Chapter Eleven
Empat Puluh Menit
POV: Aries
Ada satu bagian dari hariku yang tidak berguna, dan aku sudah lama berhenti mencoba mengurusnya.
Tiga hari seminggu — Selasa, Rabu, Jumat — orderan kurir habis jam setengah tujuh. Shift minimarket mulai jam delapan. Di antara keduanya ada delapan puluh menit.
Pulang dulu tidak masuk akal. Rumah ke minimarket empat puluh menit jalan kaki, bolak-balik jadi delapan puluh, dan itu berarti aku sampai rumah, membuka pintu, lalu langsung keluar lagi. Naik ojek dua kali menghabiskan seperlima gaji semalam.
Jadi yang tersisa: empat puluh menit di jalan menuju minimarket, dan empat puluh menit menunggu di sana.
Empat puluh menit itu kuhabiskan di trotoar depan toko kelontong yang sudah tutup, dua ruko sebelum minimarket. Ada undakan semen di depannya, tingginya pas untuk diduduki, dan ada atap seng yang menjorok cukup lebar sehingga kalau hujan aku tidak basah.
Aku sudah duduk di undakan itu tiga hari seminggu selama satu tahun lebih.
Kadang aku tidur. Kadang aku menghitung uang. Kadang aku tidak melakukan apa-apa, yang sebenarnya paling sering.
Tidak ada yang tahu tempat itu. Bukan karena aku merahasiakannya. Cuma karena tidak ada yang pernah punya alasan untuk mencari tahu aku ada di mana antara jam setengah tujuh dan jam delapan.
Selasa itu ada orang duduk di undakanku.
Aku melihatnya dari jarak lima puluh meter dan langsung berhenti jalan.
Rok abu-abu. Tas sekolah. Rambut diikat. Duduk dengan lutut rapat dan tangan di pangkuan, seperti orang menunggu di ruang tunggu dokter.
Aku berdiri di sana beberapa detik, dan hal pertama yang muncul di kepalaku bukan kenapa dia di sini melainkan dia tahu dari mana.
Aku mendekat.
“Claudia.”
Dia mendongak. “Hai.”
“Kamu ngapain di sini?”
“Duduk.”
“Iya, tapi—”
“Kamu juga duduk di sini, kan?”
“Iya.”
“Ya udah.” Dia menggeser badannya sedikit ke kanan. “Duduk.”
Dan aku berdiri di trotoar itu, memegang tali tas, dan otakku benar-benar tidak bisa memproses apa yang sedang terjadi.
“Kamu tau dari mana tempat ini?”
“Bang Jecky.”
“Bang Jecky nggak tau.”
“Dia tau.” Dia mengangkat bahu. “Dia bilang dia pernah lewat sini tiga kali dan lihat kamu tidur duduk. Katanya dia mau bangunin tapi nggak tega.”
Aku diam.
“Terus dia bilang,” lanjut Claudia, “‘Mbak, kalau Mbak mau bikin anak itu duduk sepuluh menit, itu udah kayak menang lotre.’”
“Bang Jecky ngomong gitu?”
“Iya.”
“Bang Jecky nggak pernah ngomong sepanjang itu.”
“Dia ngomong lima menit sebenernya. Aku ringkas.”
Aku duduk.
Bukan karena aku memutuskan untuk duduk. Kakiku duduk duluan dan otakku menyusul, yang mana adalah hal yang sering terjadi kalau aku sudah bangun dari jam empat pagi.
Kami tidak bicara selama beberapa menit.
Itu bagian yang paling tidak kumengerti.
Kalau orang menempuh perjalanan sejauh itu untuk duduk di undakan semen di depan toko kelontong yang sudah tutup, biasanya ada sesuatu yang mau disampaikan. Ada permintaan. Ada topik.
Claudia tidak punya topik.
Dia membuka HP-nya, menutupnya lagi. Melihat jalan. Melihat lampu jalan yang kedip-kedip. Menggerakkan kakinya sedikit.
Setelah menit keempat, aku tidak tahan.
“Kamu mau ngomongin apa?”
“Nggak ada.”
“Nggak ada?”
“Nggak ada.”
“Terus kamu ke sini kenapa?”
“Udah kubilang. Duduk.”
Aku menghadap ke depan lagi.
Menit kelima. Menit keenam.
“Claudia.”
“Hm?”
“Ini nggak efisien.”
Dia menoleh. “Apanya?”
“Kamu naik ojek ke sini. Dua puluh lima ribu. Terus pulangnya dua puluh lima ribu lagi. Lima puluh ribu buat duduk empat puluh menit.”
“Terus?”
“Ya itu— ” Aku menggerakkan tanganku, mencari kata. “Itu mahal.”
“Mahal buat kamu.”
“Mahal buat siapa aja.”
“Aries.” Dia menopang dagu di lututnya. “Kalau aku nggak ke sini, aku di rumah. Sendirian. Sampe jam sebelas. Terus tidur.”
“...Oh.”
“Jadi sebenernya ini lebih murah.”
“Lebih murah gimana?”
“Ya lebih murah aja.”
“Itu bukan—”
“Bukan jawaban, iya, aku tau.” Dia tersenyum ke arah jalan. “Aku emang gitu.”
Hari Rabu dia datang lagi.
Hari Jumat dia datang lagi.
Minggu berikutnya, ketiganya.
Dan mulai minggu ketiga, aku mendapati diriku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan seumur hidupku: aku mempercepat langkahku dari orderan terakhir menuju trotoar itu.
Bukan karena ada yang harus dikejar. Orderan sudah habis. Minimarket masih satu jam lagi.
Aku cuma jalan lebih cepat.
Aku menyadarinya di hari kedelapan, di tengah jalan, dan aku berhenti di trotoar dan bertanya ke diriku sendiri kenapa aku terengah-engah.
Aku tidak menemukan jawabannya.
Jadi kuputuskan itu tidak penting dan aku melanjutkan jalan.
Kupikir kalian akan tertawa membaca ini. Tidak apa-apa. Aku juga tertawa kalau mengingatnya sekarang.
Yang kupelajari tentang empat puluh menit itu:
Satu. Claudia tidak pernah bertanya soal pekerjaanku. Tidak sekali pun. Dia tidak bertanya berapa gajiku, tidak bertanya apakah aku capek, tidak bertanya apakah aku sudah makan.
Awalnya kupikir dia tidak peduli.
Belakangan aku sadar dia sengaja.
Karena semua orang di dunia ini bertanya “kamu udah makan?” kepadaku, dan aku punya satu jawaban otomatis untuk itu, dan jawaban otomatis itu bohong, dan setelah bohong percakapannya selesai.
Claudia tidak memberiku kesempatan untuk memakai jawaban otomatis.
Dua. Dia bicara tentang hal-hal yang benar-benar tidak penting.
Guru Kimia yang selalu mengetuk meja tiga kali sebelum bicara. Kucing di gang sebelah rumahnya yang cuma mau makan kalau ditonton. Kenapa dia benci sedotan kertas. Teori dia tentang kenapa Ridho pasti suka sama Nadin dan bukti-buktinya, yang ada tujuh butir, dan tiga di antaranya sangat lemah.
Aku tidak punya kontribusi apa pun untuk topik-topik itu.
Tapi ternyata itu tidak masalah, karena dia tidak butuh kontribusi. Dia butuh seseorang yang duduk di sebelahnya sambil sesekali bilang “hm”.
Dan aku sangat, sangat bagus dalam bilang “hm”.
Tiga. Aku tidak tidur lagi di undakan itu.
Ini yang paling aneh.
Selama satu tahun, tiga hari seminggu, empat puluh menit itu kupakai tidur duduk. Itu satu-satunya kegunaannya.
Tapi sejak dia datang, aku tidak pernah tidur di sana lagi.
Bukan karena berisik. Karena aku tidak mengantuk.
Dan itu tidak masuk akal secara biologis, karena aku bangun jam empat dua puluh lima setiap hari dan tidur jam dua belas lewat, dan tubuh yang seperti itu seharusnya tidur di mana saja yang ada permukaan datar.
Aku memikirkannya berhari-hari.
Kesimpulanku waktu itu: mungkin aku kurang kopi.
Suatu Jumat, dia terlambat.
Aku sampai di undakan jam setengah tujuh lewat lima. Kosong.
Jam enam empat puluh. Kosong.
Jam enam lima puluh. Kosong.
Dan aku duduk di sana melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan seumur hidupku: aku memandangi ujung jalan.
Berulang-ulang.
Setiap ada motor lewat aku menoleh.
Jam tujuh kurang lima aku mengeluarkan HP-ku, membuka kontaknya, dan menatap layarnya selama hampir satu menit.
Lalu kumasukkan lagi ke saku.
Karena kalau kutelepon dan ternyata dia baik-baik saja, aku akan terlihat seperti orang yang menunggu.
Dan aku tidak menunggu.
Aku cuma kebetulan duduk di sini. Seperti biasa. Seperti setahun terakhir.
Jam tujuh lewat, ada ojek berhenti di ujung jalan.
Dan aku berdiri.
Aku berdiri tanpa memutuskan untuk berdiri, dan aku sudah berdiri selama dua detik sebelum aku sadar bahwa aku sedang berdiri, dan pada saat itu sudah terlambat untuk duduk lagi tanpa terlihat aneh.
Claudia jalan mendekat sambil membetulkan tali tasnya.
“Maaf!” katanya dari jauh. “Ojeknya lama banget—”
“Nggak apa-apa.”
“—terus tadi ada macet di depan pasar—”
“Nggak apa-apa.”
Dia berhenti di depanku.
Dan dia melihat aku berdiri.
Dan aku melihat dia melihat aku berdiri.
“Kamu berdiri,” katanya.
“Iya.”
“Kenapa?”
“...Kaki aku kesemutan.”
Dia menatapku.
Aku menatap jalan.
“Oh,” katanya. “Kesemutan.”
“Iya.”
“Sebelah mana?”
“Kanan.”
“Yang mana yang kesemutan? Betisnya atau telapaknya?”
“Claudia—”
“Aku nanya doang.”
“...Telapak.”
“Oh. Telapak.” Dia duduk di undakan, sangat perlahan, dan aku bisa mendengar dari suaranya bahwa dia sedang tersenyum walaupun aku tidak melihat wajahnya. “Semoga cepet sembuh, ya, Ries.”
Aku duduk.
Dan tidak mengatakan apa-apa selama tiga menit penuh, karena kalau aku mengatakan sesuatu, aku takut yang keluar bukan yang kumaksud.
Malam itu di minimarket, jam sepuluh, sepi, aku duduk di kursi kasir dan melakukan hal yang biasa kulakukan kalau tidak ada pembeli: mengeluarkan struk bekas dari laci dan menghitung.
Gaji tanggal lima. Bongkar muat harian. Kurir. Cuci motor.
Dikurangi listrik, beras, buku Lintang, seragam Bumi.
Angkanya tidak pernah pas, tapi tidak pernah minus.
Lalu, tanpa alasan, aku membalik struk itu.
Dan menulis sesuatu di baliknya.
Claudia:
— nggak suka sedotan kertas
— guru Kimia ketuk meja 3x
— kucing gang sebelah namanya (?) tanya besok
Aku menatap tulisan itu.
Lalu aku merasa sangat bodoh, dan aku hampir meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah di bawah meja kasir.
Tapi tanganku berhenti.
Dan yang kulakukan adalah melipatnya dua kali dan memasukkannya ke saku dalam tasku — tempat yang sama dengan tempat aku menyimpan amplop-amplop uang, karena itu satu-satunya tempat di tasku yang tidak pernah kubuka sembarangan.
Aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu.
Aku benar-benar tidak tahu.
Aku baru mengerti berbulan-bulan kemudian, dan waktu aku mengerti, kertas itu sudah ada tiga puluh empat lembar dan diikat karet gelang.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit reading
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu