Chapter Six
Surat dari BK
POV: Gita
Aku menyiapkan berkasku seperti orang menyiapkan sidang.
Rekap absensi tiga bulan. Catatan keterlambatan. Daftar kegiatan kelas dan siapa yang hadir. Semua kucetak, kustabilo, kuurutkan. Aku bahkan membuat tabel, karena tabel lebih sulit dibantah daripada kalimat.
“Ini apa, Git?”
Bu Hesti menerima map itu dengan alis terangkat.
“Laporan, Bu. Untuk siswa atas nama Aries Kurniawan.”
“Laporan?”
“Dari wali kelas disuruh pantau kehadiran kegiatan non-akademik. Ini hasilnya.”
Bu Hesti membuka map itu. Membaca. Membalik halaman.
Aku berdiri dengan tangan di depan, punggung lurus, dan menunggu.
Aku sudah memutuskan dua hal semalam.
Pertama: aku tidak akan berhenti hanya karena ibuku mengatakan sesuatu yang membuatku tidak bisa tidur.
Kedua: kalau memang ada alasan, ini justru caranya supaya alasan itu keluar. Karena selama tiga bulan aku bertanya baik-baik dan yang kudapat cuma kata maaf, dan kata maaf tidak menyelesaikan apa pun.
Kalau ada masalah, buka. Kalau dibuka, bisa diurus.
Itu cara kerja dunia menurutku waktu itu.
“Hm.” Bu Hesti menutup map. “Kamu mau apa dari laporan ini?”
“Saya cuma menyerahkan data, Bu.”
“Gita.”
“...Saya mau dia dipanggil.”
“Sudah dipanggil bulan lalu.”
“Dipanggil yang beneran, Bu.” Kutahan suaraku tetap rata. “Yang kemarin cuma surat. Dia tanda tangan sendiri, dikembalikan, selesai. Nggak ada yang berubah.”
Bu Hesti menyandarkan punggung.
“Jadi maumu?”
“Panggilan orang tua.”
Ruangan itu jadi sunyi dengan cara yang aneh.
Bu Hesti tidak langsung menjawab. Dia menatapku cukup lama sampai aku mulai bertanya-tanya apakah aku salah bicara.
“Bu?”
“Kamu yakin?”
“...Kenapa nggak, Bu?”
Dia menarik napas melalui hidung, panjang.
“Ya sudah,” katanya. “Nanti saya urus.”
Aku keluar dari ruangan itu merasa menang.
Aku ingin menuliskan itu apa adanya, karena kalau aku memperhalusnya sekarang, aku sedang berbohong. Aku keluar dari ruang BK hari itu dan merasa menang.
Suratnya keluar hari Kamis.
Aku yang mengantarkannya ke kelas, karena aku ketua kelas dan itu memang tugasku, dan karena — kalau aku jujur pada diriku sendiri, yang jarang kulakukan minggu itu — aku ingin melihat wajah anak itu waktu membacanya.
“Aries.”
Bangku belakang dekat jendela. Dia mengangkat kepala. Dua detik untuk fokus, seperti biasa.
Kutaruh surat itu di mejanya.
“Dari BK.”
Dia membukanya.
Aku memperhatikan.
Kelas masih ramai — bel istirahat baru saja bunyi, orang-orang keluar, ada yang teriak soal kantin. Tidak ada yang memperhatikan sudut ruangan itu kecuali aku, dan, dari dua bangku di depan kiri, Claudia yang belum berdiri dari kursinya.
Aries membaca.
Wajahnya tidak berubah.
Tidak sedikit pun. Tidak ada kaget, tidak ada panik, tidak ada marah. Dia membaca dari atas ke bawah dengan kecepatan orang membaca menu, lalu melipat kertas itu dua kali dan memasukkannya ke tas.
“Oke,” katanya.
Aku berkedip. “...Oke?”
“Iya.”
“Kamu ngerti isinya?”
“Ngerti.”
“Bacain.”
Dia menatapku.
“Panggilan orang tua,” katanya. “Senin, jam sepuluh. Ruang BK. Harus hadir.”
“Terus?”
“Terus apa?”
Aku berdiri di sana dengan tangan yang tiba-tiba tidak tahu harus di mana.
Ini bukan reaksi yang kusiapkan. Aku sudah menyiapkan jawaban untuk marah, untuk membantah, untuk memohon, bahkan untuk “lo kenapa sih segitunya sama gue” — aku sudah menyusun kalimat untuk semuanya.
Aku tidak menyiapkan apa pun untuk oke.
“Aries.”
“Iya.”
“Kalau kamu ada masalah, sekarang waktunya bilang.”
Dia menutup resleting tasnya.
“Nggak ada masalah.”
“Orang tua kamu bisa datang Senin?”
Jeda.
Sangat pendek. Mungkin setengah detik. Kalau aku berkedip, aku akan melewatkannya.
“Bisa,” katanya.
“Bener?”
“Bener.”
“Kalau nggak bisa, bilang sekarang, nanti aku bantu jadwal ulang.”
“Nggak usah.” Dia menyandang tasnya. “Aku bisa.”
Dan dia keluar kelas.
Aku berdiri di sana beberapa detik.
Lalu menoleh — dan menemukan Claudia sedang menatapku.
Bukan menatap ke arahku. Menatapku. Lurus, tidak berkedip, dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajah Bella Sintya yang selalu ramah kepada semua orang.
“Kenapa?” tanyaku.
Dia tidak menjawab.
Dia mengambil tasnya, berdiri, dan berjalan keluar kelas lewat pintu belakang.
“Bella.”
Dia berhenti di ambang pintu.
“Kalau kamu tau sesuatu,” kataku, “bilang.”
Beberapa detik.
“Aku nggak tau apa-apa,” katanya.
“Bella—”
“Aku nggak tau apa-apa, Git.” Dia menoleh setengah. “Dan kalaupun aku tau, itu bukan punya aku buat diomongin.”
Lalu dia pergi.
Dan aku berdiri sendirian di kelas yang kosong, memegang map berisi tabel-tabel yang kubuat sampai jam dua belas malam, dan untuk pertama kalinya merasakan sesuatu yang sangat tidak enak di dasar perutku — perasaan seperti berdiri di lantai yang kelihatannya kokoh, lalu mendengar bunyi retak di suatu tempat yang tidak bisa dilihat.
Sabtu sore, aku ke minimarket dekat rumah untuk membeli tinta printer.
Yang jaga kasir seorang laki-laki yang mengantuk.
“Mbak, plastiknya bayar dua ratus.”
“Nggak usah, saya bawa tas.”
“Oke.”
Kukeluarkan dompetku, dan mataku jatuh ke papan kecil di dekat kasir.
LOWONGAN KARYAWAN PARUH WAKTU
Shift malam 20.00–23.00
Min. 17 tahun. Bisa langsung kerja.
Kubaca tanpa alasan tertentu. Otakku cuma membaca apa saja yang ada di depan mata.
Lalu aku melihat kertas kedua di bawahnya. Jadwal shift, dicetak, ditempel dengan selotip.
Kolom kiri: hari.
Kolom kanan: nama.
SENIN — Yuda
SELASA — A. Kurniawan
RABU — A. Kurniawan
KAMIS — Yuda
JUMAT — A. Kurniawan
Aku berhenti.
Kubaca ulang. Tiga kali.
A. Kurniawan.
Kurniawan bukan nama yang langka. Ada tiga Kurniawan di angkatanku saja. Ini bisa siapa saja. Ini kemungkinan besar orang lain, laki-laki dewasa berumur dua puluhan, yang kebetulan—
“Mbak, ini kembaliannya.”
“...Iya. Makasih.”
Kuambil uangku.
Aku berjalan ke pintu.
Dan berhenti di depan pintu kaca, dan berbalik.
“Mas.”
“Iya?”
“Yang jaga shift malam Selasa itu... orangnya gimana?”
Dia mengangkat alis. “Kenapa, Mbak?”
“Nggak apa-apa. Kenalan saya kayaknya.”
“Oh, si Aries?” Dia menguap. “Anak sekolah. Rajin banget sih dia. Cuma kadang ketiduran di kursi kalau lagi sepi.”
Ada sesuatu yang jatuh di dalam dadaku, pelan, seperti gelas yang digeser dari tepi meja dan belum sampai ke lantai.
“...Anak sekolah?”
“Iya. SMA. Masih pake seragam kadang.”
“Dia kerja di sini udah lama?”
“Setahunan? Dua tahun?” Dia menggaruk lehernya. “Dia juga kerja di tempat lain kok. Banyak. Kadang subuh dia bongkar muat di toko Pak Han sana, terus sekolah, terus siang cuci piring di rumah makan—”
Dia terus bicara.
Aku tidak mendengar sisanya.
Aku pulang jalan kaki, padahal biasanya dijemput.
Di kepalaku, satu per satu, hal-hal yang sudah tiga bulan berada di depan mataku mulai berpindah tempat dan membentuk sesuatu yang lain:
Lengan seragam yang basah sampai siku.
Bau bensin.
Dua detik sebelum matanya bisa fokus.
Tidak pernah ikut kerja kelompok sore.
Tidak pernah ikut latihan Class Meeting sore.
Tidak pernah ikut apa pun yang dilakukan sore atau malam.
Kolom wali: kakak kandung.
Boleh, Gita. Sudah dari kelas sepuluh begitu.
Ada anak yang nggak punya orang buat ngasih alasan ke sekolah, jadi mereka berhenti punya alasan sama sekali.
Aku berhenti di trotoar.
Kukeluarkan HP-ku. Kubuka kontak wali kelas. Kututup. Kubuka kontak Bu Hesti. Kututup.
Lalu kubuka pesan ke Claudia, kuketik empat kalimat, kuhapus, kuketik dua kalimat, kuhapus.
Dan akhirnya kukirim satu:
Bella, orang tua Aries kemana?
Kutatap layarnya.
Centang satu. Centang dua. Dibaca.
Mengetik.
Berhenti.
Mengetik lagi.
Berhenti.
Selama hampir dua menit, tulisan sedang mengetik... muncul dan hilang, muncul dan hilang.
Lalu balasannya masuk. Satu baris.
Kamu tanya ke aku kenapa? Kenapa nggak tanya ke dia?
Aku menatap kalimat itu di trotoar, di bawah lampu jalan yang baru menyala, dengan kantong plastik berisi tinta printer di tangan kanan.
Dan aku sadar aku tidak punya jawabannya.
Karena aku sudah bertanya. Berkali-kali. Di depan kelas, di ruang BK, di meja anak itu.
Dan setiap kali, aku bertanya seperti orang menuntut, bukan seperti orang yang ingin tahu.
Hari Senin, jam sepuluh kurang sepuluh, aku berdiri di koridor depan ruang BK.
Aku tidak punya alasan untuk berada di sana. Jam itu aku harusnya di kelas.
Tapi aku berdiri di sana, di dekat tembok, pura-pura membaca papan pengumuman.
Jam sepuluh kurang lima, pintu ruang BK terbuka dan Bu Hesti keluar sebentar untuk mengambil sesuatu.
Jam sepuluh tepat, aku mendengar langkah dari ujung koridor.
Aku menoleh.
Aries berjalan mendekat.
Sendirian.
Seragam sekolah, rapi, kerah lurus. Rambut disisir. Sepatu — baru kusadari — sepatu itu baru saja disemir, dan semirnya belum kering rata di bagian samping.
Tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Tidak ada bapak. Tidak ada ibu. Tidak ada orang dewasa mana pun di sepanjang koridor itu.
Dia berhenti di depan pintu ruang BK.
Menarik napas sekali.
Merapikan kerahnya yang sudah rapi.
Lalu mengetuk pintu, dan waktu Bu Hesti membukanya, aku mendengar suaranya dari jarak enam meter — sopan, jelas, dan sudah dilatih:
“Selamat pagi, Bu. Saya Aries Kurniawan. Saya yang datang mewakili wali.”
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK reading
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu