← Giliranmu Istirahat

Chapter Ten

PR Matematika

POV: Claudia


Ada aturan tidak tertulis yang kupelajari dalam dua minggu berikutnya, dan aku mempelajarinya dengan cara yang sama seperti orang mempelajari kolam yang dalam: dengan menginjak pelan-pelan dan mundur setiap kali dasarnya hilang.

Aturan satu: aku boleh datang.
Aturan dua: aku tidak boleh membawa apa pun yang bisa dihitung.
Aturan tiga: aku boleh mengajari Lintang.

Itu saja. Cuma tiga.

Dan aturan ketiga bukan pemberian dari Aries. Itu diberikan oleh Lintang sendiri, secara sepihak, dengan cara menarik tanganku setiap kali aku muncul di mulut gang sambil berteriak, “KAK CLAUDIA! Yang kemaren aku masih nggak ngerti!”

Aku tidak akan menolak anak sepuluh tahun yang berteriak begitu.

Aku rasa Aries juga tidak bisa.


Aku datang tiga kali seminggu. Selasa, Kamis, Sabtu.

Aku tidak pernah bertanya boleh atau tidak. Aku sudah belajar bahwa kalau kau bertanya kepada Aries Kurniawan apakah sesuatu merepotkan, jawabannya selalu iya, dan kalau kau tidak bertanya, dia akan menerimanya sebagai fakta cuaca.

Selasa itu aku datang jam empat.

Bumi menabrak lututku di mulut gang seperti biasa.

“Kakak siapa?”

“Aku Claudia.”

“Bukan.”

“Bukan?”

“Bukan Kakak. Kakak cuma satu.”

Dialog ini terjadi setiap kali. Persis sama. Setiap kali.

Di minggu kedua aku bertanya ke Lintang kenapa, dan dia menjawab sambil mengunyah kerupuk, “Oh itu. Bumi cuma punya satu kakak cewek. Namanya Mbak Sekar. Jadi kalau ada cewek lain dipanggil kakak dia bingung.”

“Terus aku dipanggil apa dong?”

Lintang berpikir keras.

Lalu dia berteriak ke arah Bumi, “BUMI! Kak Claudia dipanggil apa?”

Bumi mendongak dari lantai warung tempat dia sedang menyusun tutup botol.

“Orang,” katanya.

“Orang?”

“Orang yang dateng.”

Dan dia kembali ke tutup botolnya, urusan selesai, dan sejak hari itu aku dipanggil Orang Yang Dateng oleh satu anak umur lima tahun, dan aku tidak pernah bisa menjelaskan kenapa panggilan itu membuatku merasa lebih diterima daripada semua panggilan yang pernah kuterima seumur hidupku.


Kami mengerjakan PR di lantai ruang depan.

Tidak di meja, karena meja mereka cuma satu dan itu meja makan dan Sekar memakainya untuk melipat baju.

Lantainya dingin dan ada satu ubin yang retak dan kalau kau duduk di atasnya kau akan merasakan ujungnya menusuk paha. Lintang tahu ubin mana itu dan selalu menyisakannya untukku, tanpa niat jahat, murni lupa.

“Kak, ini kenapa dibalik?”

“Kalau bagi pecahan, yang belakang dibalik terus dikali.”

“Kenapa?”

“Karena...” Aku berhenti.

Karena aku tidak tahu.

Aku bisa mengerjakannya. Aku selalu bisa mengerjakannya. Tapi tidak ada yang pernah bertanya kepadaku kenapa, dan aku tidak pernah bertanya kepada diriku sendiri.

“...Kakak nggak tau.”

“Hah?”

“Kakak nggak tau, Ntang. Kakak cuma hafal.”

Lintang menatapku dengan wajah kaget yang jujur sekali, seperti baru saja melihat guru jatuh dari kursi.

Lalu dia tertawa. Keras banget. Sampai berguling di lantai.

“KAK CLAUDIA NGGAK TAUUU!”

“Iya iya, jangan diteriakin—”

“MBAK SEKAR! KAK CLAUDIA NGGAK TAU KENAPA DIBALIK!”

Dari dapur terdengar suara datar: “Ya cari di internet.”

Dan itu, entah kenapa, adalah kalimat paling ramah yang pernah Sekar ucapkan kepadaku sampai saat itu.


Kami mencarinya di internet.

Ternyata ada alasannya. Ada alasan yang bagus, tentang membagi berarti mencari berapa banyak potongan, dan setelah dua puluh menit dan tiga video kami berdua akhirnya mengerti.

Lintang menepuk lantai. “Ohhh! Jadi kayak pizza!”

“Iya. Kayak pizza.”

“Kak, kita pernah beli pizza sekali.”

“Oh ya?”

“Iya. Waktu Mas Aries gajian pertama.” Dia mengangkat dua jari. “Dua tahun lalu. Yang paling kecil. Dibagi empat.”

Dia bilang itu dengan wajah orang yang menceritakan liburan ke luar negeri.

Aku menunduk ke buku dan pura-pura membaca soal nomor sembilan cukup lama.


Jam delapan Bumi tidur.

Jam sembilan Lintang tidur, di lantai, dengan buku masih di tangan, dan Sekar mengangkatnya ke kasur dengan cara yang jelas sudah dilakukan ratusan kali.

Jam sepuluh warung Bu Ratmi tutup.

Dan aku masih duduk di lantai ruang depan rumah nomor tujuh, karena Sekar pernah bilang boleh, dan Sekar tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak dia maksudkan.

“Kak Claudia.”

“Iya?”

“Nggak dijemput?”

“Nggak.”

“Mama Kakak nggak nanyain?”

Aku menggeleng.

Sekar menatapku dari ambang pintu dapur beberapa detik. Lalu masuk lagi.

Dua menit kemudian dia keluar membawa gelas dan menaruhnya di lantai di sebelahku. Teh.

Dia tidak bilang apa-apa. Tidak “diminum”, tidak “nih”. Cuma ditaruh, lalu pergi.

Aku minum.

Manis sekali.


Jam sebelas empat puluh, pintu terbuka.

Aries berhenti di ambang.

Dia melihatku duduk di lantai, di sebelah gelas kosong, dengan buku Lintang masih terbuka di depanku karena aku sedang menyalin ulang tiga soal supaya besok dia bisa latihan lagi.

Wajahnya melakukan sesuatu yang cepat sekali. Aku tidak sempat menangkapnya.

“Kamu masih di sini.”

“Iya.”

“Sekar yang nyuruh?”

“Bukan nyuruh. Ngizinin.”

Dia menaruh tasnya. Pelan sekali — dan aku baru menyadari belakangan bahwa cara dia menaruh tas itu punya arti, tapi malam itu aku belum tahu apa-apa.

Dia duduk di lantai. Punggung ke dinding. Jarak dua meter dariku.

Lalu dia menutup matanya.

Aku menghitung dalam hati. Satu. Dua. Tiga. Sampai sepuluh.

Di hitungan kesepuluh dia membuka matanya lagi, persis, seperti alarm.

“Kamu ngitung?” katanya.

“...Iya.”

“Kenapa?”

“Kamu selalu sepuluh detik.”

Dia menoleh.

“Kamu merhatiin itu?”

“Aku dateng tiga kali seminggu, Ries. Aku merhatiin banyak hal.”

Dia diam.

Lalu, dengan nada orang yang benar-benar ingin tahu jawabannya, dia bertanya:

“Kenapa kamu ke sini?”

Dan di sinilah, kalau aku masih jadi Claudia yang tiga minggu lalu, aku akan menjawab dengan sesuatu yang bagus.

Karena aku mau bantu.
Karena aku peduli.
Karena kamu butuh orang.

Semuanya bagus. Semuanya salah.

“Aku nggak bisa bantu apa-apa,” kataku.

Dia mengangkat kepalanya sedikit.

“Aku nggak bisa bayarin apa-apa. Aku udah tau. Aku nggak bisa masakin, soalnya aku nggak bisa masak. Aku nggak bisa jagain Bumi, soalnya Bu Ratmi lebih jago. Aku nggak bisa nggantiin shift kamu.” Aku menutup buku Lintang. “Aku cuma bisa dateng.”

Aries tidak menjawab.

“Dan kalau itu ngerepotin, bilang. Aku berhenti.”

Hening panjang.

Dari rumah sebelah ada suara TV yang belum dimatikan. Ada kucing di atas seng. Ada kipas angin.

“Nggak ngerepotin,” katanya akhirnya.

“Beneran?”

“Beneran.”

“Kamu selalu bilang gitu.”

“Iya.” Dia menyandarkan kepalanya ke dinding. “Tapi kali ini beneran.”


“Aries.”

“Hm.”

“Boleh nanya sesuatu?”

“Boleh.”

“Kalau kamu boleh milih.” Aku memeluk lututku. “Bukan yang kamu butuhin. Yang kamu mau. Kamu mau apa?”

Dan aku memperhatikan wajahnya.

Aku sengaja memperhatikan, karena aku sudah menyiapkan pertanyaan ini sejak tiga hari lalu dan aku ingin tahu apakah dugaanku benar.

Dugaanku benar.

Dia bingung.

Bukan berpikir. Bingung. Alisnya bergerak sedikit, matanya bergeser ke lantai, dan aku bisa melihat otaknya mencari sesuatu yang tidak ada di dalam sana. Seperti orang membuka laci yang selama ini dia kira berisi sesuatu dan menemukan laci itu kosong dan berdebu.

“...Nggak ada,” katanya.

“Nggak ada?”

“Nggak.”

“Nggak mungkin nggak ada.”

“Ada, sih.” Dia mengangguk. “Sekar masuk SMA negeri. Lintang nggak nunggak buku. Bumi punya sepatu yang muat.”

“Itu buat mereka.”

“Iya.”

“Aku nanya buat kamu.”

Dia diam lagi. Lebih lama.

Lalu dia berkata, pelan sekali, dengan nada orang yang malu pada jawabannya sendiri:

“...Aku nggak pernah kepikiran.”

Ada sesuatu yang menekan dadaku dari dalam.

“Ya udah, kepikirin sekarang.”

“Sekarang?”

“Iya. Sekarang. Aku tungguin.”

“Claudia—”

“Aku nggak ke mana-mana kok.”

Dan dia — Aries Kurniawan, yang mengangkat lima puluh karung beras jam lima pagi dan tidak mengeluh sekali pun — duduk di lantai rumahnya sendiri dan mencoba memikirkan satu hal yang dia inginkan, dan gagal, selama hampir satu menit penuh.

“Tidur,” katanya akhirnya.

“Tidur?”

“Iya.”

“Tidur doang?”

“Iya.”

“Berapa lama?”

Dia memikirkannya dengan serius. Benar-benar serius, seperti soal ujian.

“Delapan jam.”

“Delapan jam.”

“Iya. Sekali aja.” Dia mengangguk. “Nggak usah tiap hari. Sekali.”

Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.

“Oke,” kataku akhirnya. “Aku catet.”

“Catet buat apa?”

“Nggak buat apa-apa.”

“Itu bukan jawaban.”

“Iya.” Aku berdiri dan mengambil tasku. “Kamu juga sering gitu.”

Dan aku melihat sudut mulutnya bergerak. Bukan senyum penuh. Tapi lebih dari yang pernah kudapat sebelumnya.


Dia mengantarku ke mulut gang.

Bang Jecky sedang duduk di atas motornya di bawah lampu, main HP, dan mengangkat kepala waktu kami lewat.

“Wooo.”

“Malem, Bang,” kataku.

“Malem, Mbak.” Lalu, ke Aries, dengan nada yang sangat tidak sopan: “Ries.”

“Iya, Bang.”

“Jam berapa ini?”

“Setengah dua belas.”

“Terus?”

“Terus apa?”

Bang Jecky menatapnya. Lalu menatapku. Lalu menatapnya lagi.

“Ya Allah,” katanya. “Ya Allah, Ries.”

“Kenapa?”

“Nggak. Nggak apa-apa.” Dia menyalakan motornya. “Gue anterin Mbaknya ya, gratis.”

“Nggak usah, Bang, saya bisa pesenin—”

“GRATIS, Ries.” Bang Jecky menepuk jok belakang. “Sekali-sekali biarin gue yang bantu. Lo udah benerin knalpot gue tiga kali.”

Aries membuka mulut.

“Dua kali,” katanya.

“TIGA.”

“Yang ketiga itu Pak Somad.”

“Ya Allah.” Bang Jecky mengurut keningnya. “Naik, Mbak. Sebelum saya nangis.”


Aku naik.

Dan waktu motor mulai jalan, aku menoleh ke belakang.

Aries masih berdiri di mulut gang.

Dan dia mengangkat tangannya sedikit — bukan melambai, cuma diangkat, canggung, seperti orang yang tidak yakin apakah itu hal yang benar untuk dilakukan.

Lalu dia memanggil, cukup keras supaya terdengar di atas suara motor:

“Claudia!”

“Apa?”

“Hati-hati.”

Dan lalu, satu detik kemudian, seperti tambahan yang baru dia ingat:

“Makasih udah ngajarin Lintang. Aku nggak sempet.”

Aku.

Motornya sudah lima meter jalan waktu aku sadar, dan aku tidak bisa menoleh lagi karena Bang Jecky sudah masuk gang sebelah dan angin membuat mataku berair.

Setidaknya itu yang kubilang ke diriku sendiri malam itu.