← Giliranmu Istirahat

Chapter Five

Sembilan Rumah

POV: Aries


Minggu pagi, aku bangun jam enam.

Itu terasa seperti kemewahan yang tidak masuk akal. Enam. Ada satu jam setengah di sana yang tidak ada di hari lain, dan setiap Minggu tubuhku bingung, seperti kaki yang menginjak anak tangga yang ternyata tidak ada.

Aku ke dapur. Menjerang air.

Di luar, gang masih setengah tidur. Suara sapu lidi dari rumah Bu Ning. Radio dangdut dari bengkel Pak Somad, volume kecil, lagu yang sama setiap Minggu selama tiga tahun.

Aku berdiri di depan kompor, menunggu air mendidih, tangan di saku celana pendekku.

Lalu ada dua lengan melingkar di perutku dari belakang.

“Lintang.”

Tidak ada jawaban.

Dia menempelkan dahinya ke punggungku, di antara tulang belikat, dan diam.

Aku tidak bergerak.

Ini terjadi setiap Minggu pagi. Sudah — aku tidak ingat sejak kapan. Mungkin dua tahun. Mungkin lebih. Tidak ada aba-aba, tidak ada penjelasan, tidak pernah dibicarakan. Dia cuma datang, memeluk, dan diam.

Lamanya berbeda-beda. Kadang setengah menit. Kadang lebih.

Pagi ini lama.

Air mulai berbunyi di panci.

“Lintang.”

“Hm.”

“Airnya mendidih.”

“Bentar.”

Aku menunggu.

Tangannya kecil dan agak dingin, dan aku bisa merasakan jari-jarinya mengetuk pelan di perutku. Satu. Dua. Tiga. Pola yang tidak beraturan, seperti orang yang sedang menghitung sesuatu dan terus kehilangan hitungannya.

Lalu dia melepaskan.

“Udah.”

“Udah apa?”

“Udah aja.” Dia memanjat kursi dan duduk seperti tidak terjadi apa-apa. “Mas, PR aku dikerjain nggak?”

“Tiga soal.”

“Yang keempat kenapa?”

“Ketiduran.”

“Yah.” Dia mengambil gelas. “Ya udah, nanti berdua.”

Kumatikan kompor.

Aku tidak pernah bertanya kenapa. Sekali, dulu, aku hampir bertanya. Tapi ada sesuatu di cara dia melakukannya — terlalu serius untuk anak delapan tahun waktu itu — yang membuatku merasa kalau aku bertanya, jawabannya akan jadi sesuatu yang tidak bisa kuperbaiki.

Jadi kubiarkan.

Setiap Minggu, dua lengan di perutku, dan kubiarkan.


Jam delapan, aku sudah di rumah Mbah Tun.

“Mbah!”

“Sopo?”

“Aries!”

“Ariesss.” Suara dari dalam. “Mlebu wae, lawange menga.”

Rumah Mbah Tun paling kecil di gang. Satu ruang depan, satu kamar, satu dapur yang menyatu dengan kamar mandi lewat pintu triplek. Baunya selalu sama: minyak kayu putih dan kayu basah.

Mbah Tun duduk di kursi rotan dekat jendela, kaki diselonjorkan, radio di pangkuan.

“Kran belakang, Mbah?”

“Iyo. Netes terus. Semalem sampe subuh muni tik tik tik.”

Aku masuk ke belakang.

Kran itu memang bocor. Karetnya sudah hancur. Aku sudah menggantinya empat bulan lalu, tapi pipa di bawahnya tua dan yang bocor sekarang bukan krannya lagi.

Aku berjongkok. Membuka. Lantainya licin.

Sangat licin.

Kutekan telapak tanganku ke lantai kamar mandi, mengecek. Lumut. Tipis, tapi ada, dan warnanya sudah hitam bukan hijau, yang artinya sudah lama.

“Mbah.”

“Opo?”

“Lantai kamar mandinya licin.”

“Yo ket mbiyen licin.”

“Nggak, ini beda.” Aku keluar, mengelap tangan ke celana. “Mbah kalau ke belakang malem-malem gimana?”

“Yo mlaku.”

“Pegangan?”

“Pegangan opo? Ora ono.”

Aku diam sebentar.

“Nanti saya pasangin.”

“Pasang opo?”

“Pegangan. Besi. Di tembok.”

“Ora usah.” Dia mengibaskan tangan. “Larang.”

“Nggak mahal, Mbah.”

“Ora usah, Ries.”

“Ada bekas di bengkel Pak Somad. Saya minta.”

“Ries—”

“Sekalian nyikat lantainya.” Aku sudah berjalan ke arah dapur. “Ada sikat, Mbah?”

Dan Mbah Tun berhenti melawan, seperti setiap orang di gang ini akhirnya berhenti melawan, karena aku tidak pernah membantah dengan suara keras — aku cuma terus bergerak sampai urusannya selesai.


Aku menyikat lantai kamar mandi itu selama empat puluh menit.

Lumutnya keras kepala. Kutuang cuka, kutunggu, kusikat lagi. Air kotor mengalir ke selokan kecil di sudut.

Sambil menyikat, aku menghitung: besi bekas dari Pak Somad, gratis kalau minta baik-baik. Sekrup, mungkin lima ribu. Bor pinjam. Jadi total lima ribu, dan waktunya satu jam.

Murah.

Terlalu murah, sebenarnya, untuk apa yang kuutang.


Karena begini ceritanya.

Tiga tahun lalu, waktu ambulans itu pergi dan tidak ada yang kembali, umurku empat belas tahun dan aku berdiri di depan rumah nomor tujuh dengan tiga anak di belakangku. Sekar sebelas. Lintang tujuh. Bumi dua tahun dan tidak berhenti menangis selama enam jam.

Aku tidak tahu harus apa.

Benar-benar tidak tahu. Bukan panik — kosong. Otakku berhenti bekerja di satu tempat dan tidak mau maju.

Dan yang terjadi hari itu adalah:

Bu Ratmi datang membawa panci nasi dan tidak pulang sampai jam dua pagi.

Om Yusuf yang mengurus surat-suratnya, semua, sampai tuntas, dan tidak pernah menyebut-nyebutnya lagi.

Pak Somad yang menjemput Sekar dari sekolah selama dua bulan karena aku tidak bisa berada di dua tempat sekaligus.

Bu Ning yang menyusui Bumi tiga kali sehari selama sembilan bulan, padahal anaknya sendiri baru lahir, padahal ASI-nya tidak banyak.

Mbah Tun yang setiap sore muncul di pintu dan bilang, “Ries, mbah masak kakehan. Ndang dijupuk.”

Setiap sore. Selama tiga tahun. Masak kebanyakan.

Aku tahu itu bohong sejak bulan pertama. Tidak ada orang yang salah takaran masak setiap hari selama tiga tahun.

Tapi aku tidak pernah bilang, karena kalau aku bilang, dia akan berhenti melakukannya, dan Sekar tidak akan makan.


Jadi ini perhitunganku, dan sudah kuhitung berkali-kali:

Aku tidak akan pernah bisa membayar Gang Kenanga.

Bukan “sulit”. Bukan “butuh waktu lama”. Tidak akan pernah. Angkanya terlalu besar, dan sebagian besar isinya bahkan tidak bisa dinilai dengan uang. Berapa harga sembilan bulan ASI? Berapa harga dua bulan menjemput anak SMP setiap hari? Berapa harga seorang perempuan tujuh puluh tahun yang berbohong tentang takaran masakannya setiap sore selama tiga tahun supaya empat anak yatim punya alasan untuk makan?

Tidak ada angkanya.

Jadi aku membuat aturanku sendiri, di kepalaku, waktu umur lima belas, dan tidak pernah kuceritakan ke siapa pun:

Apa pun yang mereka butuh, aku dulukan. Selalu. Tanpa syarat. Tanpa dihitung.

Bukan karena itu akan melunasi apa pun.

Tapi karena selama aku masih membayar, aku bukan anak yang dikasihani.

Aku orang yang punya utang. Dan orang yang punya utang masih punya harga diri.

Itu bedanya, dan bedanya besar sekali.


“Ries.”

Pak Somad melempar besi bekas itu ke lantai bengkel dengan bunyi keras.

“Sing iki?”

“Iya, Pak. Cukup.”

“Buat opo?”

“Pegangan kamar mandi. Rumah Mbah Tun.”

Dia mengangguk sekali. Dia bukan orang yang bicara banyak. Dalam tiga tahun aku mungkin mendengar total dua ratus kata dari laki-laki itu, dan seratus di antaranya instruksi kerja.

“Sekrup ada, Pak?”

“Ambil dewe.”

Kuambil.

Waktu aku berbalik, dia sudah menaruh bor listrik di atas meja tanpa kuminta.

“Balikin sore.”

“Iya, Pak. Makasih.”

“Hm.”

Dan itu saja. Itu bentuk kasih sayang Pak Somad: bor listrik yang muncul di meja tanpa diminta.


Sisa Minggu itu berjalan seperti Minggu-Minggu lain.

Jam sebelas: pasang pegangan besi di kamar mandi Mbah Tun. Bornya berat dan temboknya rapuh, jadi aku harus menambal dulu.

Jam satu: benerin antena TV Bu Ning yang miring karena hujan.

Jam dua: angkat lemari Om Yusuf yang mau dipindah ke ruang belakang. Om Yusuf memaksa memberi uang. Kutolak. Dia memaksa lagi. Kutolak lagi. Akhirnya dia menaruh dua bungkus mi instan di tasku diam-diam, dan aku baru menemukannya jam sembilan malam.

Jam empat: cuci motor. Tiga motor. Ini yang dibayar, karena ini pelanggan dari luar gang.

Jam enam: pulang.

Jam enam lewat sepuluh: duduk di lantai bersama Lintang, mengerjakan soal keempat.

“Mas, ini kenapa jadi dua belas?”

“Karena empatnya dikali tiga.”

“Kok dikali?”

“Karena ada tiga kelompok.”

“Ohh.” Dia menulis. “Mas, Mas dulu pinter matematika?”

“Biasa aja.”

“Bohong.”

“Kenapa bohong?”

“Soalnya semua Mas bisa.”

Aku tidak menjawab. Kugeser buku itu sedikit supaya kena lampu.

“Mas.”

“Hm.”

“Kalau aku udah gede, aku mau kerja.”

“Sekolah dulu.”

“Ya sekolah dulu, terus kerja.” Dia menggigit ujung pensilnya. “Terus aku bayar semuanya.”

“Bayar apa?”

Dia berhenti menggigit pensil.

“Ya... semuanya.”

Aku menoleh.

Dia sudah kembali menulis, kepala menunduk, rambut menutupi setengah wajahnya.

Di sampingnya, di lantai, buku tulis sampul biru itu tergeletak menghadap ke bawah.

Aku menatapnya selama tiga detik.

“Lintang.”

“Hm?”

“Buku biru itu isinya apa?”

Dia menutupnya dengan telapak tangan, cepat sekali, seperti reflek.

“Rahasia.”

“Kamu selalu bilang rahasia.”

“Iya, soalnya beneran rahasia.”

“Rahasia dari siapa?”

Dia tersenyum lebar, dua gigi seri atasnya masih tumbuh setengah.

“Dari Mas.”

Dan dia kembali ke soalnya.

Dan aku — yang capek, yang punggungnya berdenyut, yang besok harus bangun jam empat dua puluh lima — memutuskan bahwa itu bukan hal penting.

Aku salah. Tapi aku baru tahu itu berbulan-bulan kemudian.


Malam itu Sekar menaruh gelas teh di meja seperti biasa.

Kuminum setengah, seperti biasa.

“Manis,” kataku.

Dia berhenti sepersekian detik di depan bak cuci.

“Kemanisan?”

“Nggak. Enak.”

“Oh.”

Dia melanjutkan mencuci.

Kuhabiskan sisanya, kutaruh gelas di bak, dan bilang, “Aku tidur duluan. Besok subuh.”

“Iya.”

“Sekar.”

“Hm.”

“Besok kamu ada iuran nggak?”

Dia mematikan kran.

“Nggak ada,” katanya, tanpa menoleh.

Aku berjalan ke kamar.

Di ambang pintu, entah kenapa, aku berbalik.

Dia masih berdiri di depan bak cuci. Airnya sudah mati. Tangannya masih memegang gelasku, dan dia tidak menggerakkannya sama sekali.

“Sekar?”

Dia langsung menaruh gelas itu di rak.

“Tidur sana,” katanya.

Dan mematikan lampu dapur sebelum aku sempat bertanya lagi.