Chapter Thirty Six
Tamu yang Sopan
POV: Aries
Dia datang hari Minggu, jam sepuluh pagi, membawa dua kantong plastik dan satu kotak kue.
Aku sedang mengerjakan PR Lintang di lantai waktu Bu Ratmi memanggil dari mulut gang, dan dari cara Bu Ratmi memanggil — dua kali, lebih keras dari perlu — aku sudah tahu ini bukan tamu biasa.
Aku keluar.
Dan aku mengenalinya sebelum dia sempat bicara.
“Aries?”
“...Tante Ratih.”
Dan wajahnya langsung berubah, dan matanya langsung basah, dan dia menaruh kantongnya di tanah dan memelukku di tengah gang.
“Ya Allah,” katanya. “Ya Allah, gede banget kamu.”
Aku ingin menuliskan satu hal di awal, sebelum semuanya, karena kalau tidak kutulis di awal kalian akan salah membaca seluruh bab ini.
Tante Ratih bukan orang jahat.
Dia tidak pernah jahat. Tidak sekali pun, tidak di hari itu, tidak di hari-hari setelahnya, tidak di ruangan itu di bulan September.
Dia perempuan berumur tiga puluh sembilan tahun, adik sepupu Ibu, yang tinggal empat jam perjalanan dari sini, yang datang setiap Lebaran selama tiga tahun membawa kue dan uang dan menangis dan pulang.
Dan semua yang dia katakan hari itu benar.
Itu masalahnya.
Dia duduk di ruang depan.
Aku menyeduh teh. Sekar keluar dari kamar, mengangguk, lalu berdiri di ambang dapur — tidak duduk, tidak pergi.
Lintang muncul, bilang “halo”, dan langsung ditarik ke pelukan.
“Lintang! Ya Allah. Udah kelas berapa?”
“Empat.”
“Empat! Tante inget kamu masih—” Dia menggerakkan tangannya rendah sekali. “Segini.”
Lintang tertawa sopan.
Dan lalu Bumi keluar dari kamar, mengucek mata, memakai kaus yang kebesaran.
Dan Tante Ratih berhenti bergerak.
“Bumi?”
Bumi berhenti di tengah ruangan.
“Bumi, ini Tante.”
Bumi menatapnya.
“Tante Ratih, sayang. Yang tiap Lebaran dateng.”
Bumi menoleh ke arahku.
“Mas.”
“Iya?”
“Ini siapa?”
Dan ruangan itu jadi sangat sunyi.
Tante Ratih masih tersenyum, tapi senyumnya berubah bentuk, dan tangannya yang tadi terulur turun ke pangkuannya sendiri dan berhenti di sana.
“Bumi,” kataku. “Salim dulu.”
Bumi salim.
Lalu dia pergi ke belakang Sekar dan memegang ujung bajunya.
Dan Tante Ratih duduk di ruang depan rumah kami memandangi tempat kosong di mana anak itu tadi berdiri, dan dia bilang, pelan sekali:
“Dia nggak inget Tante.”
“Dia baru lima tahun—”
“Tante dateng tiap Lebaran, Ries.”
“Setahun sekali, Tante.”
Dan dia menoleh cepat, dan aku langsung menyesal, karena aku tidak bermaksud mengatakannya seperti itu.
“Maaf, Tante. Bukan gitu maksud saya.”
“Nggak.” Dia menggeleng dan menghapus matanya dengan punggung tangan. “Nggak, kamu bener.”
Dia menarik napas.
“Setahun sekali itu emang nggak cukup buat diinget,” katanya. “Itu salah Tante.”
Kami minum teh selama sekitar dua puluh menit dan membicarakan hal-hal yang tidak penting.
Sekolah Lintang. Harga cabai. Suami Tante Ratih yang pindah bagian di pabrik. Anak beliau, Kiki, yang sekarang kelas dua SD.
Dan sepanjang dua puluh menit itu aku menunggu.
Karena orang tidak menempuh perjalanan empat jam untuk membicarakan harga cabai.
Jam sebelas kurang, dia menaruh gelasnya.
“Ries.”
“Iya, Tante.”
“Tante mau ngomong serius.”
Dan Sekar, dari ambang dapur, berkata:
“Lintang. Ajak Bumi ke warung.”
Adikku menatapnya.
“Sekarang, Lintang.”
Dan Lintang membawa Bumi keluar tanpa protes sama sekali, yang mana adalah hal yang tidak pernah dia lakukan seumur hidupnya, dan aku menyadari saat itu juga bahwa adik-adikku bisa mencium bahaya lebih cepat daripada aku.
“Ries.”
“Iya.”
“Dua minggu lalu Tante ditelepon Dinas Sosial.”
Aku menaruh gelasku.
Pelan.
“Ditelepon soal apa, Tante?”
“Soal kalian.”
Dia membuka tasnya dan mengeluarkan map plastik.
“Ada laporan masuk,” katanya. “Bukan laporan jelek. Bukan ada yang ngaduin kalian. Tante udah tanya.”
“Laporan dari siapa?”
“Sekolah adikmu.”
Dan aku merasakan lantai bergeser sedikit.
“SD-nya Lintang?”
“Iya.” Dia membuka mapnya. “Ada acara profesi orang tua bulan Mei.”
Aku tidak bergerak.
“Kamu yang dateng, ya?”
“...Iya.”
“Kamu bilang kamu kerja tujuh tempat.”
“Iya.”
“Kamu bilang kamu tidur empat jam.”
“Iya, Tante.”
“Di depan tiga puluh orang tua murid dan empat guru.” Dia menatapku. “Ada guru BK di situ, Ries. Namanya Bu Wulan. Beliau nangis di ruang guru habis acara itu.”
Aku menatap gelas teh di depanku.
“Terus beliau lapor,” kata Tante Ratih. “Bukan buat ngerusak. Beliau lapor karena beliau nggak bisa tidur tiga hari.”
Aku ingin mencatat apa yang kurasakan di detik itu, dan aku ingin mencatatnya dengan tepat karena ini penting untuk semua yang terjadi setelahnya.
Aku tidak marah kepada Bu Wulan.
Aku tidak mengenalnya. Aku bahkan tidak tahu yang mana orangnya. Mungkin dia salah satu dari yang mengelap mata dengan tisu di barisan depan.
Yang kurasakan adalah sesuatu yang jauh lebih dingin:
Aku sendiri yang mengucapkannya.
Tidak ada yang mengorek. Tidak ada yang memaksa. Anak kelas empat SD bertanya “Om capek nggak”, dan aku menjawab jujur untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, di depan tiga puluh empat orang.
Satu kalimat jujur.
Dan satu kalimat jujur itu membawa map plastik ini ke ruang depan rumahku tiga bulan kemudian.
Aku duduk di lantai dan berpikir: jadi begini akibatnya.
Dan aku ingin sekali menuliskan bahwa aku menolak pikiran itu.
Aku tidak menolaknya.
Aku menyimpannya. Dan aku memakainya berbulan-bulan sebagai alasan untuk kembali diam.
“Ries.”
“Iya, Tante.”
“Kamu tau nggak, secara hukum kalian ini gimana?”
“...Kami baik-baik aja.”
“Bukan itu yang Tante tanya.”
Dan dia mengeluarkan selembar kertas dari mapnya.
“Wali kalian siapa?”
“Saya.”
“Kamu umur berapa?”
“Tujuh belas.”
“Ries.”
“Delapan belas November nanti.”
“Sekarang Agustus.”
Aku diam.
“Dan bahkan kalau kamu udah delapan belas,” katanya, “kamu belum pernah ditetapkan jadi wali. Nggak ada penetapan pengadilan. Nggak ada surat apa pun.”
“Om Yusuf yang ngurus semua surat waktu itu—”
“Om Yusuf ngurus akta kematian, kartu keluarga, sama surat ahli waris.” Dia menggeser kertas itu ke arahku. “Itu semua bener. Itu semua beres. Tapi itu bukan perwalian.”
Aku membaca kertas itu.
Aku tidak mengerti setengahnya.
“Selama tiga tahun ini,” kata Tante Ratih, “kalian hidup karena nggak ada yang nanya.”
“Tante mau apa?”
Aku bertanya begitu, dan aku bertanya dengan sopan, dan aku menyesalinya sampai sekarang karena aku tahu nada suaraku waktu itu.
Tante Ratih menutup mapnya.
“Tante mau Bumi tinggal sama Tante.”
Ruangan itu.
Aku ingat kipas angin. Kipasnya berputar dan bunyinya sama seperti biasa dan itu terasa sangat salah, bahwa sesuatu bisa berbunyi seperti biasa di dalam ruangan itu.
Dari ambang dapur, Sekar berkata:
“Nggak.”
“Sekar—”
“Nggak,” ulangnya.
“Sekar, Tante—”
“Nggak.”
“Sekar.” Aku menoleh. “Duduk.”
Dan adikku menatapku dengan mata yang lebar sekali, dan lalu dia berbalik dan masuk ke dapur dan aku mendengar kran dinyalakan dengan kekuatan penuh.
“Cuma Bumi?” tanyaku.
“Cuma Bumi.”
“Kenapa cuma dia?”
Dan Tante Ratih menjawab, dan setiap kalimatnya benar, dan itulah kenapa aku tidak bisa tidur selama empat malam berikutnya.
“Karena Sekar udah lima belas tahun lagi udah SMA,” katanya. “Dia bakal lulus, dia bakal kerja, dia udah punya bentuk. Dipindah sekarang malah ngerusak.”
“Lintang?”
“Lintang sepuluh. Dia inget bapak ibunya. Dia punya temen, punya sekolah, punya gang ini.” Dia menggeleng. “Kalau Lintang Tante ambil, Tante ngambil hidupnya. Itu jahat.”
“Terus kenapa Bumi?”
Dan dia diam sebentar sebelum menjawab.
“Karena Bumi lima tahun,” katanya. “Dan dia belum inget apa-apa.”
“Ries, Tante mau kamu denger baik-baik, dan Tante nggak akan ngulang.”
“Iya, Tante.”
“Bumi nggak inget bapak ibunya. Sama sekali.”
“Iya.”
“Kamu tau apa artinya itu?”
Aku tidak menjawab.
“Artinya buat Bumi, kamu itu bukan kakak.” Suaranya pelan. “Kamu itu satu-satunya.”
Aku menatap gelas teh yang sudah dingin.
“Dan kamu tujuh belas tahun, kerja tujuh tempat, tidur empat jam,” katanya. “Dan bulan November nanti kamu lulus SMA.”
“Iya.”
“Terus kamu mau ngapain?”
“Kerja.”
“Kerja apa?”
“Yang ada.”
“Dengan ijazah SMA.”
“Iya.”
“Sampai kapan?”
Dan aku membuka mulut, dan tidak ada apa pun di dalamnya.
Karena jawabannya adalah sampai selesai, dan selesainya adalah waktu Bumi lulus SMA, dan Bumi sekarang lima tahun.
Tiga belas tahun lagi.
Aku akan berumur tiga puluh.
Aku belum pernah menghitung itu.
Aku sudah menghitung segalanya dalam tiga tahun terakhir — setiap rupiah, setiap jam, setiap karung beras — dan aku belum pernah sekali pun menghitung yang satu itu.
Dan aku menghitungnya untuk pertama kalinya di lantai ruang depan rumahku sendiri, di depan seorang perempuan yang datang membawa kue, hari Minggu jam sebelas pagi.
“Ries.”
“Iya, Tante.”
“Tante nggak mau ngambil adikmu.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Tante mau ngasih kamu waktu.”
“Saya nggak butuh waktu.”
“Kamu butuh banget.” Suaranya bergetar sedikit untuk pertama kalinya. “Kalau Bumi sama Tante, kamu tinggal dua. Kamu bisa kurangin kerjaan. Kamu bisa kuliah.”
“Saya nggak mau kuliah.”
“Kamu nggak mau, atau kamu nggak boleh mau?”
Dan aku tidak menjawab.
“Tante bakal daftarin dia TK yang bener,” katanya. “Dia bakal punya kamar sendiri. Kiki umurnya deket, mereka bisa temenan.”
“Tante—”
“Dan kalian boleh dateng kapan aja. Tiap minggu. Tante nggak akan ngilangin dia.”
Dan dia menatapku, dan air matanya jatuh, dan dia tidak menghapusnya kali ini.
“Ries, Tante bukan lagi ngerebut,” katanya. “Tante lagi minta izin buat bantu, dan Tante udah tiga tahun telat mintanya, dan Tante tau itu.”
Aku menyeduh teh lagi.
Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, jadi aku menyeduh teh, dan aku berdiri di dapur menunggu air mendidih sambil merasakan tangan Sekar memegang lenganku dari samping.
Dia tidak berkata apa-apa.
Dia cuma memegang lenganku dengan dua tangan, seperti Bumi kalau ada anjing lewat.
“Sekar.”
“Mas jangan iya-in.”
“Sekar—”
“Mas jangan iya-in.” Suaranya bergetar. “Mas selalu iya-in kalau orang minta.”
Dan aku berdiri di dapur rumahku sendiri dan menyadari bahwa adikku baru saja mengatakan hal paling benar yang pernah dikatakan siapa pun tentang diriku.
Aku duduk lagi.
“Tante.”
“Iya?”
“Terima kasih udah dateng.”
“Ries—”
“Dan terima kasih udah bicara langsung, bukan lewat orang lain.” Aku menatap meja. “Itu baik. Saya serius.”
“Tapi?”
“Tapi jawabannya nggak.”
Tante Ratih mengangguk.
Dia tidak marah. Dia tidak membantah. Dia tidak mengulang argumennya.
Dia cuma mengangguk, dan mengeluarkan satu lembar kertas terakhir dari mapnya, dan menaruhnya di meja.
“Ini apa, Tante?”
“Surat dari Dinas.”
“Isinya?”
“Undangan.” Dia berdiri dan merapikan roknya. “Tanggal dua belas September. Pertemuan buat pembahasan perwalian dan asesmen keluarga.”
“Wajib?”
“Kalau kamu nggak dateng, mereka yang dateng ke sini.”
Dia berdiri di ambang pintu sebelum pulang.
“Ries.”
“Iya, Tante.”
“Tante mau kamu tau satu hal.”
“Iya.”
“Tante nggak bawa surat itu supaya kamu takut,” katanya. “Surat itu bakal dateng ke sini dengan atau tanpa Tante.”
Dia memegang tali tasnya.
“Tante cuma pengen kamu tau duluan dari orang yang sayang sama kamu,” katanya, “daripada tau dari orang asing yang ngetuk pintu.”
Dan dia pergi.
Dan aku berdiri di ambang pintu rumah nomor tujuh dan melihatnya berjalan keluar gang, dan di ujung gang dia berhenti di depan warung Bu Ratmi dan berbicara sebentar, dan Bu Ratmi menyerahkan sesuatu kepadanya — bungkusan, kupikir makanan — dan Tante Ratih memeluknya.
Dua perempuan dewasa berpelukan di mulut gang.
Dan aku berdiri di sana dan tidak tahu harus merasa apa, karena tidak ada satu pun orang di adegan itu yang salah.
Malam itu aku tidak ke minimarket.
Aku bilang aku sakit. Itu bohong ketiga.
Aku duduk di lantai ruang depan sampai jam dua pagi dengan surat undangan itu di atas meja, dan aku melakukan satu-satunya hal yang aku tahu caranya:
Aku menghitung.
Aku menghitung berapa jam kerja yang bisa kutambah. Aku menghitung berapa yang bisa kukumpulkan sampai September. Aku menghitung apakah aku bisa menyewa pengacara, dan berapa harganya, dan aku bahkan mencarinya di HP retakku sampai kuotaku habis.
Dan jam dua pagi, aku berhenti.
Karena aku akhirnya mengerti sesuatu yang seharusnya kumengerti dari jam sebelas pagi:
Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan bekerja lebih keras.
Tiga tahun, setiap masalah yang datang ke rumah ini punya harga. Ada angkanya. Kalau aku mengangkat lebih banyak karung, aku bisa membayarnya.
Yang ini tidak punya angka.
Yang ini tidak peduli seberapa banyak karung yang bisa kuangkat.
Yang ini justru bertambah buruk karena aku mengangkat terlalu banyak karung.
Aku duduk di lantai rumahku sendiri jam dua pagi, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, satu-satunya senjata yang kupunya sepanjang hidupku berbalik dan berdiri di sisi lawan.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan reading
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu