← Giliranmu Istirahat

Chapter Forty

[Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun

POV: Lintang


Namanya Bu Hanifah.

Dia dateng hari Sabtu jam sembilan pagi. Bawa tas item sama map.

Dia nggak galak. Aku mau bilang itu duluan soalnya nanti kalian kira dia jahat.

Dia nggak jahat. Dia baik.

Dia bawa permen buat Bumi. Dia lepas sepatu walaupun Mas bilang nggak usah. Dia duduk di lantai soalnya kursi kita cuma ada dua.

Terus dia bilang, “Maaf ya ganggu hari Sabtu.”

Terus Mas bilang, “Nggak ganggu, Bu.”

Terus Mas bikinin teh.


Bu Hanifah nanya-nanya sama Mas dulu.

Lama banget. Satu jam kayaknya.

Aku duduk di pojok pura-pura baca padahal aku dengerin.

Dia nanya soal kerja Mas. Nanya soal duit. Nanya soal sekolah kita. Nanya soal siapa yang masak.

Terus dia nulis terus. Nulisnya cepet banget.

Terus tiba-tiba dia bilang, “Mas Aries, boleh saya ngobrol sama adik-adiknya?”

Mas bilang, “Boleh, Bu.”

Terus Bu Hanifah bilang, “Sendiri, ya.”

Terus Mas diem.

Terus Mas bilang, “Sendiri gimana, Bu?”

Bu Hanifah bilang, “Tanpa Mas di ruangan.”


Aku liat muka Mas.

Mukanya nggak berubah. Mukanya nggak pernah berubah.

Tapi tangannya megang gelas terus dia taruh gelasnya di meja.

Pelan banget.

Nggak ada bunyinya.

Dan aku liat Mbak Sekar di dapur, dan Mbak Sekar juga liat, dan kita berdua tau artinya apa.

“Iya, Bu,” kata Mas. “Saya di luar.”

“Nggak usah jauh-jauh, Mas.”

“Iya, Bu.”

Terus Mas keluar.

Terus dia duduk di undakan depan rumah, membelakangi pintu.

Dan dia duduk di situ satu jam empat puluh menit.


Bu Hanifah ngobrol sama Mbak Sekar dulu.

Aku disuruh nunggu di kamar.

Aku ngintip dikit tapi aku nggak denger.

Terus Mbak Sekar keluar. Mukanya biasa aja.

Terus Bu Hanifah bilang, “Lintang, sini.”


Dia baik banget.

Dia bilang, “Lintang, ini bukan ujian ya. Nggak ada jawaban salah.”

Aku bilang, “Iya, Bu.”

Dia bilang, “Kamu jawab jujur aja. Nggak ada yang marah.”

Aku bilang, “Iya, Bu.”

Terus dia nanya.


“Lintang, siapa yang masak di rumah?”

“Mbak Sekar.”

“Setiap hari?”

“Iya.”

“Mbak Sekar umur berapa?”

“Empat belas.”

Terus dia nulis.


“Kamu bangun sendiri atau dibangunin?”

“Sendiri.”

“Jam berapa?”

“Jam enam.”

“Mas Aries jam berapa?”

“Setengah lima.”

“Pagi?”

“Iya.”

Terus dia nulis lagi.


“Lintang, kalian makan berapa kali sehari?”

Aku mikir.

“Tiga.”

“Selalu tiga?”

Aku mikir lagi.

Terus aku bilang, “Kadang dua.”

“Kapan yang dua?”

“Kalau tanggal tua.”

“Tanggal tua itu kapan?”

“Tanggal dua puluh lima sampe tanggal lima.”

Terus dia berhenti nulis.

Terus dia liat aku.

Terus dia nulis lagi, lebih lama.


Nah di situ aku mulai nggak enak.

Aku nggak tau kenapa. Aku cuma ngerasa perut aku kayak turun.

Soalnya aku jawab jujur, dan Bu Hanifah baik, dan dia bilang nggak ada jawaban salah.

Tapi setiap kali aku jawab, dia nulisnya lama.

Dan aku mikir: kalau nulisnya lama, berarti jawabannya penting.

Dan kalau jawabannya penting, berarti jawabannya bisa dipake.


“Lintang, Mas Aries pulang jam berapa?”

Dan aku diem.

“Lintang?”

Aku bilang, “Kenapa Ibu nanya?”

Dia bilang, “Ibu cuma mau tau keadaannya.”

Aku bilang, “Buat apa?”

Dan dia berhenti nulis.

Terus dia naruh pulpennya.

Terus dia bilang, “Lintang, kamu pinter ya.”

Aku bilang, “Aku ranking tiga.”

Dia bilang, “Bukan itu maksud Ibu.”


“Lintang, Ibu jujur ya.”

“Iya, Bu.”

“Ibu ke sini karena ada laporan bahwa di rumah ini ada empat anak dan yang paling tua umurnya tujuh belas.”

“Iya.”

“Dan itu nggak biasa.”

“Iya.”

“Jadi tugas Ibu ngecek apakah kalian aman.”

Aku bilang, “Kita aman.”

Dia bilang, “Ibu tau kamu ngerasa gitu.”

Dan aku bilang, “Bukan ngerasa. Emang aman.”

Dan dia bilang, “Lintang—”

Dan aku bilang, “Bu, aku boleh ngambil sesuatu?”


Aku lari ke kamar.

Aku ambil buku aku dari bawah bantal.

Terus aku balik.

Terus aku taruh di lantai di depan Bu Hanifah.

Dan aku bilang, “Ibu baca ini.”


Dia bilang, “Ini apa?”

Aku bilang, “Data.”

Dia bilang, “Data?”

Aku bilang, “Iya. Ibu nulis data kan? Ini data juga.”

Terus dia ngambil bukunya.


Dia buka halaman satu.

Aku bilang, “Yang depan tulisannya jelek. Itu waktu aku kelas satu.”

Dia bilang, “Nggak apa-apa.”

Terus dia baca.

BU RATMI. NASI. 3 KALI. TGL 14.
BU RATMI. TELOR. TGL 15.
OM YUSUF. SURAT2. AKU GA TAU BRP.
MBAH TUN. SAYUR. TGL 15.

Terus dia balik halaman.

Terus dia balik lagi.

Terus dia balik lagi.


Aku jelasin sistemnya.

Aku bilang, “Ada dua kolom. Yang kiri PEMBERIAN, yang kanan UTANG.”

Dia bilang, “Yang PEMBERIAN kok kosong?”

Aku bilang, “Emang kosong.”

Dia bilang, “Semuanya?”

Aku bilang, “Dari halaman satu sampe dua ratus tiga puluh.”

Terus dia berhenti.

Terus dia bilang, “Kenapa?”

Dan aku bilang, “Soalnya kalau ditulis di PEMBERIAN, artinya kita nggak bayar.”

Aku bilang, “Terus nanti kita jadi dikasihanin.”


Bu Hanifah naruh bukunya di pangkuannya.

Terus dia liat aku lama banget.

Terus dia bilang, “Lintang, umur kamu sepuluh?”

Aku bilang, “Iya. November sebelas.”

Terus dia bilang, “Boleh Ibu tanya satu hal?”

Aku bilang, “Boleh.”

Dia bilang, “Kamu nyatet ini semua sendiri?”

Aku bilang, “Iya.”

Dia bilang, “Nggak ada yang nyuruh?”

Aku bilang, “Nggak ada.”

Dia bilang, “Mas Aries tau?”

Aku bilang, “Tau bukunya. Nggak tau isinya.”

Dia bilang, “Kenapa nggak dikasih tau?”

Dan aku bilang, “Soalnya nanti Mas ngitung.”


Terus Bu Hanifah bilang, “Lintang, ini banyak sekali nama.”

Aku bilang, “Iya.”

Dia bilang, “Berapa nama?”

Aku bilang, “Dua puluh tiga.”

Dia bilang, “Dua puluh tiga orang?”

Aku bilang, “Iya. Sembilan dari gang, sisanya dari luar.”

Terus aku bilang, “Ada Bu Marni tukang sayur. Ada Pak Han toko beras. Ada Bu Lastri rumah makan. Ada Mas Yuda minimarket.”

Terus aku bilang, “Ada Kak Claudia sama Kak Gita.”

Terus aku bilang, “Ada Bang Jecky, tapi Bang Jecky banyak banget, aku bikin halaman sendiri.”


Terus dia nanya yang bikin aku seneng.

Dia bilang, “Ini kolom ketiga apa?”

Dan aku bilang, “Oh! Itu baru.”

Dia bilang, “BELUM TAU?”

Aku bilang, “Iya.”

Dia bilang, “Isinya siapa?”

Aku bilang, “Kak Claudia.”

Dia bilang, “Kenapa dia beda?”

Dan aku bilang, “Soalnya dia minta ditaruh di PEMBERIAN, tapi aku nggak mau, jadi aku bikin kolom baru.”

Terus aku bilang, “Terus sekarang ada tiga di situ.”

Dia bilang, “Tiga?”

Aku bilang, “Kak Claudia, Kak Gita, sama Bu Ning.”

Dia bilang, “Kenapa Bu Ning?”

Dan aku bilang, “Soalnya Bu Ning nyusuin Bumi sembilan bulan dan aku nggak tau harganya berapa dan aku nggak bisa nulis ‘aku nggak tau’ terus.”


Terus Bu Hanifah nutup mukanya.

Cuma sebentar. Pake tangan. Terus dia buka lagi.

Terus dia bilang, “Sebentar ya, Lintang.”

Terus dia ngambil tisu dari tasnya.

Terus aku bilang, “Bu, Ibu nangis?”

Dia bilang, “Enggak.”

Aku bilang, “Bohong.”

Dia bilang, “...Iya.”

Dan aku bilang, “Semua orang gitu.”

Dia bilang, “Gimana?”

Aku bilang, “Semua orang yang baca buku aku nangis. Kak Claudia nangis. Kak Gita nangis. Sekarang Ibu.”

Terus aku bilang, “Padahal aku nggak nulis yang sedih. Aku cuma nulis angka.”


Terus Bu Hanifah bilang sesuatu yang aku nggak ngerti waktu itu.

Dia bilang, “Lintang, boleh Ibu foto beberapa halaman?”

Aku bilang, “Buat apa?”

Dia bilang, “Buat lampiran laporan Ibu.”

Aku bilang, “Lampiran itu apa?”

Dia bilang, “Bukti tambahan.”

Terus aku bilang, “Bukti buat apa?”

Dan dia bilang, “Buat nunjukin ke atasan Ibu bahwa kalian nggak sendirian.”


Terus aku bilang, “Bu.”

Dia bilang, “Iya?”

Aku bilang, “Ibu mau ngambil Bumi?”

Dan dia naruh HP-nya.

Terus dia bilang, “Bukan Ibu yang mutusin.”

Aku bilang, “Siapa?”

Dia bilang, “Nanti tanggal dua belas ada rapat. Ada beberapa orang.”

Aku bilang, “Ibu ikut?”

Dia bilang, “Ibu ikut.”

Aku bilang, “Ibu di pihak mana?”

Dan dia nggak jawab lama banget.

Terus dia bilang, “Ibu di pihak yang paling aman buat Bumi.”

Dan aku bilang, “Itu di sini.”

Dan dia bilang, “Ibu tau kamu yakin.”

Dan aku bilang, “Bukan yakin. Aku punya datanya.”


Terus aku ngomong lama banget.

Aku nggak inget semuanya. Tapi aku inget aku ngomong sambil buka-buka halaman.

Aku bilang, “Nih, tanggal tiga Februari. Aku demam. Mas nggak kerja. Gaji Mas dipotong. Aku catet.”

Aku bilang, “Nih, tanggal sembilan belas Maret. Bumi muntah malem-malem. Mbak Sekar yang bersihin. Mas Aries yang gendong ke puskesmas. Jam dua pagi.”

Aku bilang, “Nih. Tiap tanggal empat belas, Mbah Tun bawa sayur asem. Tiap tanggal. Tiga tahun.”

Terus aku bilang, “Bu, Ibu tau nggak, kalau Bumi pindah, siapa yang tau selimutnya harus yang biru?”

Bu Hanifah bilang, “Selimut biru?”

Aku bilang, “Iya. Bumi nggak bisa tidur kalau bukan yang biru. Dicucinya harus hari Selasa biar kering hari Kamis.”

Aku bilang, “Itu Mbak Sekar yang tau.”

Aku bilang, “Itu nggak ada di surat manapun.”


Terus aku bilang yang terakhir.

Aku bilang, “Bu.”

Dia bilang, “Iya, Lintang.”

Aku bilang, “Kalau Bumi diambil, aku hapus dua ratus tiga puluh halaman.”

Dia bilang, “Kenapa?”

Dan aku bilang, “Soalnya percuma.”

Terus aku bilang, “Aku nyatet biar nanti kita bayar. Kalau dicatat, artinya nanti kita bayar.”

Terus aku bilang, “Tapi kalau kita udah nggak lengkap, siapa yang bayar?”


Bu Hanifah nggak ngomong apa-apa lama banget.

Terus dia bilang, “Lintang.”

Aku bilang, “Iya.”

Dia bilang, “Ibu mau jujur sama kamu, dan ini nggak enak, tapi Ibu rasa kamu cukup besar buat denger.”

Aku bilang, “Iya.”

Dia bilang, “Buku kamu ini hal paling kuat yang pernah Ibu lihat dalam sebelas tahun kerja.”

Aku bilang, “Beneran?”

Dia bilang, “Beneran.”

Terus dia bilang, “Tapi ini bukan bukti hukum.”


Aku bilang, “Bukti hukum itu apa?”

Dia bilang, “Surat-surat resmi. Penetapan pengadilan. Nama orang dewasa.”

Aku bilang, “Kita punya surat. Kak Gita udah siapin. Ada delapan tanda tangan tetangga.”

Dia bilang, “Itu bagus. Itu ngebantu banget.”

Aku bilang, “Terus kurangnya apa?”

Dan Bu Hanifah bilang:

“Kurangnya satu orang dewasa yang mau namanya ditulis sebagai wali.”

Aku bilang, “Mas Aries.”

Dia bilang, “Mas Aries tujuh belas.”

Aku bilang, “November delapan belas.”

Dan Bu Hanifah bilang, pelan banget:

“Yang dibutuhkan dua puluh satu, Lintang.”


Aku duduk di lantai.

Aku nggak nangis.

Aku mau nangis tapi aku nggak, soalnya Mas duduk di undakan depan pintu dan kalau aku nangis dia denger.

Jadi aku bilang, “Bu.”

Dia bilang, “Iya?”

Aku bilang, “Umur dua puluh satu itu berapa lama lagi dari tujuh belas?”

Dia bilang, “Empat tahun.”

Aku bilang, “Empat tahun.”

Terus aku bilang, “Bumi umur sembilan.”

Terus aku bilang, “Berarti Bumi ada di rumah orang lain empat tahun.”

Dan Bu Hanifah nggak jawab.


Waktu dia pulang, dia salaman sama Mas di undakan.

Terus dia bilang, “Mas Aries, adik-adik Mas luar biasa.”

Terus Mas bilang, “Iya, Bu. Makasih.”

Terus dia bilang, “Sampai ketemu tanggal dua belas.”

Terus dia jalan ke mulut gang.

Terus dia berhenti.

Terus dia balik lagi.

Terus dia bilang, “Mas Aries.”

Mas bilang, “Iya, Bu?”

Dan Bu Hanifah bilang, “Nanti tanggal dua belas, kalau ditanya, Mas jangan bilang ‘nggak apa-apa’.”

Mas bilang, “Kenapa, Bu?”

Dan Bu Hanifah bilang:

“Karena selama satu jam tadi Mas ngomong empat puluh tiga kali ‘nggak apa-apa’. Saya hitung.”

Terus dia bilang, “Dan itu yang bikin laporan saya susah.”

Terus dia pergi.


Malemnya aku buka buku aku.

Aku nulis di halaman baru.

12 SEPTEMBER. RAPAT.
BU HANIFAH — DATENG KE RUMAH, DENGERIN AKU 1 JAM.
KOLOM: BELUM TAU.

Terus aku tutup bukunya.

Terus aku taruh di bawah bantal.

Terus aku nggak bisa tidur.

Jadi aku ke ruang depan.

Dan Mas masih duduk di lantai. Punggungnya ke tembok. Matanya merem.

Aku diem di pintu kamar.

Aku ngitung.

Satu. Dua. Tiga.

Sampe sepuluh.

Terus lima belas.

Terus dua puluh.

Terus tiga puluh.

Dan Mas nggak buka matanya.

Dan itu pertama kalinya, seumur hidup aku, Mas lebih dari sepuluh detik.