← Giliranmu Istirahat

Chapter Forty Nine

Jam Lima Pagi

POV: Aries


Ini bukan pertama kalinya dia ada di dapurku jam lima pagi.

Yang pertama bulan November, dua minggu sebelum ulang tahunku, dan aku harus menceritakan yang pertama dulu supaya yang kedua ada artinya.


Bulan November, hari Minggu.

Dia datang jam setengah lima subuh dengan ojek, dan Sekar membukakan pintu, dan aku sedang menjerang air.

“Claudia? Ini jam berapa?”

“Setengah lima.”

“Kamu naik ojek jam segini?”

“Iya.”

“Sendirian?”

“Iya.”

“Claudia—”

“Ries.” Dia duduk di kursi. “Aku mau ngomong sesuatu, dan aku udah nyiapin tiga minggu, dan kalau aku nunda lagi aku bakal nunda selamanya.”

Aku mematikan kompor.


Dan dia mengeluarkan HP-nya dan membuka aplikasi catatan.

“Aku ngitung,” katanya.

“Ngitung apa?”

“Berapa kali adik-adik kamu bilang ‘sayang’ ke kamu.”

Aku berdiri di depan kompor yang sudah mati.

“...Hah?”

“Lintang rata-rata delapan kali seminggu. Aku tanya Sekar, terus aku tanya Lintang sendiri, terus aku rata-ratain.”

“Claudia—”

“Bumi rata-rata lima. Dia mulai bisa ngomong lengkap dari umur tiga.”

“Claudia, kenapa kamu—”

“Tiga tahun sembilan bulan,” katanya. “Dari hari itu sampai sekarang.”

Dan dia menaruh HP-nya di meja dan menggesernya ke arahku.

Ada angka di layarnya.

1.243


Aku menatap angka itu.

“Ini apa?”

“Itu berapa kali mereka bilang ke kamu,” katanya.

Dan lalu dia bilang, dengan suara yang datar sekali, seperti orang membaca laporan:

“Dan nol yang dibales.”


Aku duduk di kursi.

Aku tidak bisa berdiri lagi, jadi aku duduk.

“Kenapa kamu ngitung ini?”

“Karena aku nggak bisa maksa kamu ngomong,” katanya. “Aku udah janji sama diri aku sendiri bulan Juli. Aku nggak akan pernah minta.”

“Terus?”

“Terus ini bukan minta.” Dia menatapku. “Ini data.”

Dan aku duduk di dapurku sendiri jam lima kurang seperempat pagi, memandangi angka empat digit di layar HP retak yang bukan milikku.

“Kamu marah?” tanyanya.

“Enggak.”

“Ries.”

“Aku beneran nggak marah.” Aku menatap angka itu. “Aku cuma... aku nggak tau angkanya.”

“Sekarang tau.”

“Iya.”

Dan lalu dia bilang hal yang membuatku menutup mataku:

“Aku nggak nunjukin ini biar kamu ngomong ke aku,” katanya. “Aku nggak peduli kamu ngomong ke aku atau enggak, Ries. Aku serius, aku udah selesai sama itu.”

Dia mengambil HP-nya kembali.

“Aku nunjukin ini karena Lintang umur sepuluh,” katanya. “Dan dia udah delapan kali seminggu selama tiga tahun.”

Dan dia berdiri, dan menaruh kursinya kembali, dan berkata:

“Sisanya urusan kamu.”


Dua puluh empat percobaan.

Dan yang kedua puluh lima berhasil, tanggal delapan belas November, jam dua belas lewat sepuluh malam, gara-gara adikku membicarakan tagihan air.

Aku menceritakannya ke Claudia besoknya di undakan.

Dan dia menangis di trotoar depan toko kelontong yang sudah tutup, cukup lama, dan waktu aku bertanya kenapa dia bilang “nggak apa-apa”, dan waktu aku bilang itu bukan jawaban dia bilang “iya, aku belajar dari kamu”, seperti biasa.

Dan lalu dia bertanya, “Kamu bilang ke berapa orang?”

Dan aku bilang, “Tiga.”

Dan dia mengangguk dan bilang, “Bagus.”

Dan dia tidak bertanya lebih jauh dari itu, tidak satu kali pun, sampai bulan Maret.


Sekarang yang kedua.

Tanggal sebelas Januari, hari Sabtu.

Wawancaranya jam lima pagi.

“Jam lima?”

“Iya.”

“Kenapa jam lima?”

“Beda waktu.” Dia mengangkat bahu di telepon. “Di sana jam sepuluh malam. Katanya panelnya cuma bisa jam segitu.”

“Berapa lama?”

“Dua puluh menit.”

Dan lalu, setelah jeda:

“Ries.”

“Hm?”

“Boleh aku ngerjainnya di rumah kamu?”


Aku bertanya kenapa.

Aku tidak bertanya dengan halus. Aku bertanya persis begitu: “Kenapa?”

Dan dia bilang:

“Karena kalau aku ngerjainnya di rumah aku, aku bakal duduk di ruang makan yang muat delapan orang, jam lima pagi, sendirian, dan ngomong ke laptop selama dua puluh menit tentang kenapa aku layak.”

Dia berhenti.

“Terus aku tutup laptopnya,” katanya. “Terus nggak ada siapa-siapa.”

Dan aku bilang, “Jam berapa kamu dateng?”


Dia datang jam setengah lima.

Sekar sudah bangun — Sekar selalu sudah bangun. Dia menyiapkan meja, memindahkan piring-piring, mengelap permukaannya dua kali.

Lintang bangun juga, walaupun tidak ada yang menyuruhnya.

Dan Bumi bangun karena Lintang bangun, dan menangis sebentar karena masih gelap, dan lalu tidur lagi di pangkuan Sekar.

Dan jam lima kurang sepuluh, di dapur rumah nomor tujuh Gang Kenanga, ada laptop terbuka di atas meja belajar bekas yang kaki depannya diganjal ubin.


“Sinyalnya gimana?”

“Dua bar.”

“Cukup?”

“Nggak tau.”

Dan aku berdiri dan mengambil HP-ku dan menyalakan hotspot dan menaruhnya di atas lemari, karena di atas lemari sinyalnya paling bagus dan aku sudah tahu itu sejak dua tahun lalu.

“Ries, kuota kamu—”

“Dua puluh menit.”

“Kamu cuma punya—”

“Claudia.”

Dan dia menutup mulutnya.


Aku duduk di lantai, di luar frame kamera, membelakangi tembok.

Sekar di dapur dengan Bumi.

Lintang duduk di lantai di sebelahku, dan aku sudah menyuruhnya tidur lagi tiga kali dan dia menolak tiga kali dan akhirnya aku menyerah.

Dan jam lima tepat, laptop itu berbunyi.


Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

Semuanya bahasa Inggris. Cepat. Ada tiga orang di layar, dua perempuan satu laki-laki, dan mereka bergantian bicara.

Yang kumengerti cuma nada.

Dan Claudia menjawab dengan suara yang tidak pernah kudengar sebelumnya — suara yang lebih tegak, lebih terang, suara orang yang sedang jadi versi lain dari dirinya.

Dan di menit kesebelas, salah satu dari mereka bertanya sesuatu yang panjang.

Dan Claudia diam.

Diam lama.

Dan aku melihat punggungnya, dan aku melihat bahunya naik.


Dan lalu dia menjawab.

Dan di tengah jawabannya, dia menyebut satu kata yang kumengerti.

“Kenanga.”

Dan aku duduk di lantai dapurku sendiri dan mendengar nama gang tempat aku tinggal diucapkan dalam kalimat bahasa Inggris kepada tiga orang di belahan dunia lain jam lima lewat sebelas pagi.

Dan Lintang menyikutku dan berbisik, “Mas! Dia nyebut gang kita!”

Dan aku bilang, “Sst.”

Dan Lintang bilang, “MAS DIA NYEBUT GANG KITA.”


Selesai jam lima lewat dua puluh tiga.

Dia menutup laptopnya.

Dan dia duduk di kursi itu tanpa bergerak selama beberapa detik.

Lalu dia berbalik.

Dan wajahnya — aku belum pernah melihat wajahnya seperti itu. Bukan senang, bukan lega. Kosong. Seperti orang yang baru menurunkan sesuatu yang sudah terlalu lama dipegang sehingga tangannya lupa bentuk aslinya.

“Gimana?” tanyaku.

“Nggak tau.”

“Claudia.”

“Aku beneran nggak tau, Ries.”

Dan Lintang bilang, “Kak Claudia nyebut gang kita!”

Dan Claudia bilang, “Iya.”

Dan Lintang bilang, “Kenapa?”

Dan Claudia bilang, “Mereka nanya aku pernah ngalamin apa yang ngubah cara aku mikir.”

Dan Lintang bilang, “Terus Kakak jawab apa?”

Dan Claudia bilang, “Aku jawab: salah alamat.”


Sekar mengusir semua orang jam setengah enam.

Aku ingin mencatat itu apa adanya karena adikku melakukannya dengan sangat tidak halus.

“Lintang, tidur lagi.”

“Aku nggak ngantuk.”

“Lintang.”

“Tapi—”

Lintang.

Dan Lintang pergi sambil menggerutu, dan Sekar menggendong Bumi masuk kamar, dan sebelum menutup pintu dia bilang — tanpa menoleh, dengan suara datar seperti biasa:

“Mas, aku tidur lagi. Bangunin jam enam.”

Dan pintunya ditutup.

Dan tinggal kami berdua di dapur.


Jam lima lewat tiga puluh empat.

Aku ingat jamnya karena ada jam dinding di dapur yang bunyinya keras dan aku selalu mendengarnya.

Langit di luar mulai abu-abu.

Ayam Bu Ning berbunyi. Radio dangdut Pak Somad belum menyala — itu jam enam.

Dan Claudia berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah kompor, tempat aku berdiri, dan menyandarkan pinggangnya ke meja di sebelahku.

“Ries.”

“Hm?”

“Aku capek banget.”

“Tidur di kamar Sekar.”

“Bukan capek yang itu.”

Dan dia menutup matanya.

Dan aku berdiri di sana dan aku tidak tahu harus melakukan apa, seperti biasa.


Aku ingin menjelaskan sesuatu.

Aku sudah delapan belas tahun dan aku sudah punya pacar sepuluh bulan dan aku masih tidak tahu apa-apa.

Aku serius. Aku bukan sedang merendah.

Aku tahu cara mengangkat lima puluh karung beras tanpa merusak pinggang. Aku tahu berapa lama nasi bertahan kalau tidak ada kulkas. Aku tahu cara membuat anak lima tahun berhenti menangis dalam empat menit. Aku tahu urutan surat yang harus diurus kalau orang tuamu meninggal.

Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan kalau perempuan yang kau sayangi berdiri di sebelahmu di dapur jam setengah enam pagi dan bilang dia capek.


Jadi aku melakukan hal yang kupikir paling masuk akal.

Aku bilang, “Mau teh?”

Dan dia membuka matanya.

Dan dia menatapku selama sekitar dua detik.

Lalu dia mulai tertawa.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Claudia.”

“Nggak apa-apa, Ries. Ya Tuhan.” Dia menutup wajahnya dengan satu tangan. “Sepuluh bulan.”

“Apanya sepuluh bulan?”

“Nggak apa-apa.”

Dan aku bilang, “Itu bukan jawaban.”

Dan dia bilang, “Iya.”


Dan lalu dia berhenti tertawa.

Dan dia menoleh.

Dan aku menyadari — dengan sangat terlambat, seperti biasa, dengan kecepatan yang belakangan kupikir memalukan — bahwa jarak kami sekitar tiga puluh sentimeter dan sudah begitu sejak dua menit yang lalu.

“Ries.”

“Hm.”

“Aku boleh?”

Dan aku bilang, “Boleh apa?”

Dan dia bilang, “Aries.”

Dan aku bilang, “...Oh.”


Aku ingin menuliskan bagian ini dengan jujur.

Aku sudah membaca beberapa hal — bukan sengaja, cuma yang lewat — dan di semua yang pernah kubaca, bagian ini selalu bagus.

Bagianku tidak bagus.

Aku menutup mataku terlalu cepat. Terlalu cepat, maksudku, sekitar dua detik sebelum ada yang bergerak, sehingga aku berdiri di dapurku sendiri dengan mata tertutup rapat sementara tidak terjadi apa-apa.

Dan aku mendengarnya menahan tawa.

Jadi aku membuka mataku lagi.

“Maaf.”

“Nggak apa-apa.”

“Aku nggak tau timing-nya.”

“Ries, nggak apa-apa.”

“Aku harus merem kapan?”

Dan dia bilang, “Ya Tuhan.”

Dan aku bilang, “Aku nanya beneran.”


Dan dia berhenti tertawa.

Dan dia mengangkat tangannya dan menaruhnya di sisi wajahku.

Dan dia bilang, sangat pelan:

“Nggak usah mikirin apa-apa. Sekali ini aja.”

Dan itu adalah kalimat paling sulit yang pernah ada dalam hidupku.

Karena aku selalu memikirkan sesuatu. Setiap detik sejak umur empat belas tahun. Ada bagian di kepalaku yang tidak pernah berhenti menghitung, tidak waktu tidur, tidak waktu makan, tidak waktu apa pun.

Dan aku berdiri di dapur itu dan aku mencoba mematikannya.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun sembilan bulan, sesaat, ia mati.


Aku tidak akan menuliskan detailnya.

Bukan karena aku malu.

Karena ada beberapa hal yang tidak untuk ditulis, dan karena aku sudah menuliskan hampir semua hal lain di dalam hidupku di sini, dan aku ingin menyimpan satu.

Yang akan kutuliskan cuma ini.

Waktu selesai, aku tidak tahu harus bilang apa.

Jadi aku bilang:

“Makasih.”


Dan Claudia menaruh dahinya di bahuku dan mulai tertawa sampai bahunya bergetar.

“Kenapa?”

“‘Makasih.’”

“Salah?”

“Nggak salah.”

“Terus kenapa?”

“Nggak apa-apa, Ries.” Dan dia mengangkat wajahnya, dan matanya basah, dan dia tersenyum lebar sekali. “Nggak apa-apa. Serius.”

“Aku harus bilang apa?”

“Nggak usah bilang apa-apa.”

“Tapi kalau nggak bilang apa-apa nanti—”

Aries.

Aku menutup mulutku.

“Kamu udah bener,” katanya.

Dan aku bilang, “Aku belum ngapa-ngapain.”

Dan dia bilang, “Iya.”

Dan lalu dia bilang, dan suaranya berubah:

“Itu justru bagiannya.”


Dan aku berdiri di dapur rumah nomor tujuh jam lima lewat empat puluh satu pagi tanggal sebelas Januari dan aku ingat.

Halte. Hujan. Bahu.

Bulan Maret, tahun lalu.

Terus gimana aku tau aku udah bener?
Kamu udah bener.
Aku belum ngapa-ngapain.
Iya. Itu justru bagiannya.

Sepuluh bulan.

Kalimat yang sama, persis, kata per kata.

Dan aku menyadari bahwa dia mengulanginya dengan sengaja, dan aku menyadari bahwa dia sudah menyimpan kalimat itu selama sepuluh bulan untuk dipakai sekarang.

“Claudia.”

“Hm?”

“Kamu inget?”

Dan dia bilang, “Aku inget semuanya, Ries.”

Dan lalu dia bilang, “Kamu bukan satu-satunya yang ngitung.”


Jam enam kurang, ayam Bu Ning berbunyi lagi dan radio dangdut Pak Somad menyala.

Lagu yang sama seperti setiap pagi selama tiga tahun.

Dan aku harus membangunkan Sekar, dan aku harus berangkat jam enam, dan Claudia harus pulang sebelum gang bangun sepenuhnya karena kalau tidak, Bu Ratmi akan tahu dia di sini sejak jam setengah lima dan akan ada pertanyaan sampai bulan depan.

Jadi kami keluar.

Dan di ambang pintu, dia berhenti.

“Ries.”

“Hm?”

“Aku sayang kamu.”

Seperti biasa. Ringan. Tanpa jeda, tanpa menunggu, tanpa wajah berharap.

Dan aku sudah menyiapkan jawabannya sejak semalam, seperti biasa, karena aku selalu menyiapkannya sejak semalam.

Dan yang keluar dari mulutku adalah:

“Hati-hati di jalan.”


Dia tertawa dan pergi.

Dan aku berdiri di ambang pintu rumah nomor tujuh dan menghantamkan telapak tanganku ke dahiku sendiri satu kali, cukup keras, dan Bang Jecky melihatnya dari ujung gang dan tidak pernah membiarkanku melupakannya sampai sekarang.

Empat puluh tiga hari lagi.

Itu berapa lama sampai aku akhirnya mengucapkannya.

Dan aku sudah tahu waktu itu — berdiri di ambang pintu jam enam kurang lima pagi sambil memegang dahiku — bahwa aku tidak boleh menunggu momen yang bener.

Aku sudah belajar itu di bulan November, dari adikku, dan dari tagihan air.

Aku tetap menunggu empat puluh tiga hari.

Karena ternyata belajar sekali tidak cukup, dan ada hal-hal yang harus kaupelajari dua kali, dan yang kedua selalu lebih mahal.