Chapter Forty Five
Sekali Saja
POV: Gita
Aku sampai rumah jam enam kurang.
“Git? Kok cepet?”
“Iya, Ma.”
“Makan dulu.”
“Nanti.”
“Gita—”
“Nanti, Ma.”
Dan aku naik tangga dan menutup pintu kamarku dan menguncinya, dan aku menaruh tasku di lantai, dan aku duduk di lantai bersandar ke kasur.
Dan aku menangis.
Aku akan menuliskan bagian ini sependek mungkin, karena bagian ini tidak menarik.
Menangis itu tidak menarik. Aku sudah membaca cukup banyak dan aku tahu orang suka menuliskannya panjang-panjang, dan menurutku itu tidak jujur.
Yang sebenarnya terjadi adalah:
Aku menangis selama dua puluh enam menit.
Aku tahu angkanya karena HP-ku menyala di lantai di sebelahku dan aku melihat jamnya waktu mulai dan waktu berhenti, karena bahkan waktu hancur pun aku tetap orang yang menghitung.
Suaranya tidak enak. Aku ingin mencatat itu.
Bukan menangis yang cantik. Ada bagian di mana aku tidak bisa bernapas dan aku harus menekan tanganku ke mulutku supaya Mama tidak dengar dari bawah, dan hidungku mampet, dan aku harus bangun mengambil tisu di tengah-tengahnya, dan itu memutus semuanya dan lalu mulai lagi.
Dua puluh enam menit.
Lalu berhenti.
Dan yang aneh adalah: berhentinya tiba-tiba.
Bukan reda pelan-pelan. Berhenti, seperti kran ditutup.
Dan aku duduk di lantai kamarku dengan tisu di tangan dan wajah yang tidak enak dilihat dan aku berpikir: oh. Udah?
Aku menghitung tisunya.
Sebelas.
Aku membuangnya ke tempat sampah dan aku berdiri dan aku cuci muka.
Dan waktu aku melihat cermin, aku terlihat seperti orang yang baru menangis dua puluh enam menit, karena itulah yang terjadi.
Aku memakai kompres dingin lima menit karena besok hari Minggu dan aku tidak mau Mama bertanya.
Ini yang perlu kutulis, dan ini alasan aku menulis bab ini sama sekali.
Aku sudah menyiapkan diri untuk hancur.
Sungguh. Aku sudah menyiapkannya selama sembilan belas minggu, dan lalu tiga puluh satu Sabtu, dan aku sudah membayangkan bagaimana rasanya kalau suatu hari ini benar-benar terjadi.
Yang kubayangkan: berminggu-minggu tidak bisa tidur. Berhenti makan. Tidak sanggup masuk kelas. Menangis di kamar mandi sekolah. Semua yang biasanya digambarkan.
Yang sebenarnya terjadi: dua puluh enam menit di lantai kamar, sebelas tisu, lalu selesai.
Dan aku duduk di kasur setelahnya dan bertanya kepada diriku sendiri kenapa.
Kenapa cuma dua puluh enam menit?
Dan jawabannya datang jam delapan malam, waktu aku sedang menatap langit-langit, dan waktu jawabannya datang aku merasa seperti ditampar.
Karena aku sudah menangisi ini selama satu tahun tiga bulan.
Sedikit demi sedikit. Di angkot. Di kamar mandi. Waktu menghapus empat versi permintaan maaf. Waktu menulis aturan nomor lima tiga kali. Waktu Bumi menaruh mobil-mobilan beroda tiga di sebelah kakiku dan aku harus pura-pura menjatuhkan pensil.
Aku sudah membayarnya dalam cicilan.
Hari itu cuma pelunasan.
Jam sembilan malam aku membuka laptop.
Dan ini bagian yang membuat orang-orang bertanya kepadaku bertahun-tahun kemudian: kenapa malam itu juga?
Jawabannya bukan karena aku kuat.
Jawabannya karena aku tidak tahu harus melakukan apa lagi dengan tanganku.
Dan aku baru sadar, sambil membuka laptop jam sembilan malam hari Sabtu itu, bahwa aku sedang melakukan hal yang persis sama seperti yang dilakukan Aries Kurniawan setiap hari selama tiga tahun.
Kalau ada yang tidak enak, cari sesuatu untuk diperbaiki.
Dan aku duduk di depan laptop dan tertawa satu kali, pendek, sendirian di kamar, karena ternyata rumah nomor tujuh itu menular.
Aku mengetik di kolom pencarian:
beasiswa sma unggulan berasrama pendaftaran
Dan aku mulai membaca.
Ini yang kutemukan malam itu, dan aku menuliskannya di sini karena aku menyimpan catatannya sampai sekarang:
Program yang ditawarkan ke Sekar bulan Februari — untuk siswa kelas sembilan, seleksi Maret, angkatan sudah berangkat. Tutup. Tidak ada jalur susulan.
Itu yang sudah kami tahu.
Tapi ada yang lain.
Program beasiswa SMA kelas sepuluh — untuk siswa yang sudah masuk SMA, dinilai dari nilai semester satu. Pendaftaran Januari.
Sekar masuk SMA bulan Juli.
Semester satu selesai Desember.
Pendaftaran Januari.
Aku membaca persyaratannya empat kali.
Lalu aku membacanya lagi.
Lalu aku mengambil buku catatan dan pulpen dan mulai menulis, dan aku menulis sampai jam satu pagi.
HAL YANG DIBUTUHKAN — SEKAR KURNIAWAN
- Rapor semester 1 kelas X. Target: peringkat 1 paralel. (Realistis. Dia sudah 1 paralel tiga tahun berturut-turut.)
- Sertifikat prestasi minimal 1. Belum ada. ← masalah
- Surat rekomendasi kepala sekolah
- Surat keterangan tidak mampu
- Kartu keluarga + akta + surat penetapan wali ← sudah ada per Oktober
- Esai 500 kata: “Mengapa saya layak”
- Wawancara — Februari
- Asrama. ← masalah terbesar
Nomor dua dan nomor delapan yang kulingkari.
Nomor dua bisa diurus. Ada lomba. Ada olimpiade tingkat kota bulan November. Sekar tidak pernah ikut apa pun seumur hidupnya karena setiap sore dia harus pulang, dan sekarang — sekarang termosnya sudah diserahkan ke orang lain sejak bulan Agustus.
Nomor dua bisa diurus.
Nomor delapan tidak.
Aku duduk di depan laptopku jam satu pagi dan menatap nomor delapan.
Asrama.
Karena masalahnya tidak pernah berubah sejak bulan Februari.
Kalau Sekar masuk asrama, siapa yang tahu selimut Bumi harus yang biru.
Siapa yang tahu lampu ruang tengah yang mana yang dimatikan.
Siapa yang tahu selimut hanya sampai lutut.
Dan aku duduk di sana dan aku memikirkannya selama mungkin dua puluh menit.
Dan lalu aku ingat.
Aku ingat bahwa aku punya salinannya.
Aku membuka laci mejaku dan mengeluarkan map plastik.
Empat lembar. Fotokopi. Tulisan tangan anak empat belas tahun.
Claudia yang memberikannya kepadaku bulan Agustus, tanpa banyak bicara, cuma bilang “ini dari Sekar, dia bilang boleh buat kamu juga”.
Dua puluh empat nomor.
Aku membacanya lagi, di kamarku, jam satu lewat dua puluh pagi.
Nomor satu: selimut biru, dicuci Selasa.
Nomor dua: tas yang tidak berbunyi.
Nomor tiga: piring di bak cuci.
Nomor enam: selimut sampai lutut.
Nomor sebelas.
Nomor dua puluh empat, yang ditambahkan belakangan, dengan tulisan Claudia bukan Sekar, dan yang tidak akan pernah bisa kubaca tanpa berhenti.
Dan aku duduk di lantai kamarku memegang empat lembar kertas itu dan aku mengerti sesuatu yang membuatku menaruhnya di lantai dan menutup wajahku dengan kedua tangan selama beberapa detik.
Sekar sudah memecahkan masalahnya sendiri.
Bulan Agustus. Sebelum ada yang menyuruhnya. Sebelum ada yang tahu.
Dia duduk selama empat malam dan menuliskan seluruh isi kepalanya ke dalam empat lembar kertas dan membagikannya kepada dua orang, dan dia melakukannya karena — kalimatnya sendiri, yang diceritakan Claudia kepadaku —
“Kalau cuma satu orang yang tau, orang itu nggak boleh pergi ke mana-mana.”
Anak itu sudah menyiapkan jalan keluarnya sendiri.
Dua bulan sebelum ada satu pun orang dewasa memikirkannya.
Aku mengambil buku catatanku dan aku menulis di bawah nomor delapan:
8. Asrama.
→ sudah diantisipasi Sekar (dokumen 24 poin, Agustus).
→ pemegang: Claudia, Gita.
→ Claudia berangkat tahun depan.
→ berarti: Gita.
Dan aku menatap baris terakhir itu.
Berarti: Gita.
Aku duduk di lantai kamarku jam setengah dua pagi, sepuluh jam setelah aku bertanya kepada seorang laki-laki apakah akan berbeda kalau aku menyeberang jalan, sepuluh jam setelah dia bilang tidak.
Dan aku menatap namaku sendiri di baris terakhir daftar itu.
Dan aku sadar bahwa aku baru saja menuliskan kontrak untuk empat tahun ke depan dengan tanganku sendiri, sukarela, jam setengah dua pagi, tanpa ada yang meminta.
Aku membuka aplikasi catatan di HP-ku.
ATURAN
1. Sabtu tetap jalan. Tidak boleh berhenti. Tidak boleh nambah.
3. Tidak boleh datang jam sepuluh sampai satu.
5. Tidak boleh berharap Claudia salah.
6. Kalau Bella pergi, jangan ambil tempatnya. Tetap datang. Tapi jangan ambil tempatnya.
Aku menghapus nomor tiga.
Nomor tiga adalah aturan tentang menghindari jam-jam dia ada di rumah, dan aturan itu ditulis oleh orang yang takut ketahuan.
Aku sudah tidak takut ketahuan.
Dia sudah tahu. Dia mungkin sudah tahu sejak lama. Dan dia memilih untuk tidak pernah mengatakannya, tidak sekali pun, supaya aku tidak harus pergi.
Dan aku akan menghormati itu dengan cara yang sama:
Dengan tidak pernah membuatnya harus menolak.
Dan lalu aku mengetik nomor tujuh.
Aku mengetiknya sekali dan tidak menghapusnya dan tidak mengulanginya tiga kali seperti aturan nomor lima.
7. Yang sedih boleh sekali. Udah kemarin.
Sisanya kerjain.
Dan aku menyimpannya.
Aku tidur jam dua pagi.
Dan aku bangun jam enam, dan aku sarapan, dan Mama bilang “Mata kamu bengkak” dan aku bilang “Begadang ngerjain tugas” dan itu setengah benar.
Dan hari Sabtu berikutnya aku datang lagi.
Sabtu ketiga puluh dua.
Dan Lintang berteriak “KAK GITA!” dari mulut gang seperti biasa, dan Bumi menabrak lututku seperti biasa, dan Sekar mengangguk sekali dari dapur seperti biasa.
Dan Aries bilang, “Pagi, Git.”
Dan aku bilang, “Pagi.”
Dan itu saja.
Dan tidak ada satu pun dari kami yang menyebut hari Sabtu sebelumnya, tidak sekali pun, tidak pernah, sampai sekarang.
Sabtu itu aku membawa sesuatu.
Selembar kertas. Aku menaruhnya di lantai di depan Sekar sambil dia mengerjakan soal.
“Ini apa, Kak?”
“Baca.”
Dia membacanya.
PENDAFTARAN BEASISWA SMA — JALUR KELAS X
Pendaftaran: Januari
Penilaian: rapor semester 1
Sertifikat prestasi: minimal 1
Dan aku memperhatikan wajahnya.
Dan aku melihat sesuatu bergerak di sana, cepat sekali, sebelum ditutup lagi.
“Kak Gita—”
“Bulan November ada olimpiade tingkat kota,” kataku. “Matematika. Pendaftarannya lewat sekolah. Batasnya tanggal sepuluh.”
“Aku nggak pernah ikut lomba.”
“Aku tau.”
“Aku nggak—”
“Sekar.”
Dia berhenti.
Dan aku menaruh pulpenku dan menatapnya, dan aku bilang hal yang sudah kususun sepanjang perjalanan ke sini:
“Aku nggak minta kamu daftar.”
“Terus?”
“Aku minta kamu ngitung.”
Dia mengangkat kepalanya.
“Kamu selalu ngitung sebelas kali,” kataku. “Bulan Februari kamu ngitung sebelas kali terus kamu simpen kertasnya di bawah baju.”
Wajahnya tidak berubah, tapi tangannya berhenti.
“Sekarang ngitung lagi,” kataku. “Dari awal. Sekarang termosnya udah bukan kamu. Sekarang ada dua puluh empat nomor yang udah kamu kasih ke dua orang. Sekarang ada wali sah, ada KIP, ada Bu Hanifah yang dateng tiap tiga bulan.”
Aku mengetuk kertas itu sekali.
“Ngitung lagi, Sekar. Sebelas kali kalau perlu.”
Dan aku menyandarkan punggungku ke tembok dan mengambil buku Lintang dan mulai memeriksa PR-nya, dan aku tidak melihat ke arahnya lagi sama sekali.
Dan setelah dua puluh menit, dari arah meja, tanpa mengangkat kepalanya, adik perempuan berumur empat belas tahun itu berkata:
“Kak.”
“Hm?”
“Olimpiadenya tanggal berapa.”
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja reading
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu