← Giliranmu Istirahat

Chapter Twenty Five

Panik

POV: Gita


Aku sedang rapat OSIS waktu itu terjadi.

Rapat soal pembagian proposal untuk acara perpisahan. Empat puluh menit. Aku yang memimpin, karena aku selalu yang memimpin, karena kalau bukan aku tidak ada yang mau.

Waktu aku kembali ke kelas jam satu kurang, aku tahu ada sesuatu yang salah sebelum aku masuk pintu.

Ridho duduk di lantai koridor, di luar kelas, punggung ke tembok.

Ridho tidak pernah duduk di lantai.

“Dho.”

Dia mengangkat kepala.

Matanya merah.

“Dho, kenapa?”

Dia menggeleng.

“Ridho.”

“Nggak apa-apa, Git.”

“Di dalem ada apa?”

Dia menatap lantai.

Lalu dia berkata, dengan suara yang datar sekali:

“Adiknya Aries dateng.”


Aku masuk kelas.

Dan aku tahu persis apa yang berubah, karena aku sudah tiga tahun jadi ketua kelas dan aku hafal bunyi ruangan itu.

Kelas jam satu siang biasanya berisik. Orang-orang baru selesai makan. Ada yang main HP, ada yang tidur, ada yang teriak dari ujung ke ujung.

Hari itu sepi.

Tidak ada yang bicara keras. Ada yang duduk sambil memandangi meja. Nadin sedang menangis pelan di bangkunya dan Vira mengusap punggungnya.

Dan di lantai depan bangkuku, ada anak kecil sedang makan nasi bungkus sendirian, kaki menggantung dari kursi, sangat gembira.

“Nadin. Ada apa?”

Dia menggeleng dan tidak bisa bicara.

Vira yang menjawab.

Dan Vira menceritakannya dalam empat kalimat, dan aku berdiri di tengah kelas dengan map proposal di tangan, dan aku tidak bisa menaruhnya karena tanganku tidak bekerja.


Empat kata.

Itu saja. Bukan pidato, bukan cerita sedih, bukan apa pun.

“Ayah aku kerja.”

Empat kata dari mulut anak lima tahun, dan tiga puluh lima orang di ruangan itu berubah selamanya.

Aku duduk di bangkuku.

Aku menatap bangku belakang dekat jendela, yang kosong.

Dan aku bertanya, “Aries mana?”

Vira menoleh ke pintu.

“Dibawa keluar.”

“Sama siapa?”

Dan Vira menatapku dengan wajah yang mengatakan bahwa pertanyaan itu bodoh, dan dia benar, karena hanya ada satu jawaban.

“Bella.”


Aku ingin mencatat dengan sejujur mungkin apa yang kurasakan di detik itu, karena ini bagian yang paling tidak ingin kutulis.

Aku tidak merasa sedih.

Aku sudah tahu semuanya. Sekar sudah menceritakannya sepuluh minggu lalu, di undakan depan rumah nomor tujuh, dengan urutan dan dengan tanggal. Aku sudah menangis untuk itu. Aku sudah selesai menangis untuk itu.

Yang kurasakan di detik itu, waktu Vira bilang “Bella”, adalah sesuatu yang panas dan cepat dan memalukan, dan naik dari perut ke leher dalam waktu kurang dari satu detik.

Dan aku tahu namanya.

Aku tahu namanya sebelum aku sempat menolaknya.

Bukan sedih. Bukan bersalah.

Iri.

Aku iri karena orang yang menarik tangannya keluar dari ruangan itu bukan aku.


Aku pergi ke kamar mandi dan mencuci muka empat kali.

Aku berdiri di depan cermin dan berkata di dalam kepalaku, dengan sangat jelas, kalimat yang sudah kususun sepanjang jalan ke sini:

Kamu cuma kasihan.

Kamu cuma merasa bersalah.

Kamu cuma terlalu banyak menghabiskan waktu di rumah itu.

Tiga kalimat. Semuanya masuk akal. Semuanya sudah kususun rapi, seperti biasa, seperti tabel.

Dan semuanya bohong, dan aku tahu itu bohong, karena kalau itu benar aku tidak akan berdiri di kamar mandi sekolah jam satu siang sambil mencuci muka empat kali.

Kau tidak mencuci muka empat kali untuk rasa kasihan.


Aku pulang jalan kaki hari itu.

Aku sering melakukan itu belakangan. Empat puluh menit, tanpa musik, tanpa apa-apa.

Dan aku menghitung mundur, seperti biasa, karena aku selalu ingin tahu kapan sesuatu dimulai.

Kapan?

Bukan waktu aku melihatnya mengangkat galon. Waktu itu aku cuma hancur.

Bukan waktu dia minta maaf kepadaku di ruang depan rumahnya. Waktu itu aku cuma malu.

Aku menghitung mundur, dan aku menemukannya, dan aku tidak menyukainya.

Sabtu kedelapan.

Waktu Bumi menaruh mobil-mobilan beroda tiga di sebelah kakiku.

Bukan tentang Aries sama sekali.

Aku jatuh cinta di hari aku diterima ke dalam rumahnya.


Dan di situlah masalahnya.

Aku akan menuliskannya dengan sistematis, karena itu satu-satunya cara aku bisa menulis tentang hal ini tanpa hancur.

Kalau aku bicara, dan dia menolak:

Aku akan malu. Dia akan salah tingkah. Dan dia — karena dia begitu — akan mulai merasa bersalah kepadaku.

Dan begitu Aries Kurniawan merasa bersalah kepada seseorang, dia akan mengatur hidupnya supaya orang itu tidak terganggu.

Dia akan mulai keluar rumah setiap Sabtu jam sepuluh.

Dia akan bilang “nggak apa-apa, Git” dengan nada yang lebih sopan dari biasanya.

Dan aku akan berhenti datang, karena aku tidak akan sanggup duduk di lantai itu lagi.

Dan kalau aku berhenti datang, Lintang akan bertanya kenapa Kak Gita tidak datang.

Dan Sekar tidak akan bertanya apa-apa, karena Sekar sudah memperingatkanku sepuluh minggu lalu di mulut gang: semua orang bisa nangis, nggak semua orang bisa dateng lima puluh dua kali.

Dan aku akan jadi orang keempat.

Setelah ibu-ibu gereja dengan kardus, setelah mahasiswa dengan kamera, setelah Tante Ratih setiap Lebaran.

Kalau aku bicara, dan dia menerima:

Ini yang lebih menakutkan, dan aku baru sadar itu di trotoar depan minimarket, dan aku berhenti jalan waktu menyadarinya.

Kalau dia menerima, dia akan melakukannya karena kasihan.

Bukan kasihan yang jelek. Kasihan Aries. Kasihan yang bentuknya begini: seseorang datang kepadanya membawa kebutuhan, dan dia tidak pernah dalam hidupnya sanggup menolak orang yang datang membawa kebutuhan.

Dia akan bilang iya karena dia tidak tahu cara bilang tidak.

Dan dia sudah punya tujuh pekerjaan dan tiga adik dan sembilan rumah.

Aku akan jadi kewajiban kedelapan.


Aku berhenti di trotoar depan minimarket dan berdiri di sana beberapa menit.

Di dalam, lewat kaca, aku bisa melihat kasir. Mas Yuda sedang menguap.

Papan lowongan itu masih ditempel di dekat pintu. Yang tulisannya Min. 17 tahun.

Aku membacanya.

Dan aku memikirkan sesuatu selama tiga detik penuh — memikirkannya sungguhan, dengan seluruh bagian bodoh dari diriku — sebelum aku menghapusnya.

Kalau aku daftar juga, aku bisa Sabtu sore.

Aku berdiri di trotoar itu dan merasa jijik pada diriku sendiri.

Karena itu bukan datang.

Itu mengejar.

Dan aku sudah tahu bedanya, karena Sekar sudah mengajariku bedanya, dan sekarang aku hampir melanggarnya di minggu kesebelas.


Malam itu aku menulis aturan.

Aku benar-benar menulisnya. Di aplikasi catatan, di HP-ku, di tempat yang sama di mana dulu ada empat versi permintaan maaf yang kuhapus.

ATURAN

1. Sabtu tetap jalan. Tidak boleh berhenti. Tidak boleh nambah.

2. Tidak boleh datang di hari lain.

3. Tidak boleh datang jam sepuluh sampai satu.

4. Tidak boleh bilang.

5. Tidak boleh berharap Claudia salah.

Nomor lima yang paling lama kutulis.

Aku mengetiknya, menghapusnya, mengetiknya lagi. Tiga kali.

Karena begitu kau menuliskan sesuatu, kau mengakui bahwa itu sudah ada di kepalamu.

Dan aku tidak ingin mengakui bahwa hari itu, sepersekian detik, waktu Vira bilang “Bella”, ada bagian kecil di dalam diriku yang berharap Claudia Sintya Bella melakukan kesalahan.

Aku menyimpan aturan itu.

Dan aku menaatinya.

Selama sembilan belas minggu, aku menaati kelimanya, dan aku tidak akan berpura-pura itu mudah.


Sabtu berikutnya aku datang jam satu.

Lintang membuka pintu. “KAK GITA!”

“Halo.”

“Kak Gita, aku ada acara sekolah!”

“Acara apa?”

“Acara profesi orang tua!” Dia melompat. “Nanti orang tuanya cerita kerjanya apa!”

Ada sesuatu yang turun di dalam perutku.

“...Terus?”

“Terus aku daftarin Mas Aries!”

“Dia mau?”

“Mau dong!” Lintang berlari ke dalam. “Aku udah isi formulirnya! Mau lihat?”

Dia kembali membawa selembar kertas fotokopi.

Dan aku membacanya berdiri di ambang pintu, dan aku harus membacanya dua kali sebelum bisa memproses baris terakhirnya.

NAMA AYAH/WALI: ARIES KURNIAWAN
UMUR: 17
PEKERJAAN: SEMUA

“Lintang.”

“Iya?”

“Kenapa kamu tulis ‘semua’?”

Dia menatapku dengan wajah heran.

“Ya soalnya Mas kerjanya semua,” katanya.

Lalu dia berlari ke dalam lagi.

Dan aku berdiri di ambang pintu rumah nomor tujuh dengan formulir fotokopi di tangan, dan aku sadar bahwa aturan nomor dua sampai lima itu tidak akan menyelamatkanku sama sekali.

Karena masalahnya bukan aku terlalu sering datang.

Masalahnya adalah setiap kali aku datang, rumah ini memberiku satu hal lagi untuk dicintai.