← Giliranmu Istirahat

Chapter Thirty Three

[Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang

POV: Sekar


Yang paling banyak ditanyakan orang setelah hari itu adalah: kamu nggak apa-apa?

Bu Ratmi tanya. Kak Gita tanya. Mbah Tun tanya dengan cara tidak bertanya, yaitu mengirim makanan dua hari berturut-turut tanpa alasan.

Dan Mas Aries tanya setiap hari, setiap pagi, tujuh hari berturut-turut, dengan wajah yang membuatku ingin lari ke kamar.

“Sekar, kamu nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa.”

“Beneran?”

“Beneran.”

Dan aku ingin mencatat sesuatu di sini, karena aku tahu bagaimana ini terbaca: seolah aku sedang berbohong lagi.

Aku tidak berbohong.

Aku benar-benar tidak apa-apa.

Bukan karena aku kuat. Karena kertas itu sudah keluar dari lemari, dan selama seratus lima belas hari yang berat bukan kehilangan kesempatannya.

Yang berat adalah menyimpannya.

Sekarang tidak ada lagi yang disimpan. Jadi ringan.

Orang mengira kehilangan itu yang paling berat. Bukan. Menyimpan yang paling berat.


Yang berubah bukan aku.

Yang berubah adalah aku mulai memperhatikan sesuatu yang selama ini aku tahu tapi tidak pernah kuhitung.

Kalau aku tidak ada, siapa?

Bukan pertanyaan sedih. Pertanyaan teknis.

Aku menghitungnya di kertas, di kamar, malam-malam, sama seperti aku menghitung sebelas kali di bulan Februari.

Yang cuma aku yang tahu:

1. Bumi tidak bisa tidur kalau selimutnya bukan yang biru. Yang biru harus dicuci hari Selasa, supaya kering hari Kamis. Kalau dicuci hari Rabu, Kamis malam dia bangun jam dua.

2. Mas Aries kalau menaruh tasnya terlalu pelan, artinya ada yang tidak beres. Terlalu pelan itu artinya tidak ada bunyi sama sekali.

3. Kalau Mas bilang “aku nggak lapar” dua kali berturut-turut, dia sudah tidak makan lebih dari satu hari.

4. Kalau Mas duduk di lantai lebih dari sepuluh detik dengan mata tertutup, jangan diajak bicara. Tunggu.

5. Lampu ruang tengah ada empat. Kalau dimatikan dua yang kanan, mukanya tidak kelihatan. Kalau dimatikan yang kiri, masih kelihatan.

6. Selimut di kaki sampai lutut. Kalau sampai bahu, dia bangun.

7. Lintang kalau senyum terlalu cepat setelah ditanya, artinya dia bohong. Lintang tidak bisa bohong kalau ditanya pelan-pelan.

8. Mas Aries tidak akan pernah minta tolong. Tidak sekali pun. Kalau kau menunggu dia minta, kau akan menunggu selamanya.

Aku menulisnya sampai nomor dua puluh tiga.

Butuh empat malam.

Dan waktu selesai, aku duduk di lantai kamar dan menatap kertas itu dan menyadari sesuatu yang membuatku diam sangat lama:

Semua ini ada di dalam kepalaku dan tidak ada di tempat lain.

Kalau aku hilang — bukan mati, cuma pindah, cuma asrama, cuma tiga tahun — dua puluh tiga hal ini hilang bersamaku.

Dan itulah kenapa aku tidak bisa mencentang kotak itu di bulan Februari.

Bukan karena aku mulia.

Karena aku satu-satunya yang tahu.


Jadi aku memutuskan untuk berhenti jadi satu-satunya.

Itu keputusanku, dan aku membuatnya sendiri, dan aku tidak memberitahu siapa pun sebelum melakukannya.


Hari Kamis, jam empat sore, aku menelepon Kak Claudia.

Langsung. Bukan lewat Bu Ratmi.

Aku ingin mencatat itu karena itu penting: selama lima bulan, setiap kali aku perlu sesuatu dari dia, aku selalu lewat Bu Ratmi. Supaya tidak ada yang meminta apa-apa. Supaya semuanya kebetulan.

Kali ini aku menelepon sendiri.

“Halo?”

“Kak Claudia.”

“Sekar?” Suaranya langsung tegang. “Kenapa? Ada apa?”

“Nggak ada apa-apa.”

“Beneran? Mas Aries—”

“Nggak ada apa-apa.”

Dia diam sebentar.

“...Oke.”

“Besok Kakak ada waktu jam berapa?”

“Besok aku—”

“Yang bukan jam Mas Aries.”

Dan aku mendengar dia menarik napas di ujung sana.

“Jam dua,” katanya. “Sampai jam empat.”

“Ketemu di warung Bu Ratmi.”

“Sekar—”

“Jam dua,” kataku, dan aku menutup teleponnya, karena aku tahu kalau aku bicara satu kalimat lagi aku akan mundur.


Kami duduk di bangku plastik biru di depan warung.

Bangku yang sama tempat dia tidur di malam pertama.

Bu Ratmi menaruh dua gelas teh dan masuk ke dalam tanpa berkata apa-apa, yang artinya dia sudah tahu ini bukan urusannya, yang artinya perempuan itu bisa membaca situasi lebih baik daripada siapa pun yang pernah kutemui.

Aku mengeluarkan kertasnya.

Empat lembar. Dilipat dua. Tulisan tangan, dua puluh tiga nomor.

Aku menyerahkannya.

“Ini apa?”

“Baca.”


Dia membacanya.

Aku memperhatikan matanya bergerak. Nomor satu. Nomor dua.

Di nomor tiga dia berhenti.

Dia membacanya lagi.

Lalu dia melanjutkan, dan makin ke bawah makin pelan, dan waktu sampai nomor sebelas dia menaruh kertas itu di pangkuannya dan menatap jalan selama beberapa detik sebelum melanjutkan.

Empat lembar. Dua puluh tiga nomor.

Butuh sembilan menit.

Waktu selesai, dia tidak berkata apa-apa.


“Kak Claudia.”

“...Hm.”

“Aku mau Kakak hafal.”

Dia menoleh.

“Hafal?”

“Iya. Semuanya. Dua puluh tiga.”

“Sekar, ini—”

“Nggak harus sekarang.” Aku mengambil gelasku. “Setahun juga nggak apa-apa. Tapi hafal.”

Dia menatap kertas itu di pangkuannya.

“Kenapa?”

Dan aku sudah menyiapkan jawaban untuk ini juga, seperti biasa, dan jawabannya rapi dan tidak jujur.

Jadi aku tidak memakainya.

“Karena selama tiga tahun cuma aku yang tau,” kataku. “Dan itu kelihatannya bagus. Tapi itu jelek.”

“Kenapa jelek?”

“Karena kalau cuma satu orang yang tau, orang itu nggak boleh pergi ke mana-mana.”

Kak Claudia menoleh cepat.

“Sekar.”

“Aku nggak lagi ngomongin Februari.”

“Kamu lagi ngomongin Februari.”

“Iya.” Aku mengangkat bahu. “Tapi bukan buat nyesel.”

Aku menunjuk kertas di pangkuannya.

“Ini biar tahun depan ada yang tau,” kataku. “Dan tahun depannya lagi. Dan kalau aku pergi, ada yang tau. Dan kalau Kakak pergi, ada Kak Gita. Dan kalau Kak Gita pergi, ada Bu Ratmi.”

Aku minum tehku.

“Aku nggak mau ada orang di rumah itu yang jadi satu-satunya lagi,” kataku. “Termasuk Mas Aries.”


Kak Claudia diam lama sekali.

Lalu dia bilang, “Sekar.”

“Hm.”

“Aku harus ngomong sesuatu.”

“Ngomong.”

“Ini soal hari Minggu itu.”

Aku menaruh gelasku.

Aku sudah menunggu ini selama tiga minggu.


“Kamu ingat aku dateng jam setengah tujuh pagi?”

“Iya.”

“Aku ke kamar Lintang.”

“Iya.”

“Sekar.” Dia menatap tangannya. “Lintang nunjukin sesuatu ke aku.”

“Buku birunya.”

“Bukan yang itu.” Dia menggeleng. “Bukan bagian utangnya. Bagian dalem sampulnya.”

Dan aku merasakan sesuatu turun di dalam perutku.

“Dalem sampulnya?”

“Iya.”

“Isinya apa?”

Dan Kak Claudia menceritakannya.

Dia menceritakannya pelan-pelan, dari awal, soal Lintang mulai memeluk waktu umur delapan, soal jari yang lewat, soal ruas, soal sistem yang dibuat anak delapan tahun dan tidak boleh diganti di tengah karena nanti angkanya tidak nyambung.

Soal MAS = 10.

Dan soal angka yang sekarang.


Aku tidak bergerak selama sekitar sepuluh detik.

Lalu aku bilang, “Berapa sekarang.”

“Sekar—”

“Berapa.”

Dia tidak menjawab.

“Kak Claudia. Berapa.”

Dan dia bilang:

“Empat.”


Aku ingin menuliskan reaksiku dengan jujur.

Aku tidak menangis.

Aku menaruh gelas tehku di bangku, dan aku menaruhnya terlalu pelan — tidak ada bunyi sama sekali — dan aku baru menyadari apa artinya itu satu detik setelah kulakukan.

Aku menaruh gelas itu persis seperti kakakku menaruh tasnya.

Dan Kak Claudia melihatnya.

Aku tahu dia melihatnya karena aku baru saja memberinya kertas dengan nomor dua di dalamnya.

“Sekar.”

“Aku nggak apa-apa.”

“Sekar.”

“Aku beneran—”

Dan aku berhenti.

Karena aku sadar aku sedang mengucapkan kalimat nomor tiga dari daftarku sendiri.

Dan aku sedang mengucapkannya ke satu-satunya orang di dunia yang baru saja kuberi manualnya.


Aku duduk di bangku plastik biru itu selama mungkin dua menit tanpa bicara.

Lalu aku bilang, “Aku curiga.”

“Curiga apa?”

“Soal Lintang.” Aku menatap jalan. “Aku tau dia meluk tiap Minggu. Aku lihat dari dapur, tiga tahun.”

“Kamu nggak pernah nanya?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Dan aku bilang yang sebenarnya.

“Karena aku takut jawabannya.”

Aku memegang gelasku dan tidak mengangkatnya.

“Aku udah punya dua puluh tiga hal di kepala aku, Kak,” kataku. “Aku nggak sanggup nambah satu lagi.”


“Terus kenapa Kakak meluk Mas Aries di gerbang sekolah?”

Kak Claudia menoleh.

“Kamu tau?”

“Seluruh gang tau.” Aku mengangkat bahu. “Bang Jecky cerita ke Bu Ratmi hari itu juga.”

Dia menutup matanya sebentar.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

Dan dia bilang, pelan:

“Aku mau ngecek sendiri.”

Aku menatapnya.

“Aku nggak percaya,” katanya. “Waktu Lintang nunjukin angkanya, aku pikir — mungkin dia salah. Dia sepuluh tahun. Sistemnya nggak ilmiah. Mungkin tangannya emang tumbuh.”

Dia menatap tangannya sendiri.

“Jadi aku peluk,” katanya. “Dan aku raba punggungnya.”

“Terus?”

Dan Kak Claudia mengangkat wajahnya, dan matanya sudah basah, dan suaranya keluar dengan cara yang tidak rata:

“Aku bisa ngitung tulangnya, Sekar.”


Aku duduk di bangku itu.

Warung Bu Ratmi berbunyi di belakang kami — bunyi wajan, bunyi kompor, bunyi hal-hal yang berjalan seperti biasa.

Ada anak-anak main bola plastik di ujung gang.

Dan aku duduk di sana dan memikirkan tiga tahun.

Tiga tahun aku membuat teh tiga sendok.

Tiga tahun aku menyetrika seragamnya semalam sebelumnya.

Tiga tahun aku jalan lima puluh menit tiga kali seminggu membawa termos.

Dan selama tiga tahun itu, angkanya turun dari sepuluh ke empat, dan aku mencuci piringnya setiap malam dan aku tahu persis berapa yang tersisa di piring itu, dan aku tidak pernah sekali pun menyusun angkanya jadi satu.

Lintang menyusunnya.

Anak sepuluh tahun itu menyusunnya sejak umur delapan, dan tidak pernah bilang kepada siapa pun, dan menyimpannya di bawah bantal.

“Kak Claudia.”

“Hm.”

“Kertas yang aku kasih tadi.”

“Iya?”

“Tambahin nomor dua puluh empat.”

Dia mengambil pulpen dari tasnya.

“Tulis,” kataku.

Dan aku mendiktekannya, dan suaraku rata, dan aku bangga sekali sampai sekarang bahwa suaraku rata:

“Nomor dua puluh empat. Lintang ngitung berat badan Mas Aries tiap hari Minggu pagi pakai jari. Sekarang angkanya empat dari sepuluh. Jangan pernah kasih tau Mas Aries. Kalau Mas tau, dia bakal makan pura-pura di depan kita.”

Dia menulis.

Tangannya bergetar.

Waktu selesai, dia bilang, “Sekar, kita nggak bisa cuma nyatet ini.”

“Aku tau.”

“Kita harus ngapain?”

Dan aku menatap gelas teh di sebelahku, yang masih penuh, yang sudah dingin.

“Kita bikin dia makan,” kataku. “Tanpa dia tau kenapa.”

“Gimana caranya?”

“Nggak tau.”

“Sekar—”

“Aku nggak tau, Kak.” Aku menoleh. “Aku empat belas tahun.”

Dan itu adalah pertama kalinya seumur hidupku aku mengucapkan umurku sebagai alasan.


Kami duduk di bangku itu sampai jam empat.

Waktu dia berdiri, dia melipat empat lembar kertas itu dan memasukkannya ke tasnya — bukan ke saku luar, ke bagian dalam yang ada resletingnya.

Lalu dia bilang, “Sekar.”

“Hm.”

“Makasih.”

Dan aku bilang, “Jangan makasih.”

“Kenapa?”

“Karena aku bukan lagi ngasih Kakak sesuatu.”

Aku berdiri dan merapikan rokku.

“Aku lagi mindahin beban,” kataku. “Itu beda.”

Dan Kak Claudia menatapku, dan lalu dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga sama sekali.

Dia tertawa.

Kecil, satu kali, dengan mata yang masih basah.

“Sekar,” katanya.

“Apa.”

“Kamu tau nggak, kamu barusan ngomong persis kayak kakak kamu?”

Aku berdiri di depan warung Bu Ratmi hari Jumat jam empat sore.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak menganggap itu penghinaan.

Aku juga tidak menganggapnya pujian.

Aku cuma berdiri di sana, dan berpikir: iya. Betul.

Dan itu bukan hal yang bisa dicabut dari diriku, dan aku sudah berhenti mencoba mencabutnya.

Yang bisa kulakukan cuma satu.

Memastikan bahwa mulai sekarang, di rumah nomor tujuh, tidak ada satu pun orang yang harus memikul sesuatu sendirian hanya karena dialah satu-satunya yang tahu.