Chapter Seven
Amplop
POV: Claudia
Papan pengumuman di depan ruang Tata Usaha itu sudah ada sejak aku kelas sepuluh, dan selama dua tahun aku tidak pernah sekali pun membacanya.
Isinya hal-hal yang tidak berhubungan denganku. Jadwal ujian susulan. Pengumuman lomba. Dan satu kertas yang selalu ditempel di kolom paling kanan, dicetak dengan huruf kecil-kecil, dengan judul yang ditulis tebal:
DAFTAR TUNGGAKAN KOMITE — S/D BULAN INI
Hari Selasa itu aku berdiri di depannya karena aku sedang menunggu Gita selesai mengurus sesuatu di dalam.
Aku membacanya karena tidak ada kerjaan lain.
Nomor urut. Kelas. Nama. Jumlah.
Ada dua belas nama.
Yang keempat dari bawah:
12 IPA 3 — Aries Kurniawan — Rp 1.350.000
Aku membaca angka itu tiga kali.
Satu juta tiga ratus lima puluh ribu.
Lalu aku membaca kolom paling kanan, yang tulisannya lebih kecil lagi, dan yang selama ini kupikir cuma hiasan:
Keterangan: cicilan 3× (berjalan)
Berjalan.
Artinya dia sudah membayar sebagian. Artinya setiap bulan ada uang yang keluar dari suatu tempat untuk memotong angka itu, dan angka itu masih segitu, dan itu artinya di bulan-bulan sebelumnya angkanya lebih besar.
Aku berdiri di depan papan itu terlalu lama sampai Gita keluar dan menyenggol lenganku.
“Bella? Kok bengong.”
“Nggak apa-apa.”
Aku berbalik dan berjalan lebih dulu, supaya dia tidak sempat melihat papan mana yang kubaca.
Aku memikirkannya sepanjang hari.
Aku memikirkannya waktu pelajaran keempat, waktu makan siang, waktu di angkot pulang. Aku memikirkannya sambil melihat isi tabunganku sendiri di aplikasi, angka yang tidak pernah kuperhatikan karena tidak pernah perlu kuperhatikan, angka yang ada di sana karena setiap bulan Ayah mentransfer sesuatu dari kota lain dan menganggap itu bentuk keberadaan.
Satu juta tiga ratus lima puluh ribu.
Buatku itu adalah dua kali tas yang kubeli bulan lalu.
Buat dia itu adalah — aku tidak tahu. Berapa jam bongkar muat? Berapa malam di minimarket? Berapa banyak piring?
Dan di kepalaku, malam itu, semuanya terasa sangat sederhana.
Aku punya. Dia tidak punya. Selesai.
Itu bagian yang paling ingin kuhapus dari ingatanku. Bukan yang terjadi setelahnya. Bagian ini. Bagian di mana aku benar-benar berpikir bahwa itu sederhana.
Rabu pagi aku ke Tata Usaha sebelum bel.
“Bu, mau bayar komite.”
“Kelas berapa?”
“12 IPA 3.”
Ibu di balik meja itu membuka buku besar. “Nama?”
Dan di sini aku melakukan hal yang kupikir pintar.
“Aries Kurniawan.”
Dia mengangkat kepala. “Kamu... adiknya?”
“Bukan. Temen sekelas.”
“Oh.” Alisnya naik sedikit. “Yang bayar kamu?”
“Iya, Bu.”
“Berapa?”
“Yang di papan. Satu juta tiga ratus lima puluh.”
Dia menghitung uangku dua kali, menulis di buku, dan menyobek kuitansi.
“Ini kuitansinya.”
“Bu.”
“Hm?”
“Jangan bilang siapa-siapa, ya.”
Dia berhenti dengan pulpen di tangan.
“Maksudnya?”
“Jangan bilang saya yang bayar.”
Dia menatapku beberapa detik, dan waktu itu aku pikir tatapannya berarti ah, anak baik. Sekarang aku tahu tatapan itu artinya anak ini belum tahu apa yang baru saja dia lakukan.
“Ya sudah,” katanya. “Saya catat ‘dilunasi’.”
Aku keluar dari ruangan itu merasa ringan.
Aku ingin menekankan itu. Ringan. Aku merasa ringan sepanjang jam pertama, dan sepanjang jam kedua, dan aku duduk di bangkuku sambil sesekali menoleh ke belakang, ke arah anak yang sedang tidur di dekat jendela, dan aku merasa seperti orang yang baru saja memindahkan sesuatu yang berat dari punggung orang lain tanpa orang itu tahu.
Aku bahkan bangga.
Tiga hari. Perasaan itu bertahan tiga hari.
Jumat sore, dia menungguku di depan gerbang.
Aku tidak langsung sadar ada yang salah. Aku malah senang — dia tidak pernah menunggu siapa pun, dia selalu buru-buru pergi begitu bel berbunyi karena ada shift, karena ada orderan, karena selalu ada sesuatu.
“Aries?”
“Bisa ngomong bentar?”
“Bisa. Kenapa?”
“Di sana.”
Dia menunjuk sisi jalan yang lebih sepi, di bawah pohon, di luar pagar sekolah.
Kami jalan ke sana. Dia tidak bicara sepanjang dua puluh langkah itu, dan saat itulah aku mulai merasa ada yang tidak beres, karena tangannya memegang tali tasnya terlalu erat.
Dia berhenti. Berbalik. Dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Amplop putih.
Bukan amplop bekas kali ini. Amplop baru, masih licin, dan tebal.
“Ini.”
Aku tidak mengambilnya.
“...Apa itu?”
“Satu juta tiga ratus lima puluh ribu.”
Ada suara motor lewat. Ada anak-anak teriak di lapangan. Semuanya terdengar sangat jauh.
“Aries—”
“Saya sudah minta TU membatalkannya,” katanya. “Pembayarannya sudah dikembalikan ke sistem. Cicilan saya jalan lagi seperti semula. Jadi ini uang kamu, utuh, tidak berkurang.”
Saya.
Dia bilang saya.
Dua minggu terakhir dia bilang aku. Setiap hari. Di kelas, di koridor, waktu minum susu kotak, waktu bicara tentang Lintang. Aku.
Dan sekarang, dalam satu kalimat, dia menggesernya kembali ke saya, dan aku merasa seperti pintu ditutup pelan sekali tepat di depan wajahku.
“Kamu tau dari mana?”
“Dari TU.”
“Aku minta dirahasiain.”
“Iya.” Dia mengangguk. “Ibunya memang tidak mau bilang. Saya yang memaksa.”
“Kenapa?”
“Karena kalau saya tidak tahu siapa yang membayar, saya tidak bisa mengembalikannya.”
Dan dia mengatakannya seperti itu adalah hukum alam. Seperti gravitasi. Seperti orang menjelaskan kenapa air mengalir ke bawah.
Aku menatap amplop itu.
“Aku nggak minta dibalikin.”
“Saya tahu.”
“Aku ngasih.”
“Iya.”
“Terus kenapa nggak boleh?”
Dan untuk pertama kalinya sejak kami berdiri di bawah pohon itu, dia diam agak lama.
“Boleh saya cerita sedikit?” katanya akhirnya.
“...Boleh.”
“Di gang saya ada sembilan rumah.” Dia menaruh amplop itu di antara kami, di atas pagar besi rendah, dan tidak melepaskan tangannya dari sana. “Delapan bukan rumah saya. Delapan-delapannya sudah memberi sesuatu ke keluarga saya, selama tiga tahun, hampir setiap hari.”
“Aries—”
“Saya sudah menghitung. Bukan kiasan, saya benar-benar sudah menghitung.” Matanya tetap di amplop itu, bukan di wajahku. “Dan hasilnya, saya tidak akan pernah bisa melunasinya. Bukan lama. Tidak akan pernah.”
Ada sesuatu yang naik ke tenggorokanku.
“Tapi selama saya masih membayar sedikit-sedikit — bantu ini, angkat itu, benerin apa — saya masih orang yang punya utang.” Dia mengangkat wajahnya. “Orang yang punya utang itu masih punya harga diri. Kalau saya berhenti membayar, saya bukan orang yang punya utang lagi.”
“Terus jadi apa?”
“Anak yatim yang dikasihani.”
Aku membuka mulut.
Tidak ada yang keluar.
“Saya tidak marah sama kamu,” lanjutnya, dan itu bagian terburuknya, karena dia benar-benar tidak marah. “Kamu bermaksud baik. Saya tahu itu. Dan terima kasih. Sungguh.”
“Aries, aku cuma—”
“Tapi satu juta tiga ratus lima puluh ribu itu bukan sesuatu yang bisa saya bayar balik dengan benerin antena atau angkat lemari.” Dia menggeser amplop itu ke arahku. “Jadi kalau saya terima, itu bukan utang. Itu pemberian. Dan kalau itu pemberian, saya—”
Dia berhenti.
“Kamu apa?”
“...Saya tidak akan bisa duduk di sebelah kamu lagi seperti biasa,” katanya pelan. “Setiap kali kamu ngomong, saya akan ingat angkanya.”
Aku mengambil amplop itu.
Tanganku bergetar dan aku benci itu.
“Terima kasih sudah mau ngerti,” katanya.
“Aku nggak ngerti.”
“Oh.”
“Aku ambil, bukan karena ngerti.” Kumasukkan amplop itu ke tas dengan gerakan yang terlalu kasar. “Aku ambil karena kamu bakal berdiri di sini sampai malam kalau aku nggak ambil.”
Sudut mulutnya bergerak sedikit. Bukan senyum. Hampir.
“Iya,” katanya. “Benar.”
Lalu dia melihat jam di HP retaknya.
“Saya harus pergi. Jam lima ada—”
“Iya. Kerja. Aku tau.”
Dia mengangguk.
Dia sudah tiga langkah pergi waktu aku memanggil.
“Aries.”
Dia berhenti.
“Kalau bukan uang,” kataku, dan suaraku keluar lebih tinggi dari yang kumau, “aku harus ngapain?”
Dia berbalik setengah.
Dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat sebelumnya, cuma sepersekian detik, sebelum dia menghapusnya:
bingung.
Bukan bingung karena tidak tahu jawabannya.
Bingung karena tidak ada satu orang pun yang pernah bertanya begitu kepadanya, dan dia tidak punya kolom untuk pertanyaan itu di dalam kepalanya.
“...Nggak usah ngapa-ngapain,” katanya.
Lalu dia pergi.
Aku pulang naik ojek.
Amplop itu ada di tasku dan rasanya seperti membawa batu.
Di rumah, dua belas lampu di lantai bawah. Aku menyalakan semuanya, seperti waktu SMP, dan duduk di meja makan yang panjangnya cukup untuk delapan orang.
Ada makanan di bawah tudung saji. Selalu ada. Mbak Yani memasaknya jam empat dan pulang jam lima.
Aku tidak makan.
Aku mengeluarkan amplop itu, membukanya, dan menghitung isinya di atas meja.
Satu juta tiga ratus lima puluh ribu, utuh, tidak berkurang sepeser pun.
Dia benar-benar mengurusnya. Dia pergi ke TU, memaksa mereka membatalkan pembayaran, memaksa mereka menyebut namaku, mengembalikan cicilannya sendiri ke posisi semula — yang artinya angka utangnya kembali seperti sebelum aku ikut campur — dan dia melakukan semua itu di sela tujuh pekerjaan, dan dia melakukannya dalam tiga hari.
Aku menatap uang itu.
Dan akhirnya aku mengerti apa yang sebenarnya kulakukan Rabu pagi kemarin.
Aku tidak memindahkan beban dari punggungnya.
Aku memberitahunya, dengan sangat sopan, bahwa aku bisa menghapus tiga bulan kerjanya dalam sepuluh menit di depan meja Tata Usaha.
Aku membuat semua yang dia lakukan jadi kecil.
Dan dia tidak marah. Dia bilang terima kasih. Dua kali.
Aku menaruh kepalaku di meja makan yang panjangnya cukup untuk delapan orang, di rumah dengan dua belas lampu yang semuanya menyala, dan aku tidak tahu berapa lama aku di sana.
Yang aku tahu, waktu aku mengangkat kepala, semua lampu masih menyala.
Dan tetap saja tidak ada satu orang pun yang datang bertanya kenapa aku belum makan.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop reading
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu