← Giliranmu Istirahat

Chapter Twenty Two

Angkot Terakhir

POV: Claudia


Angkot terakhir jurusan itu berangkat jam sebelas lewat lima belas dari pangkalan depan pasar.

Aku tahu itu karena aku pernah ketinggalan, sekali, dan harus memesan ojek dari gang jam setengah dua belas malam sambil berdiri di bawah lampu Om Yusuf yang tidak pernah dimatikan.

Aries tahu itu juga.

Dan sejak hari itu, dia mengubah sesuatu di jadwalnya tanpa memberitahuku.

Aku baru menyadarinya tiga minggu kemudian.


Begini yang terjadi setiap Selasa, Rabu, dan Jumat.

Shift minimarketnya selesai jam sebelas. Dari minimarket ke pangkalan angkot sepuluh menit jalan kaki cepat. Dari pangkalan ke rumahku empat puluh menit.

Berarti kalau dia mengantarku, dia sampai rumahku jam dua belas kurang, lalu balik lagi empat puluh menit, sampai rumahnya jam satu pagi.

Bangun jam empat dua puluh lima.

Tiga jam.

Jadi tentu saja aku bilang tidak boleh.

“Aku bisa sendiri.”

“Aku tau.”

“Ries, angkotnya rame kok. Ada penumpang lain.”

“Iya.”

“Jadi aku nggak apa-apa.”

“Iya.”

Dan dia tetap naik.

Setiap Selasa, Rabu, Jumat.


Aku mencoba mengakalinya tiga kali.

Percobaan pertama: aku pulang lebih awal, jam sepuluh, sebelum shift-nya selesai.

Besoknya dia bertanya, “Kemarin kamu pulang jam berapa?”

“Sepuluh.”

“Sendirian?”

“Iya.”

Dan dia tidak bilang apa-apa.

Tapi Jumat berikutnya, waktu aku sampai di minimarket, Mas Yuda bilang, “Mbak Bella, Aries titip pesan. Katanya jangan pulang duluan.”

“Dia bilang gitu?”

“Iya. Terus dia bilang kalau Mbak pulang duluan, dia nyusul naik ojek.”

“Ke rumah aku?”

“Katanya buat mastiin sampai.”

Aku berdiri di depan kasir dan tidak tahu harus marah atau apa.

Percobaan kedua: aku bilang aku dijemput sopir.

Dia percaya selama satu minggu.

Lalu dia bertanya, “Sopirnya namanya siapa?”

“...Pak Anto.”

“Mobilnya apa?”

“Aries.”

“Aku cuma nanya.”

“Kamu nggak cuma nanya.”

“Iya.” Dia mengangguk. “Aku nggak cuma nanya.”

Percobaan ketiga: aku menghitungkan biayanya untuk dia, di kertas, seperti dia menghitungkan segalanya untukku.

Ongkos angkot pulang pergi. Waktu tidur yang hilang. Aku bahkan menulis konversinya: tiga jam tidur × tiga hari = sembilan jam per minggu.

Dia membacanya.

Dia mengangguk, seperti orang memeriksa laporan.

Lalu dia bilang, “Hitungannya bener.”

“Terus?”

“Terus nggak ada terusnya.”

“Ries—”

“Claudia.” Dia melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku dalam tasnya, ke tempat yang sama dengan struk-struk itu, tempat yang belum kutahu isinya sampai berbulan-bulan kemudian. “Aku nggak bisa bayarin kamu apa-apa. Aku nggak bisa traktir. Aku nggak bisa beliin apa-apa.”

“Aku nggak minta.”

“Aku tau.” Dia menatap jalan. “Yang aku punya cuma jam.”

Aku menoleh.

“Dan jam aku dikit banget,” katanya. “Jadi kalau aku ngasih, itu artinya sesuatu.”


Angkotnya jam sebelas lewat lima belas selalu setengah kosong.

Sopirnya namanya Pak Dedi. Rambutnya sudah putih di pelipis, dan dia menyetel radio dangdut dengan volume yang persis sama setiap malam, dan dia menyebut kami “Dik” berdua.

Kami duduk di deretan kiri, dekat pintu.

Aries selalu duduk di sisi luar. Aku tidak pernah bertanya kenapa sampai bulan berikutnya, waktu ada penumpang laki-laki mabuk naik di perempatan dan Aries menggeser bahunya sedikit ke depan — cuma sedikit, cuma beberapa sentimeter — sehingga kalau orang itu jatuh, dia jatuh ke Aries dulu.

Dia melakukannya tanpa berpikir.

Dia bahkan tidak sadar dia melakukannya. Aku tanya besoknya dan dia bilang, “Hah? Enggak, aku emang duduk situ.”


Minggu ketiga, aku ketiduran.

Bukan sengaja. Hari itu ada tiga ulangan dan aku begadang, dan angkotnya bergoyang pelan, dan radionya main lagu yang lambat.

Aku bangun waktu angkotnya melewati polisi tidur.

Dan yang pertama kusadari adalah: pipiku hangat.

Yang kedua: aku sedang menyandarkan seluruh kepalaku di bahu orang.

Aku bangun.

“Astaga—maaf—”

“Nggak apa-apa.”

“Aku ketiduran—”

“Iya.”

“Berapa lama?”

Dia melihat ke luar jendela.

“Dua puluh lima menit.”

Dua puluh lima menit.

Aku menatapnya. Dan lalu aku menatap bahunya, dan lalu aku menatap lengan kanannya, yang tergantung di sisi badannya dengan cara yang sedikit aneh.

“Ries.”

“Hm.”

“Coba gerakin tangan kanan kamu.”

“Buat apa?”

“Gerakin.”

Dia menggerakkannya.

Sangat perlahan. Dan waktu dia menekuk sikunya, dia meringis sepersekian detik dan langsung menghapusnya dari wajahnya.

“Kesemutan,” katanya.

“Kamu nggak gerak dua puluh lima menit.”

“Nggak apa-apa.”

“Ries.”

“Aku bisa—”

Aries.

Dia berhenti.

“Kenapa nggak dibangunin?”

Dan dia menatap ke depan, ke arah punggung Pak Dedi, dan berkata:

“Kamu bilang kalau aku ketiduran, kamu nggak bangunin.”

“Iya, tapi itu—”

“Jadi kalau kamu ketiduran, aku juga nggak.”

Aku menatap sisi wajahnya.

“Itu beda, Ries.”

“Kenapa beda?”

“Karena kamu kerja tujuh tempat dan aku cuma sekolah.”

Dia berpikir.

Lalu dia menggeleng, sekali.

“Nggak beda,” katanya. “Capek itu bukan lomba.”


Aku tidak bisa membalas kalimat itu selama dua hari penuh.


Setelah malam itu, jadinya rutin.

Dan aku ingin mencatat bagaimana rutinnya terbentuk, karena tidak ada yang pernah membicarakannya. Sama sekali. Tidak ada satu kalimat pun yang menegosiasikan ini.

Selasa berikutnya: aku duduk, dan dia menggeser bahunya sedikit — dua sentimeter, ke arahku.

Cuma itu. Dia tidak bilang apa-apa. Dia menatap ke depan.

Aku menyandarkan kepalaku.

Rabu: dia melakukannya lagi, sepuluh detik setelah angkot jalan.

Jumat: dia melakukannya sebelum angkot jalan.

Selasa minggu berikutnya: dia melakukannya sambil masih naik ke angkot, sebelum duduk sepenuhnya, seperti orang yang membuka pintu untuk orang lain tanpa melihat.

Dan aku menyandarkan kepalaku di bahu orang yang mengangkat dua puluh galon setiap malam, dan mendengarkan radio dangdut Pak Dedi, dan tidur dua puluh lima menit tiga kali seminggu.

Tangan kanannya kesemutan setiap kali.

Dia tidak pernah menggerakkannya sekali pun.


Ada satu malam yang perlu kutulis lengkap.

Hari Rabu, akhir Mei. Angkotnya kosong sama sekali kecuali kami berdua.

Aku belum tidur. Aku cuma menyandarkan kepala.

Dan Aries — yang biasanya diam sepanjang perjalanan — berkata:

“Claudia.”

“Hm.”

“Aku mau nanya sesuatu.”

“Nanya.”

“Kenapa kamu nggak pernah cerita?”

Aku mengangkat kepalaku. “Cerita apa?”

“Tentang kamu.”

Aku menatapnya.

“Aku cerita terus. Aku ngoceh empat puluh menit tiap hari.”

“Iya.” Dia mengangguk. “Kamu cerita tentang guru Kimia. Kucing gang sebelah. Ridho sama Nadin. Sedotan kertas.”

“Kamu inget semua?”

“Aku catet.”

“Kamu apa?”

“Nggak jadi.” Dia menggeser posisi duduknya. “Maksudku, itu semua bukan tentang kamu.”

Aku diam.

“Kamu cerita tentang hal-hal di sekitar kamu,” katanya. “Kamu nggak pernah cerita tentang kamu.”

Angkotnya lewat polisi tidur. Radio Pak Dedi ganti lagu.

“Ries.”

“Hm.”

“Kenapa kamu tiba-tiba nanya?”

Dan dia diam agak lama.

“Karena aku baru sadar,” katanya, “aku nggak pernah nanya.”

Dia menatap tangannya sendiri.

“Delapan bulan sekelas. Terus tiga bulan ini kamu dateng tiap hari.” Dia menggeleng pelan. “Dan aku nggak pernah sekali pun nanya kamu gimana.”

“Kamu sibuk—”

“Itu bukan alasan.”

“Ries, itu alasan yang bener banget—”

“Bukan.” Dia menoleh. “Aku nanya ke Sekar tiap hari ada iuran nggak. Aku nanya ke Lintang PR-nya udah nggak. Aku nanya ke Bumi udah pipis nggak.”

Dia berhenti.

“Aku nanya ke semua orang tentang hal yang harus aku urus,” katanya. “Sama kamu nggak ada yang harus aku urus. Jadi aku nggak nanya apa-apa.”

Aku menatapnya.

“Dan itu salah,” katanya.


Aku tidak menangis di angkot itu.

Aku ingin mencatat itu, karena aku sangat ingin, dan aku menahannya, dan aku menahannya dengan cara menggigit bagian dalam pipiku sampai terasa besi.

Kenapa?

Karena kalau aku menangis, dia akan panik.

Dan kalau dia panik, dia akan menganggap dia sudah melakukan kesalahan.

Dan kalau dia menganggap dia melakukan kesalahan, dia akan berhenti bertanya.

Dan aku sudah menunggu seseorang bertanya seperti itu kepadaku selama tujuh belas tahun.

“Ries.”

“Hm.”

“Tanya sekarang.”

“...Sekarang?”

“Iya. Sekarang.” Aku menyandarkan kepalaku lagi di bahunya, supaya dia tidak bisa melihat wajahku. “Tanya apa aja.”

Dan dia berpikir.

Terlalu lama. Seperti biasa. Seperti orang yang membuka laci dan menyusun isinya dulu.

Lalu dia bertanya:

“Kalau kamu di rumah, kamu ngapain?”

Dan aku — yang sudah menyiapkan diri untuk pertanyaan besar, untuk kamu kenapa sedih, untuk orang tua kamu gimana, untuk semua pertanyaan yang biasa ditanyakan orang dengan wajah prihatin —

hampir hancur di pertanyaan sekecil itu.

“Nyalain lampu,” kataku.

“Lampu?”

“Iya.”

“Buat apa?”

“Ada dua belas di lantai bawah.” Suaraku keluar aneh. “Aku nyalain semuanya.”

Angkotnya jalan pelan di jalan yang berlubang.

“Kenapa dua belas?”

“Karena itu semua yang ada.”

Dia tidak bicara.

Dan dia tidak bertanya lagi, dan dia tidak bilang turut prihatin, dan dia tidak bilang nanti juga baik-baik aja.

Yang dia lakukan cuma satu.

Dia menggeser bahunya dua sentimeter lagi.


Angkot berhenti di depan kompleks rumahku jam dua belas kurang tujuh.

“Sampai.”

“Iya.”

Aku turun. Dia turun juga, seperti biasa, dan berdiri di trotoar sampai aku masuk pagar, seperti biasa.

“Ries.”

“Hm?”

“Besok jangan chat jam enam pagi.”

Dia langsung terlihat khawatir. “Kenapa? Kepagian?”

“Bukan.” Aku memegang pagar. “Chat jam sebelas malem aja. Pas kamu selesai shift.”

“Kenapa?”

Karena jam sebelas malam adalah waktu di mana rumah ini paling sepi.

Karena jam enam pagi ada Mbak Yani, ada bunyi, ada sesuatu.

Karena jam sebelas malam aku duduk sendirian di ruang makan yang panjangnya cukup untuk delapan orang dengan dua belas lampu menyala.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Enak aja.”

“Itu bukan jawaban.”

“Iya.”

Dia menatapku.

Dan lalu, tanpa aku menjelaskan apa pun, dia bilang:

“Oke. Jam sebelas.”

Dan dia mengangguk sekali, dan dia melihat aku masuk pagar, dan dia menunggu sampai lampu teras menyala sebelum dia berjalan pergi.


Malam itu jam sebelas lewat tiga, HP-ku bergetar.

Sudah sampai rumah.

Lalu, satu menit kemudian:

Lampunya nggak usah dua belas. Nyalain yang perlu aja.

Lalu, dua menit kemudian:

Yang lain aku gantiin.

Aku membaca yang ketiga itu tiga kali.

Aku tidak mengerti apa maksudnya.

Aku tidak yakin dia sendiri mengerti apa maksudnya — dia mengetik itu jam sebelas malam setelah bekerja sembilan belas jam, dan besoknya, waktu kutanya, dia bilang, “Aku ngetik apa? Coba lihat,” dan waktu dia melihatnya dia diam dan bilang, “...oh.”

Dan telinganya memerah, dan dia langsung membahas jadwal shift.

Tapi malam itu aku duduk di lantai kamarku dengan HP di tangan.

Lalu aku turun ke lantai bawah.

Dan aku mematikan sebelas lampu.

Aku menyisakan satu, di dapur, yang paling kecil.

Dan aku tidur di rumah yang gelap untuk pertama kalinya sejak kelas satu SMP.