Chapter Forty Eight
Orang Kelima
POV: Sekar
Olimpiadenya tanggal dua puluh tiga November.
Aku mendaftar tanggal sembilan, satu hari sebelum batas akhir, dan aku mendaftar setelah menghitung.
Aku menghitung sebelas kali. Seperti biasa.
Dan kali ini hasilnya muat.
Aku akan menuliskan hitungannya karena hitungan itu satu-satunya bagian dari diriku yang tidak pernah berubah, dan karena aku ingin ada yang tahu bahwa aku tidak mendaftar karena berani.
Aku mendaftar karena angkanya cocok.
Latihan: Selasa, Kamis, Sabtu, jam empat sampai jam enam.
Termos: sudah bukan aku sejak Agustus.
Bumi jam empat sampai enam: Bu Ratmi. Sudah biasa. Tidak ada tambahan.
Lintang jam empat sampai enam: Kak Gita hari Sabtu, Bu Ning hari Selasa, Kak Claudia hari Kamis.
Masak malam: digeser jam setengah tujuh. Tetap muat.
Satu-satunya yang berkurang adalah waktu tidurku.
Empat puluh menit per hari.
Aku memutuskan itu harga yang wajar dan aku tidak memberitahu siapa pun angkanya.
Yang tidak muat cuma satu.
Hari lombanya, tanggal dua puluh tiga November, hari Sabtu.
Jam tujuh pagi sampai jam dua siang. Di sekolah lain, empat puluh menit naik angkot, ganti dua kali.
Dan di formulir pendaftaran ada kolom yang belum pernah kulihat di formulir mana pun sebelumnya.
PENDAMPING PESERTA
Nama:
Hubungan dengan peserta:
Nomor yang bisa dihubungi:
Dan di bawahnya, dengan huruf kecil:
Peserta di bawah 17 tahun wajib didampingi.
Aku memegang formulir itu selama tiga hari.
Mas Aries: Sabtu jam tujuh sampai jam sebelas di gudang bahan bangunan, jam satu angkat semen. Kalau dia ikut, dua shift hilang.
Aku sudah menghitung berapa nilainya. Aku tidak akan menuliskannya.
Bu Ratmi: warung buka jam lima. Sabtu ramai.
Bang Jecky: Sabtu pagi orderannya paling banyak.
Kak Claudia: Sabtu jam sepuluh sampai jam dua, minimarket. Dia sudah kerja di sana enam bulan dan aku tahu persis dia mengambil Sabtu karena Mas Aries Sabtu.
Dan yang terakhir.
Aku menaruh formulir itu di lantai di depan Kak Gita hari Sabtu, sambil dia memeriksa PR Lintang.
Aku tidak bilang apa-apa.
Aku sudah pernah melakukan ini sebelumnya, bulan Juni, dengan buku Matematika halaman delapan puluh empat.
Dia mengambilnya. Membacanya.
Dan dia langsung menemukan kolomnya, karena dia Gita Ardhani dan dia selalu langsung menemukan kolom yang penting.
“Sekar.”
“Hm.”
“Ini tanggal dua puluh tiga.”
“Iya.”
“Sabtu.”
“Iya.”
Dan dia menaruh formulir itu di lantai dan berkata:
“Aku bisa.”
Aku ingin mencatat sesuatu.
Dia tidak bilang “aku ikut ya”.
Dia tidak bilang “kalau kamu mau, aku bisa nemenin”.
Dia tidak bertanya apakah aku sudah menawarkan ke orang lain dulu.
Dia bilang aku bisa, dua kata, seperti orang mengisi kolom kosong yang memang tugasnya diisi.
Dan aku duduk di lantai ruang depan rumahku sendiri dan merasakan sesuatu yang tidak enak di dada.
Bukan tidak enak yang jelek.
Tidak enak seperti otot yang terlalu lama tidak dipakai.
“Kak Gita.”
“Hm?”
“Kakak nggak nanya dulu?”
“Nanya apa?”
“Nanya kenapa bukan Mas Aries.”
Dan dia mengangkat kepalanya dari buku Lintang.
Dan dia bilang:
“Sabtu pagi dia di gudang bahan bangunan. Sabtu siang angkat semen.”
Aku menatapnya.
“Kakak hafal jadwal Mas Aries?”
“Aku hafal jadwal kalian berempat,” katanya, dan langsung kembali ke buku Lintang seperti itu bukan hal besar.
Aku mengisi formulirnya malam itu.
PENDAMPING PESERTA
Nama: GITA ARDHANI
Dan lalu kolom kedua.
Hubungan dengan peserta:
Aku duduk di meja belajar bekas yang kaki depannya diganjal ubin, jam sembilan malam, dengan pulpen di tangan.
Dan aku memegang pulpen itu selama mungkin dua menit.
Ada beberapa yang benar.
Guru les. Itu benar. Dia mengajariku sejak bulan Juni.
Teman kakak. Itu benar juga. Dia sekelas dengan Mas Aries.
Tetangga. Bohong. Rumahnya dua puluh menit naik angkot.
Wali. Bohong. Wali kami Tante Ratih, ada surat penetapannya, keluar bulan Oktober.
Semuanya benar atau bohong dan tidak satu pun yang tepat.
Dan aku duduk di meja itu dan aku memikirkan hal yang sama yang dipikirkan Mbah Tun di ruangan lantai dua bulan September waktu ditanya dia siapanya kami.
Tidak ada kolomnya.
Tidak ada kolom di formulir mana pun di negara ini untuk orang yang datang tiga puluh dua Sabtu berturut-turut tanpa satu kali pun izin.
Aku menulis: Kakak.
Dan aku menatapnya.
Dan aku mencoretnya.
Aku mencoretnya karena aku sudah punya kakak, dan karena kata itu di rumah ini artinya satu orang saja, dan karena aku merasa aku sedang mencuri sesuatu.
Lalu aku menulis lagi di bawahnya, lebih kecil:
Kakak.
Dan aku membiarkannya.
Aku ingin mencatat kenapa.
Bukan karena aku sentimental. Aku bukan orang yang sentimental dan aku tidak akan mulai sekarang.
Aku menulis itu karena aku ingat kalimatku sendiri di bulan Agustus, waktu aku menyerahkan empat lembar kertas ke Kak Claudia di bangku plastik biru depan warung Bu Ratmi:
“Aku nggak mau ada orang di rumah itu yang jadi satu-satunya lagi. Termasuk Mas Aries.”
Dan aku menulis “Kakak” di formulir itu karena kalau cuma ada satu orang yang boleh dipanggil kakak, maka kalau orang itu pergi, tidak ada lagi.
Dan aku sudah memutuskan bulan Agustus bahwa di rumah ini tidak boleh ada lagi yang jadi satu-satunya.
Termasuk kata.
Tanggal dua puluh tiga November, jam setengah enam pagi, Kak Gita sudah ada di mulut gang.
Setengah enam.
Lombanya jam tujuh.
“Kak, ini kepagian.”
“Angkotnya ganti dua kali.”
“Kita cuma butuh empat puluh menit.”
“Aku ngitung satu jam.” Dia menyerahkan sesuatu kepadaku. “Kalau ada apa-apa.”
Aku membukanya.
Roti. Dua. Dan air botol. Dan satu bungkus permen yang jelas dibeli untuk Bumi tapi diselipkan ke tasku entah kenapa.
“Kak Gita.”
“Hm?”
“Ini kayak orang tua.”
Dan dia bilang, “Diem.”
Mas Aries keluar jam setengah enam lewat.
Dia sudah pakai kaus kerja. Dia berangkat jam enam.
Dan dia berdiri di depan rumah dan bilang, “Sekar.”
“Iya, Mas?”
Dan dia berjongkok sedikit — aku tidak tahu kenapa, aku sudah setinggi bahunya — dan dia membetulkan kerah jaketku yang tidak perlu dibetulkan.
Dua detik.
“Kamu udah sarapan?”
“Udah.”
“Bawa uang?”
“Bawa.”
“Berapa?”
“Cukup, Mas.”
“Sekar.”
“Dua puluh ribu.”
Dan dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menaruhnya di tanganku sebelum aku sempat menolak.
Lima puluh ribu.
“Mas—”
“Bukan buat kamu.”
“Terus?”
Dan dia bilang, “Buat Kak Gita. Ongkos sama makan siang. Kamu yang bayarin.”
Dan aku berdiri di mulut gang jam setengah enam pagi memegang lima puluh ribu.
“Mas.”
“Hm.”
“Kak Gita nggak bakal mau.”
Dan kakakku bilang:
“Makanya kamu yang bayar. Jangan bilang dari aku.”
Kami naik angkot.
Dan di angkot kedua, waktu jalanan mulai ramai, Kak Gita bilang:
“Sekar.”
“Hm?”
“Kamu gugup?”
“Enggak.”
“Bohong.”
“...Iya.”
“Gugup kenapa?”
Dan aku bilang hal yang tidak pernah kukatakan kepada siapa pun:
“Aku belum pernah ikut apa-apa.”
Dia menoleh.
“Seumur hidup,” kataku. “Nggak pernah lomba, nggak pernah ekskul, nggak pernah acara. Nggak sekali pun.”
“Kenapa?”
“Karena semuanya jam empat sore.”
Dan Kak Gita tidak bicara selama beberapa detik.
Lalu dia bilang, “Sekar.”
“Hm.”
“Hari ini jam empat sore kamu di mana?”
Dan aku bilang, “Di sini.”
Dan dia bilang, “Iya.”
Aku tidak akan menceritakan lombanya.
Bukan karena tidak penting. Karena aku tidak ingat.
Aku serius. Aku ingat masuk ruangan, aku ingat mejanya dingin, aku ingat soal nomor tiga membuatku berhenti empat menit, dan aku ingat waktu bel selesai berbunyi aku masih menulis dan tanganku sakit.
Sisanya hilang.
Aku keluar jam dua siang dan Kak Gita berdiri di lorong dengan dua botol air dan wajah orang yang sudah berdiri di situ sejak jam sebelas.
“Gimana?”
“Nggak tau.”
“Sekar.”
“Aku beneran nggak tau, Kak.”
Dan dia bilang, “Ya udah. Makan dulu.”
Dan aku membayar makan siang kami berdua dengan uang lima puluh ribu, dan dia protes selama dua menit, dan aku bilang “aku yang ngajak”, dan dia menyerah dengan cara yang membuatku curiga dia tahu.
Pengumumannya tanggal dua Desember.
Aku juara dua tingkat kota.
Aku akan menuliskan ini dengan datar karena kalau tidak, aku akan menulis empat halaman.
Juara dua.
Dari seratus enam puluh peserta.
Setelah latihan tiga kali seminggu selama dua minggu, dengan mengurangi tidur empat puluh menit sehari, tanpa satu pun bimbingan tambahan selain seorang siswa SMA kelas dua belas yang datang setiap Sabtu.
Sertifikatnya diambil di sekolah tanggal lima Desember.
Kertas. Ada logo kota. Ada tanda tanganku salah dieja — Sekar Kurniawan ditulis Kurnianan — dan aku tidak protes karena aku terlalu senang untuk protes.
Aku membawanya pulang.
Dan aku tidak menunjukkannya ke siapa-siapa sampai malam.
Aku menaruhnya di bawah tumpukan baju di lemari.
Di tempat yang sama.
Selama enam jam.
Dan aku tahu itu tidak masuk akal, dan aku tahu itu kebiasaan yang jelek, dan aku tetap melakukannya, karena aku belum tahu cara menaruh sesuatu yang bagus di tempat terbuka.
Jam sebelas empat puluh Mas Aries pulang.
Aku sudah mengeluarkannya. Aku menaruhnya di meja.
Dia menaruh tasnya. Dia melihat meja.
Dan dia berhenti.
“Sekar.”
“Hm.”
“Ini apa?”
“Baca.”
Dan dia mengambilnya.
Dan dia membacanya, dan aku memperhatikan matanya, dan matanya berhenti di kata “Juara II” dan tidak bergerak selama sekitar empat detik.
Lalu dia bilang, “Sekar.”
“Hm.”
“Ini nama kamu salah.”
Dan aku bilang, “Iya. Kurnianan.”
Dan dia bilang, “Kita ganti?”
Dan aku bilang, “Nggak usah.”
Dan dia bilang, “Kenapa?”
Dan aku bilang, “Biar lucu.”
Dan lalu kakakku duduk di lantai dengan sertifikat itu di tangan dan tidak bicara selama mungkin satu menit.
“Mas?”
“Hm.”
“Mas kenapa.”
Dan dia bilang, “Nggak apa-apa.”
Dan aku bilang, “Mas.”
Dan dia bilang, “Bukan nggak apa-apa yang itu.”
Dan dia mengangkat wajahnya, dan matanya merah, dan dia bilang:
“Aku cuma lagi mikirin bulan Februari.”
Aku duduk di seberangnya.
“Mas.”
“Iya.”
“Aku juga.”
Dan kami berdua duduk di lantai ruang depan rumah nomor tujuh jam dua belas kurang, dengan selembar kertas bernama salah eja di antara kami.
Dan Mas Aries bilang, “Sekar.”
“Hm.”
“Ini yang buat daftar beasiswa Januari, kan?”
Aku mengangkat kepalaku.
“Mas tau?”
“Kak Gita cerita.”
“Kapan?”
“Bulan Oktober.”
Dan aku bilang, “Kenapa Mas nggak pernah nanya?”
Dan kakakku bilang:
“Karena kalau aku nanya, kamu bakal ngitung ulang buat mikirin aku.”
Aku menaruh sertifikat itu di meja.
Dan aku bilang, “Mas.”
“Hm?”
“Kalau aku lolos, aku pindah.”
“Aku tau.”
“Tiga tahun.”
“Aku tau, Sekar.”
“Yang bikin teh siapa.”
Dan kakakku bilang, “Aku.”
“Mas nggak tau takarannya.”
“Tiga sendok.”
Dan aku menoleh cepat.
“Mas tau?”
Dan Mas Aries bilang, “Kamu bilang sendiri. Bulan Juli. Di lantai.”
Dan aku ingat.
Punggung ke punggung, lampu setengah mati, gelas di lantai di samping kakinya.
Tiga sendok. Dulu dua.
“Aku pikir Mas nggak denger,” kataku.
“Aku denger semuanya.”
Sabtu berikutnya Kak Gita datang jam sepuluh seperti biasa.
Lintang berteriak dari mulut gang seperti biasa. Bumi menabrak lututnya seperti biasa.
Dan aku ada di dapur.
Dan aku memanggilnya.
“Kak Gita.”
“Hm?”
Dan aku berdiri di ambang pintu dapur dengan lap di tangan dan aku bilang:
“Formulir kemarin, kolom hubungan, aku isi ‘Kakak’.”
Dia mengangkat kepalanya.
Dan dia tidak bicara.
Dan aku bilang, “Nggak usah dijawab.”
Dan aku berbalik masuk dapur.
Aku mendengarnya menarik napas dari ruang depan.
Sekali. Agak dalam. Dengan cara yang tidak seperti orang yang mau bicara.
Dan lalu aku mendengar Lintang bilang, “Kak Gita kenapa?”
Dan Kak Gita bilang, “Nggak apa-apa. Kelilipan.”
Dan Lintang bilang, “Bohong. Semua orang di rumah ini kalau nangis bilangnya kelilipan.”
Dan Bumi bilang, “Iya. Mas juga.”
Dan aku berdiri di dapur menghadap bak cuci dan tertawa satu kali, pendek, sendirian, dengan tangan menutupi mulut.
Malamnya aku menulis di buku catatan matematikaku, di halaman paling belakang, tempat aku menulis hal-hal yang bukan matematika.
Aku menulis satu baris.
Dan aku tidak akan menjelaskannya karena tidak perlu dijelaskan.
Rumah nomor 7. Isinya lima.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima reading
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu