini satu setengah tahun dan dia tidak pernah bilang “aku mau ngomong sesuatu”.


“Kenapa?”

“Soal bulan September.”

“Kenapa?”

Dan dia berhenti juga, dan berdiri di gang itu, dan menghadapku.

“Aku baru lihat mapnya minggu lalu,” katanya. “Yang delapan surat itu.”

Aku menaruh tasku di bahu yang satunya.

“Oh. Itu nggak jadi dipakai.”

“Aku tau.”

“Rapatnya keburu selesai.”

“Aku tau, Git.”

“Jadi itu nggak—”

“Kamu ngetik delapan surat.”

Aku menutup mulutku.

“Aku baca semuanya,” katanya. “Delapan-delapannya beda. Kamu nggak copy paste.”

“Ya emang harus beda—”

“Yang punya Bu Ning tiga paragraf.” Dia menatapku. “Yang punya Mbah Tun kamu tulis dalam bahasa Jawa dulu terus kamu terjemahin di bawahnya, biar beliau bisa baca sendiri sebelum tanda tangan.”

Aku tidak bicara.

“Kamu keliling delapan rumah?”

“Bukan aku. Bu Ratmi.”

“Bu Ratmi keliling. Kamu yang nulis.” Dia mengangguk pelan. “Delapan surat, Git. Sama kop, sama tanggal, sama tempat tanda tangan, sama kolom stempel RT.”

“Aries—”

“Berapa lama kamu ngerjainnya?”

Dan aku bilang, “Nggak lama.”

Dan dia bilang, “Git.”

Dan aku bilang, “Dua malam.”


Kami berdiri di gang itu.

Ada anak-anak main bola plastik di ujung. Ada bunyi gerinda dari bengkel Pak Somad. Bau gorengan dari warung.

“Makasih ya,” katanya.

“Nggak apa-apa.”

“Bukan cuma buat suratnya.”

“Aries—”

“Buat tiga puluh satu Sabtu.”

Dan aku menoleh cepat.

“Kamu ngitung?”

Dan Aries Kurniawan bilang, dengan wajah yang paling biasa di dunia:

“Aku ngitung semuanya, Git. Kamu udah tau itu.”


Dan lalu dia bertanya.

Dia tidak bermaksud apa-apa. Aku tahu itu. Aku tahu itu waktu itu juga, dan aku masih tahu itu sekarang, dan itu tidak mengurangi apa pun.

Dia bertanya karena dia sedang belajar bertanya.

Karena seseorang mengajarinya, di undakan semen depan toko kelontong yang sudah tutup, bahwa kau harus bertanya kepada orang tentang diri mereka sendiri, bukan cuma tentang hal-hal yang harus kau urus.

Dan dia sedang berlatih.

Dan dia berlatih ke arahku.

“Git.”

“Hm?”

“Kenapa kamu mau ngelakuin semua itu?”


Aku punya jawabannya.

Tentu saja aku punya. Aku sudah menyiapkannya sejak bulan April.

Karena aku salah dulu dan aku mau nebus.

Aman. Benar. Bisa dipakai kapan saja. Sudah kupakai ke Mama, ke Vira, ke diriku sendiri di angkot ratusan kali.

Dan aku membuka mulutku untuk mengucapkannya.

Dan aku tidak bisa.

Aku ingin menuliskan alasannya karena aku sudah memikirkannya selama berbulan-bulan sesudahnya.

Aku tidak bisa karena dia baru saja bilang tiga puluh satu.

Karena selama sembilan belas minggu aku memakai aturan-aturanku sebagai dinding, dan salah satu asumsi terbesar di balik dinding itu adalah bahwa dia tidak memperhatikan.

Itu yang membuatnya bisa ditanggung.

Dia tidak memperhatikan, jadi tidak ada yang perlu dijelaskan, jadi aku bisa datang setiap Sabtu selamanya.

Dan dia baru saja bilang tiga puluh satu.

Dan dindingnya jatuh dalam satu detik.


“Aries.”

“Hm?”

“Aku boleh nanya sesuatu?”

“Boleh.”

Dan aku berdiri di Gang Kenanga jam lima sore, dua puluh langkah dari rumah nomor tujuh, dengan tas di bahu dan angkot yang akan lewat dua belas menit lagi.

Dan aku bertanya.

“Bulan Juni tahun lalu,” kataku. “Malem. Kamu lagi nurunin galon di samping minimarket.”

Dia menatapku.

“Truknya bak terbuka. Ada bapak-bapak di atas. Kamu yang nurunin ke gudang.” Suaraku entah bagaimana tetap rata. “Kamu masih pakai seragam sekolah. Lengannya digulung sampai siku.”

“Git—”

“Di galon kedua puluh kamu berhenti.” Aku menatap tanah. “Kamu taruh tangan kanan kamu di pinggang. Satu setengah detik. Terus kamu angkat lagi.”

Dia tidak bergerak.

“Aku di seberang jalan,” kataku.


Ada tiga detik di mana tidak ada yang terjadi.

Lalu dia berkata, pelan: “Kamu lihat?”

“Sepuluh menit.”

“Sepuluh menit?”

“Jam delapan lewat empat belas sampai jam delapan dua puluh empat.” Aku mengangkat kepalaku. “Aku screenshot jamnya. Aku masih simpen.”

“Git, kenapa kamu nggak—”

“Itu yang mau aku tanyain.”

Dan aku menatapnya, dan aku mengucapkan kalimat yang sudah kusiapkan selama satu tahun tiga bulan tanpa pernah tahu bahwa aku sedang menyiapkannya:

“Kalau aku nyeberang malam itu, bakal beda nggak?”


Dan aku ingin mencatat sesuatu di sini.

Aku tidak mengatakan aku suka sama kamu.

Aku tidak akan pernah mengatakannya. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri di aplikasi catatan HP-ku, aturan nomor empat, yang kuhapus bukan karena aku melanggarnya tapi karena aku sudah mengucapkannya kepada orang yang tepat, di depan bak cuci semen, di piring ketiga belas.

Aku bertanya tentang jalan.

Enam meter. Empat langkah.

Dan kami berdua tahu bahwa aku tidak sedang bertanya tentang jalan.


Aries Kurniawan berdiri di gang itu dan tidak menjawab selama lama sekali.

Aku menghitung. Aku selalu menghitung.

Dua puluh dua detik.

Dan aku ingin mencatat bahwa dua puluh dua detik itu bukan penghinaan.

Dia tidak sedang mencari cara halus untuk menolak.

Aku sudah kenal wajah itu. Itu wajah orang yang membuka spreadsheet di kepalanya dan benar-benar mengerjakan soalnya, dan aku tahu — aku tahu dengan pasti — bahwa apa pun yang keluar setelah dua puluh dua detik itu adalah jawaban yang sebenarnya.

Dan aku ingin jawaban yang sebenarnya.

Itu satu-satunya hal yang selalu kuinginkan dari dia, sejak bulan Februari, sejak aku berdiri di depan kelas dan menuntutnya empat kali dan dapat kata maaf empat kali.

Aku cuma pernah minta satu hal dari Aries Kurniawan seumur hidupku.

Aku minta dia berhenti bilang nggak apa-apa.


“Nggak,” katanya.

Satu kata.

Dan aku mengangguk, dan aku merasakan sesuatu turun di dalam dadaku dengan sangat pelan, seperti gelas yang akhirnya sampai ke lantai setelah setahun bergeser dari tepi meja.

“Oke,” kataku.

“Git.”

“Nggak apa-apa. Aku cuma—”

“Aku belum selesai.”

Aku mengangkat kepalaku.


“Aku mau jelasin,” katanya. “Boleh?”

“...Boleh.”

Dan dia berdiri di gang itu, dengan tangan di sisi badannya, dan dia berkata:

“Bukan karena Claudia lebih baik dari kamu.”

“Aries, kamu nggak usah—”

“Aku belum selesai, Git.”

Dan dia menarik napas.

“Kamu inget kamu dateng ke sini pertama kali kapan?”

“April.”

“Kenapa kamu dateng?”

Dan aku diam.

“Git.”

“...Karena aku ngerasa bersalah.”

“Iya,” katanya. “Dan itu bukan hal jelek.”

Dia menatap tanah.

“Rasa bersalah itu bagus, Git. Serius. Itu artinya kamu masih bener.” Dia mengangkat bahu. “Aku nggak ngeremehin itu.”

“Terus?”

Dan dia bilang:

“Tapi rasa bersalah itu selalu tentang orang yang ngerasain.”


Aku tidak bisa bicara.

“Waktu kamu berdiri di seberang jalan,” katanya, “kamu lagi mikirin aku?”

Dan aku ingin bilang iya.

Aku ingin sekali bilang iya, dan aku sudah membuka mulutku, dan lalu aku ingat apa yang kutulis sendiri di catatan HP-ku setahun yang lalu.

Versi pertama: aku nggak mau ganggu, dia lagi kerja.
Versi kedua: aku nggak mau dia malu.
Versi ketiga: aku takut dia nggak mau ngomong sama aku.

Semuanya bohong.

Alasan yang sebenarnya adalah: kalau aku menyeberang, dia akan bilang “nggak apa-apa, Git”, dan aku tidak akan sanggup mendengar itu.

Aku berdiri di gang itu.

“...Enggak,” kataku.

Dan Aries mengangguk.

Bukan menang. Tidak ada kemenangan di wajahnya sama sekali.

Dia mengangguk seperti orang yang sedang membantumu memeriksa soal yang salah.


“Claudia dateng ke sini gara-gara salah alamat,” katanya.

“Aku tau.”

“Terus Bu Ratmi nyuruh dia makan, dan dia nggak boleh pulang sebelum makan, dan dia nunggu aku sampe jam sebelas empat puluh malem.”

“Aku tau, Aries.”

“Aku nggak kenal dia waktu itu.” Dia menatapku. “Delapan bulan sekelas dan aku nggak tau nama panggilannya.”

“Terus?”

Dan dia bilang:

“Dia nggak punya alasan apa-apa, Git.”

Dia mengangkat tangannya sedikit lalu menurunkannya lagi.

“Dia nggak ngerasa bersalah sama aku. Dia nggak kasihan sama aku — dia nggak tau apa-apa buat kasihan. Dia nggak lagi nebus apa-apa.” Dia menggeleng. “Dia cuma nggak mau pulang.”

“Kenapa?”

“Karena rumahnya sepi.”

Dan Aries Kurniawan berkata:

“Dia dateng buat dirinya sendiri, Git. Dan itu satu-satunya alasan yang nggak bisa habis.”


Aku berdiri di gang itu selama beberapa detik.

“Rasa bersalah bisa lunas,” katanya, pelan. “Kasihan bisa capek. Nebus ada ujungnya.”

Dia menatap tanah.

“Sepi nggak ada ujungnya.”


Dan aku ingin menuliskan bahwa aku membantah.

Aku tidak membantah.

Karena Sekar sudah mengatakan hal yang sama kepadaku, dengan kalimat yang berbeda, di undakan depan rumah itu, delapan belas bulan lalu, waktu aku baru datang dan masih menganggap diriku sedang menolong seseorang:

“Besok Kakak bakal ngerasa lebih enak. Terus lusa lebih enak lagi. Terus Kakak berhenti.”

Anak empat belas tahun itu sudah melihatnya di hari pertama.

Dan kakaknya, satu setengah tahun kemudian, mengucapkannya lagi kepadaku di gang yang sama, dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa mereka mengucapkan kalimat yang sama.


“Git.”

“Hm.”

“Aku mau bilang satu hal lagi, dan aku nggak tau caranya bilang yang bener, jadi maaf kalau salah.”

“Bilang aja.”

Dan dia bilang:

“Kamu berhenti dateng karena rasa bersalah dari lama.”

Aku menoleh.

“Aku nggak tau kapan,” katanya. “Tapi aku tau. Karena orang yang dateng karena bersalah nggak bakal duduk di lantai ngajarin anak kelas empat bikin prakarya dari sedotan.”

Dan aku merasakan sesuatu pecah di suatu tempat di dalam dadaku, pelan, tanpa suara.

“Aku nggak tau kamu dateng karena apa sekarang,” katanya. “Itu urusan kamu, bukan urusan aku.”

Dia menatapku.

“Tapi apa pun itu, itu bukan rasa bersalah lagi. Dan itu jauh lebih berharga.”


Kami berdiri di gang itu.

Dan aku bertanya satu hal terakhir, dan aku bertanya dengan suara yang sudah tidak rata:

“Aries.”

“Hm.”

“Kalau aku berhenti dateng, gimana?”

Dan dia menjawab tanpa jeda sama sekali — tanpa dua puluh dua detik, tanpa spreadsheet, tanpa menghitung:

“Sekar bakal hancur.”

Aku menutup mataku.

“Lintang bakal nanya tiap Sabtu selama sebulan terus berhenti nanya, dan yang berhenti nanya itu lebih parah.” Suaranya pelan. “Bumi bakal ngasih mobil-mobilannya ke orang lain, dan dia cuma punya satu.”

Dia diam sebentar.

“Dan aku bakal kehilangan satu-satunya orang yang bisa baca surat resmi di rumah ini.”

Dan lalu dia bilang, dan ini bagian yang membuatku hampir tidak sanggup berdiri:

“Tapi itu bukan alasan buat kamu tetep dateng, Git.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Kalau kamu perlu berhenti, berhenti.” Dia menatapku lurus. “Kami bakal baik-baik aja. Kami udah baik-baik aja sebelum kamu dateng.”

“Aries—”

“Dan aku nggak akan nanya kenapa.”


Angkotku datang jam lima lewat dua puluh.

Aku naik.

Dan sepanjang dua puluh langkah dari tempat kami berdiri sampai mulut gang, tidak ada satu pun sentuhan.

Tidak ada tangan di bahu. Tidak ada pelukan. Tidak ada apa pun.

Delapan belas bulan aku mengenal laki-laki itu dan kami tidak pernah bersentuhan sekali pun, dan aku baru menyadarinya di dalam angkot, dan aku menyadarinya bersamaan dengan menyadari bahwa dia melakukannya dengan sengaja.

Dia tahu.

Entah sejak kapan, entah dari mana, mungkin dari Sekar, mungkin dari Bang Jecky, mungkin dia menghitungnya sendiri seperti dia menghitung semua hal.

Dia tahu.

Dan dia tidak pernah mengatakannya, tidak sekali pun, tidak hari itu juga.

Karena kalau dia mengatakannya, aku harus membalas.

Dan kalau aku membalas, aku harus pergi.

Dan dia memilih untuk tidak pernah membuatku harus pergi.


Di dalam angkot, aku membuka HP-ku.

Aku membuka galeri. Aku menggulirnya ke bawah, jauh, sampai Juni tahun lalu.

Tangkapan layar jam.

20:14

20:24

Aku menatap dua gambar itu.

Lalu aku menghapusnya.

Dua-duanya.

Dan aku menutup HP-ku dan menempelkan dahi ke kaca angkot, dan aku tidak menangis, karena angkot itu penuh dan karena aku sudah memutuskan di mana aku akan menangis.

Aku menyimpannya sampai sampai rumah.

Aku selalu menyiapkan segalanya.

Bahkan itu.