Chapter Eight
Tiga Hari Tanpa Gang
POV: Claudia
Hari pertama aku bilang pada diriku sendiri bahwa ini bukan menghindar. Ini cuma tidak ada alasan untuk ke sana.
Yang mana benar. Aku memang tidak punya alasan. Aku bukan siapa-siapa di Gang Kenanga. Aku cuma anak yang salah alamat, yang kebetulan disuruh duduk oleh seorang ibu warung, dan yang kemudian datang lagi tiga kali karena — entah kenapa.
Jadi aku pulang ke rumah. Mandi. Makan. Mengerjakan tugas.
Jam delapan malam aku sudah selesai semua, dan masih ada empat jam sebelum tidur, dan aku tidak tahu harus kuapakan.
Hari kedua aku pergi ke mal dengan Vira dan Nadin.
“Bell, kamu kenapa sih.”
“Nggak kenapa-napa.”
“Dari tadi diem.”
“Aku emang gitu.”
“Enggak.” Nadin menyedot minumannya. “Kamu tuh biasanya paling cerewet.”
Kami di kafe di lantai tiga. Ada musik. Ada AC yang terlalu dingin. Ada foto-foto yang harus diambil sebelum makanannya dingin.
Vira menaruh HP-nya.
“Ini gara-gara Aries, ya?”
Aku hampir menumpahkan minumanku.
“Hah?”
“Ya elah.” Nadin memutar mata. “Bell. Dia manggil kamu Claudia di depan kita, terus kamu diem aja, terus kamu duduk sama dia sejam pas istirahat—”
“Itu cuma—”
“—terus dua minggu ini kamu ngilang tiap pulang sekolah dan kalau ditanya kamu bilang ‘ada urusan’.”
Aku diam.
“Bell.” Vira menopang dagu. “Kalau kamu suka, ya nggak apa-apa. Cuma... hati-hati aja.”
“Hati-hati kenapa?”
“Ya... dia kan...” Vira menggerakkan tangannya seperti mencari kata di udara. “Beda.”
“Beda gimana?”
“Beda aja.”
Dan waktu itu aku ingin marah. Aku benar-benar ingin marah, aku sudah menyiapkan kalimat, aku sudah membuka mulut untuk bilang bahwa dia adalah orang paling luar biasa yang pernah kutemui dan mereka tidak tahu apa-apa—
Lalu aku sadar aku tidak boleh.
Karena kalau aku bilang, aku harus menjelaskan.
Dan kalau aku menjelaskan, aku sedang membuka hidup orang lain kepada dua orang yang tidak dia izinkan masuk.
Itu bukan milikku untuk dibuka.
“Nggak apa-apa,” kataku. “Cuma capek.”
Vira mengangguk. Nadin kembali ke HP-nya.
Dan aku duduk di kafe lantai tiga dengan AC yang terlalu dingin, dan menyadari bahwa ada satu hal yang aku tahu dan mereka tidak, dan hal itu membuatku merasa sangat sendirian di tengah dua orang yang sudah kukenal sejak kelas tujuh.
Malam kedua, Mama pulang.
Jam sembilan lewat, masih pakai baju kerja, dan wajahnya wajah orang yang sudah tiga puluh jam bangun.
“Bella belum tidur?”
“Belum, Ma.”
“Sekolah gimana?”
“Baik.”
“Ada PR?”
“Udah selesai.”
Dia membuka kulkas, mengambil air, meminumnya sambil berdiri.
“Ma.”
“Hm?”
Dan aku bertanya, karena aku tidak tahu harus bertanya ke siapa lagi:
“Kalau kita mau bantu orang, tapi orangnya nggak mau dibantu, itu gimana?”
Mama menurunkan gelasnya.
“Bantu apa?”
“Ya... bantu.”
“Uang?”
“...Iya.”
Dia menatapku beberapa detik.
“Bella, kamu ngasih uang ke siapa?”
“Nggak ke siapa-siapa. Aku cuma nanya.”
“Kamu ditipu orang?”
“Nggak, Ma—”
“Bella, kalau ada yang minta-minta uang ke kamu—”
“Dia nggak minta.” Suaraku keluar lebih keras dari yang kumau. “Dia nolak. Itu masalahnya. Dia nolak.”
Mama diam.
Lalu dia menaruh gelasnya di wastafel, dan berkata dengan nada orang yang sedang menutup rapat: “Ya sudah kalau nolak. Berarti dia nggak butuh.”
“Ma, dia butuh.”
“Kalau butuh, dia terima.”
“Nggak segampang itu.”
“Bella.” Mama mengambil tasnya. “Mama capek. Besok Mama shift lagi jam enam. Kita bahas lain kali, ya.”
“Ma—”
“Tidur, sayang. Udah malem.”
Dan dia naik ke lantai dua.
Aku duduk di dapur sendirian, dan aku sadar sesuatu yang membuatku ingin tertawa dan menangis bersamaan:
Mama baru saja melakukan hal yang persis sama denganku.
Dia melihat masalah yang tidak dia mengerti, dia memberikan solusi paling cepat yang tersedia, dan dia menganggapnya selesai.
Aku belajar itu dari suatu tempat.
Sekarang aku tahu dari mana.
Hari ketiga aku tidak masuk sekolah.
Aku bilang sakit kepala, yang setengah benar.
Aku berbaring di kamar dari jam tujuh sampai jam sebelas, memandangi langit-langit, dan memikirkan hal yang sama berulang-ulang seperti lagu yang macet.
Kalau bukan uang, aku harus ngapain?
Nggak usah ngapa-ngapain.
Awalnya kupikir itu penolakan. Kupikir dia sedang bilang: jangan datang lagi.
Tapi aku terus memutarnya di kepalaku, dan di putaran kelima belas, aku melihat wajahnya lagi — sepersekian detik sebelum dia menghapusnya.
Dia bingung.
Dia bukan menolak. Dia tidak tahu jawabannya.
Tidak ada satu orang pun yang pernah bertanya apa yang bisa mereka lakukan untuk Aries Kurniawan, jadi dia tidak punya daftar. Dia tidak punya kolom itu. Kalau kau bertanya apa yang dia butuhkan, otaknya akan menjawab dengan hal-hal yang orang lain butuhkan, karena itu satu-satunya bahasa yang dia punya.
Aku duduk di kasur.
Dan aku mengerti kesalahanku bukan cuma soal uang.
Kesalahanku adalah aku datang membawa jawaban.
Aku datang seperti orang yang melihat masalah dan langsung menyelesaikannya, dan itu artinya aku memperlakukan hidupnya sebagai masalah yang harus diselesaikan.
Padahal yang dia perlukan bukan orang yang menyelesaikan.
Aku bangun. Buka lemari. Ganti baju.
Lalu aku berdiri di depan cermin selama satu menit penuh, dan berkata pelan, ke diriku sendiri:
“Claudia.”
Suaraku terdengar aneh mengucapkannya.
Sepuluh tahun tidak ada yang memanggilku begitu. Bahkan Mama memanggilku Bella. Guru-guru memanggilku Bella. Di rapor pun ditulis Claudia Sintya Bella dan semua orang membaca dua kata terakhirnya saja.
Dia satu-satunya yang membaca dari depan.
Aku mengulanginya sekali lagi, lebih pelan.
“Claudia.”
Lalu aku mengambil tasku dan keluar rumah tanpa membawa apa-apa di dalamnya.
Benar-benar tidak ada apa-apa. Aku sengaja mengeluarkan dompetku dan menaruhnya di laci. Kubawa uang pas untuk ojek pergi dan pulang, dua puluh enam ribu, di saku rok.
Tidak ada amplop. Tidak ada oleh-oleh. Tidak ada makanan dari toko yang bagus. Tidak ada apa pun yang bisa dihitung, dikembalikan, atau dicatat.
Aku datang dengan tangan kosong.
Gang Kenanga jam empat sore lebih ramai daripada jam lima.
Anak-anak baru pulang mengaji. Ada dua ibu-ibu duduk di depan rumah nomor tiga sambil mengupas bawang. Ada bunyi gerinda dari bengkel Pak Somad. Bau gorengan, lagi.
Aku berhenti di mulut gang.
Dan tiba-tiba aku takut.
Bukan takut diusir. Takut kalau ternyata mereka sudah tahu apa yang kulakukan, dan mereka akan bersikap sopan kepadaku, dan sopan itu — aku sudah belajar minggu ini — bisa jadi hal paling menyakitkan yang bisa dilakukan orang kepadamu.
“KAK CLAUDIA!”
Aku menoleh.
Lintang berlari dari arah warung dengan kecepatan penuh, tas masih di punggung, dan menabrakku di perut.
“Kak Claudia ke mana aja!”
“Aku—”
“Empat hari nggak dateng!”
“Kamu ngitung?”
“Ya ngitung dong.” Dia melepaskan pelukannya dan menarik tanganku. “Ayo, PR aku susah banget. Yang pecahan itu. Mas Aries nggak sempet ngajarin, dia pulangnya malem terus.”
Dia menarikku ke arah warung.
“Lintang.”
“Apa?”
“Aku nggak bawa apa-apa.”
Dia berhenti dan menoleh, kening berkerut, seperti aku baru saja mengatakan sesuatu dalam bahasa asing.
“Emang harus bawa apa?”
Bu Ratmi mengangkat kepala dari kompor.
“Lho, Mbak Bella.”
“Sore, Bu.”
“Ndelalah. Tak kira wis ora ngeloni mrene.”
“...Maaf, Bu?”
“Sini, duduk.”
“Bu, saya nggak—”
“Duduk.”
Aku duduk.
Piring datang dalam dua menit. Aku tidak memesan apa pun, seperti biasa.
“Bu.”
“Hm.”
“Saya boleh nanya sesuatu?”
“Nanya.”
Aku memutar sendok di piring.
“Kenapa Ibu nggak pernah mau saya bayar?”
Bu Ratmi berhenti mengaduk.
Dia berbalik, mengelap tangannya di celemek, dan menatapku dengan cara yang membuatku merasa seperti anak umur enam tahun.
“Mbak Bella.”
“Iya, Bu.”
“Kamu ngerti nggak bedane menehi karo mbayari?”
“...Nggak, Bu.”
“Nek aku ngekèki kowe sega,” katanya, “kuwi merga aku pengen kowe mangan. Titik. Ora ana sing kudu mbok balekake.”
Dia menuang teh ke gelas dan menaruhnya di depanku.
“Tapi nek kowe mbayar utangé wong liya,” lanjutnya, lebih pelan, “kuwi dudu ngekèki. Kuwi njupuk.”
“Njupuk?”
“Ngambil.” Dia duduk di bangku seberangku. “Kamu ngambil kesempatan dia buat ngelunasin sendiri.”
Aku menatap gelas teh itu.
“Ibu udah tau?”
“Ariese ora crito.” Bu Ratmi mengangkat bahu. “Tapi anak kuwi telung dina ora mangan nang kene. Aku ngerti.”
“Dia marah?”
“Ora.”
“Kenapa nggak marah?”
“Yo kuwi masalahé.” Bu Ratmi menepuk meja pelan, sekali. “Nek dheweke iso nesu, gampang. Nesu iku cepet mari.”
Dia berdiri, kembali ke kompornya.
“Sing angel kuwi bocah sing ora tau nesu,” katanya, membelakangiku. “Merga kabeh mlebu njero. Ora ana sing metu.”
Jam lima, aku duduk di lantai ruang depan rumah nomor tujuh, mengajari Lintang pecahan.
Bumi tidur di sofa dengan mulut terbuka.
Dan Sekar berdiri di ambang pintu dapur, tangan bersedekap, memperhatikan.
Dia tidak bilang apa-apa selama dua puluh menit.
Lalu, tanpa mengubah posisi berdirinya sedikit pun, dia berkata:
“Kak Claudia.”
“Iya?”
“Kakak yang bayar komite Mas Aries, ya?”
Aku merasa seluruh badanku jadi dingin.
Lintang mengangkat kepala. “Apa?”
“Bukan urusanmu, Lintang. Kerjain.”
Lintang kembali ke bukunya, sambil mengerutkan hidung.
Aku menaruh pensilku.
“...Iya,” kataku. “Aku.”
Sekar mengangguk pelan.
“Kenapa Kakak balik lagi ke sini?”
Ada banyak jawaban yang bisa kuberikan. Semuanya bagus. Semuanya sudah kususun di angkot tadi.
Tapi anak empat belas tahun itu berdiri di sana dengan tangan bersedekap dan wajah yang tidak menunjukkan apa pun, dan aku tahu — entah bagaimana aku tahu — bahwa kalau aku memberikan jawaban yang bagus, dia akan menutup pintu itu selamanya, pelan, dan tidak akan pernah dibuka lagi.
“Karena rumahku sepi,” kataku.
Sekar diam.
Lalu dia berbalik masuk ke dapur.
Dan dari dalam, tanpa menoleh, dia berkata:
“Kalau mau nunggu Mas pulang, jangan di warung. Di sini aja. Warungnya tutup jam sepuluh.”
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang reading
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu