Chapter Twenty Seven
Hari Ayah di SD
POV: Lintang
Namanya Acara Profesi Orang Tua.
Bu Guru bilang, tiap anak boleh bawa satu orang tua. Terus orang tuanya cerita di depan kelas kerjanya apa. Terus anak-anak boleh nanya.
Bu Guru bilang, “Kalau ayah ibunya nggak bisa, boleh diwakili wali.”
Aku langsung ngangkat tangan.
“Bu! Wali itu apa?”
“Wali itu orang yang ngurus kamu.”
Aku bilang, “Berarti boleh Mas aku?”
Bu Guru bilang, “Boleh, Lintang.”
Terus aku seneng banget sampe aku nggak bisa duduk diem sampe istirahat.
Formulirnya aku isi sendiri.
Ada tiga kolom.
NAMA AYAH/WALI. Aku tulis: ARIES KURNIAWAN.
UMUR. Aku tulis: 17.
PEKERJAAN.
Nah yang ini aku mikir lama.
Soalnya Mas kerjanya banyak. Aku ngitung pake jari sampe abis.
Ada angkat beras. Ada cuci piring. Ada anter-anter. Ada minimarket. Ada cuci motor. Ada angkat semen. Ada galon.
Tujuh. Kadang delapan.
Kolomnya kecil banget. Nggak muat.
Jadi aku tulis satu kata aja.
SEMUA.
Aku kasih formulirnya ke Mas hari Sabtu.
Mas lagi jahit tali tas Bumi. Mas bisa jahit lho. Mbak Sekar yang ngajarin. Eh, bukan. Mas yang belajar sendiri dari YouTube.
Mas baca formulirnya lama banget.
Terus Mas bilang, “Lintang.”
Aku bilang, “Iya?”
Mas bilang, “Acaranya kapan?”
Aku bilang, “Kamis. Jam sepuluh.”
Terus Mas diem.
Aku tau kenapa Mas diem. Jam sepuluh itu Mas sekolah.
Jadi aku langsung bilang, “Nggak apa-apa kok kalau nggak bisa.”
Aku bilangnya cepet banget. Soalnya kalau aku bilangnya cepet, nanti Mas nggak sempet ngerasa nggak enak.
Aku udah pinter gitu. Mbak Sekar yang ngajarin.
Terus Mas bilang, “Siapa bilang nggak bisa.”
Aku bilang, “Kan Mas sekolah.”
Mas bilang, “Mas izin.”
Aku bilang, “Beneran?”
Mas bilang, “Beneran.”
Terus aku peluk Mas.
Terus Mas bilang, “Aduh, jarumnya.”
Hari Kamis aku bangun jam lima.
Padahal aku biasanya jam enam.
Aku pake baju paling bagus. Yang ada bunganya. Yang dibeliin Kak Claudia—
Eh bukan. Bukan dibeliin.
Kak Claudia bilang itu bajunya sepupunya yang udah kekecilan. Terus dia bawa ke rumah.
Mbak Sekar liat bajunya lama banget terus bilang, “Ini masih ada tag harganya.”
Terus Kak Claudia bilang, “Oh iya, lupa dilepas.”
Terus Mbak Sekar liat Kak Claudia lama banget.
Terus Mbak Sekar bilang, “Ya udah.”
Aku nggak ngerti orang dewasa.
Acaranya di aula.
Kursinya banyak. Depan buat orang tua, belakang buat murid.
Aku duduk di belakang. Kursi Mas kosong.
Jam sepuluh belum dateng.
Jam sepuluh lewat lima belum dateng.
Nggak apa-apa. Aku tau Mas dateng. Mas selalu dateng.
Yang pertama cerita ayahnya Rendi.
Ayahnya Rendi polisi. Pake seragam. Bawa topi.
Semua anak wah wah wah.
Terus dia cerita soal nangkep maling. Terus dia bilang, “Anak-anak harus jujur ya.”
Terus semua tepuk tangan.
Rendi mukanya seneng banget. Dia liat kanan kiri terus senyum-senyum.
Yang kedua ibunya Kayla.
Ibunya Kayla dokter gigi. Bawa gigi palsu yang gede. Buat contoh.
Semua anak wah wah wah lagi.
Terus dia ngajarin sikat gigi.
Terus tepuk tangan lagi.
Yang ketiga ayahnya Bagas. Punya toko. Toko besar. Ada tiga cabang katanya.
Terus dia bilang, “Kalian harus rajin biar sukses kayak Om.”
Terus tepuk tangan.
Terus Bu Guru bilang, “Selanjutnya, wali dari Lintang Kurniawan.”
Terus aku noleh ke pintu.
Mas dateng jam sepuluh lewat dua puluh delapan.
Aku tau soalnya ada jam gede di dinding aula.
Mas masuk pintu terus berhenti.
Mas pake kaus.
Bukan seragam sekolah. Kaus kerja. Yang abu-abu. Yang ada tulisan toko bangunannya.
Ada debu semen di pundaknya. Putih-putih.
Terus celananya ada bekas oli di lutut.
Terus rambutnya basah, kayak abis cuci muka buru-buru.
Terus dia bau.
Aku tau dia bau soalnya waktu dia lewat aku, aku cium. Bau minyak sama semen sama keringat.
Ada yang ketawa.
Di belakang. Dua anak. Aku denger.
Terus ada yang bilang, “Itu bapaknya Lintang?”
Terus yang satu bilang, “Itu mah tukang.”
Terus mereka ketawa lagi.
Aku noleh.
Aku bilang, “Itu Mas aku.”
Mereka diem.
Aku bilang lagi, keras, “ITU MAS AKU.”
Terus Bu Guru bilang, “Lintang, duduk.”
Aku duduk.
Tapi aku nggak nangis.
Aku mau nangis dikit tapi aku nggak.
Soalnya kalau aku nangis, nanti Mas liat.
Dan kalau Mas liat, Mas bakal ngerasa Mas salah.
Padahal Mas nggak salah.
Mas nggak pernah salah.
Mas berdiri di depan.
Mas nggak bawa apa-apa. Nggak bawa topi, nggak bawa gigi palsu, nggak bawa apa-apa.
Mas cuma berdiri.
Terus Mas bilang, “Selamat pagi.”
Terus Mas bilang, “Maaf saya telat. Tadi ada bongkaran yang belum selesai.”
Terus Mas diem.
Terus Mas bilang, “Nama saya Aries. Saya kakaknya Lintang.”
Semua orang tua noleh.
Aku liat mukanya. Ayahnya Rendi noleh. Ibunya Kayla noleh.
Terus Bu Guru bilang, “Silakan, Mas.”
Terus Mas bilang, “Saya bingung mau cerita apa, Bu. Saya nggak punya satu pekerjaan.”
Terus Mas bilang, “Saya punya tujuh.”
Terus aulanya sepi.
Terus Mas cerita.
Mas cerita satu-satu.
Mas bilang, “Jam setengah lima pagi saya angkat beras di toko. Lima puluh karung. Satu karung dua puluh lima kilo.”
Ada anak yang bilang, “WAH.”
Mas bilang, “Terus saya sekolah.”
Mas bilang, “Terus jam dua belas saya cuci piring di rumah makan. Satu jam. Kira-kira dua ratus piring.”
Ada anak yang bilang, “DUA RATUS?”
Mas bilang, “Iya. Kadang lebih kalau hari Minggu.”
Terus Mas bilang, “Terus sekolah lagi. Terus sore saya anter paket. Terus malem saya jaga minimarket.”
Terus ada anak ngangkat tangan.
Bu Guru bilang, “Iya, Rendi?”
Rendi bilang, “Om tidurnya jam berapa?”
Terus Mas diem bentar.
Terus Mas bilang, “Jam dua belas.”
Rendi bilang, “Bangunnya?”
Mas bilang, “Setengah lima.”
Terus Rendi bilang, “Berarti tidurnya empat jam?”
Mas bilang, “Iya.”
Terus Rendi bilang, “Nggak ngantuk?”
Terus Mas senyum.
Mas bilang, “Ngantuk banget.”
Terus semua anak ketawa.
Bukan ketawa jelek. Ketawa yang seneng.
Dan aku liat Mas juga ketawa.
Mas jarang banget ketawa.
Terus ada yang nanya lagi.
Namanya Kayla.
Kayla bilang, “Om, kenapa kerjanya banyak banget?”
Terus aulanya sepi lagi.
Terus Mas liat ke belakang. Ke arah aku.
Terus Mas liat aku lama.
Terus Mas bilang, “Karena adik saya ada tiga.”
Kayla bilang, “Terus?”
Mas bilang, “Terus mereka sekolah.”
Kayla bilang, “Terus?”
Terus Mas bilang, dan suaranya biasa aja, kayak orang bilang jam berapa sekarang:
“Terus sekolah itu ada bayarannya.”
Terus ada ibu-ibu di depan yang nunduk.
Terus ada yang ngelap mata pake tisu.
Terus ibunya Kayla nutup mulutnya.
Aku nggak ngerti kenapa.
Mas nggak bilang yang sedih kok.
Mas cuma bilang yang bener.
Terus Bu Guru bilang, “Ada pertanyaan lagi?”
Terus ada satu anak ngangkat tangan. Yang tadi ketawa. Yang bilang “itu mah tukang”.
Aku langsung nggak suka.
Bu Guru bilang, “Iya, Fajar?”
Fajar bilang, “Om.”
Mas bilang, “Iya?”
Fajar bilang, “Om capek nggak?”
Dan Mas nggak langsung jawab.
Mas diem lama banget.
Lama banget sampe aulanya sepi banget sampe aku bisa denger kipas.
Terus Mas bilang:
“Capek.”
Terus Mas bilang:
“Tapi kalau saya berhenti, nanti nggak ada yang gantiin.”
Terus Fajar bilang, “Oh.”
Terus Fajar duduk.
Terus Fajar nggak ketawa lagi seharian.
Terus Mas selesai.
Terus tepuk tangannya lama banget.
Lebih lama dari yang polisi. Lebih lama dari yang dokter gigi. Lebih lama dari yang punya toko tiga cabang.
Aku ngitung. Dua puluh dua detik.
Dan Mas cuma berdiri di depan sambil bingung.
Mas nggak tau harus ngapain kalau ditepuktangani.
Terus Mas nunduk dikit terus bilang, “Makasih.”
Terus Mas jalan ke belakang.
Terus Mas duduk di sebelah aku.
Aku pegang tangan Mas.
Tangannya kasar banget. Ada debu semen.
Aku bilang, “Mas.”
Mas bilang, “Hm.”
Aku bilang, “Mas keren.”
Terus Mas nggak jawab.
Terus aku liat, Mas lagi liat ke depan terus. Nggak noleh.
Jadi aku pegang tangannya lebih kenceng.
Pulangnya Mas harus balik kerja.
Mas bilang, “Mas balik dulu ya. Nanti sore Mas pulang.”
Aku bilang, “Iya.”
Terus Mas jalan.
Terus aku panggil, “MAS!”
Mas noleh.
Aku bilang, “Mas!”
Mas bilang, “Apa?”
Dan aku mau bilang banyak.
Aku mau bilang: makasih udah dateng. Makasih udah izin sekolah. Makasih udah pake kaus kerja walaupun bau. Makasih udah jawab pertanyaannya Fajar. Makasih udah ketawa tadi soalnya Mas jarang ketawa.
Tapi kalau aku bilang semua itu, nanti Mas nggak enak.
Jadi aku bilang yang biasa aja.
Aku bilang, “Sayang Mas!”
Dan Mas bilang, “Hm.”
Kayak biasa.
Aku nggak apa-apa kok.
Serius.
Aku udah biasa.
Mas emang gitu dari dulu. Mas nggak pernah bilang.
Cuma kadang aku mikir aja, kalau malem, sebelum tidur.
Aku mikir: Mas pernah nggak sih pengen bilang?
Terus aku mikir: mungkin pernah.
Terus aku mikir: mungkin Mas lupa caranya.
Terus aku tidur.
Dan besok Minggu.
Dan hari Minggu aku peluk Mas di dapur kayak biasa.
Dan aku hitung lagi kayak biasa.
Dan angkanya masih turun kayak biasa.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD reading
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu