Chapter Nineteen
Yang Tidak Boleh Dibayar
POV: Aries
Tiga minggu.
Itu berapa lama aku berhasil.
Tiga minggu di mana aku bangun jam empat dua puluh lima, bekerja di tujuh tempat, mengganti gudang dengan angkut semen di toko bangunan Pak Ilyas setiap Sabtu dan Minggu sore, dan tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa aku sudah tidak bekerja di gudang lagi.
Tiga minggu di mana setiap malam sebelum tidur aku menghitung ulang di kepala, dan hasilnya selalu sama, dan hasilnya selalu kurang.
Dan tiga minggu di mana Mbah Tun keluar dari puskesmas, pulang ke rumahnya, dan mulai memasak lagi dengan satu tangan.
Aku pikir aku menang.
Yang meruntuhkannya adalah Mas Yuda.
Bukan salahnya. Aku ingin menekankan itu, karena belakangan aku sempat marah kepadanya selama kira-kira empat jam, dan empat jam itu adalah salah satu hal paling memalukan yang pernah kulakukan.
Sabtu sore, Bu Ratmi mengantar Mbah Tun kontrol ke puskesmas. Pulangnya mereka mampir ke minimarket untuk membeli tisu basah.
Mas Yuda di kasir.
Dan Mas Yuda, karena dia orang yang ramah dan karena tidak ada pembeli lain, berbasa-basi.
“Bu Ratmi, ya? Yang tetangganya Aries?”
“Iyo.”
“Wah, si Aries sekarang nambah shift Sabtu, Bu. Rajin banget dia.”
“Nambah?”
“Iya, soalnya yang gudang udah nggak.”
Mbah Tun mengangkat kepalanya.
“Gudang opo?”
“Yang malem itu, Bu. Yang di Jalan Industri.” Mas Yuda memasukkan tisu ke plastik. “Bayarannya gede lho di situ. Sayang banget dia keluar.”
“Keluar?”
“Dipecat sih sebenernya.” Mas Yuda mengangkat bahu. “Katanya dia ninggalin opname tengah malem. Kalau opname kan nggak boleh pergi.”
“Kapan?”
“Hah?”
“Kapan dipecaté.”
Mas Yuda memikirkannya.
“Tiga mingguan lalu? Rabu malem, kalau nggak salah. Soalnya besoknya dia dateng ke sini pagi-pagi terus nanya ada shift kosong nggak.”
Bu Ratmi bercerita padaku belakangan bahwa Mbah Tun tidak bilang apa-apa sepanjang perjalanan pulang.
Tidak satu kata pun.
Dan waktu mereka sampai di mulut gang, Mbah Tun tidak belok ke rumahnya.
Dia belok ke rumah nomor tujuh.
Aku pulang jam sebelas empat puluh.
Gang sudah gelap seperti biasa. Warung tutup. Bengkel tutup. Lampu Om Yusuf menyala seperti biasa.
Dan di depan pintu rumahku, ada orang duduk di kursi plastik.
Aku berhenti dari jarak lima belas meter.
“Mbah?”
Dia tidak menjawab.
Aku jalan mendekat. Tangan kanannya masih digips, ditopang selendang di leher. Dia duduk tegak, kaki rapat, tangan kirinya di pangkuan.
“Mbah, ini udah jam sebelas lebih.”
“Aku ngerti.”
“Mbah kenapa di sini?”
“Nunggu kowe.”
“Ya udah, masuk dulu, Mbah. Dingin.”
“Ora.”
“Mbah—”
“Aku ora mlebu.”
Aku berjongkok di depan kursinya supaya wajah kami sejajar.
“Mbah, ada apa? Mbah sakit? Tangannya nyeri?”
Mbah Tun menatapku.
Dan lalu dia bertanya, dengan suara yang sangat pelan dan sangat jelas:
“Ries. Rabu bengi kuwi, kowe kerjo nang ngendi?”
Aku ingin menuliskan bahwa aku menjawab dengan tenang.
Yang sebenarnya terjadi adalah tubuhku menjawab lebih dulu dari mulutku. Bahuku turun. Napasku berhenti sepersekian detik. Dan seorang perempuan tujuh puluh tiga tahun yang sudah membesarkan entah berapa anak dalam hidupnya membaca itu dalam satu detik.
“...Libur, Mbah,” kataku.
“Ries.”
“Rabu emang libur.”
“Ries.”
Aku menutup mulutku.
Mbah Tun menarik napas, dan waktu dia mengeluarkannya, suaranya bergetar.
“Kowe metu ko kerjaan,” katanya. “Merga aku.”
“Bukan gitu—”
“Kerjaan sing paling gedhe bayarané.”
“Mbah, itu—”
“Aku wis takon nang Yuda. Aku wis ngitung tanggalé.”
Dia menatapku, dan matanya sudah basah, dan dia tidak menghapusnya.
“Rabu bengi kuwi aku tibo,” katanya. “Lan bengi kuwi kowe kelangan kerjaanmu.”
Aku diam.
Dan di situlah aku melakukan kesalahan terbesarku malam itu, walaupun waktu itu aku pikir itu kebaikan.
“Mbah,” kataku. “Itu udah selesai. Saya udah dapet gantinya. Toko bangunan Pak Ilyas. Sabtu Minggu.”
“Piro bayarané?”
“Cukup, Mbah.”
“Piro.”
“Mbah—”
“PIRO, RIES.”
Perempuan tujuh puluh tiga tahun itu berteriak, jam sebelas empat puluh lima malam, di gang yang sudah tidur.
Dan lampu-lampu mulai menyala.
Rumah nomor lima menyala duluan. Lalu nomor tiga. Lalu bengkel.
Dalam empat menit ada tujuh orang di depan rumahku.
Bu Ratmi masih memakai daster tidur. Pak Somad memakai sarung. Om Yusuf membawa senter yang tidak dia nyalakan. Bang Jecky datang paling akhir, setengah berlari, memakai kaus dalam.
“Ada apa? Ada apa?”
“Mbah Tun kenapa?”
“Ries, kenapa Mbah Tun nangis?”
Dan Mbah Tun, dari kursi plastik itu, dengan satu tangan digips, menceritakan semuanya.
Dengan urutan. Dengan tanggal. Dengan angka gaji yang dia dapat dari Mas Yuda.
Aku berdiri di depan pintu rumahku sendiri dan tidak bisa memotongnya, karena setiap kali aku membuka mulut, ada yang menyuruhku diam.
Waktu dia selesai, tidak ada yang bicara selama beberapa detik.
Lalu Bu Ratmi bertanya, dengan suara yang pelan sekali:
“Ries. Bener?”
“Bu—”
“Bener apa ora.”
“...Iya, Bu.”
“Terus telung minggu iki kowe meneng wae?”
“Nggak ada yang perlu diomongin, Bu.”
Dan Bu Ratmi — perempuan yang menyuruh orang makan, yang tidak menerima penolakan, yang sudah tiga tahun menaruh piring di depan siapa pun yang lewat —
menutup mulutnya dengan tangan, dan berbalik membelakangi kami semua.
Aku tidak akan pernah lupa bagian berikutnya, dan aku berharap aku bisa.
Om Yusuf duduk di undakan dan menaruh kepalanya di tangan.
“Ya Allah,” katanya.
“Om—”
“Ya Allah, Ries.” Dia tidak mengangkat kepalanya. “Selama ini kita ini apa.”
“Om, jangan gitu—”
“Bulan kemarin lemari saya. Dua minggu lalu antena Bu Ning.” Suaranya semakin pelan. “Kita panggil kamu terus. Setiap ada apa-apa, panggil Aries. Aries pasti bisa. Aries pasti datang.”
“Itu saya yang mau—”
“Dan setiap kali kita panggil,” katanya, “ada sesuatu di hidup kamu yang kepotong.”
Aku berdiri di sana dan tidak punya jawaban, karena secara teknis dia benar dan secara jiwa dia salah dan aku tidak punya kata-kata untuk menjelaskan bedanya.
Pak Somad, yang dalam tiga tahun mungkin mengucapkan dua ratus kata kepadaku, angkat bicara.
“Berapa.”
“...Pak?”
“Gaji gudangnya berapa sebulan.”
“Pak Somad—”
“Berapa, Ries.”
Aku diam.
Bang Jecky yang menjawab. “Satu setengah, Pak. Gue tau soalnya dia pinjem motor gue tiap Senin Rabu Jumat.”
Aku menoleh ke arahnya.
“Sorry, Ries.” Bang Jecky tidak menatapku. “Gue capek pura-pura nggak tau.”
Mereka mengumpulkannya dalam empat hari.
Aku tidak tahu bagaimana. Aku tidak pernah tahu sampai sekarang, dan aku tidak pernah bertanya, karena aku takut jawabannya.
Yang kutahu: hari Rabu berikutnya, jam tujuh malam, ada tujuh orang di ruang depan rumahku, dan di atas meja belajar bekas dengan kaki depan diganjal ubin, ada amplop cokelat.
“Empat juta dua ratus,” kata Pak Somad.
Aku menatap amplop itu.
“Ini bukan sedekah,” lanjutnya, cepat, seperti orang yang sudah menyiapkan kalimatnya. “Ini ganti rugi.”
“Ganti rugi apa, Pak.”
“Kamu kehilangan kerjaan karena nolongin orang gang ini. Yang rugi kamu, yang untung kami.” Dia menatapku lurus. “Jadi kami ganti.”
Bu Ratmi mengangguk. Om Yusuf mengangguk.
Mbah Tun duduk di kursi plastik yang sama, tidak mengangguk, tidak menatap siapa-siapa.
Dan aku berdiri di ruang depan rumahku sendiri, di depan tujuh orang yang menyelamatkan hidupku dan hidup tiga adikku selama tiga tahun, dan aku berkata:
“Maaf. Saya nggak bisa terima.”
Aku tidak akan menuliskan seluruh perdebatannya.
Bukan karena aku tidak ingat. Aku ingat semuanya. Aku ingat setiap kalimat, dan aku memutarnya di kepalaku selama berbulan-bulan setelahnya, dan aku masih memutarnya sekarang kadang-kadang, jam dua pagi.
Aku tidak menuliskannya karena tidak ada gunanya.
Kedua belah pihak benar.
Ini yang mereka katakan, dan mereka benar:
Aku kehilangan pekerjaan karena mereka. Bukan kiasan — secara langsung, secara sebab-akibat. Kalau Mbah Tun tidak jatuh, aku masih di gudang. Kalau aku masih di gudang, Sekar masuk SMA bulan Juli. Mereka tahu itu. Mereka tidak bisa hidup dengan itu.
Dan ini yang tidak bisa kukatakan dengan benar, tapi yang kucoba katakan malam itu, dengan buruk sekali:
Kalau aku menerima empat juta dua ratus ribu dari tujuh orang yang sudah memberiku tiga tahun, maka utangku bukan berkurang.
Utangku bertambah.
Dan aku tidak akan pernah bisa membayarnya. Aku sudah menghitung. Aku sudah menghitung sejak umur lima belas tahun.
Selama aku masih membayar sedikit-sedikit — benerin antena, angkat lemari, pasang pegangan besi — aku adalah orang yang punya utang.
Dan orang yang punya utang masih punya harga diri.
Kalau aku menerima amplop itu, aku berhenti jadi orang yang membayar.
Aku jadi anak yatim yang ditolong.
Dan aku sudah menghabiskan tiga tahun setiap hari untuk tidak menjadi itu.
“Kalau saya terima,” kataku, “saya bukan bagian dari gang ini lagi. Saya jadi urusan gang ini.”
Dan tidak ada satu orang pun yang bisa menjawab itu.
Tapi tidak ada satu orang pun yang mau menarik amplopnya juga.
Jadi amplop itu tinggal di atas meja.
Dan mereka pulang.
Dan gang itu menjadi sunyi.
Aku tidak siap untuk bentuk sunyinya.
Aku menyiapkan diri untuk marah. Aku menyiapkan diri untuk dimusuhi. Aku menyiapkan diri untuk ditegur setiap hari sampai aku menyerah.
Yang terjadi adalah:
Hari pertama. Kran rumah Bu Ning bocor. Aku mendengarnya dari luar — bunyi tetes yang khas, yang sudah kuhafal.
Tidak ada yang memanggilku.
Jam empat sore, ada tukang datang. Orang luar. Bukan dari gang.
Aku berdiri di depan rumahku dan melihat orang asing itu masuk ke rumah Bu Ning membawa kotak perkakas.
Hari kedua. Antena TV Om Yusuf miring lagi karena angin.
Om Yusuf memanjat sendiri.
Umurnya empat puluh dua tahun dan lututnya bermasalah dan aku tahu itu karena aku yang biasa menggantikannya, dan aku berdiri di jendela rumahku dan melihat dia memanjat dengan hati-hati sekali.
Aku hampir keluar.
Aku sudah memegang gagang pintu.
Lalu aku sadar bahwa kalau aku keluar dan menolongnya, dia akan menolak, dan penolakannya akan sopan, dan sopan adalah hal paling menyakitkan yang bisa dilakukan orang kepadamu.
Aku sudah belajar itu dari Claudia.
Sekarang mereka yang mengajariku.
Hari ketiga. Bu Ratmi masih menaruh piring di depan pintu rumahku setiap sore.
Masih dua piring. Masih tepat jam lima.
Tapi dia tidak masuk. Dan dia tidak bilang apa-apa. Dan waktu aku keluar untuk mengucapkan terima kasih, dia sudah berbalik ke warungnya.
Aku ingin menjelaskan sesuatu, dan aku tidak yakin bisa.
Aku tidak marah kepada mereka.
Aku bahkan tidak sedih, persisnya.
Yang kurasakan selama tiga hari itu adalah sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya, dan butuh waktu lama untuk kutemukan namanya:
Tidak dibutuhkan.
Tiga tahun aku bangun jam empat dua puluh lima dan tidur jam dua belas lewat dan tidak pernah sekali pun mengeluh, dan aku sanggup melakukannya bukan karena aku kuat.
Aku sanggup karena setiap hari ada orang yang memanggil namaku.
Ries, tolong.
Ries, iso ora.
Aries, kalau sempet.
Itu bunyi yang membuatku bangun.
Dan selama tiga hari, gang itu berhenti membunyikannya.
Aku duduk di ruang depan rumahku pada hari ketiga, jam sebelas empat puluh malam, dengan amplop cokelat berisi empat juta dua ratus ribu di atas meja, dan aku menyadari sesuatu yang membuatku sulit bernapas:
Mereka tidak sedang menghukumku.
Mereka sedang berhenti membebaniku.
Mereka pikir itu kebaikan.
Dan itulah yang paling menghancurkan — bahwa tujuh orang yang menyayangiku, sedang menyayangiku dengan cara yang membunuh satu-satunya hal yang membuatku bisa berdiri.
Aku harus menyelipkan satu hal di tengah tiga hari itu, karena kalau tidak, ceritanya tidak adil.
Hari Sabtu, jam sepuluh pagi, aku masuk shift tambahan di minimarket.
Aku mengambil rompi dari gantungan di belakang, memakainya, dan keluar ke kasir.
Dan di kasir dua, ada orang memakai rompi yang sama.
Rambut diikat. Tag nama plastik yang tulisannya masih ditulis tangan pakai spidol karena belum dicetak.
C. BELLA
Aku berdiri di tengah minimarket dan tidak bisa memproses apa pun.
“Pagi,” katanya.
“...Claudia.”
“Selamat pagi, Bapak. Ada yang bisa saya bantu?”
“Kamu ngapain.”
“Kerja.”
“Kamu—” Aku menunjuk rompinya. “Itu—”
“Di papan depan ada lowongan. Minimal tujuh belas tahun.” Dia merapikan struk di meja kasirnya. “Aku tujuh belas tahun.”
“Claudia.”
“Hm?”
“Kamu nggak butuh kerja.”
“Enggak,” katanya. “Emang enggak.”
“Terus kenapa—”
“Ries.” Dia menoleh. “Aku udah nyoba bayarin kamu sekali. Kamu balikin.”
Aku diam.
“Aku udah nyoba nyelesein masalah kamu. Ternyata itu bukan yang kamu butuh.” Dia mengangkat bahu. “Jadi sekarang aku nggak nyelesein apa-apa.”
“Terus kamu ngapain di sini?”
“Berdiri di sebelah kamu.”
Dan dia kembali menghadap ke depan, dan melayani pembeli pertama pagi itu dengan sangat buruk — dia salah menghitung kembalian dua kali dalam satu jam pertama — dan aku berdiri di kasir sebelah dan tidak bisa menghapus sesuatu dari wajahku selama tiga jam penuh.
Gajinya delapan belas ribu per jam.
Dia bekerja empat jam.
Ongkos ojeknya lima puluh ribu pulang pergi.
Dia rugi.
Setiap Sabtu, dia rugi.
Dan waktu kutunjukkan hitungannya di kertas struk, dia melihatnya, mengangguk, dan bilang:
“Iya. Terus?”
Hari keempat, hari Minggu.
Aku bangun jam enam.
Lintang memelukku di dapur seperti biasa. Lebih lama dari biasa. Aku tidak menghitung.
Jam tujuh, aku duduk di ruang depan dan menatap amplop cokelat itu.
Aku sudah memutuskan.
Aku akan mengantarnya kembali ke rumah Pak Somad hari itu juga, satu per satu, ke tujuh rumah, dan aku akan minta maaf, dan aku akan bilang bahwa aku tetap akan membantu apa pun yang mereka butuhkan seumur hidupku.
Dan aku tahu itu tidak akan menyelesaikan apa pun.
Dan aku tetap akan melakukannya, karena tidak ada opsi lain.
Lalu Lintang duduk di sebelahku di lantai.
Dia membawa buku sampul birunya.
“Mas.”
“Hm.”
“Itu amplop apa?”
“Bukan urusan kamu.”
“Aku udah denger kok.”
Aku menoleh.
“Denger apa?”
“Semuanya.” Dia memeluk bukunya. “Malem itu kan berisik. Aku bangun. Mbak Sekar juga bangun. Bumi enggak.”
Aku menutup mataku.
“Mas.”
“Apa, Lintang.”
“Itu isinya empat juta dua ratus, ya?”
“Lintang—”
“Aku boleh lihat nggak?”
“Nggak boleh.”
“Bukan uangnya.” Dia menggeleng. “Amplopnya doang. Aku mau lihat ada tulisannya nggak.”
Aku menyerahkan amplop itu.
Dia membaliknya. Tidak ada tulisan. Dia mengembalikannya.
Lalu dia membuka bukunya di pangkuannya, di lantai, dan membalik halamannya sampai ketemu halaman kosong.
Dan dia mulai menulis.
“Kamu nulis apa.”
“Bentar.”
“Lintang.”
“Bentar, Mas, aku lagi mikir ngitungnya.”
Aku menunggu.
Anak sepuluh tahun itu menulis dengan pensil, pelan-pelan, lidahnya sedikit keluar di sudut mulut seperti kalau dia mengerjakan soal pembagian.
Lalu dia memutar bukunya ke arahku.
Ada tiga kolom di halaman itu.
PEMBERIAN — kosong.
BELUM TAU — ada satu nama di situ, dan namanya Kak Claudia, dan aku belum tahu apa artinya sampai berbulan-bulan kemudian.
Dan UTANG.
Di kolom utang, dengan tulisan pensil anak kelas empat SD, tertulis:
GANG KENANGA. 7 RUMAH.
Rp 4.200.000
TGL 14.
BELUM DIBAYAR.
Aku menatapnya.
“Lintang.”
“Hm?”
“Kamu nulisnya di kolom utang.”
“Iya.”
“Bukan pemberian.”
“Iya.” Dia mengangguk. “Kolom pemberian nggak boleh dipake.”
“Kenapa?”
Dan dia menatapku dengan wajah heran, seperti aku baru saja bertanya kenapa air itu basah.
“Ya soalnya kalau ditulis di pemberian, artinya kita nggak bayar,” katanya. “Terus nanti kita jadi dikasihanin.”
Ada sesuatu yang jatuh di dalam dadaku.
“Kamu tau kata itu dari mana.”
“Dari Mas.”
“Aku nggak pernah—”
“Mas pernah ngomong sendiri di dapur. Malem-malem. Aku denger.” Dia mengangkat bahu. “Dua tahun lalu.”
Aku duduk di lantai ruang depan rumahku, hari Minggu jam tujuh pagi, dan menatap tulisan pensil anak sepuluh tahun.
BELUM DIBAYAR.
“Mas.”
“...Hm.”
“Kalau dicatat, artinya nanti kita bayar.” Dia menunjuk halamannya. “Boleh, kan?”
Dan begini caranya seorang anak berumur sepuluh tahun menyelesaikan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan oleh tujuh orang dewasa selama empat hari:
Dia tidak mengubah uangnya.
Dia tidak mengubah orangnya.
Dia cuma memindahkan kolomnya.
Kalau amplop itu pemberian, aku ditolong.
Kalau amplop itu tercatat sebagai utang — utang yang nanti akan dibayar, entah kapan, entah bagaimana, oleh empat orang yang belum satu pun berumur dua puluh tahun —
maka aku masih orang yang punya utang.
Dan orang yang punya utang masih punya harga diri.
“Mas?”
Aku tidak bisa menjawab.
“Mas, boleh nggak?”
Aku membuka mulutku dan tidak ada suara yang keluar.
“Mas—”
“...Boleh,” kataku.
Dan suaraku pecah di tengah kata itu.
Lintang menoleh.
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, cepat, tapi tidak cukup cepat.
Dan yang terjadi berikutnya adalah hal yang tidak pernah kubayangkan seumur hidupku.
Tidak ada yang panik.
Lampu ruang tengah mati setengah. Aku mendengar bunyi saklarnya. Sekar, dari arah dapur, tanpa berkata apa-apa, tanpa bertanya kenapa, mematikan dua dari empat lampu — supaya wajahku tidak terlihat.
Lalu Lintang menggeser badannya sampai menempel ke sisi kiriku.
Dia membuka bukunya lagi.
Dan mulai membaca keras-keras.
“Tanggal empat belas Maret. Bu Ratmi. Nasi. Dua bungkus.” Suaranya biasa saja, seperti orang membaca daftar belanja. “Tanggal lima belas Maret. Om Yusuf. Fotokopi tiga puluh lembar. Tanggal lima belas Maret. Mbah Tun. Sayur asem.”
Aku menangis dengan tanganku menutupi wajah dan bahuku bergetar dan aku tidak bisa menghentikannya, dan adikku terus membaca.
“Tanggal enam belas Maret. Mbah Tun. Sayur asem. Tanggal tujuh belas Maret. Mbah Tun. Sayur asem lagi. Tanggal delapan belas Maret—”
Lalu ada berat di pangkuanku.
Bumi.
Anak itu memanjat, entah dari mana, entah kapan dia bangun. Dia tidak bertanya apa-apa. Dia cuma naik ke pangkuanku, menyandarkan kepalanya ke dadaku, dan dalam satu menit dia tidur.
Dan aku tidak bisa berdiri.
Itu bagian yang baru kumengerti bertahun-tahun kemudian.
Aku tidak bisa berdiri. Aku tidak bisa pergi ke mana-mana. Aku tidak bisa mengurus apa pun, tidak bisa memperbaiki apa pun, tidak bisa mencari kerja, tidak bisa menghitung.
Anak lima tahun yang tidur di badanmu membuatmu tidak boleh melakukan apa-apa selain diam.
Mereka tidak sedang menghiburku.
Mereka sedang menguncinya.
Dan mereka sudah berlatih untuk ini selama bertahun-tahun, dan aku tidak pernah tahu.
Sekar keluar dari dapur.
Dia membawa gelas.
Dia tidak menaruhnya di meja.
Dia menaruhnya di lantai, di samping kakiku.
Lalu dia duduk — bukan menghadapku, tapi membelakangiku, punggung ke punggung, di lantai yang sama.
Supaya aku boleh punya wajah yang tidak terlihat.
Dan dari arah punggungnya, tanpa menoleh, dia berkata:
“Tiga sendok.”
Aku tidak menjawab.
“Dulu dua,” katanya.
Dan itu satu-satunya kalimat yang dia ucapkan selama satu jam berikutnya.
Kami duduk di sana lama sekali.
Lintang membaca sampai halaman entah berapa, sampai suaranya serak, sampai dia mulai salah baca dan tidak membetulkan.
Lalu dia berhenti.
Dan dia menyandarkan kepalanya ke lengan kiriku, dan berkata, pelan sekali:
“Mas.”
“Hm.”
“Sekarang giliranmu istirahat.”
Malam itu aku tidur delapan jam.
Bukan karena aku memutuskan. Karena aku tidak bisa berdiri, karena ada anak lima tahun di badanku dan anak sepuluh tahun di lengan kiriku dan anak empat belas tahun yang punggungnya menempel di punggungku, dan tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak.
Delapan jam.
Pertama kali dalam tiga tahun.
Dan waktu aku bangun jam tujuh pagi hari Senin, hal pertama yang kulihat adalah gelas teh di lantai, sudah dingin, tidak tersentuh.
Aku meminumnya sampai habis.
Manis sekali.
Terlalu manis.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak sanggup menghabiskan sesuatu tanpa menangis lagi.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar reading
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu