← Giliranmu Istirahat

Chapter Sixteen

Sepuluh Menit di Seberang Jalan

POV: Gita


Dua minggu.

Itu berapa lama aku tidak bisa menatap wajahnya.

Bukan karena marah. Karena setiap kali dia lewat di samping bangkuku, ada satu kalimat yang muncul di kepalaku — panggilan orang tua, Bu. Yang beneran — dan kalimat itu punya suaraku sendiri di dalamnya, dan tidak ada cara untuk mematikannya.

Aku sudah menyiapkan permintaan maaf. Tentu saja aku sudah menyiapkan. Aku menulisnya di aplikasi catatan HP-ku, empat versi, dan versi keempat panjangnya dua ratus kata dan aku bangga sekali dengannya.

Tapi setiap kali aku membacanya lagi, ada satu masalah yang tidak bisa kuselesaikan:

Semua versi itu tentang aku.

Aku nggak tau.
Aku salah.
Aku menyesal.

Empat versi, dua ratus kata, dan subjeknya aku terus.

Jadi aku tidak mengirimkannya.


Yang membuatku akhirnya bergerak adalah hal yang sangat kecil.

Hari Senin, jam istirahat, aku lewat di belakang kelas dan melihat Claudia duduk di bangku kosong sebelah Aries.

Mereka tidak bicara. Aries tidur. Claudia mengerjakan sesuatu di bukunya.

Lalu Aries bergerak dalam tidurnya, dan tangannya menggeser tempat pensil Claudia sampai hampir jatuh dari meja.

Claudia menangkapnya tanpa mengangkat kepala.

Tanpa mengangkat kepala.

Seperti orang yang sudah tahu itu akan terjadi. Seperti orang yang sudah menangkap tempat pensil itu dua puluh kali sebelumnya.

Aku berdiri di ambang pintu belakang dan merasakan sesuatu yang tidak enak, dan aku butuh waktu satu jam penuh untuk memberi nama pada perasaan itu, dan waktu aku menemukan namanya aku tidak suka namanya.

Tertinggal.

Bukan cemburu. Waktu itu belum. Aku bersumpah waktu itu belum.

Tertinggal.

Seperti orang yang berdiri di depan pintu sebuah ruangan sambil menyusun kalimat pembuka yang bagus, dan waktu akhirnya dia mengangkat kepala, dia sadar orang lain sudah masuk lewat jendela tiga bulan yang lalu dan sekarang sudah tahu di mana saklar lampunya.


Selasa malam, aku bilang ke Mama aku mau beli buku.

Aku naik ojek ke minimarket.

Rencanaku sederhana dan bodoh: aku akan masuk, pura-pura membeli sesuatu, dan berkata “eh, kamu kerja di sini?” dengan nada terkejut, dan dari situ percakapannya akan mengalir, dan aku akan minta maaf dengan cara yang tidak terlihat seperti sedang minta maaf.

Aku sudah melatihnya di dalam ojek.

Aku sampai jam delapan lewat sepuluh.

Dan dia tidak ada di dalam.


Yang ada di kasir laki-laki lain, yang mengantuk, yang kupikir mungkin namanya Yuda.

Aku berdiri di rak minuman selama empat menit sambil melihat ke pintu.

Lalu aku keluar.

Dan waktu aku keluar, aku melihat ke kiri, ke arah bagian samping bangunan, ke tempat truk pengiriman biasanya berhenti.

Dan aku melihatnya.


Truk galon.

Bukan truk besar. Truk kecil, bak terbuka, penuh galon air sampai setinggi kepala.

Ada dua orang. Yang satu laki-laki dewasa berumur empat puluhan, memakai kaus oblong, berdiri di atas bak dan menurunkan galon satu per satu ke bawah.

Yang satu lagi menerimanya di bawah dan membawanya ke dalam gudang samping.

Yang satu lagi memakai seragam sekolah.

Celana abu-abu. Kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. Sepatu hitam yang sudah tidak hitam.

Aku berdiri di seberang jalan.

Dan aku menghitung.


Satu galon itu sembilan belas liter.

Aku tahu angka itu karena di rumahku ada galon dan aku pernah membaca tulisannya waktu bosan.

Sembilan belas liter air beratnya sembilan belas kilo. Ditambah wadahnya, mungkin dua puluh.

Dua puluh kilo.

Aries mengangkatnya dengan cara memeluknya — dua tangan melingkar, badan sedikit ke belakang untuk menyeimbangkan — lalu jalan dua belas langkah ke gudang, menaruhnya, dan kembali.

Setiap trip lima belas detik.

Aku menghitung sampai dua puluh galon, lalu berhenti menghitung, karena di galon kedua puluh dia berhenti sebentar dan menaruh tangan kanannya di pinggang kanan dan diam selama satu setengah detik.

Cuma satu setengah detik.

Lalu dia mengangkat galon berikutnya.


Sepuluh menit.

Aku berdiri di seberang jalan itu selama sepuluh menit.

Aku tahu persis karena aku mengecek HP-ku waktu mulai dan waktu selesai, dan aku menyimpan tangkapan layarnya, dan aku masih menyimpannya sampai sekarang, dan aku tidak akan pernah menghapusnya.

Jam delapan lewat empat belas sampai jam delapan dua puluh empat.

Dan yang perlu kutulis, karena ini bagian yang penting dan bagian yang tidak akan pernah bisa kubetulkan, adalah:

Aku tidak menyeberang.

Jalannya tidak lebar. Enam meter. Tidak ramai, jam segitu. Aku bisa menyeberang dalam empat langkah.

Aku tidak menyeberang.

Dan aku sudah memikirkan alasannya selama berbulan-bulan setelahnya, dan aku sudah mencoba banyak versi.

Versi pertama: aku nggak mau ganggu, dia lagi kerja.
Versi kedua: aku nggak mau dia malu.
Versi ketiga: aku takut dia nggak mau ngomong sama aku.

Semuanya masuk akal. Semuanya cukup bagus untuk dipakai kalau ada yang bertanya.

Semuanya bohong.

Alasan yang sebenarnya adalah:

Kalau aku menyeberang, aku harus melihat wajahnya dari dekat, dan dia akan bilang “nggak apa-apa, Git”, dengan nada yang sama seperti waktu dia bilang “maaf” empat kali di depan kelas.

Dan aku tidak akan sanggup mendengar itu.

Jadi aku berdiri di seberang jalan selama sepuluh menit demi kenyamanan diriku sendiri, dan aku menyebutnya kesopanan.


Galon terakhir turun jam delapan dua puluh empat.

Sopir truk itu menyerahkan sesuatu — uang, kupikir — dan Aries menerimanya dengan dua tangan dan membungkuk sedikit.

Membungkuk.

Ke sopir truk galon.

Lalu truk itu pergi, dan Aries berdiri sendirian di samping bangunan minimarket, di bawah lampu yang membuat semuanya kelihatan kuning.

Dia mengangkat lengan kemejanya dan mengelap wajahnya dengan bagian dalam lengan.

Lalu dia berdiri diam selama beberapa detik.

Lalu dia melihat ke arah jalan.

Dan aku pikir dia melihatku.

Aku benar-benar berpikir begitu, dan selama satu setengah detik jantungku berhenti, dan aku sudah menyiapkan wajah.

Lalu aku sadar dia tidak melihatku.

Dia melihat halte di ujung jalan, tiga puluh meter dari tempatku berdiri.

Dan dia tersenyum.


Aku menoleh untuk melihat apa yang dia lihat.

Di halte itu duduk Claudia Sintya Bella, memakai seragam, memangku termos hijau tua di lututnya, sedang melihat ke arah HP-nya dan belum menyadari apa-apa.

Aries jalan ke sana.

Dan aku melihat sesuatu yang aneh terjadi pada cara jalannya.

Dia tidak berjalan lebih cepat, persisnya. Bahunya yang berubah. Selama sepuluh menit tadi bahunya naik — naik dan tegang, seperti orang yang sedang menahan sesuatu di punggungnya, yang memang benar.

Dan sekarang bahunya turun.

Turun, sepuluh meter sebelum sampai.

Aku belum pernah melihat bahu Aries Kurniawan turun. Delapan bulan sekelas, tidak pernah.

Claudia mengangkat kepala. Dia berdiri. Dia bilang sesuatu — aku terlalu jauh untuk mendengar — dan menunjuk ke arah lengan kemejanya sendiri, dan Aries melihat lengannya sendiri, dan lalu Claudia mengeluarkan tisu dari tas dan menyerahkannya.

Dan Aries menerimanya.

Dia menerimanya.

Anak itu mengembalikan uang satu juta tiga ratus lima puluh ribu karena tidak sanggup menerimanya, dan dia menerima selembar tisu dari tangan Claudia tanpa berdebat sedetik pun.

Aku berdiri di seberang jalan dan aku mengerti sesuatu yang tidak ingin kumengerti.

Claudia sudah tahu takarannya.

Berapa yang boleh diberikan supaya diterima. Berapa yang terlalu banyak. Kapan harus menawarkan, kapan harus diam.

Dia sudah belajar itu.

Dia sudah belajar itu selama berbulan-bulan, sedikit demi sedikit, sambil aku menyusun empat versi permintaan maaf di aplikasi catatan HP-ku dan tidak mengirimkan satu pun.


Aku pulang jalan kaki sampai ujung jalan sebelum memesan ojek, karena aku tidak mau sopirnya melihat wajahku.

Di dalam ojek, aku membuka HP-ku.

Aku membuka aplikasi catatan.

Empat versi. Dua ratus kata di versi terakhir.

Aku membacanya sekali lagi, dari atas ke bawah.

Lalu aku memilih semuanya, dan menghapusnya, dan tidak menggantinya dengan apa pun.

Karena aku akhirnya mengerti kenapa keempatnya salah.

Bukan karena kalimatnya jelek.

Karena permintaan maaf itu untuk menutup sesuatu.

Kau minta maaf, orangnya bilang tidak apa-apa, dan selesai — dan yang paling lega adalah yang minta maaf.

Aries akan memberikan itu kepadaku dalam tiga detik. Dia bahkan tidak akan berpikir dua kali. Dia akan bilang “nggak apa-apa, Git”, dan aku akan pulang merasa ringan, dan besoknya dia tetap mengangkat dua puluh galon jam delapan malam memakai seragam sekolah.

Aku akan membeli kelegaanku sendiri dengan kalimat yang dia berikan gratis.

Itu bukan minta maaf.

Itu meminta lagi.


Aku sampai di rumah jam sembilan lewat.

Mama di ruang tengah. “Bukunya mana?”

“Habis.”

“Lho, kok habis.”

“Habis, Ma.”

Aku naik ke kamar, menutup pintu, dan duduk di lantai bersandar ke kasur, dan aku tidak menyalakan lampu.

Lalu aku membuka HP-ku lagi, dan mengetik pesan.

Bukan ke Aries.

Bella. Besok pulang sekolah aku ikut ke gang.

Centang satu. Centang dua. Dibaca.

Sedang mengetik...

Berhenti.

Sedang mengetik...

Kenapa?

Aku menatap kata itu.

Satu kata. Tiga huruf. Dan di dalamnya ada seluruh dua bulan terakhir.

Dia tidak bilang jangan. Dia tidak bilang nggak boleh. Dia bertanya kenapa, karena dia sudah tahu — dia sudah lama tahu — bahwa yang paling berbahaya untuk keluarga itu bukan orang jahat.

Yang paling berbahaya adalah orang baik yang datang untuk menebus dirinya sendiri, lalu berhenti begitu merasa cukup.

Aku mengetik.

Aku menghapus.

Aku mengetik lagi.

Dan yang akhirnya kukirim adalah:

Aku nggak tau. Aku cuma nggak mau berdiri di seberang jalan lagi.

Balasannya datang empat menit kemudian.

Jam 4. Mulut gang. Jangan bawa apa-apa.

Lalu, satu menit setelahnya:

Dan Git — yang bakal nemuin kamu bukan Aries.

Sekar.