Chapter Seventeen
[Kesaksian] Penebusan yang Murah
POV: Sekar
Aku tahu namanya sebelum dia datang.
Namanya ada di surat yang kuterima dari Kak Claudia di malam pertama, di pojok kanan bawah, di kolom diserahkan oleh.
Gita Ardhani, Ketua Kelas XII IPA 3.
Tulisannya rapi. Rapi sekali. Huruf-hurufnya berdiri tegak dan sama tinggi, seperti orang yang tidak pernah buru-buru.
Aku menyimpan surat itu di laci. Aku menyimpan semua surat.
Jadi waktu Kak Claudia bilang temannya mau datang, aku tidak bertanya siapa.
Aku cuma bertanya satu hal:
“Dia yang nulis suratnya?”
“...Iya.”
“Oh.”
Dia datang jam empat kurang lima menit.
Lebih awal dari yang dijanjikan. Aku mencatat itu.
Dia berdiri di mulut gang dengan seragam sekolah yang masih rapi jam empat sore, yang berarti dia tidak pulang dulu, yang berarti dia langsung ke sini.
Dia tidak membawa apa-apa. Aku mengecek tangannya dua kali.
Kak Claudia berdiri di sebelahnya.
“Sekar—”
“Kakak masuk aja,” kataku ke Kak Claudia. “Lintang nunggu.”
Kak Claudia melihatku. Lalu melihat Gita.
Lalu dia masuk.
Dan tinggal kami berdua di mulut gang.
“Sekar, ya?”
“Iya.”
“Aku Gita.”
“Aku tau.”
Dia mengulurkan tangan.
Aku menyalaminya, karena tidak menyalami orang yang mengulurkan tangan itu tidak sopan, dan aku tidak sedang ingin jadi tidak sopan.
Aku cuma sedang tidak ingin jadi ramah.
“Mas Aries belum pulang,” kataku.
“Aku tau.”
“Sampai jam sebelas empat puluh.”
“...Aku tau.”
“Kalau Kakak mau ketemu dia, Kakak salah hari.”
“Aku nggak ke sini buat ketemu dia.”
Aku diam.
Itu jawaban yang lebih baik daripada yang kuharapkan, dan aku tidak suka waktu orang memberi jawaban yang lebih baik daripada yang kuharapkan, karena itu berarti aku harus mengubah rencanaku.
“Terus mau apa?”
“Aku mau tau.”
“Tau apa?”
“Semuanya.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu aku berbalik dan jalan masuk gang, dan berkata tanpa menoleh:
“Ikut.”
Aku bawa dia ke sembilan rumah.
Bukan mengetuk. Cuma lewat.
“Ini rumah Bu Ratmi. Warung. Dia yang kasih makan kami tiga bulan pertama, tiap hari, dua kali.”
Gita membuka mulut.
“Belum selesai,” kataku.
Kami jalan.
“Ini rumah Om Yusuf. Fotokopi. Dia yang ngurus semua surat waktu Bapak Ibu meninggal. Akta, surat waris, surat pindah wali. Dia bolak-balik ke kelurahan sebelas kali. Aku ngitung.”
“Sekar—”
“Ini bengkel Pak Somad. Dia jemput aku dari sekolah tiap hari selama dua bulan, soalnya Mas Aries nggak bisa di dua tempat sekaligus.”
Kami sampai di depan rumah nomor lima.
“Ini rumah Bu Ning. Anaknya baru lahir waktu itu.” Aku berhenti. “Bumi umur dua tahun dan masih nyusu. Bu Ning nyusuin Bumi tiga kali sehari selama sembilan bulan.”
Gita berhenti jalan.
“Padahal ASI-nya nggak banyak,” kataku. “Anaknya sendiri jadi kurang.”
Aku jalan lagi.
Dia menyusul, agak lambat.
“Dan ini rumah Mbah Tun.”
Aku menunjuk rumah paling kecil, yang catnya sudah tinggal setengah.
“Mbah Tun tiap sore dateng ke rumah kami bawa makanan. Bilangnya masakannya kebanyakan.” Aku menatap pintu rumah itu. “Tiga tahun. Tiap sore. Kebanyakan terus.”
Gita tidak bicara.
“Kakak ngerti nggak artinya apa?”
“...Iya.”
“Bilang.”
“Dia bohong.”
“Iya.”
Aku berbalik menghadapnya.
“Dan Mas Aries tau dari bulan pertama,” kataku. “Tapi dia nggak pernah bilang. Soalnya kalau dia bilang, Mbah Tun berhenti, terus aku nggak makan.”
Kami duduk di undakan depan rumah nomor tujuh.
Gita duduk dengan punggung lurus, tangan di pangkuan, seperti orang di ruang tunggu.
“Sekar.”
“Hm.”
“Kenapa kamu tunjukin ini semua ke aku?”
“Karena Kakak bilang mau tau.”
“Tapi ini bukan tentang Aries.”
Aku menoleh.
“Ini semuanya tentang Mas Aries.”
Dia diam.
“Kakak mau tau kenapa Mas Aries nggak pernah ikut kerja kelompok?” kataku. “Bukan karena dia kerja. Itu cuma jawaban yang gampang.”
“Terus kenapa?”
“Karena kalau dia dateng ke kerja kelompok jam empat sore, itu artinya jam empat sore dia nggak ada di sini.” Aku menunjuk gang dengan daguku. “Dan kalau ada yang butuh dia jam empat sore, dia nggak ada.”
“Sekar, itu—”
“Bulan lalu antena TV Bu Ning rusak. Mas benerin. Dua minggu lalu Om Yusuf pindah lemari. Mas angkat.” Aku menghitung dengan jari. “Minggu kemarin kran Mbah Tun bocor. Mas benerin. Kemarin dulu motor Bang Jecky nggak nyala. Mas dorong sampai bengkel.”
Aku menurunkan tanganku.
“Kalau Mas ikut kerja kelompok, itu semua nggak ada yang ngerjain.”
Gita menatap lantai.
“Dia bisa bilang gitu ke aku.”
“Nggak bisa.”
“Kenapa nggak bisa?”
“Karena kalau dia bilang, Kakak bakal ngerti.” Aku menoleh. “Dan kalau Kakak ngerti, Kakak bakal kasihan.”
Dia mengangkat kepalanya.
“Dan Mas Aries lebih milih dianggep males daripada dikasihanin,” kataku. “Tiga tahun. Setiap hari. Dia milih itu.”
Gita menutup mulutnya dengan tangan.
Dia menahannya lama. Bahunya bergerak sekali.
Lalu air matanya turun, dan dia tidak mengeluarkan suara sama sekali, yang aku hormati, karena orang yang menangis tanpa suara biasanya sudah lama berlatih menahan hal-hal.
Aku tidak memeluknya.
Aku tidak bilang tidak apa-apa.
Aku duduk di sebelahnya dan menunggu, dan aku tahu itu terlihat kejam, dan aku memang sedang tidak ingin terlihat baik.
Setelah dua menit dia bilang:
“Sekar, aku minta maaf.”
“Ke aku?”
“...Iya.”
“Kenapa ke aku?”
Dia tidak menjawab.
“Yang Kakak panggil ke BK bukan aku,” kataku.
“Iya.”
“Yang Kakak tegur di depan kelas bukan aku.”
“Iya.”
“Terus kenapa minta maaf ke aku?”
Dan dia diam lama sekali, dan waktu dia menjawab, suaranya sudah tidak rapi lagi.
“Karena kalau aku minta maaf ke dia,” katanya, “dia bakal bilang nggak apa-apa.”
Aku mengangguk.
“Iya,” kataku. “Dalam tiga detik.”
“Sekar.”
“Hm.”
“Aku harus gimana?”
Aku memikirkan pertanyaan itu.
Aku memikirkannya lebih lama daripada yang kelihatan, karena ada dua jawaban dan yang satu jauh lebih mudah.
Jawaban yang mudah: Kakak nggak usah ngapa-ngapain. Udah cukup Kakak tau.
Kalau kuberikan itu, dia akan pulang malam ini, tidur dengan perasaan berat yang enak, menangis sekali lagi mungkin, dan besok pagi dia akan bangun jadi orang yang lebih baik.
Dan itu saja.
Aku sudah pernah melihatnya. Ibu-ibu gereja dengan kardus. Mahasiswa dengan kamera. Tante Ratih setiap Lebaran.
Semuanya menangis. Semuanya tulus. Semuanya berhenti.
“Kak Gita,” kataku.
“Iya?”
“Kakak nangis hari ini.”
“...Iya.”
“Besok Kakak bakal ngerasa lebih enak.”
Dia menoleh.
“Terus lusa lebih enak lagi. Terus minggu depan Kakak inget-inget hari ini, terus Kakak ngerasa Kakak udah jadi orang yang lebih ngerti.”
“Sekar—”
“Terus Kakak berhenti.”
Dia tidak bicara.
“Kakakku bukan orang yang bisa Kakak sesali sebentar terus lega,” kataku.
Aku menatapnya.
“Kalau Kakak cuma mau ngerasa lega, mendingan sekarang aja. Nangisnya udah. Bisa pulang. Aku nggak bakal marah dan aku nggak bakal cerita ke siapa-siapa.”
Dia duduk di undakan itu lama sekali.
Matahari sudah miring. Ada anak-anak main bola plastik di ujung gang. Bau gorengan dari warung Bu Ratmi.
Lalu dia bertanya:
“Kalau aku nggak mau cuma lega?”
“Terus?”
“Terus aku harus ngapain?”
Aku berdiri.
“Sabtu,” kataku.
“Hah?”
“Sabtu jam sepuluh pagi. Datang.”
“Ngapain?”
“Nggak ngapa-ngapain.” Aku merapikan rokku. “Lintang PR-nya banyak. Bumi nggak ada yang jagain kalau Bu Ratmi lagi rame.”
“Cuma itu?”
“Cuma itu.”
“Sekar, aku bisa lebih dari—”
“Nggak bisa.” Aku menoleh. “Kakak nggak punya apa-apa yang kami butuhin.”
Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang kumaksud, tapi aku tidak mencabutnya, karena itu benar.
“Yang kami butuhin cuma orang yang dateng terus,” kataku. “Itu susah. Itu paling susah. Semua orang bisa nangis. Nggak semua orang bisa dateng lima puluh dua kali.”
“Lima puluh dua?”
“Setahun ada lima puluh dua Sabtu.”
Gita menatapku.
Lalu dia mengeluarkan HP-nya, membuka kalender, dan mulai mengetik.
“Kakak ngapain?”
“Nge-set pengingat.”
“Sampai kapan?”
Dia mengetik lagi.
“Sampai berhenti sendiri,” katanya.
Dia pulang jam setengah enam.
Aku mengantarnya sampai mulut gang, karena itu sopan, dan aku sudah selesai dengan bagian tidak sopannya.
“Kak Gita.”
“Iya?”
“Satu lagi.”
“Apa?”
“Jangan bilang ke Mas Aries kalau Kakak udah tau.”
Dia berhenti. “Kenapa?”
“Karena dia bakal minta maaf.”
“Dia yang minta maaf? Ke aku?”
“Iya.” Aku mengangguk. “Dia bakal minta maaf karena udah bikin Kakak repot mikirin dia.”
Gita menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
Lalu dia menutup matanya sebentar, dan berkata, pelan sekali, ke arah tanah:
“...Ya Allah.”
“Iya.”
“Dia beneran bakal gitu?”
“Persis gitu.” Aku mengangkat bahu. “Aku hafal.”
Dia sudah tiga langkah pergi waktu aku memanggil.
“Kak Gita.”
“Hm?”
Aku berdiri di mulut gang dan aku sudah menyiapkan pertanyaan ini sejak tadi sore, dan aku sudah memutuskan tiga kali untuk tidak menanyakannya, dan aku menanyakannya juga.
“Kakak juara paralel, ya?”
Dia mengangkat alis. “...Iya. Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Sekar.”
“Nggak apa-apa.”
Dia menunggu.
Aku tidak menambahkan apa-apa.
Dan setelah beberapa detik dia mengangguk, dan pergi, dan tidak bertanya lagi.
Itu satu poin untuknya.
Aku mencatat itu juga.
Malamnya Mas Aries pulang jam sebelas empat puluh.
Dia lebih lelah dari biasanya. Aku bisa lihat dari cara dia menaruh tas — pelan, terlalu pelan, seperti orang yang takut menjatuhkan sesuatu yang bukan tasnya.
Aku mematikan lampu ruang tengah setengah, tanpa ditanya.
Aku tidak bertanya kenapa.
Aku tidak pernah bertanya kenapa.
Aku cuma membuat teh, tiga sendok, dan menaruhnya di meja, dan masuk kamar.
Dan sebelum aku menutup pintu kamar, aku mendengar dia berkata, ke ruangan kosong, dengan suara yang begitu pelan sampai aku tidak yakin dia sadar dia mengucapkannya:
“...maaf.”
Aku berdiri di balik pintu.
Aku tidak tahu dia minta maaf ke siapa.
Aku tidak tahu selama tiga minggu berikutnya.
Dan waktu aku akhirnya tahu, aku ingin sekali kembali ke malam itu, membuka pintunya, dan bertanya.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah reading
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu