← Giliranmu Istirahat

Chapter Thirty One

Cermin

POV: Aries


Uang pendaftaran Sekar terkumpul tanggal dua puluh dua Juni.

Aku ingin mencatat bagaimana terkumpulnya, karena angkanya penting.

Dari kerjaku sendiri sejak Februari: dua juta tiga ratus empat puluh ribu.

Dari amplop cokelat: satu juta delapan ratus sepuluh ribu.

Aku mengambil dari amplop itu untuk pertama kalinya di bulan Juni, dan aku duduk di lantai selama dua puluh menit sebelum tanganku mau bergerak, dan setelah aku mengambilnya aku pergi ke kamar Lintang dan membangunkannya.

“Ntang.”

“...Hm.”

“Catet.”

Dia duduk, matanya setengah tertutup, dan mengambil bukunya dari bawah bantal.

“Satu juta delapan ratus sepuluh ribu,” kataku. “Dari amplop. Buat daftar SMA Mbak Sekar.”

Dia menulis.

Lalu dia bilang, “Sisanya masih dua juta tiga sembilan puluh.”

“Kamu ngitung?”

“Aku selalu ngitung.”

Lalu dia tidur lagi.

Dan aku berdiri di kamar itu sambil merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan tentang uang: lega.

Bukan karena aku punya.

Karena aku tahu ada yang mencatatnya.


Tanggal dua puluh tiga Juni, hari Minggu, aku menyiapkan berkasnya.

Ini yang perlu dikumpulkan: fotokopi akta, kartu keluarga, rapor kelas tujuh sampai sembilan, ijazah, SKHUN, surat keterangan wali, pasfoto.

Semuanya ada di lemari kamar. Di rak paling bawah, di dalam map plastik warna merah, tempat kami menyimpan semua dokumen sejak Om Yusuf mengurusnya tiga tahun lalu.

Sekar sedang di warung membantu Bu Ratmi. Lintang main. Bumi tidur.

Rumahnya kosong.

Aku duduk di depan lemari dan membuka pintunya.


Map merahnya ada di bawah tumpukan baju.

Bukan di rak paling bawah — sudah pindah. Kami memindahkannya bulan lalu waktu ada tikus.

Jadi aku mengangkat tumpukan bajunya.

Seragam Sekar. Dua rok. Beberapa kaus. Kain jarik yang dulu punya Ibu, yang tidak pernah dipakai siapa pun tapi juga tidak pernah dibuang.

Dan di antara kain jarik dan map merah, ada kertas.

Dilipat empat.

Sudah menguning tipis di garis lipatannya, warna kuning yang cuma muncul kalau kertas dilipat lama sekali di tempat yang sama.

Aku mengambilnya.

Aku pikir itu bon. Kami menyimpan bon di mana-mana.

Aku membukanya.


Kop sekolah di bagian atas.

SMP NEGERI 4
FORMULIR KESEDIAAN MENGIKUTI SELEKSI
PROGRAM BEASISWA PRESTASI — SMA UNGGULAN BERASRAMA

Aku membacanya berdiri.

Lalu aku duduk di lantai, karena kakiku memutuskan itu tanpa bertanya kepadaku.

Nama: SEKAR KURNIAWAN
Kelas: IX-A
Peringkat paralel: 1

Isi beasiswa:
— Biaya pendidikan penuh, 3 tahun
— Asrama, makan 3× sehari
— Seragam, buku, perlengkapan
— Uang saku bulanan Rp 500.000
— Prioritas jalur beasiswa perguruan tinggi

Lalu bagian bawahnya.

Diisi oleh siswa:

☐ BERSEDIA
☐ TIDAK BERSEDIA

Dua kotak.

Dua-duanya kosong.

Dan di bawahnya:

Batas pengembalian: 28 Februari.


Aku duduk di lantai kamar dengan kertas itu di tangan selama entah berapa lama.

Aku mencoba menghitung. Itu yang selalu kulakukan waktu otakku tidak sanggup melakukan hal lain.

Dua puluh delapan Februari sampai dua puluh tiga Juni.

Seratus lima belas hari.

Kertas itu ada di bawah tumpukan baju selama seratus lima belas hari, di lemari yang jaraknya satu setengah meter dari tempat aku tidur setiap malam.

Dan dia tidak membuangnya.

Itu bagian yang membuat dadaku sakit sungguhan, bukan kiasan, ada yang menekan dari dalam.

Dia tidak membuangnya.

Kalau kau menolak sesuatu dan kau sudah selesai dengannya, kau membuangnya.

Kalau kau melipatnya empat kali dan menyimpannya di bawah tumpukan baju selama seratus lima belas hari, kau belum selesai.


Sekar pulang jam empat.

Aku duduk di ruang depan, di lantai, dengan kertas itu terbuka di atas meja belajar bekas yang kaki depannya diganjal ubin.

Dia melihatnya dari ambang pintu.

Dan aku melihat wajahnya berubah.

Bukan panik. Bukan takut.

Menutup.

Aku sudah melihat wajah itu sebelumnya. Waktu dia umur sebelas, di depan rumah, hari ambulans itu pergi.

“Sekar.”

“Mas ngapain buka lemari.”

“Nyari map merah.”

“Map merahnya di rak bawah.”

“Udah dipindah. Bulan lalu.”

Dia diam.

“Sekar, duduk.”

“Aku mau mandi.”

“Duduk dulu.”

“Mas—”

Sekar.

Dan aku tidak pernah membentak adikku seumur hidupku, dan aku membentaknya hari itu, dan dia berhenti di ambang pintu dan tidak bergerak.


Dia duduk di seberangku.

Punggung lurus. Tangan di pangkuan. Wajahnya kosong.

“Ini apa?”

“Mas udah baca.”

“Aku mau kamu yang jelasin.”

“Formulir.”

“Sekar.”

“Beasiswa.” Suaranya datar. “SMA unggulan. Asrama.”

“Kamu ditawarin?”

“Iya.”

“Kapan?”

“Februari.”

“Kamu bilang ke aku?”

Dia tidak menjawab.

“Sekar. Kamu bilang ke aku?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Dan dia menatap meja.

“Kenapa, Sekar.”

“Nggak penting.”

“Nggak penting?” Aku mengangkat kertas itu. “Ini biaya penuh tiga tahun. Ini asrama. Ini makan tiga kali. Ini lima ratus ribu sebulan.”

“Aku tau.”

“Ini jalur ke kuliah.”

“Aku tau, Mas.”

“Kamu ranking satu paralel dari kelas tujuh.”

“Aku tau.”

“KAMU TAU SEMUANYA TERUS KENAPA—”

Aku berhenti.

Karena suaraku pecah, dan karena Bumi bangun di kamar sebelah dan aku mendengarnya, dan karena adikku duduk di depanku dengan wajah yang tidak berubah sedikit pun.


Aku menurunkan suaraku.

“Sekar,” kataku. “Aku nggak marah.”

“Mas marah.”

“Aku—” Aku menarik napas. “Iya. Aku marah.”

“Ke aku?”

“Nggak.”

“Ke siapa?”

Dan aku tidak bisa menjawab, karena aku belum tahu jawabannya, dan aku baru tahu tiga menit kemudian dan waktu aku tahu aku ingin sekali tidak tahu.

“Kenapa kamu nggak isi,” kataku. “Kotaknya dua. Kamu nggak isi dua-duanya.”

“Iya.”

“Kenapa nggak kamu isi ‘tidak bersedia’ aja?”

Dan untuk pertama kalinya sejak dia duduk, ada sesuatu yang bergerak di wajah adikku.

“...Nggak bisa,” katanya.

“Kenapa nggak bisa?”

“Nggak bisa aja.”

“Sekar—”

“AKU NGGAK BISA NYENTANG YANG ITU, MAS.”

Dan dia berteriak.

Adikku, yang dalam tiga tahun tidak pernah menaikkan suaranya satu desibel pun, berteriak di ruang depan rumah kami hari Minggu jam empat sore.

Lalu dia menutup mulutnya dengan tangan.

Dan dia menunduk.

Dan bahunya bergerak sekali, dua kali, tanpa suara.


Aku tidak bergerak.

Aku ingin mencatat itu, karena itu adalah kegagalan terbesarku dalam seluruh cerita ini.

Adikku menangis di seberangku dan aku tidak bergerak, karena aku tidak tahu caranya, karena dalam tiga tahun terakhir aku sudah memeluk Bumi ratusan kali dan mengusap kepala Lintang ratusan kali dan aku tidak pernah sekali pun memeluk Sekar.

Tidak sekali pun.

Karena Sekar tidak pernah terlihat butuh.

Karena Sekar selalu berdiri lebih dulu, membereskan lebih dulu, selesai lebih dulu.

Dan aku menerima itu selama tiga tahun tanpa bertanya satu kali pun apakah itu benar.


Waktu dia mengangkat kepalanya, wajahnya sudah kering.

Empat puluh detik. Itu berapa lama dia mengizinkan dirinya sendiri.

“Mas.”

“Iya.”

“Aku jelasin, terus Mas jangan motong.”

“Iya.”

Dia menarik napas.

“Selasa, Rabu, Jumat,” katanya. “Program itu jam empat sampai jam enam.”

Aku menatapnya.

“Selasa, Rabu, Jumat,” ulangnya. “Aku jalan ke minimarket. Berangkat setengah tujuh, sampai jam tujuh.”

“Sekar—”

“Mas janji nggak motong.”

Aku menutup mulutku.

“Tehnya harus dibuat panas,” katanya. “Nasinya harus dibungkus. Itu di rumah. Rumah arahnya kebalikan dari sekolah.”

Dia bicara dengan nada orang membaca laporan.

“Aku udah ngitung sebelas kali,” katanya. “Aku coba bikin tehnya pagi, dingin. Aku coba titip Lintang, jalanannya gelap. Aku coba nggak ikut hari Jumat aja, Bu Rina bilang harus tiga-tiganya.”

“Sekar.”

“Terus ada asramanya.”

Dia menatap meja.

“Kalau aku masuk, aku pindah. Tiga tahun.” Suaranya masih datar. “Yang bikin teh siapa. Yang nemenin Lintang PR siapa. Yang tau Bumi nggak bisa tidur kalau selimutnya bukan yang biru siapa.”

“Aku bisa—”

“Mas nggak bisa.”

Dan dia mengangkat wajahnya.

“Mas kerja tujuh tempat,” katanya. “Mas pulang jam sebelas empat puluh. Mas nggak bisa, dan itu bukan salah Mas, dan aku nggak lagi nyalahin Mas.”

Aku tidak bisa bicara.

“Jadi aku itung,” katanya. “Aku itung semuanya, sebelas kali, dan hasilnya nggak muat.”

Dia mengangkat bahu sekali. Kecil.

“Jadi aku nggak isi.”


Dan di sinilah aku mengatakan hal yang paling bodoh yang pernah kukatakan dalam hidupku.

“Sekar, kenapa kamu nggak bilang aja ke aku? Aku bisa cari jalan. Aku bisa atur. Kamu nggak usah mikirin itu semua sendirian—”

Dan adikku menatapku.

Dan dia berkata, dengan suara yang paling tenang di seluruh percakapan itu:

“Mas.”

“Iya.”

“Mas pernah bilang ke aku waktu Mas kehilangan kerjaan gudang?”

Aku diam.

“Mas pernah bilang ke aku Mas kerja sampai jam dua pagi selama sebulan?”

Aku diam.

“Mas pernah bilang ke aku Mas nggak makan malem tiga hari berturut-turut bulan April?”

“Kamu tau itu?”

“Aku selalu tau.” Dia menatapku lurus. “Aku yang cuci piringnya.”

Ruangan itu sunyi sekali.

Dan lalu dia bilang kalimat yang aku putar di kepalaku setiap malam selama berbulan-bulan setelahnya, dan yang masih kuputar sampai sekarang, dan yang tidak akan pernah berhenti kuputar sampai aku mati.

“Aku cuma niru Mas,” katanya.

Dan dia menatapku, dan wajahnya bukan wajah orang yang menyerang.

Wajahnya wajah orang yang benar-benar bertanya.

“Emangnya salah?”


Aku tidak punya jawaban.

Aku ingin menuliskannya dengan lebih dramatis, tapi tidak ada versi yang lebih dramatis dari kebenarannya:

Aku tidak punya jawaban.

Karena setiap jawaban yang muncul di kepalaku adalah tuduhan terhadap diriku sendiri.

Salah, Sekar. Kamu nggak boleh nyimpen sendiri. — Tapi aku menyimpan sendiri. Setiap hari. Selama tiga tahun.

Salah, Sekar. Kamu harus minta tolong. — Tapi aku tidak pernah minta tolong. Sekali pun. Aku bahkan tidak minta izin ke Pak Broto di halaman gudang jam dua belas lewat dua puluh lima malam, karena minta izin sama dengan minta dimaklumi.

Salah, Sekar. Kamu masih anak-anak. — Dia empat belas. Aku empat belas waktu ambulans itu pergi.

Aku duduk di lantai ruang depan rumahku sendiri dan aku menyadari sesuatu yang membuatku ingin muntah:

Selama tiga tahun aku pikir aku membesarkan adikku.

Aku tidak membesarkannya.

Aku mencetaknya.

Dan yang kucetak bukan bagian yang bagus. Yang kucetak bukan kerja kerasnya, bukan tanggung jawabnya, bukan ketegarannya.

Yang kucetak adalah luka yang paling dalam di dalam diriku, persis, garis demi garis, ke dalam anak berumur empat belas tahun yang tidak pernah punya pilihan untuk menolaknya.


“Sekar.”

“Hm.”

“Nama kamu.”

Dia mengangkat kepalanya.

“Aries. Lintang. Bumi.” Aku menatap meja. “Semuanya dari langit. Bapak yang kasih.”

“Iya.”

“Kamu bukan.”

“Iya.”

“Kamu dari Ibu.”

Dan adikku mengangguk sekali, dan lalu dia mengucapkan kalimat yang sudah dia hafal seumur hidupnya, dan yang belum pernah kudengar dia ucapkan sekali pun sebelum hari itu:

“Ibu bilang biar ada satu yang nahan yang lain,” katanya. “Kalau semuanya sibuk jadi langit.”

Aku menutup mataku.

“Sekar.”

“Hm.”

“Ibu nggak minta kamu nahan sendirian.”

Dan adikku diam sangat lama.

Lalu dia bilang, dan suaranya akhirnya, akhirnya pecah:

“Terus siapa lagi, Mas.”


Aku memeluk adikku untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pada hari Minggu tanggal dua puluh tiga Juni, jam empat lewat dua puluh sore, di lantai ruang depan rumah nomor tujuh Gang Kenanga.

Dan dia kaku selama sekitar lima detik pertama, seperti orang yang tidak tahu di mana harus menaruh tangannya.

Lalu dia memegang bagian belakang kausku dengan dua tangan dan meremasnya, dan dia menangis dengan cara yang sangat tidak enak didengar, cara yang keluar dari orang yang sudah menahan sesuatu terlalu lama sehingga sudah tidak tahu lagi bentuk yang benar.

Dan lampu ruang tengah mati setengah.

Aku mendengar bunyi saklarnya.

Aku tidak melihat siapa yang melakukannya, tapi aku tahu, karena cuma ada satu orang di rumah itu yang tahu bahwa mematikan dua dari empat lampu artinya memberi seseorang izin untuk punya wajah yang tidak terlihat.

Dan lalu Lintang duduk di lantai, di sebelah kami, tidak menempel — di jarak satu meter, karena dia tahu ini bukan bagiannya —

dan membuka bukunya

dan mulai membaca keras-keras, dengan suara biasa, hal-hal yang paling tidak penting di dunia:

“Tanggal empat Januari. Bu Ratmi. Gula setengah kilo. Tanggal lima Januari. Om Yusuf. Fotokopi dua belas lembar.”

Dan Bumi merangkak ke pangkuan Sekar.

Bukan pangkuanku.

Pangkuan Sekar.

Anak lima tahun itu naik ke pangkuan kakak perempuannya, menyandarkan kepala, dan tidur dalam satu menit — dan dengan begitu, adikku tidak bisa berdiri, tidak bisa ke dapur, tidak bisa mencuci apa pun, tidak bisa membereskan apa pun, tidak bisa melarikan diri ke dalam pekerjaan seperti yang dia lakukan setiap kali ada yang tidak enak selama tiga tahun terakhir.

Mereka menguncinya.

Dengan cara yang persis sama seperti mereka menguncinku.

Dan aku duduk di lantai itu sambil memeluk adikku dan menyadari bahwa protokol yang mereka bangun selama bertahun-tahun untuk menjagaku ternyata tidak pernah cuma untukku.

Mereka sudah memakainya untuk siapa saja di rumah ini yang runtuh.

Dan selama tiga tahun, tidak ada satu pun dari kami yang pernah membicarakannya.


Aku mengirim kertas itu ke sekolah hari Senin.

Bu Rina baik sekali. Dia menerimaku di ruang guru dan mendengarkan sampai selesai dan tidak memotong sekali pun.

Lalu dia bilang, “Mas, saya minta maaf.”

“Kenapa Ibu minta maaf?”

“Angkatannya sudah tutup Maret.” Dia menaruh kertas itu di meja. “Seleksinya April. Pengumumannya Mei. Anaknya sudah berangkat minggu lalu.”

“Nggak ada jalur lain, Bu?”

“Tahun depan ada, tapi untuk kelas sembilan.”

“Sekar kelas sembilan tahun ini.”

“Iya, Mas.”

“Jadi—”

“Jadi tidak ada.”

Aku duduk di kursi plastik ruang guru SMP Negeri 4, jam sembilan pagi, hari Senin tanggal dua puluh empat Juni.

“Bu.”

“Iya, Mas?”

“Kalau dia isi bulan Februari, dia bakal lolos?”

Bu Rina menatapku lama sekali.

“Mas,” katanya. “Sekar itu anak terpintar yang pernah saya ajar dalam empat belas tahun.”

Dan aku mengangguk, dan aku berdiri, dan aku mengucapkan terima kasih empat kali, dan aku berjalan keluar dari ruang guru itu dan menuruni tangga dan keluar dari gerbang sekolah.

Dan aku berjalan sekitar dua ratus meter.

Lalu aku duduk di trotoar.

Dan aku duduk di sana selama satu jam dua puluh menit, dan aku melewatkan shift cuci piring hari itu untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dan aku tidak menelepon untuk memberi tahu.