Chapter Fifteen
Biar Nggak Kepisah
POV: Claudia
Sabtu pagi, jam setengah tujuh, Sekar menelepon warung Bu Ratmi dan menyuruh Bu Ratmi menelepon aku.
Bukan menelepon aku langsung. Lewat Bu Ratmi.
Aku baru mengerti kenapa berbulan-bulan kemudian: karena kalau Sekar yang menelepon, itu artinya dia meminta. Kalau lewat Bu Ratmi, itu artinya tidak ada yang meminta apa-apa; itu cuma kebetulan.
“Mbak Bella.”
“Iya, Bu?”
“Sekar ki lagi ora iso mlaku adoh. Kakine loro.”
“Kakinya kenapa, Bu?”
“Ora ngerti. Kesleo paling.”
“Terus?”
“Yo kudu ana sing melu Aries nang pasar.” Bu Ratmi terdengar seperti orang yang membaca teks. “Sabtu kuwi belanja mingguan. Barangé akeh.”
Aku memakai sepatu sebelum menutup telepon.
Belakangan aku tahu kaki Sekar baik-baik saja.
Belakangan lagi, aku tahu Sekar sudah menyiapkan alasan cadangan kalau aku bertanya, dan alasan cadangannya lebih detail daripada yang pertama, karena Sekar Kurniawan tidak pernah masuk ke sesuatu tanpa rencana kedua.
Aries menungguku di mulut gang dengan dua tas kain lipat dan wajah orang yang sedang menghitung sesuatu.
“Pagi.”
“Pagi.” Dia menyerahkan satu tas kepadaku. “Yang ini kosong. Yang berat nanti aku.”
“Aku bisa bawa yang berat.”
“Nggak usah. Aku bisa.”
“Ries—”
“Sekar kakinya kenapa?”
Aku membuka mulut.
Dan menyadari, dalam satu detik, bahwa aku tidak tahu apa yang Sekar bilang ke kakaknya, dan kalau aku salah bicara sekarang aku akan membongkar sesuatu yang bukan milikku untuk dibongkar.
“...Kesleo, katanya.”
“Sebelah mana?”
“Aku nggak nanya.”
Aries mengangguk, dan berjalan.
Dan aku berjalan di sebelahnya, jam setengah tujuh pagi, sambil merasa seperti orang yang baru saja lulus ujian yang tidak dia tahu sedang berlangsung.
Pasarnya sepuluh menit jalan kaki.
Aku belum pernah ke pasar. Sungguh. Bukan pasar swalayan — pasar yang beneran, dengan lantai basah dan lorong sempit dan atap terpal biru yang membuat semua orang terlihat kebiruan.
Baunya menabrak duluan. Ikan, cabai, sesuatu yang manis, sesuatu yang busuk, semuanya sekaligus.
Aku hampir mundur satu langkah.
Aries tidak melihatku mundur, karena dia sudah masuk, dan dia masuk seperti orang yang masuk ke rumahnya sendiri.
“Ries!”
“Pagi, Bu.”
“Sing biasa?”
“Iya, Bu. Beras lima kilo.”
“Sik yo.”
Sepuluh meter lagi.
“Aries! Kowe ora sido njupuk nang nggonku minggu wingi!”
“Maaf, Pak. Kelewat.”
“Nggih, tak simpenke.”
Dua puluh meter.
“Mas Aries.”
“Iya, Mbak.”
“Bumi sehat?”
“Sehat, Mbak.”
“Iki ana kerupuk sisa, nggo Bumi wae.”
“Jangan, Mbak, nanti—”
“Wis, gowo!”
Aku berjalan di belakangnya, memegang tas kain kosong, dan menghitung.
Dalam empat menit pertama, sebelas orang menyapanya.
Sebelas.
Di sekolah, dalam delapan bulan, aku tidak pernah melihat satu orang pun menyapanya.
Ada satu ibu penjual sayur di lorong tengah yang berhenti mengiris kol waktu kami lewat.
“Ries.”
“Pagi, Bu Marni.”
“Adikmu sing cilik piye?”
“Sehat, Bu.”
Dia menatapku. Lalu menatap Aries. Lalu menatapku lagi.
“Iki sopo?”
“Temen, Bu.”
“Temen?”
“...Iya.”
Bu Marni mengangkat alis dengan cara yang membuat seluruh lorong terasa lebih sempit.
Lalu dia membungkus dua ikat bayam dan menyerahkannya.
“Bu, saya belum bayar.”
“Ora usah.”
“Bu—”
“Ries.” Perempuan itu menaruh pisaunya. “Ibumu biyen tuku bayem nang aku saben Sabtu. Rong ikat. Saben Sabtu, telung taun.”
Aries diam.
“Saiki kowe sing tuku.” Dia mendorong bungkusan itu. “Rong ikat. Saben Sabtu.”
“Bu, saya tetep bayar.”
“Yo mbayar. Tapi sing rong ikat iki dudu dodolan.” Dia kembali mengiris kolnya. “Kuwi sing biyen kelewat. Ibumu tau ninggal utang telung ewu. Aku lali nagih. Saiki tak lunasi dewe.”
Aries berdiri di sana beberapa detik.
Lalu dia mengambil bungkusan itu dengan dua tangan, dan membungkuk sedikit, dan berkata, “Makasih, Bu.”
Dan kami jalan lagi.
Dia tidak bicara selama satu lorong penuh.
Aku juga tidak.
Dan aku ingat berpikir, sambil memandangi punggungnya di antara terpal biru: ini sekolahnya.
Bukan SMA Merbabu.
Di sekolah dia memilih jadi tidak terlihat karena di sekolah tidak ada yang membutuhkannya, dan tidak dibutuhkan adalah satu-satunya istirahat yang dia punya.
Di sini dia terlihat oleh semua orang.
Dan di sini juga dia paling lelah.
Jam delapan pasar mulai penuh.
Penuh yang sungguhan. Bahu ketemu bahu. Ada orang mendorong gerobak. Ada dua ibu-ibu berhenti di tengah lorong untuk mengobrol seolah lorong itu ruang tamu mereka.
Aku terdorong ke kiri. Lalu ke kanan. Lalu ada orang membawa tumpukan kardus yang lebih lebar dari badannya dan aku harus mundur, dan waktu aku mundur, Aries sudah dua meter di depan.
Lalu tiga meter.
“Ries—”
Dia tidak mendengar.
Lalu empat meter, dan ada punggung orang lain di antara kami, dan aku mulai merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan di dada — bukan takut persis, tapi tetangganya.
“ARIES.”
Dia berbalik.
Dan aku melihat wajahnya berubah — cepat sekali, tanpa dia sadari — dari netral jadi sesuatu yang tajam.
Dia menembus dua orang dan sampai di depanku dalam empat detik.
“Kamu ilang.”
“Iya, tadi ada kardus—”
“Aku nggak lihat kamu.”
“Ries, cuma empat meter—”
Dan dia mengulurkan tangannya.
Bukan menggenggam. Mengulurkan, telapak ke atas, seperti orang menyerahkan sesuatu.
Aku menatapnya.
“Pegangan,” katanya. “Biar nggak kepisah.”
Dan aku, yang seumur hidup selalu punya sesuatu untuk dikatakan, tidak punya apa-apa.
Aku menaruh tanganku di tangannya.
Dia menggenggam.
Dan langsung berkata:
“Tangan aku kotor. Tadi angkat beras.”
“...Nggak apa-apa.”
“Ada debu berasnya.”
“Aries.”
“Nanti tangan kamu—”
“Aries.”
Dia berhenti.
“Jalan,” kataku.
Dan dia jalan.
Lorongnya habis dalam satu blok.
Kami keluar ke bagian belakang pasar, yang lapang, yang cuma ada tukang parkir dan dua kucing dan tumpukan peti kosong.
Tidak ada kerumunan.
Tidak ada yang bisa memisahkan kami.
Alasannya habis.
Aku menyadarinya, dan aku yakin dia juga menyadarinya, karena aku merasakan tangannya berubah — sedikit, cuma sepersekian — seperti orang yang baru sadar dia masih memegang sesuatu yang seharusnya sudah ditaruh.
Aku tidak melepaskan.
Dia tidak melepaskan.
Kami jalan menyeberangi lapangan belakang pasar.
Satu blok.
Dua blok.
Di blok ketiga ada tukang bubur, dan Aries berhenti, dan aku pikir nah, sekarang dia lepas, karena dia harus mengeluarkan uang dari saku.
Dia mengeluarkan uang dari saku dengan tangan kiri.
Dengan sangat susah payah.
Dengan satu tangan, sambil menjepit tas kain di antara lengan dan badan, dan hampir menjatuhkan dompetnya dua kali.
Aku menggigit bagian dalam pipiku sampai sakit supaya tidak tertawa.
“Dua, Pak.”
“Bungkus?”
“Iya.”
Dan dia menerima kembaliannya dengan tangan kiri, dan memasukkannya ke saku dengan tangan kiri, dan mengambil bungkusan buburnya dengan tangan kiri.
Tangan kanannya tidak bergerak sama sekali.
Kami makan bubur di trotoar depan pasar, di atas peti kayu.
Waktu makan, dia terpaksa melepaskan.
Dan setelah selesai, waktu kami berdiri, aku melihatnya melirik tanganku sekali — cepat sekali, setengah detik — lalu mengalihkan pandangan.
Dia tidak mengulurkan tangan lagi.
Jadi aku yang mengambil.
Dia kaget. Aku merasakannya di jarinya.
“Claudia—”
“Nggak ada kerumunan, aku tau.”
“Iya.”
“Aku tetep mau.”
Dia diam.
Kami jalan pulang dengan dua tas kain yang berat, di bawah matahari jam sembilan, dan lengan kami menempel karena tas-tas itu memaksa kami jalan terlalu dekat.
Di tengah jalan, dia berkata:
“Claudia.”
“Hm.”
“Ini masuk daftar nggak?”
“Daftar apa?”
“Yang kemarin. Yang dicoret.” Dia menatap lurus ke depan. “Ini nomor berapa?”
Dan aku berhenti jalan.
Dia ikut berhenti karena tangan kami tersambung.
“Ries.”
“Hm.”
“Ini nggak ada di daftar.”
“Berarti aku salah?”
“Nggak.” Aku menggeleng. “Berarti daftarnya yang salah.”
Dia memikirkannya. Aku bisa melihat dia benar-benar memikirkannya, seperti soal ujian.
“Oh,” katanya.
Lalu, setelah lima langkah:
“Berarti daftarnya dibuang aja?”
“Iya.”
“Semuanya?”
“Semuanya.”
“Nomor satu juga? Yang chat pagi?”
“...Yang itu boleh disimpen.”
Dan aku merasakan tangannya menggenggam sedikit lebih erat, cuma sepersekian, cuma sebentar.
Dia tidak bilang apa-apa.
Aku juga tidak.
Di mulut Gang Kenanga, Bang Jecky sedang duduk di atas motornya.
Dia melihat kami dari jarak tiga puluh meter.
Dia melihat tas kain.
Dia melihat tangan.
Dan dia meletakkan HP-nya di jok, turun dari motor, dan berdiri tegak seperti tentara.
“Bang,” kata Aries.
Bang Jecky tidak menjawab.
Dia mengangkat satu tangan ke dadanya.
“Bang, kenapa?”
“Nggak,” katanya, dengan suara pecah. “Nggak apa-apa. Lanjut. Lanjut aja.”
Dan waktu kami lewat, aku mendengar dia bergumam ke dirinya sendiri:
“...padahal gue baru ngajarin kemaren.”
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah reading
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu