Chapter Thirty
Tanpa Peringatan
POV: Aries
Sekolah berubah setelah Bumi datang, dan aku tidak menyukainya.
Aku tahu itu terdengar tidak berterima kasih. Aku sudah memikirkannya berulang kali dan aku tetap tidak bisa menemukan cara mengatakannya yang tidak terdengar tidak berterima kasih.
Tapi begini bentuknya.
Hari pertama setelahnya, ada roti di atas mejaku waktu aku masuk kelas. Tidak ada namanya.
Hari kedua, dua roti dan satu susu kotak.
Hari ketiga, Ridho menghampiriku waktu istirahat dan bilang, “Ries, kelompok tugas Sosiologi, lo nggak usah dateng. Gue masukin nama lo.”
“Dho, aku bisa—”
“Nggak usah, udah kelar.”
“Aku bisa ngerjain bagian aku di rumah.”
“Ries.” Dia menepuk bahuku. “Santai aja kali.”
Dan dia pergi.
Dan aku duduk di bangku belakang dekat jendela dan merasakan sesuatu yang tidak enak di dasar perut, dan butuh dua hari untuk aku menemukan namanya.
Namanya sama seperti yang kurasakan waktu gang itu berhenti memanggilku.
Aku mencoba menjelaskannya ke Claudia di undakan hari Rabu.
“Mereka baik,” kataku.
“Iya.”
“Aku tau mereka baik.”
“Iya.”
“Tapi—”
Aku berhenti.
“Tapi apa?”
“Nggak jadi.”
“Ries.”
“Nanti kamu bilang aku nggak tau diri.”
Claudia menaruh es krimnya — dia yang membeli hari itu, dan dia membelinya di warung sepuluh meter dari undakan supaya tidak meleleh, dan dia melakukannya tanpa berkomentar apa-apa, dan aku memperhatikan itu.
“Aries.”
“Hm.”
“Aku nggak akan pernah bilang gitu.”
Jadi aku bilang.
“Aku bukan orang yang perlu dikasih roti,” kataku.
Dia menoleh.
“Aku orang yang ngasih roti,” kataku. “Dari umur empat belas. Itu satu-satunya yang aku bisa.”
Aku menatap trotoar.
“Dan sekarang tiga puluh empat orang di kelas tiba-tiba mikir aku ini yang lain.”
Claudia tidak bicara selama beberapa detik.
Lalu dia bertanya, “Kamu mau aku bilangin mereka biar berhenti?”
Dan aku hampir bilang iya.
Aku hampir. Aku sudah membuka mulut.
Lalu aku ingat adikku di dapur: “Kalau aku bikinin teh terus Mas nggak minum, Mas kira aku mikirin tehnya?”
“...Nggak usah,” kataku.
“Kenapa?”
“Karena mereka bukan lagi mikirin rotinya.”
Dan Claudia tersenyum ke arah jalan, cukup lama, dan tidak berkata apa-apa.
Ada hal lain yang berubah minggu itu, dan yang ini aku benar-benar tidak mengerti.
Claudia mulai membuatku makan.
Bukan menawarkan. Bukan bertanya. Membuat.
Hari Senin dia datang ke undakan membawa dua bungkus nasi dan bilang, “Aku beli dua tadi, salah pesen.”
Hari Selasa, “Aku nggak habis. Kamu abisin.”
Hari Rabu, di kelas, jam istirahat, dia menaruh setengah bekalnya di kertas dan mendorongnya ke mejaku tanpa bicara.
Hari Kamis dia datang ke minimarket jam sembilan malam — bukan hari kerjanya — membawa satu kotak nasi, menaruhnya di meja belakang, dan pulang lagi dalam empat menit.
Empat menit. Ongkos ojek lima puluh ribu.
Hari Jumat aku bertanya.
“Claudia.”
“Hm?”
“Kamu kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Lima hari.”
“Lima hari apa?”
“Kamu ngasih makan aku lima hari berturut-turut.”
Dan dia — yang biasanya punya jawaban ringan untuk semuanya — berhenti menggerakkan tangannya.
“Salah?” katanya.
“Nggak salah. Cuma aneh.”
“Kenapa aneh?”
“Karena kamu nggak pernah gitu sebelumnya.” Aku menatapnya. “Kamu selalu nunggu aku ambil sendiri. Kamu nggak pernah maksa.”
Dia menatap jalan.
“Terus sejak hari Minggu kamu maksa,” kataku.
Dan aku melihat sesuatu bergerak di rahangnya.
“Claudia.”
“Hm.”
“Hari Minggu ada apa?”
“Nggak ada apa-apa.”
“Kamu dateng jam setengah tujuh pagi.”
“Aku nggak bisa tidur.”
“Kamu ke kamar Lintang.”
Dia menoleh cepat.
“Lintang cerita?”
“Nggak.” Aku menggeleng. “Aku lihat kamu keluar dari sana. Matanya merah dua-duanya.”
Claudia tidak bicara.
Angkot lewat. Anak-anak SMP naik sepeda. Penjual bakso dorong, jam tujuh lewat sepuluh, persis.
“Ries.”
“Hm.”
“Nanti aku cerita.”
“Kapan?”
“Nanti.”
“Itu bukan jawaban.”
“Iya.” Dia mengambil tasnya. “Aku belajar dari kamu.”
Hari Senin berikutnya, gerbang sekolah, jam dua siang.
Bel pulang sudah bunyi lima menit lalu. Gerbangnya penuh — anak-anak keluar, ojek berjejer, tukang cilok, tukang es.
Aku sedang mengeluarkan HP untuk mengecek orderan sore.
“Ries.”
Aku menoleh.
Claudia berdiri di jarak dua meter.
Dan wajahnya — aku tidak akan pernah bisa mendeskripsikan wajahnya dengan benar. Yang paling dekat adalah: wajah orang yang sudah memutuskan sesuatu dan sedang menghitung mundur.
“Kenapa?”
Dia tidak menjawab.
Dia jalan dua langkah.
Dan memelukku.
Aku tidak bergerak.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur karena kalau aku menuliskannya dengan indah aku sedang berbohong.
Aku tidak bergerak sama sekali. Nol. Tanganku tetap di sisi badanku. HP masih di tangan kanan, layar menyala, aplikasi orderan terbuka.
Otakku benar-benar berhenti.
Bukan malu. Bukan panik. Berhenti. Seperti komputer yang diberi perintah yang tidak ada di dalam sistemnya.
Ada suara di sekitar. Ada anak-anak yang lewat. Ada satu suara yang bilang “WOY” dari arah parkiran.
Aku mendengar semuanya, dari jauh, seperti dari balik dinding.
Dan yang kupikirkan — satu-satunya hal yang kupikirkan selama tiga detik pertama — adalah:
Kausku bau.
Aku bongkar muat jam setengah lima pagi. Aku cuci piring jam dua belas. Aku belum ganti baju.
Dan hal pertama yang bisa dilakukan otakku dengan situasi itu adalah menghitung bau.
“Claudia.”
Dia tidak menjawab.
“Claudia, ini di gerbang.”
Dia tidak melepaskan.
“Orang lihat.”
“Biarin.”
“Bajuku—”
“Aries.”
Aku menutup mulutku.
Dan lalu aku merasakan sesuatu yang membuatku diam sungguhan.
Tangannya di punggungku.
Bukan melingkar biasa. Jari-jarinya terbuka, ditekan ke punggungku, dan bergerak sedikit — pelan, ke atas, lalu ke samping.
Seperti orang yang sedang mencari sesuatu.
Atau mengecek sesuatu.
Aku pernah merasakan gerakan seperti itu sebelumnya. Waktu aku umur sepuluh, waktu aku jatuh dari pohon jambu, dan Ibu meraba punggungku dengan cara yang sama untuk memastikan tidak ada yang patah.
“Claudia.”
“Hm.”
“Kamu ngapain?”
Dan tangannya berhenti.
“Nggak apa-apa,” katanya.
Dan dia melepaskan.
Wajahnya waktu melepaskan itu yang membuatku tidak bisa tidur malam itu.
Bukan merah. Bukan malu. Dia bahkan tidak terlihat canggung.
Dia terlihat seperti orang yang baru saja mendapat kabar buruk dan sedang berusaha keras supaya tidak terlihat.
“Ries.”
“Iya?”
“Kamu makan siang belum?”
“Nanti di rumah—”
“Belum, ya.”
“Claudia—”
Dia mengeluarkan bungkusan dari tasnya.
Sudah disiapkan. Sudah ada di sana sejak pagi.
“Makan sekarang,” katanya. “Di depan aku.”
“Aku ada orderan jam tiga.”
“Sekarang.”
Dan aku makan, berdiri di trotoar depan gerbang sekolah jam dua siang, sambil dilihati sekitar dua puluh orang, karena aku tidak tahu cara menolak orang yang sudah menyiapkan sesuatu sejak pagi.
Malamnya, di minimarket, jam sepuluh.
Aku mengeluarkan struk bekas.
Aku duduk di kursi kasir dan aku memegang pulpen dan aku tidak menulis apa-apa selama hampir sepuluh menit.
Lalu aku menulis:
— tangannya gerak di punggung
Aku menatap kalimat itu.
— kayak nyari sesuatu
Aku menatapnya lagi.
— minggu pagi dia ke kamar lintang
— sejak itu dia maksa aku makan
— dia bilang nanti cerita
Dan lalu aku menulis satu baris terakhir, dan aku menulisnya dengan tangan yang tidak stabil, dan aku merobek bagian bawah struknya sedikit karena aku menekan terlalu keras:
— ada yang mereka tau dan aku nggak
Aku melipat struk itu.
Sekarang ada dua puluh satu lembar di saku dalam tasku.
Aku pulang jam sebelas empat puluh.
Air putih di meja, ditutup piring kecil. Sandal menghadap keluar.
Aku duduk di lantai. Punggung ke dinding. Sepuluh detik.
Lalu aku masuk kamar.
Dan aku berdiri di sana lebih lama dari biasanya, memandangi tiga orang yang tidur di kasur yang sama seperti tiga tahun terakhir.
Bumi melintang. Lintang membelakangi tembok. Sekar di ujung, tangan di dada.
Dan aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan.
Aku duduk di lantai di samping kasur, dan aku memperhatikan mereka bertiga selama beberapa menit, dan aku mencoba mencari tahu apa yang mereka ketahui.
Karena ada sesuatu.
Ada sesuatu yang dilihat Claudia hari Minggu pagi di kamar ini, dan sesuatu itu membuatnya memaksaku makan selama lima hari berturut-turut, dan sesuatu itu membuatnya memeluk aku di gerbang sekolah sambil menekan jari-jarinya ke punggungku seperti orang mencari tulang yang patah.
Aku menatap Lintang.
Bantalnya lebih tinggi dari biasanya.
Aku menggesernya sedikit supaya lehernya tidak sakit — dan di bawah bantal itu, ada sesuatu yang keras.
Buku.
Sampul biru.
Aku memegang ujungnya dengan dua jari.
Dan aku menariknya keluar sedikit — dua sentimeter, mungkin tiga — cukup untuk melihat sampulnya, cukup untuk membukanya kalau aku mau.
Dan aku berhenti.
Dia bilang itu rahasia.
Dia bilang itu rahasia sejak umur tujuh tahun, dan dia bilangnya setiap kali dengan wajah yang sama, dan aku sudah menjawab “oke” setiap kali selama tiga tahun.
Kalau aku membukanya sekarang, aku mengambil satu-satunya hal yang dia punya sendiri.
Aku mendorong buku itu kembali ke bawah bantal.
Aku menepuk-nepuk bantalnya sekali supaya rata.
Lalu aku tidur di lantai.
Dan aku sudah memikirkan malam itu ribuan kali sejak saat itu, dan setiap kali aku sampai di kesimpulan yang sama:
Kalau aku membuka buku itu malam itu, semua yang terjadi tiga minggu kemudian mungkin tidak akan terjadi.
Atau mungkin tetap terjadi.
Aku tidak akan pernah tahu.
Yang aku tahu cuma ini: aku memilih menghormati rahasia anak sepuluh tahun daripada mencari tahu kebenaran, dan aku masih tidak yakin sampai sekarang apakah itu keputusan yang baik atau bentuk pengecut yang paling sopan.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan reading
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu